
Fuji menghitung lembar demi lembar uang hasil pekerjaannya menjadi pengemudi ojek online. Fuji tersenyum ketika ia menatap uang lima ratus ribu di tangannya. Rencananya, hari ini Fuji akan berangkat ke toko bayi untuk berbelanja perlengkapan bayi untuk calon keponakannya.
"Alhamdulillah. Semoga cukup," Fuji tersenyum senang.
Fuji langsung melajukan motornya menuju toko bayi yang cukup terkenal di kota Bandung. Toko bayi itu amatlah lengkap dalam menjual segala kebutuhan bayi. Fuji langsung masuk ke dalam toko. Gadis itu dengan ceria melihat-lihat segala keperluan bayi new born. Tentu saja Fuji membaca internet terlebih dahulu apa yang wajib di beli untuk bayi baru lahir. Senyum yang tadi terlukis di wajahnya tiba-tiba habis tersapu ketika melihat harga-harga di sana cukuplah mahal.
"Tas melahirkan udah dua ratus ribu. Satu baju bayi yang paling murah lima belas ribu. Kalau beli selusin udah 180.000 ribu. Itu baru baju aja," Fuji menghirup nafas dengan berat.
"Cari apa, Teh?" Sapa karyawan toko dengan sangat ramah ketika melihat kebingungan di wajah Fuji.
"Aku mau beli perlengkapan bayi baru lahir, Kak. Yang paling penting buat bayi baru lahir yang mana ya?" Tanya Fuji kepada pelayan toko.
"Kalau menurut saya yang penting buat bayi baru lahir yaitu diapers kain, baju, celana, tas untuk ke rumah sakit, satu buah dot soalnya terkadang air susu ibu tidak langsung ada. Terus kaya peralatan mandinya seperti sabun, sampo, minyak telon, bak kecil juga dan kapas bulat atau tisu khusus bayi buat bersihin kalau dedenya buang air kecil," pelayan wanita itu memberikan saran.
"Banyak juga ya?" Fuji menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Kalau gitu makasih ya, Kak?" Fuji tersenyum.
"Sama-sama. Saya tinggal ya?" Pelayan itu berpamitan karena pelanggan lain terlihat memanggilnya.
Fuji pun membawa tas belanja yang di sediakan. Tangannya dengan lihai memasukan peralatan-peralatan bayi ke dalam kantong itu. Senyumnya terbit kembali tatkala Fuji teringat akan mempunyai calon keponakan. Tentunya rumah akan lebih ramai karena bayi itu. Setelah Fuji memasukan semua peralatan bayi ke tas belanja, Fuji pun berjalan ke arah kasir untuk membayar.
Satu per satu belanjaannya di scan oleh kasir yang bertugas. Dada Fuji berdetak lebih cepat. Ia takut harga peralatan calon keponakannya di atas lima ratus ribu. Apalagi di belakang Fuji kini sudah banyak orang mengantri untuk membayar.
"Semuanya 840 ribu ya, Kak?" Kasir dengan rambut di cepol menyebutkan angka yang harus Fuji bayarkan.
"840 ribu?" Fuji tampak kaget.
"Iya, Kak."
"Padahal udah aku itung tadi. Apa yang kemahalan ya?" Batin Fuji di dalam hatinya.
"Boleh aku kurangin gak kak belanjaannya? Uang aku kurang, Kak. Aku cuma bawa uang lima ratus ribu," Fuji mengatakan dengan tidak enak. Gadis itu menyimpan uang lima ratus ribu di atas meja kasir.
__ADS_1
"Ya sudah. Silahkan, Kak!" Kasir itu masih tersenyum ramah walaupun Fuji sedikit membuat antrian lebih panjang.
"Maaf, memangnya kurang berapa?" Terdengar suara pria di belakang Fuji.
"Kurang tiga ratus empat puluh ribu," jawab Fuji tanpa menoleh.
"Mbak Kasir, tolong scan belanjaan saya! Dan masukan kurangnya belanjaan teteh ini ke belanjaan saya!" Ucapnya kepada kasir yang tengah melayani Fuji. Pria itu memberikan tas belanjanya kepada kasir.
Fuji menoleh dan menatap pria yang berbaik hati padanya. Ia seolah pernah melihat pria itu, Tapi di mana?
"Kakak yang kerja di perminyakan itu kan?" Fuji teringat.
"Kamu teteh ojol?" Pria yang tak lain adalah Fikri bertanya balik. Tidak di sangka keduanya dipertemukan kembali di tempat yang tidak mereka duga.
"Iya. Saya nunggu kakak minyak nelfon saya buat order jasa saya, tapi gak ada terus," Fuji berterus terang. Fuji memang menunggu orderan pria itu lagi, karena Fuji harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
"Iya. Senin kemarin saya sakit jadi gak berangkat kerja," jawab Fikri. Sementara kasir yang bertugas sedang menscan barang-barang mereka dengan teliti.
"Belanjaan punya Bapak satu juta setengah. Ditambah belanjaan kakak yang ini tiga ratus empat puluh ribu. Jadi totalnya satu juta delapan ratus empat puluh ribu," kasir menyebutkan nominal yang harus Fikri bayar.
"Ini belanjaan kamu!" Fikri memberikan belanjaan milik Fuji.
"Makasih ya, Kak. Nanti aku bayar pake jasa ojek online aku aja ya?" Fuji menawarkan solusi.
"Ga apa-apa. Buat kamu aja. Memangnya itu buat siapa? Buat anak kamu? Tanya Fikri sambil terus berjalan ke arah parkiran di iringi dengan Fuji di sampingnya.
"Yang bener?" Mata Fuji berbinar.
"Iya," timpal Fikri singkat.
"Makasih banget ya, Kak?" Fuji terharu dengan kebaikan Fikri.
"Iya. Kamu belum jawab itu buat siapa. Buat anak kamu?" Fikri mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Oh iya. Ini buat calon ponakan aku, Kak. Kakak aku mau lahiran. Aku belum nikah lagian. Oh iya, Itu kakak beli stroler buat siapa? Buat anak kakak?" Fuji balik bertanya.
"Bukan. Ini buat kado. Sepupu saya lahiran," jawab Fikri.
"Oh iya, jangan panggil kakak! Panggil aja Fikri! Kayanya kita seumuran," lanjutnya.
"Oke deh," Fuji mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Kalau gitu saya pulang duluan ya," Fikri berpamitan kepada Fuji. Ia masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir di area parkir toko.
"Iya. Hati-hati di jalan!" Fuji melambaikan tangannya. Tak lama, mobil Fikri pun melaju meninggalkan Fuji yang masih berdiri di area parkir.
"Orang itu baik banget. Coba semua orang kaya seperti dia ya? Mungkin bakal banyak orang susah yang kebantu," Fuji tersenyum menatap belanjaannya.
"Aku harus cepet pulang," dengan semangat Fuji langsung berjalan ke arah motornya. Fuji melajukan motornya dengan ceria karena ia bisa membeli peralatan keponakannya dengan lengkap.
Tak lama, Fuji pun sampai di rumah. Ia melihat Shella tengah tertawa menatap layar gadgetnya. Fuji cukup mengenal kakaknya. Ia tidak memberitahukan dirinya sudah berbelanja peralatan bayi. Fuji tahu Shella pasti akan memarahinya. Maka dari itu, Fuji akan membawa peralatan itu ketika Shella akan melahirkan.
"Kak?" Sapa Fuji kepada Shella yang tengah terbaring.
"Kamu gak kerja, Ji?" Tanya Shella pada adiknya.
"Istirahat dulu, Kak. Oh iya, ini Uji bawain vitamin asam folat buat kakak. Kakak minum ya? Kasian dedenya kalau kurang vitamin," Fuji menyodorkan tablet asam folat yang sekalian ia beli di toko bayi.
"Ngapain kakak harus makan yang gituan, Ji?" Shella berkata dengan ketus.
"Biar anak kakak sehat," Fuji berusaha membujuk.
"Kakak gak peduli nih bayi sehat atau gak," Shella memutar bola matanya malas.
"Kakak kalau ngomong bisa gak sih yang baik-baik aja?" Fuji mulai terlihat kesal kepada kakak satu-satunya itu.
"Ya deh kakak makan. Mana tabletnya?" Shella akhirnya melunak. Ia takut Fuji jengah padanya dan pergi dari rumahnya. Shella tidak bisa membiarkan itu, karena bagaimana pun caranya Shella harus memberikan bayi itu kepada Fuji.
__ADS_1
Maaf ya baru update, otornya lagi sakit nih.