
Hari ini Zayyan mengambil cincin yang dulu akan ia berikan pada Keysha. Rencananya ia akan mendatangi toko resmi merk cincin itu untuk menjualnya lagi. Setelah mendapatkan uang, Zayyan berencana akan memperbaiki mobil kesayangannya yang sudah berbulan-bulan rusak karena kerusakan mesin. Ia juga akan menjadikan uang itu untuk modal usahanya.
"A, Zayyan mau ke mana?" Sapa Nadia saat melihat Zayyan keluar dari kontrakannya.
Nadia kini telah membuka warung seblak kecil-kecilan di teras kontrakannya. Selain seblak, ia juga menjual basreng, sosis, dan aneka macam minuman dingin. Di hari pertama berjualan, banyak sekali anak-anak yang membeli dagangannya.
"Eh Nadia, saya ada keperluan. Saya pergi dulu ya?".Pamit Zayyan pada Nadia.
"Hati-hati, A!" Nadia tersenyum.
Zayyan mengangguk, ia lalu memesan ojek online. Zayyan menuju pusat kota, ia lalu mendatangi toko resmi C*rtier tersebut.
"Selamat datang! Ada yang bisa kami bantu, kak?" Salah satu karyawan menyambut kedatangan Zayyan saat pria itu sampai di toko branded perhiasan merk Perancis itu. Karyawan itu mempersilahkan Zayyan untuk memasuki sebuah ruangan yang sangat mewah.
"Saya ingin menjual salah satu aset saya," Jawab Zayyan.
Karyawan tersebut mengangguk, ia mempersilahkan Zayyan untuk duduk di sofa. Ia lalu memanggil bagian supervisor untuk menemui Zayyan.
Beberapa menit kemudian, supervisor itu turun dan menjabat tangan Zayyan dengan hangat.
"Ada yang bisa saya bantu, kak?" Supervisor itu tersenyum ramah.
__ADS_1
"Jadi, maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin menjual cincin ini, Pak! Ini saya beli waktu saya sedang di Florida," Zayyan membuka kotak cincin yang berwarna biru itu, dan memperlihatkan cincin serta sertifikat dan surat-suratnya.
"Baik, saya cek terlebih dahulu ya? Mohon tunggu sebentar!" Supervisor itu tersenyum, lalu ia mengambil cincin milik Zayyan yang awalnya diberikan sebagai hadiah bagi Keysha itu untuk di teliti keasliannya.
"Silahkan, Pak!" Zayyan mengangguk, ia memilih duduk di sofa dan meminum air kemasan gelas yang disediakan oleh toko.
Beberapa menit kemudian, Supervisor tadi mendatangi Zayyan kembali seraya membawa cincin yang dibawa Zayyan.
"Cincin ini asli, Pak. Cincin ini edisi terbatas. Apa bapak yakin akan menjualnya?" Tanya Supervisor itu, masih dengan mengulas senyumnya.
"Ya, saya yakin!" Jawab Zayyan dengan mantap.
"Kami akan membelinya sekitar dua Milyar kak. Naik 400 juta dari harga ketika kakak membelinya," Tegas Supervisor itu.
"Silahkan tulis nomor Rekening kakak! Nanti kami transfer ya!" Lanjut supervisor itu lagi.
Dengan antusias Zayyan menuliskan nomor rekeningnya. Kemudian pihak toko pun segera mentransfer nominal uang yang telah disepakati. Setelah memastikan uang tersebut masuk ke nomor rekeningnya, Zayyan berpamitan untuk pulang.
"Terima kasih, Kak. Senang bekerja sama dengan anda!" Supervisor menjabat tangan Zayyan hangat.
"Sama-sama, saya yang harus berterima kasih," sahut Zayyan dengan wajah yang riang. Kini Zayyan bisa bangkit dari keterpurukannya dengan uang itu. Zayyan ingin segera menata hidupnya menjadi lebih baik.
__ADS_1
Zayyan pun meninggalkan toko yang terkenal sebagai perhiasan branded itu. Zayyan lekas memesan ojek online untuk pulang ke rumahnya. Namun saat ia melewati Mall terbesar di Bandung, Zayyan mengingat Rena. Lekas ia menyuruh driver ojol itu untuk berhenti dan menepi. Walau tak sesuai aplikasi, Zayyan memberikan tambahan pada driver tersebut dan memberikan rating bintang sempurna. Zayyan memasuki mall itu dengan hati yang berbunga-bunga. Uang yang ada di dalam rekeningnya itu sangat besar dan berharga untuknya.
Zayyan kemudian menaiki eskalator menuju lantai dua, tempat toko tas langganan Rena berada. Zayyan memilih-milih tas yang cantik dan branded itu, lalu pilihannya jatuh kepada tas berukuran mini Dior berwarna cream. Zayyan memang sangat tahu jika Rena amat begitu menyukai tas branded Merk Dior. Zayyan segera membawanya ke kasir, dan membayarnya. Setelah mendapatkan barang yang ia cari, Zayyan kemudian berjalan melewati butik. Ia melihat baju gamis dengan warna ombre terpajang apik dimanekuin. Tiba-tiba saja bayangan Nadia memakai daster lusuh muncul di dalam benaknya, ia tak tahu mengapa ia teringat Nadya. Zayyan berkilah dalam hatinya. Zayya menepis rasa yang aneh. Zayyan menegaskan bahwa ia harus membelikan Nadia karena alasan kemanusiaan, ia kasihan pada janda muda itu yang selalu memakai pakaian lusuh.
Sesampainya di depan butik Zayyan menjadi ragu. Apa ia harus membelikan baju untuk Nadia?Tapi Zayyan takut wanita itu marah padanya atau tersinggung. Zayyan pun mengambil keputusan untuk tidak membelikan baju itu. Akan tetapi hatinya yang lain menyuruhnya untuk membeli gamis dengan gaya dress itu dan memberikannya pada Nadia. Akhirnya Zayyan menuruti kata hatinya, ia semakin melangkah maju memasuki toko pakaian itu dan menerka nerka ukuran yang pas di tubuh Nadia.
"Kak, mau sekalian sama baju anaknya? Kebetulan dress itu sepasang dengan baju anak!" Tawar seorang pelayan wanita dengan senyum ramahnya.
"Kalau untuk ukuran bayi dua bulan ada?" Zayyan kembali bertanya, ia langsung mengingat Rengganis.
"Ada kak, mari ikut saya!" Karyawan tadi membimbing Zayyan menuju tempat dress bayi, lalu menyandingkan dress dewasa yang akan Zayyan beli.
Zayyan tertegun saat melihat dress bayi itu, ia teringat dengan wajah cantik Rengganis. Akhirnya Zayyan memberikan dress untuk Nadia dan juga Rengganis. Saat ini tangan Zayyan penuh dengan tentengan belanjaan, ia lalu membuka ponselnya dan memesan taksi online. Zayyan pun tak lupa membeli stok makanan untuk di kontrakan.
Zayyan pulang ke kontrakannya dengan hati yang bahagia. Ia melihat Nadia tengah melayani pembeli sambil menggendong Rengganis dengan kain jarik. Sesekali Rengganis menangis karena kurang nyaman dengan uap panas yang berasal dari wajan penggorengan. Zayyan merasa iba melihatnya. Lekas ia masuk ke dalam kontrakannya. Menyimpan barang belanjaannya dan segera menemui Rengganis.
"Nad, sini biar saya gendong dulu Rengganis! Kasihan dia tidak nyaman dengan uap panas dan aroma cabe dari wajan," Zayyan menawarkan diri.
"Baiklah, Terima kasih ya, A?" Nadia tak berusaha menolak, ia sudah cukup lelah mengasuh sambil berjualan. Zayyan mengambil Rengganis dari pangkuan Nadia, ia lalu menggendong Rengganis menjauh dari tempat Nadia berjualan.
"Ganis sama uncle dulu ya?" Ucap Zayyan lembut, tangannya membelai rambut tebal milik bayi cantik itu.
__ADS_1
Rengganis tersenyum, ia kemudian mengangkat kedua tangannya hingga Zayyan merasa gemas sekali. Refleks Zayyan menggendong lebih erat bayi luci itu. Zayyan ingin sekali mencium pipi bulat Rengganis. Akan tetapi, Zayyan tahu bahwa dirinya tidak boleh sembarangan mencium bayi orang lain. Apalagi bayi belum memiliki kekebalan tubuh yang kuat. Bukan tidak mungkin bakteri atau kuman akan mudah berpindah. Setelah itu Zayyan membawa Rengganis ke dalam kontrakannya.