
"Jawab pertanyaan Zayyan, Shella! Jangan terus berbohong untuk menutupi kebusukanmu terus-menerus! Kasihan anakku!!" Rena sangat geram melihat tingkah menantu yang tak diinginkannya itu.
Sementara Shella tertegun. Ia menatap keluarga Zayyan bergantian. Sebelum akhirnya dia membuka mulutnya. "Ya, dia adalah papaku. Puas kalian?" Mata Shella berkaca-kaca.
Shella merasa jengkel dengan Rena yang selalu memanfaatkan keadaan untuk menyudutkannya. Ingin sekali ia membalas mertuanya itu. Namun pasti Shella akan kalah mengingat posisinya sedang hamil dan pastinya tenaga Rena akan lebih kuat darinya.
"Lalu mengapa kamu tidak mengakuinya tadi? Tak takutkah kamu jadi anak durhaka?" Tekan Hanan dengan wajah penuh amarah. Sedangkan Raika memilih tak bersuara. Ia hanya menyimak perseteruan keluarganya dan Shella.
"Yang ada dia yang sudah jadi papa durhaka untukku. Dia meninggalkan mama demi wanita lain. Dia pun meninggalkan aku dan Fuji yang masih membutuhkan biaya, sampai aku harus turun tangan ikut menafkahi keluargaku karena keegoisannya," kilat amarah terpancar di mata Shella. Memang itulah salah satu alasannya saat ia tak ingin mengakui Soni. Namun alasan yang utama adalah, Shella takut sekali jika Zayyan mengingat jika Soni bukanlah wali nikah saat mereka menikah dulu.
"Aku tak tahu apa yang telah terjadi pada keluarga kalian. seburuk apapun beliau, beliau itu adalah ayahmu. Aku kecewa sekali padamu!!" Lirih Zayyan dengan kekecewaan yang sangat besar.
Di saat seperti ini, sekelebat wajah Keysha menari-nari di benak Zayyan. Wanita cantik itu tak pernah sekalipun membohonginya, apalagi berbohong mengenai latar belakang keluarga. Namun dengan Shella, belum setahun mereka menjalani biduk rumah tangga, satu persatu kebohongan Shella mulai terkuak. Zayyan takut kebohongan lebih besar akan terkuak di kemudian hari.
"Orang yang tidak ada di posisiku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seorang ayah. Apalagi dia pergi bersama wanita lain dan memilih menghidupi anak wanita lain yang tak ada hubungan darah dengannya sedikitpun, dan sekarang dia sedang menerima karma dari perbuatannya!" Shella tersenyum menyeringai. Ia lalu mengusap air matanya yang jatuh begitu saja. Memorinya mengingat sangat jelas, bagaimana malam itu Soni meninggalkan Ine yang menangis meraung menahan kepergiannya.
Hanan dan Rena beristighfar saat mendengar penuturan Shella. Nagi mereka Shella adalah mimpi buruk yang hadir di keluarga mereka. Tak terpikir bagaimana bisa Zayyan menukar Keysha yang baik hati dengan seseorang seperti Shella. Mereka sangat ingin tahu, di mana Zayyan memungut sampah seperti Shella?
"Lalu siapa wali nikah yang ada di pernikahan kita dulu? Jawab!" Amarah Zayyan yang mulai mereda harus meninggi lagi karena ucapan Shella barusan.
"Apa? Maksudnya apa, Zayyan?" Rena tampak mencari penjelasan. Begitu pun dengan Raika dan Hanan.
"Jadi, saat akad nikah ada orang yang menjadi wali nikah kami. Shella memperkenalkannya sebagai ayahnya. Tapi itu bukanlah Pak Soni," beri tahu Zayyan dengan mata yang memerah menahan amarah.
Lagi-lagi Rena, Hanan dan Raika hanya mengusap dada dan terus beristigfar. Sementara wajah Shella pucat pasi saat mendengar pertanyaan Zayyan. Namun semuanya terlambat untuk ditutupi toh pada akhirnya Zayyan akan mengetahuinya juga.
Shella mengusap air matanya yang menitik, spontan tangannya beralih mengelus perutnya yang mulai membesar. "Aku membayar orang untuk berpura-pura menjadi ayahku!" Gumam Shella yang membuat orang-orang yang ada di ruangan tamu membelalakan matanya.
__ADS_1
Akhirnya Rena bangkit dari duduknya. Ia lalu berjalan menghampiri Shella dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi Shella hingga membuat wanita hamil itu meringis kesakitan.
"Keterlaluan! Bisa-bisanya kamu menipu anakku! Dasar wanita j*l*ng!! Di mana otakmu Shella? Kau membiarkan Zayyan terus bergelimang dalam dosa Zina! Pernikahan kalian itu tidaklah sah!" Sembur Rena yang sudah tak bisa mengontrol emosinya. Mata Rena memerah, seiring dengan emosinya yang sudah diubun-ubun.
"Sabar, Ma!!" Raika menyusul Rena, dan menenangkannya.
"Shella apa kamu tahu? Salah satu syarat sah nikah adalah wali nikah. Wali nikah itu wajib dari ayahmu atau keluarga dari ayahmu. Tidak sah jadinya jika wali nikah diwakilkan orang lain tanpa sepengetahuan atau seizin dari ayahmu sendiri!" Timpal Hanan yang ikut emosi mendengar pengakuan Shella. Hanan tak habis pikir, mengapa Zayyan bisa jatuh hati kepada wanita seperti Shella?
"Aku tidak berpikir ke sana, yang terpenting aku segera menikah dengan Zayyan!" Ucap Shella tak acuh dengan wajah tanpa dosanya.
"Dasar wanita sund*l!" Rena menjambak rambut Shella hingga wanita itu meringis menahan sakit.
"Bisa-bisanya kamu!!" Rena terus menjambak rambut Shella tanpa ampun.
"Sudah, Ma!" Hanan memeluk tubuh Rena dan menjauhkannya dari Shella.
Zayyan mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak memenuhi hati dan pikirannya. Bagaimana bisa ia jatuh hati pada wanita seperti Shella? Apa sebelum mereka menikah hanya keindahannya saja yang Shella tampakkan? Hingga Zayyan begitu buta, dan berani menduakan Keysha. Diam-diam Zayyan merasa menyesal, mengapa ia harus memilih Shella daripada Keysha? Namun nasi sudah menjadi bubur, semuanya tak akan kembali seperti semula.
Rena menarik ujung bibirnya, ia merasa bahagia saat mendengar putranya memulangkan Shella. Begitupun dengan Raika, tak hentinya ia menebar senyum pada kakak sulungnya itu.
"Sayang, kamu gak bisa begini!" Shella tak terima. Ia berusaha menggapai lengan Zayyan, namun Zayyan menepisnya pelan.
"Jangan lupa kembalikan uang gajiku yang sudah kamu ambil sepenuhnya! Tanpa seizin ku, kamu pun sangat lancang mengambilnya," jelas Zayyan dihadapan keluarganya yang membuat keluarganya terkejut untuk kesekian kalinya. Zayyan memang sudah mengetahui ATM nya dikuras saat tadi ia pulang. Zayyan mengeceknya di teras rumah ketika akan masuk ke dalam rumah.
"Dasar wanita tak tahu malu!" Raika kini ikut bersuara. Merasa kehabisan kata-kata untuk Shella.
"Itu adalah nafkahku sebagai istrimu? Mengapa kamu begitu perhitungan? Dan bisakah keluargamu tak ikut terus berkomentar? Mereka tak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga kita!!" Kilah Shella merasa jengkel. Ingin sekali ia menerjang Rena dan menjambak rambutnya. Namun sayang, itulah hanya angan-angannya saja. Shella harus menahan diri agar Zayyan kembali bersimpati padanya. Bagaimana pun ada jabang bayi di perutnya. Shella tak ingin bayi itu lahir tanpa seorang ayah.
__ADS_1
"Aku tahu kamu istriku, dan aku tahu aku wajib memberimu nafkah. Tapi tidak untuk diambil semua, aku perlu bensin untuk bekerja. Aku perlu bekal untuk makan siangku. Sejak kamu menjadi istriku, tak sekalipun kamu memasakan bekal untukku! Awalnya aku berencana akan menyewa sebuah rumah untuk kita berdua. Tapi rencana itu gagal saat aku lihat di ATM saldoku sudah kamu kuras habis, Shell!"
"Istri? Dia bukan istrimu, Zayyan! Pernikahan kalian tidaklah sah!" Rena membetulkan ucapan Zayyan.
"Iya, Kak. Gak ada kewajiban nafkahin dia!" Raika bersuara.
"Mama benar. Mana sisa gajiku?" Zayyan meminta.
"Ini sisanya. Tadi aku pakai belanja dan memanjakan diriku! Silahkan kamu ambil lagi!"
Shella kemudian merogoh saku celananya, ia mengambil dompetnya.
Shella menyerahkan lembaran uang yang berkisar lima juta rupiah. Hati terdalamnya pun merasa menyesal telah menghambur-hamburkan uang itu. Jika ia tahu Zayyan akan menyewa sebuah rumah, tidak akan Shella memakai uang itu untuk kesenangan pribadinya. Pasti saat ini dirinya sudah bebas tanpa Rena dan keluarganya.
"Uang dua puluh juta hanya sisa segini? Ya ampun, Shell!" Zayyan kehabisan kata-kata, ia lalu menyugar rambutnya frustasi.
"Ambillah dua jutanya untuk bekalmu! Bagaimana pun ada anakku di perutmu. Namun setelah ini, pulanglah ke rumah ibumu. Kelakuanmu ini sangat membuat aku kecewa!!" Tegas Zayyan tak ingin dibantah. Ia lalu mengambil tiga juta rupiah dari uang yang Shella berikan tadi.
Shella menangis, ia menggelengkan kepalanya pelan. Shella lalu berjalan ke arah suaminya. Tanpa malu, Shella memeluk kaki pria itu.
"Tolong, sayang! Aku tak mau pergi dari rumah ini. Aku gak mau serumah dengan mama!" Lirih Shella tergugu. Bahunya berguncang karena tangisnya yang justru membuat Rena muak.
Rena berjalan ke kamar belakang dan mengambil koper-koper milik Shella. Dengan cepat wanita yang telah melahirkan Zayyan itu menyimpannya di samping Shella.
"Keluar! Anak saya sudah tidak menginginkanmu lagi!!" Rena menunjuk Shella yang sedang menangis tersedu. Lalu menarik lengan Shella agar segera bangkit dari posisinya. Rena takut Zayyan akan luluh.
"Sayang?" Shella memohon. Namun Zayyan membuang pandangannya ke arah lain. Ia tak ingin terpengaruh lagi oleh Shella yang sangat pintar memainkan perannya.
__ADS_1
"Maaf, Shell! Tapi hargai keputusan Zayyan! Setidaknya kalian harus merenungi kesalahan kalian masing-masing! Dan kami harus mencari tahu dulu kepada orang yang berkompeten mengenai status pernikahan kalian! Jika memang kalian tidak sah menikah, memang kalian tidak bisa satu rumah seperti ini!" Petuah Hanan bijak.
Shella berdiri. Ia pun berjalan gontai. Shella menyeret koper-kopernya sambil memikirkan cara bagaimana Zayyan akan kembali bersimpati dan kembali lagi padanya. Namun saat ia sampai di teras rumah Zayyan, Shella teringat akan belanjaannya. Haruskah dirinya kembali masuk dan mengambil belanjaan itu?