Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Kedatangan Shella


__ADS_3

Shella menarik dua kopernya dengan langkah gontai. Ia bingung harus pergi ke mana. Semua temannya seperti Avatar, menghilang saat dirinya membutuhkan mereka. Shella tak tahu ke mana kakinya harus dilangkahkan. Akan tetapi, pikirannya langsung teringat kepada apartemen ibunya, Ine.


"Sebenarnya aku malas sekali tinggal bareng mama, tapi ke mana lagi aku harus pergi?" Shella berbicara dengan tidak bersemangat.


Akhirnya Shella menyetop taksi untuk sampai di apartemen milik ibunya. Shella kini hanya memegang uang dua juta yang Zayyan berikan padanya.


"Ma!" Panggil Shella ketika ia sudah sampai di depan apartemen milik Ine.


"Ma!!" Shella terus berteriak sembari memencet bel dengan tidak sabar. Dirinya kini sangat lelah, haus dan juga lapar.


Tak lama, pintu dibuka oleh Ine. Wanita yang selalu bermake up itu tampak terkejut melihat kedatangan putri sulungnya. Ine juga menatap koper-koper yang Shella tenteng di tangannya.


"Shella? Ngapain kamu ke sini?" Tanya Ine saat melihat putrinya yang memajang wajah kelelahan.


"Ceritanya panjang, Ma!" Shella langsung masuk ke dalam apartemen milik ibunya.


"Tunggu! Ini maksudnya kamu bawa semua koper untuk apa, Shell? Jangan bilang kamu mau numpang di apartemen mama!" Ine berkacak pinggang.


"Mama tega banget sama anak sendiri! Gak inget apa siapa yang biayain hidup mama sama Fuji selama ini?" Shella berdecak kesal.


"Lho kok kamu ngungkit-ngungkit biaya sih? Lalu, gimana dengan mama yang udah lahirin dan besarin kamu? Emang itu gak pake biaya?" Ine mengungkit-ngungkit jasanya sebagai seorang ibu yang memang itu kewajiban dirinya.


"Lah siapa suruh ngelahirin Shella, Ma? Shella gak minta lahir di rahim Mama!" Shella menjawab tak kalah pedas.


"Kurang ajar ya kamu, Shell! Berani ngomong kaya gitu sama mama!" Ine merasa geram dengan jawaban putrinya.


"Udahlah, Ma. Aku cape. Aku pengen tidur!" Shella masuk ke kamar Fuji, adiknya.


"Shell!" Ine menggedor pintu kamar. Ia harus mendapatkan penjelasan mengapa Shella bisa datang ke apartemennya dengan membawa koper-koper itu.


"Ini gak bisa dibiarin!" Ine mengambil ponselnya Ia langsung menghubungi Zayyan. Tapi nihil, menantunya itu tidak menjawab telfonnya.


"Kurang ajar!" Ine mengumpat. Ia langsung duduk dan meminum air mineral untuk menetralkan emosinya.


Tiga jam kemudian Fuji baru saja pulang kuliah. Ia langsung duduk di meja makan dan membuka tudung saji. Fuji menghela nafas ketika ia tidak menemukan apapun di sana.


"Mama gak masak lagi?" Fuji berkata dengan kesal.


"Mama gak punya waktu. Masak telur sana!" Ine sedang memperhatikan kuku-kukunya yang baru saja di pedicure di sebuh salon kecantikan ternama. Tentu saja itu hasil jerih payahnya dalam menjerat suami orang.


Fuji tidak mau berdebat. Ia langsung menyimpan tasnya. Fuji membuka kulkas dan hendak mengambil telur dari sana. Tapi yang Fuji cari tidak ada di lemari pendingin itu.


"Gak ada, Ma. Mama gak belanja?" Seloroh Fuji menahan kejengkelannya.

__ADS_1


"Enak banget kamu nanya mama belanja atau gak! Mama kasih kamu makan juga udah untung. Telor-telor kemaren udah abis kamu makan buat sarapan sebelum pergi ke kampus. Lagian nih, kamu ngapain kuliah segala sih? Buang-buang duit aja!" Ine balik memarahi putri bungsunya.


"Kan itu kewajiban mama buat menuhin segala kebutuhan Fuji, Ma!" Fuji bersuara.


"Menuhin segala kebutuhan? Gak salah denger nih kuping! Yang wajib menuhin kebutuhan kamu bapakmu yang si*lan itu!" Ine menaikan suaranya.


"Ya kenapa mama harus cerai sama Papa?" Fuji bertanya dengan sedih.


"Pake nanya lagi! Emang ada wanita yang mau diduakan sama suaminya! Mikir! Kamu bisa mikir gak? Kamu ini bukannya kuliah? Buang-buang duit mama sekolahin kamu, kalau hal yang kaya gini pun kamu gak ngerti!" Ine menggebrak meja makan.


"Nah itu mama bilang sendiri mana ada wanita yang mau diduakan suaminya. Terus kenapa mama mau aja jadi selingkuhan om-om beristri?" Fuji terlihat tidak gentar.


"Anak ini!" Ine mengambil gulungan koran bekas yang cukup tebal dan langsung memukulkan ke kepala putri bungsunya.


"Dasar anak kurang ajar! Mama lakuin ini biar kita tetep bisa bertahan hidup!" Ine memukulkan koran-koran di tangannya dengan membabi buta.


"Ampun, Ma!" Fuji menutupi kepalanya dengan tangan.


"Kalau saja mama tidak pernah bertemu dengan ayahmu, mungkin mama tidak punya beban seperti kamu dan kakakmu itu!" Ine terus saja memukuli Fuji dengan beringas.


"Sakit, Ma!" Fuji terus mengaduh.


"Harusnya kamu bersyukur udah mama kasih makan! Bisa kuliah!" Ine terus saja menghajar putrinya dengan koran tebal yang ada di tangannya.


"Kakak?" Fuji melihat kakaknya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ada apa lagi?" Shella menyilangkan tangannya di dada. Ia sudah cukup familiar dengan kondisi keluarganya.


"Ini lho kak, aku minta makan tapi gak ada apapun," Fuji mengadu.


"Gak ada apapun banget, Ma? Aku juga laper lho ini!" Shella mengelus perutnya.


"Beli dong, Shell! Oh iya, coba jelasin ke mama, kenapa kamu datang ke sini!" Ine tampak tidak sabar.


"Zayyan memulangkan aku, Ma. Dia marah besar," Shella langsung mendudukan dirinya di kursi makan. Ine pun juga langsung duduk di sebelah putrinya.


"Marah? Marah kenapa?" Wajah Ine tampak gelisah.


"Jadi, mantan suami mama yang gak berguna itu datang ke rumah orang tua Zayyan. Di sana dia cari aku, Ma!" Shelle menjelaskan.


"Maksudnya Papa?" Fuji memperjelas.


"Iya," Shella mengangguk. Ia menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya sampai tandas.

__ADS_1


"Mau apa dia cari kamu, Shell?" Ine terlihat emosi.


"Kayanya istri barunya ninggalin pria itu. Mantan suami mama itu keliatan gak berdaya. Penampilan pria itu juga lusuh banget," Shella tampak tidak sudi menyebut Soni dengan sebutan Papa.


"Kasian papa," Fuji berkaca-kaca mendengar cerita kakaknya.


"Kasian apanya? Itu karma karena dia udah ninggalin kita! Harusnya kita bersyukur melihat kejatuhan si Soni!" Ine tersenyum senang.


"Ma, bagaimana pun Papa orang tua aku sama Kak Shella!" Fuji tampak tidak terima.


"Tahu apa kamu!" Ine memelototkan matanya lagi.


"Terus, apa yang terjadi?" Ine tampak ingin semakin tahu kelanjutannya. Ia menatap Shella dengan wajah penasarannya.


"Hubungan papa datang apa sama kak Zayyan ngusir kakak?" Fuji tampak tidak mengerti.


"Zayyan tahu kalau waktu akad nikah aku bayar orang buat jadi papa bohong-bohongan aku," jelas Shella.


"Ya ampun, Shella! Kok kamu bisa ceroboh gitu sih? Dari mana si Soni tahu alamat si Rena?" Ine tampak emosi.


"Entahlah, Ma. Shella juga gak ngerti tahu dari mana pria itu," Shella mengangkat bahunya.


"Ya itu salah kakak dong. Wajar kalau kak Zayyan marah. Pernikahan kalian gak sah. Dosa itu, kak! Terus kakak mau tinggal di sini gitu? Itu kamar aku lho, kak!" Fuji tampak tidak terima.


"Jangan sok tahu! Tahu apa kamu tentang dosa? Dari kecil aja kita gak pernah di ajarin ilmu agama sama Mama!" Shella memelototkan matanya kepada Fuji.


"Aku bakal tinggal di sini dulu sebelum Zayyan jemput aku," putus Shella tanpa meminta persetujuan dari ibu dan adiknya.


"Shell, kamu gak bisa dong kaya gini! Kehadiran kamu buat beban mama tambah lagi. Mama gak yakin si Zayyan jemput kamu cepet-cepet!" Ine mengomel.


"Ma, mama perhitungan banget sih sama aku? Mama gak lupa jasa-jasa aku buat mama dan Fuji? Sikap mama udah kaya ibu tiri aja," Shella menautkan alisnya dengan marah.


"Ya, bukan gitu, Shell. Keadaan kamu lagi hamil kaya gini. Bukannya kamu dan bayi kamu beban baru buat mama? Emang tuh bayi berojol gak pake uang, Shell? Perlengkapan bayi gak pake uang? Kamu cari laki-laki lain deh, Shell! Laki-laki kaya yang bisa ngecover semua hidup kamu!" Ine memanasi.


"Tenang aja! Zayyan gak bakal lama diemin aku. Lagian cari laki-laki lain gimana, Ma? Aku lagi hamil kaya gini, siapa yang mau?" Shella tampak jengkel.


"Kamu boleh tinggal di sini, tapi jangan lama! Jangan repotin mama!" Putus Ine pada akhirnya.


"Atau coba kamu hubungin si Pram! Kali aja dia masih bisa kamu rayu!" Saran Ine.


"Aku sudah mencampakan Om Pram, Ma. Mana mau lagi dia sama aku," Shella menjambak rambutnya dengan pelan. Menyesal dirinya sudah mencampakan pria bernama Pram. Harusnya Shella menjadikan pria itu cadangannya.


"Kalau gitu, kamu cari deh pria kaya buat ngcover hidup kita!" Titah Ine kepada Fuji.

__ADS_1


__ADS_2