Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Fuji Tahu Niat Shella


__ADS_3

Ayuna kini sudah berumur satu minggu. Selama seminggu itu pula Ayuna belum pernah merasakan ASI dari ibunya. Fuji berulang kali membujuk Shella untuk menyusui Ayuna. Akan tetapi, usaha Fuji tidak pernah berhasil. Wanita itu keukeuh dengan pendiriannya. Fuji pun harus membayar orang yang mau mengurus Ayuna di kala dirinya harus menarik ojek. Pernah Fuji meninggalkan Ayuna dengan Shella. Tapi saat Fuji pulang, Ayuna kelaparan karena Shella tidak memberikannya susu. Ditambah Shella tidak menenangkan bayi malang itu ketika dia menangis. Suara Ayuna sampai serak dan demam. Fuji pun jera untuk meninggalkan Ayuna dengan Shella.


"Dede Ayuna kulit sama matanya kuning, Neng," ucap ibu paruh baya yang bernama Bi Ijah. Bi Ijah adalah orang yang dibayar Fuji mengasuh Ayuna di kala ia menarik ojek online.


"Gimana dong, Bi? Aku kurang paham sama masalah kesehatan bayi," Fuji menatap tubuh Ayuna dengan sedih. Tubuh bayi malang itu terlihat kuning yang menandakan kadar bilirubin dalam tubuhnya di atas normal.


"Jemur aja atuh, Neng! Jemur beberapa hari ini mah," saran bi Ijah yang langsung di iyakan oleh Fuji.


Keesokan harinya Fuji membawa Ayuna ke teras rumah. Gadis yang belum berumah tangga itu dengan telaten mengasuh keponakannya. Fuji menjemur Ayuna sembari menatapnya dengan sedih. Tak terasa air mata menetes di matanya. Sejujurnya Fuji sangat lelah. Ia harus menarik ojek online dan juga mengurus rumah dan mengasuh Ayuna. Malam hari pun Fuji kekurangan tidur karena gadis itu harus begadang untuk menemani Ayuna.


"Cape!" Fuji menangis terisak. Air matanya tumpah di tubuh Ayuna yang terlihat kekuningan.


Saat menjemur Ayuna, Fuji mendengar Shella tertawa dengan nyaring dari kamarnya. Emosi Fuji meluap. Ia langsung berdiri dan menggendong Ayuna yang baru selesai di jemur. Fuji meletakan Ayuna terlebih dahulu di atas kasur lantainya. Setelah menyimpan Ayuna, Fuji langsung berjalan ke arah kamar Shella. Ia membanting pintu dengan sangat keras. Shella terlonjak kaget dan melihat Fuji dengan malas.


"Bagus ya? Aku cape-capean, kamu cuma haha hihi di atas kasur!" Fuji berteriak. Ia sudah tidak ingin bersikap lemah lembut kepada wanita yang tidak memiliki hati itu.


"Apaan sih, Ji?" Shella memutar kedua bola matanya.


"Masih nanya? Hey, Shell! Aku lelah harus cari uang dan harus beresin rumah. Aku juga lelah harus jagain anak kamu, sementara kamu cuma haha hihi di atas kasur. Kalau emang kamu gak mau urus Ayuna, seengganya ringanin beban aku dengan urus pekerjaan rumah!" Air mata Fuji menetes dari matanya. Ia benar-benar letih secara fisik maupun emosional.


"Ji, ingat ya kamu cuma numpang di sini!" Shella berdiri dari rebahannya.


"Cuma numpang? Hey, wanita jal*ng! Aku diam di sini tidak gratisan. Semua kebutuhan rumah ini aku yang bayar, termasuk untuk makan, minum kamu! Memangnya listrik, air, susu Ayuna, biaya pengasuh siapa yang bayar?" Fuji menunjuk wajah Shella dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Aku bisa aja pergi dari sini sekarang, toh aku bisa hidupin diri sendiri!" Fuji semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Terutama saat ia melihat Shella yang benar-benar tidak punya belas kasih kepada darah dagingnya sendiri.


"Jangan kurang ajar ya, Ji! Inget punya siapa tuh motor!" Shella melipat tangannya di dada dengan angkuh.


"Hey, emang aku pake gratisan?" Fuji tidak mau kalah.


"Seengganya bisa dong beres-beres rumah," cetus Fuji dengan amarah yang belum kunjung reda.


"Aku gak biasa ya Ji beres-beres rumah!" Shella merebahkan kembali tubuhnya dengan santai di atas kasur.


"Ya gak heran sih, kamu bisanya cuma ngangkang sama pria beristri kan? Haha!" Fuji tertawa mengejek.


"Jaga mulut kamu ya anak si*lan!" Shella langsung berdiri dari duduknya.


Bila Fuji harus berkelahi dengan kakaknya, Fuji sangat berani dan Fuji akan berjuang untuk mengalahkan kakak tidak tahu dirinya itu. Fuji sudah terlalu muak dengan tingkah Shella. Ingin sekali ia menjambak dan menghajar Shella dengan membabi buta. Fuji pun manusia biasa yang bisa emosi kapan pun.


"Adik yang aku biayain nyatanya cuma jadi anak pembangkang!" Shella berkacak pinggang.


"Aku tidak nyuruh kamu buat biayain hidup aku ya! Hey, wanita sundal! Apa kamu ini manusia atau bukan? Anak kamu sekarang sedang sakit! Apa tidak ada sedikit pun rasa kasihan pada Ayuna?" Mata Fuji berkaca-kaca ketika ia menyebut nama Ayuna.


"Untuk apa aku kasihan, kan ada kamu yang kasihan sama dia!" Shella berkata dengan enteng.


"Cape ya ngomong sama setan kaya kamu! Buang-buang energi aja!" Fuji mengalah, karena ia merasa berbicara dengan Shella tidak akan bermanfaat apapun padanya.

__ADS_1


Fuji langsung masuk ke dalam kamar dan menatap keponakannya. Ia melihat Ayuna tengah memasukan jempolnya ke dalam mulut, sebagai pertanda bahwa bayi itu sedang lapar. Dengan langkah cepat, Fuji langsung ke dapur untuk membuat susu formula yang Ayuna inginkan. Saat Fuji melewati kamar Shella, ia mendengar wanita itu tengah berbicara dengan seseorang.


"Seminggu lagi kita ketemu ya?" Shella bertelfon dengan seseorang dengan wajah yang ceria.


Fuji mengira orang itu adalah pria. Fuji tidak habis pikir dengan kakaknya. Shella masih berada dalam masa nifas, tapi wanita itu sudah mencari pria yang bisa ia manfaatkan. Fuji benar-benar tidak mengerti terbuat dari apa hati wanita itu. Fuji terus mendengarkan pembicaraan Shella, hingga akhirnya wanita itu mengakhiri telfonnya.


"Malam ini aku harus pergi dari rumah ini. Si Fuji pun udah makin berani sama aku. Aku khawatir dia kabur. Aku yang harus kabur duluan dari sini dan ninggalin bayi sial*n itu sama Fuji!" Shella berbicara sendiri. Fuji tentu mendengar ucapannya.


"Dasar wanita iblis!" Fuji meradang.


"Ayo kita adu kecepatan!" Fuji tersenyum sinis. Lantas ia meneruskan langkahnya ke dapur untuk membuat susu Ayuna.


Malam semakin larut, semua orang sudah terlelap dalam mimpinya. Akan tetapi, mata Fuji masih terjaga dengan sempurna. Fuji sudah mengemasi barangnya. Ia akan mendahului Shella untuk pergi dari rumah itu. Sebelum pergi, Fuji menatap Ayuna yang kini tengah tertidur lelap. Fuji menatap bayi itu dengan penuh kesedihan.


"Semoga kamu cepet sehat ya!" Fuji menatap Ayuna dengan berkaca-kaca.


Fuji melangkahkan kakinya dengan pasti meninggalkan Ayuna di dalam kamarnya. Fuji semakin terus berjalan hingga kini ia sudah berada di halaman rumah. Saat Fuji akan membuka pagar, kakinya terasa berat untuk dilangkahkan. Mata Fuji menganak sungai kala ia mengingat Ayuna. Apalagi kala melihat tubuh dan mata Ayuna yang begitu kuning. Air mata menetes begitu saja. Fuji menoleh ke belakang. Ia menatap jendela kamarnya. Bayangan wajah Ayuna terus menari-nari di kepalanya. Dengan cepat, Fuji berlari kembali ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar miliknya. Ia langsung mengambil Ayuna yang sedang terlelap dan memeluknya.


"Maafkan onty Uji ya, Nak!" Fuji menangis tersedu.


"Maafkan Onty yang punya niat ninggalin kamu! Onty janji gak akan ninggalin Ayuna lagi. Ayo kita hidup berdua tanpa bayang-bayang ibu kamu!" Fuji mendekap Ayuna erat.


Hati kecilnya menyadarkan Fuji, walaupun Fuji lebih dulu pergi dari rumah, akan tetapi Shella tidak akan berdiam diri. Bisa saja wanita itu membuang Ayuna atau meninggalkan Ayuna sendirian di rumah. Fuji tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada keponakannya. Bagi Fuji, Ayuna harus tetap hidup dan tumbuh dengan baik.

__ADS_1


Hey semua, maaf otor baru update lagi ya. Otor akhir akhir ini sibuk di real life. Semoga kalian mengerti ya. Terima kasih buat readers yang masih membersamai novel otor dan selamat menjalankan ibadah puasa ramadan bagi yang menjalankan 🤗


__ADS_2