
Sidang kedua dilanjutkan dengan adanya kedatangan saksi. Keysha menghadirkan Kinara, sahabatnya yang tinggal di Jepang. Kinara pun tak masalah harus terbang ke tanah air karena permintaan Keysha. Kinara merasa ia harus membantu Keysha keluar dari rumah tangga peliknya itu. Kinara menjelaskan dengan detail di hadapan hakim mengenai apa yang ia ketahui. Wanita itu pun memperlihatkan hasil-hasil tangkapan kameranya sebagai bukti bahwa perselingkuhan Zayyan sudah dilakukan sejak mereka ke Jepang.
Wajah Zayyan pucat pasi. Tak menyangka jika Keysha pernah mengirim mata-mata untuk dirinya. Pantas saja setelah kepulangannya dari Jepang, Keysha sangat berubah dan dingin. Namun Zayyan tak patah semangat, ia dan pengacaranya masih mengajukan keberatan untuk bercerai.
Hakim melanjutkan permohonan Keysha untuk sidang ketiga, karena melihat bukti dan saksi yang valid. Sedangkan di deretan bangku pengadilan, Rena dan Hanan berpegangan tangan seolah menguatkan. Di keluarganya memang tidak pernah ada sejarah pasangan yang bercerai, dan ini untuk pertama kali Zayyan bercerai dari istrinya.
Begitupun dengan Kania dan Sagara. Mereka menghadiri sidang ini untuk mendukung putri semata wayangnya yang tak lain adalah Keysha. Setelah hakim mengetuk palu, mereka membubarkan diri mereka masing-masing. Zayyan mempercepat langkahnya. Pria itu mengejar langkah Rena yang pergi begitu saja seperti tidak mengenali dirinya. Tak tenang rasanya jika Rena mendiamkannya seperti ini.
"Ma?" Panggil Zayyan yang sukses membuat Rena menghentikan langkahnya.
Rena menoleh dengan raut wajah yang kecewa. Wanita paruh baya itu seperti tak mengenali Zayyan yang dulu. Anak sulung yang penurut dan berbakti. Rupanya pengaruh Shella benar-benar buruk untuk Zayyan. Shella seolah mencuci otak Zayyan untuk membuat sekat dengan keluarganya sendiri.
"Ma, please jangan diamkan aku kaya gini!" Zayyan merajuk kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Puas kamu, hah? Keinginan kamu untuk bersama p*lacur itu akhirnya terkabulkan," mata Rena terlihat mengembun. Ia benar-benar kecewa dengan Zayyan.
"Ma, Pa? Aku bisa memperbaiki semuanya. Asalkan kalian mendukungku dan berusaha membujuk Keysha untuk membatalkan gugatan ini. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik lagi," cerocos Zayyan tak mau kalah.
"Diam kamu anak tak tau diuntung! Bisa-bisanya kamu berjanji saat kamu sudah menghamili wanita lain. Kelakuanmu itu seperti melempar kotoran di wajah papa. Apa kamu sadar, Zayyan?" Teriak Hanan tercekat. Rena segera mengelus bahu Hanan untuk menenangkan. Untung saja suasana disana sepi, hingga mereka bisa bebas berdebat.
"Aku bisa adil, Ma. Setelah Shella melahirkan, aku berjanji akan meninggalkannya dan membawa bayinya untuk Keysha rawat. Kita bisa memulainya dari nol," raut Zayyan terlihat sungguh-sungguh. Memang begitulah rencananya. Ia akan meninggalkan Shella nanti dan akan membawa anaknya itu untuk dirinya dan Keysha.
__ADS_1
"Kakak gila!" Fikri yang sedari tadi diam kini mulai bersuara.
Pria yang masih menempuh pendidikan di universitas itu tak habis pikir dengan ide gila kakak kandungnya itu. Fikri menarik kerah kemeja Zayyan, kemudian mendorongnya hingga tubuh Zayyan menghimpit tembok. Fikri memangkas jarak di antara mereka.
"Jangan karena kakak sudah mapan, kakak bisa seenaknya seperti ini! Apalagi kelakuan kakak ini sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Apa kakak tahu? Mama dan papa jadi bahan olok-olok di grup keluarga kita? Tahukah kakak, setiap mama ikut perkumpulan keluarga, mereka selalu menyindir-nyindir mama yang tidak becus mendidik kakak? Belum lagi dengan tetangga-tetangga kita yang terus menggunjingkan masalah ini. Dan aku mohon, jangan terus menjadi beban untuk kedua orang tuaku!" Desis Fikri tajam dan menusuk.
Zayyan melepaskan cengkraman Fikri, ia membalas Fikri dengan mencengkram kerah baju laki-laki muda dan tampan itu. "Jangan coba mengaturku! Bahkan selama ini, aku yang membiayai semua kebutuhan hidupmu!"
"Oh ya? Benar begitu? Tapi apa kakak tidak ingat dari mana kakak mendapatkan kesuksesan itu? Tidak ingatkah kakak? Mama dan papa menjual tanah warisannya untuk modal usahamu? Jangan berpura-pura amnesia!" Fikri tersenyum samar, ia lalu melepaskan cengkraman Zayyan dan menyapu kerahnya seolah ada noda disana.
"Sudah cukup! Mengapa kalian jadi ribut?" Teriak Hanan geram. Ia mencoba melerai kedua putranya yang sudah memanas.
"Penyesalan? Penyesalan apanya? Tidak ada yang kakak sesalkan," Zayyan menatap adik bungsunya itu dengan marah.
"Ya itu cuma dari bibir kak Zayyan. Tapi beda lagi dengan hati kakak. Aku yakin seyakin-yakinnya kakak bakal nyesel udah nukar berlian dengan batu kali," sinis Raika.
"Ayo Fikri, Raika! Lebih baik kita pulang saja," Rena mengambil lengan Fikri dan Raika kemudian menuntunnya meninggalkan Zayyan seorang diri.
"Si*lan!" Teriak Zayyan berang. Ia menendang tembok. Tangannya menyugar rambutnya kasar. Detik berikutnya, Zayyan memutuskan untuk pulang ke apartemen Shella.
Sementara Shella, ia baru saja pulang berbelanja untuk mengisi kulkas dan kebutuhan dapur. Wanita itu juga tak lupa membeli barang-barang yang kurang berguna. Ketika Shella melewati lobi, banyak mata yang menatapnya dengan tatapan jijik dan tak suka.
__ADS_1
"Oh itu pelakornya? Pantes ya wajahnya cocok. Wajah antagonis," bisik seorang wanita yang memiliki rambut sebahu. Walaupun berbisik, tapi Shella masih bisa mendengar ucapan wanita itu.
"Kasian, cantik-cantik kok pelakor?" Seru seorang pria yang bertubuh tinggi seraya memegang ponsel miliknya yang berlogo apel tergigit itu.
"Lebih enak jadi model sih menurutku. Dari pada harus jadi simpanan pria beristri. Mau duit aja harus ng*ngkang dulu sama bos ya? Segitu miskin nya kah?" Wanita yang memakai blazer pink tak kalah julidnya.
Sementara Shella tak menanggapi mereka. Ia lebih memasuki lift dan menuju lantai tujuh, tempat apartemennya berada.
Shella memasuki apartemennya dengan tergesa-gesa. Ia merasa aneh, mengapa sore ini semua orang yang melihatnya menatapnya dengan tatapan muak?
Tiba-tiba saja ponselnya berdering membelah lamunannya. Ia segera mengangkatnya dan menempelkan benda mahal itu ke telinganya.
"Kamu kemana aja sih? Lama banget mama telepon dari tadi!" Terdengar Omelan dari Ine di sebrang sana.
"Ada apa sih, Ma? Bikin penasaran aja," Shella menjawab dengan sewot.
"Kamu udah lihat twitter dan Instagram hari ini? Kamu masuk akun gosip tuh. Di sana kamu dicap sebagai pelakor dan masih banyak konten-konten lainnya yang nyudutin kamu," Ine ngedumel dengan pedas.
Shella terbelalak, ia langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Dengan lincah, tangannya segera membuka media sosial miliknya dan betapa kagetnya Shella saat membuka Twitter. Di sana banyak sekali cuitan akun yang menceritakan perselingkuhannya dengan judul model cantik yang jadi simpanan CEO muda.
"Si*lan ini pasti ulah wanita mandul itu!" Desis Shella berapi-api.
__ADS_1