Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Kedatangan Keluarga Sagara


__ADS_3

Malam minggu ini Andra beserta keluarganya akan berangkat ke rumah Keysha untuk menjelaskan niat baik mereka. Andra begitu bersemangat malam ini. Dirinya kini tengah memasang arloji di tangannya. Andra terlihat rapi dengan batik yang dipakainya hari ini. Begitu pun dengan Sagara dan juga dengan Dewi yang memakai batik bermotif senada dengan Andra.


"Sudah lama kita gak pakai batik couple an gini, Pa!" Dewi terlihat senang semua keluarganya memakai baju yang kompak.


"Sebenarnya papa enggan, tapi demi Mama," goda Sagara yang membuat Dewi tersenyum malu.


"Ayo, Pa!" Ucap Andra yang seperti tidak sabar untuk bertemu dengan sang kekasih pujaan hati.


"Sabar dong, Ndra! Buah tangan juga belum kita bawa. Kamu gak malu cuma bawa lato-lato?" Ucap Sagara yang tengah memakai sepatunya.


"Oh iya ya," Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia hampir lupa dengan buah tangan yang sudah mereka persiapkan dari hari kemarin.


"Sabar dong, Ndra! Keysha gak akan kemana-mana kok," goda Dewi yang membuat Andra tersenyum malu.


"Kamu udah kaya anak ABG yang puber, Ndra!" Sagara mengatai anaknya sambil tertawa.


"Papa juga pasti begitu dulu pas mau ngelamar mama," Andra membalikan kata-kata Sagara.


"Hampir mirip sih," Dewi berusaha mengingat.


"Ya sudah, panggilkan bi Irah untuk bawa semua buah tangan kita!" Pinta Sagara kepada Dewi.


Dewi pun mengangguk. Ia berjalan ke belakang. Tak lama Bi Irah dan seorang supir pribadi keluarga Sagara membawa buah tangan yang akan diberikan untuk Keysha dan keluarganya. Buah tangan itu ada buah-buahan segar, makanan ringan, serta berbagai macam jenis kue yang lumayan banyak.


"Ayo cepet!" Andra langsung mengambil satu persatu buah tangan itu dan disimpan di bagasi mobilnya.

__ADS_1


"Anak ini!" Sagara menggelengkan kepalanya melihat tingkah Andra.


Setelah siap, mereka segera berangkat ke rumah Keysha. Mereka disupiri oleh supir keluarga karena jika Andra yang menyetir khawatir ada kejadian tidak diinginkan mengingat Andra terlihat sangat gugup. Di jalan mereka berbicara ringan. Tak lupa Dewi dan Sagara menggoda Andra. Tapi tetap saja, tangan Andra sudah sedingin es. Ia begitu gugup ketika tahu akan bertemu dengan Keysha untuk membicarakan hubungan mereka ke arah yang sangat serius. Andra terus menatap jalan raya. Tak terasa mobil keluarga Sagara sudah masuk ke dalam pekarangan rumah dokter cantik itu.


"Ayo, Ndra!" Dewi menuntun lengan putranya. Sementara Sagara dan supir pribadi mereka membawa buah tangan yang akan diberikan untuk keluarga Keysha.


Bel ditekan oleh Andra. Tak berapa lama, pintu dibuka oleh Kania, ibu dari Keysha. Kania terlihat sangat cantik dengan setelan formalnya malam ini. Tentu saja Andra sudah memberitahukan perihal kedatangan mereka malam ini kepada Keysha.


Reynard dan Kania menyambut keluarga Andra dengan ramah dan hangat. Reynard dan Sagara saling berpelukan karena kesibukan mereka di rumah sakit membuat hubungan mereka sedikit menjauh karena jarang bertemu.


"Ayo masuk" Ajak Kania dengan wajah cerianya.


Mereka memasuki ruang tamu. Di sana terlihat Keysha sudah sangat cantik dengan dress yang terbuat dari kain batik. Keysha sedang menata brownies yang sudah ia buat tadi. Saat melihat kedatangan keluarga Andra, Keysha bergegas menghampiri keluarga calon suaminya itu. Ia mencium tangan calon mertuanya dengan takzim.


"Silahkan duduk Om, Tante!" Sambut Keysha dengan sopan.


"Kok saya gak di tawarin sih, Key?" Andra mencebikan bibirnya, membuat Semua yang ada di ruangan itu terkekeh.


"Oh ya, Dok. Silahkan duduk!" Sahut Keysha malu-malu.


Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. Suasana kekeluargaan sangat kental terasa di ruangan yang bernuansa soft itu.


"Rey, Kania,dan kamu Key. Om datang membawa keluarga om ini karena putra om merajuk ingin segea menikah. Rasanya ia tak sabar.."


"Pa!!" Andra merajuk memotong candaan Sagara.

__ADS_1


"Baiklah papa serius. Rey, saya membawa istri dan putraku untuk membahas pernikahan. Andra ingin segera menghalalkan Keysha. Saya sebagai orang tua hanya mengikuti saja dan merestui kalian dengan sepenuh hati. Bagaimana, Rey? Apa kamu mengizinkan anak-anak kita menikah?" Sagara memasang wajah dan intonasi yang serius, membuat ruangan itu seketika hening.


"Terima kasih atas niat baik kalian datang ke sini. Saya terharu dengan ketulusan kalian yang memperlakukan putriku dengan sangat berharga. Saya dan istri menyetujui dan merestui kalian. Apalagi saya melihat Andra sebagai sesosok anak yang baik dan sopan. Saya yakin dia berbeda dengan mantan suami Keysha," jawab Reynard tegas


"Namun untuk keputusan yang lebih mutlak, saya serahkan langsung pada Keysha. Bagaimana, Key? Apa kamu menerima pinangan Andra ini?" Reynard menitip Keysha yang sedang mer*-emas jemarinya di bawah meja.


"Apa tidak terlalu cepat? Maksud saya, saya baru lima bulan ini menjanda. Apa tidak akan ada issu negatif karena kami langsung menikah Pa, Om?" Keysha seakan bingung dengan Andra yang terburu-buru sekali ingin menikahinya.


"Menurut Tante sih lebih bagus kalian langsung menikah saja, agar tidak timbul fitnah! Tidak bagus juga menunda-nunda sebuah rencana dan niat yang baik," timpal Dewi, ibunda dari Andra.


"Iya, mama pun ingin ada pria tepat yang menjagamu, Key!" Kania ikut berbicara.


"Bagaimana, Key?" Tanya Andra saat keluarganya dan keluarga Keysha kompak mendukung agar mereka segera cepat menikah.


Keysha tampak berpikir, ia lalu mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, kalau begitu saya bersedia!" Jawab Keysha yang membuat semua orang di ruangan itu tampak lega.


"Alhamdulillah," jawab mereka serempak, refleks mereka tertawa. Lalu, mengalirlah kehangatan dan pembicaraan ringan dari kedua belah pihak.


"Jadi tanggal berapa kalian akan menikah? Biar para mama yang akan mengatur WO dan vendor untuk pernikahan kalian," Dewi berkata dengan antusias, ia tak sabar menikahkan putra bungsunya itu.


"Menurutmu tanggal berapa, Wi?" Tanya Kania penasaran.


"Tanyakan pada anaknya lho! Kok pada emak-emak yang repot?" Sagara terkekeh, ia lalu meminum teh yang masih mengepulkan asap tipis itu.


"Menurutmu bulan apa dan tanggal berapa, Ndra?" Reynard meminta pendapat Andra.

__ADS_1


"Bulan depan saja, Om. Dua Minggu lagi awal bulan!"


Reflek semua orang yang berada di ruangan itu membelalakan matanya. "Apa?" Seru mereka berbarengan .


__ADS_2