
"Ayah?" Zayyan memperjelas. Pasalnya saat akad nikah, ayah Shella bukanlah pria yang ada di hadapannya.
"Iya. Kamu menantuku kan?" Tanyanya menatap wajah Zayyan dengan sorot tatapan penasaran.
Ayah Shella bernama Soni. Ia adalah seorang arsitektur yang sangat handal dibidangnya. Namun rumah tangganya tak semulus prestasinya. Soni suka bergonta-ganti wanita. Ia menikah lagi dan meninggalkan Ine dan anak-anaknya. Soni memilih untuk memulai hidupnya yang baru bersama istri mudanya.
Namun perusahaan tempatnya bekerja mulai bangkrut dan melakukan pengurangan karyawan. Soni salah satunya, ia harus diberhentikan kerja untuk waktu yang tidak ditentukan. Istri barunya tak terima sang suami menjadi pengangguran. Akhirnya istri baru Soni mengusirnya dan jadilah pria itu terluntang-lantung di jalanan.
Soni datang ke rumah mewah yang ditinggalkannya untuk Shella dan Fuji. Namun rumah mewah itu sudah dijual. Soni bertanya kemana keluarga Ine pergi kepada penghuni baru rumah itu, dan pemilik baru itu mengatakan Ine membeli sebuah apartemen di salah satu pusat kota. Tak hanya itu, Soni juga mendapatkan informasi bahwa Shella menikahi pengusaha yang kaya raya dan sukses.
Maka disinilah Soni sekarang. Ia mencari Shella untuk meminta uang dan tempat tinggal. Tak ada salahnya Soni meminta bantuan pada Shella. Dulu dia merasa sudah menafkahi Shella dan mencukupi kebutuhannya. Maka tidak salah, jika sekarang Soni meminta balasan atas jasa-jasanya.
"Iya, saya suaminya. Bapak ini benar ayahnya Shella?" Tanya Zayyan masih merasa janggal hingga dahi pria tampan itu berkerut.
"Kenapa kamu kaya bingung gitu, Zayyan?" Rena merasa heran. Rena memang tidak mengetahui permasalahan ayah Shella karena dirinya tidak hadir saat Zayyan menikahi wanita itu.
"Nanti Zayyan cerita, Ma. Benar bapak ayahnya Shella?" Zayyan memastikan.
Sementara Rena tampak sangat penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi? Jika memang putranya sudah menikahi Shella, harusnya Zayyan tidak bertanya demikian. Tapi sudahlah, Rena lebih memilih untuk diam dan melihat terlebih dahulu apa yang akan terjadi.
"Iya, saya ayahnya. Tolong panggilkan dia, Nak!" Jawab Soni dengan berbinar. Di telisiknya ruang tamu rumah Rena dengan desain dan furniture mewah. Ia yakin, Shella akan memberikan bantuan padanya.
Zayyan mengangguk, ia lalu berdiri dan menghampiri Raika, adiknya. Gegas Raika menuruti perintah Zayyan untuk memanggil Shella. Raika berjalan menuju kamar belakang. Dilihatnya Shella yang sedang asyik memainkan ponselnya. Sikap sedih yang diperlihatkan Shella tadi hanya sekejap. Faktanya wanita itu sekarang sedang ketawa-ketiwi dengan ponselnya.
"Cek! Hape terooosss! Ada yang nyariin kamu tuh!" Raika menyedekapkan kedua tangannya di dada. Perkataan dan sifat Raika sangat arogan kepada Shella. Jauh sekali dengan sifatnya saat ia memperlakukan Keysha.
"Kamu. Kamu. Ish gak sopan!!" Cebik Shella tak suka.
__ADS_1
"Orang kaya kamu pantes emang di sopanin? Cepet keluar!" Raika memutar bola matanya malas.
Raika segera berlalu meninggalkan wanita yang hamil itu. Sedangkan Shella, ia lantas bangkit dari posisi tidurannya. Mantan model itu berjalan menghampiri ruang tamu. Namun saat di sana, Shella dibuat syok saat melihat Soni yang sedang duduk di sofa.
"Shella anak papa!!" Mata Soni berbinar saat melihat Shella, putri sulungnya.
Shella gelagapan. Ia menelan salivanya Untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering dan tercekat. Dilihatnya Zayyan yang sedang menatapnya dengan ekspresi jengah dan tak suka. Shella yakin, Zayyan pasti akan mengungkit perihal sosok wali nikah di pernikahan mereka dulu. Shella berharap Zayyan tak mengingat dan mempermasalahkan hal itu.
"Kamu siapa?" Tanya Shella berpura-pura tak mengenali Soni.
Soni terperanjat saat mendengar pertanyaan Shella. Ia lalu bangkit dan berusaha memeluk mantan model cantik itu.
"Aku ayahmu, Soni. Tentu kamu tidak lupa pada pria yang membuatmu ada di dunia kan, Nak?" Soni bertanya dengan keheranan.
"Ayah? Ayahku bukan kamu! Ayahku bukan Soni!" Shella masih saja mengelak. Padahal di hatinya ia sangat tahu pria yang ada di hadapannya kini adalah ayahnya. Namun Shella juga merasa heran, mengapa penampilan ayahnya berubah 180 derajat?
"Shella! Mengapa kamu tidak mengakui papa di hadapan suamimu, Nak? Ini aku papamu! Papa yang sudah membesarkan dan merawatmu," mata Soni berkaca-kaca. Orang yang diharapkannya akan menolongnya malah membuat luka di hatinya semakin dalam.
"Pergi! Kamu bukan papaku! Kamu hanya mengaku-ngaku kan? Mama, papa segera usir orang ini! Sepertinya dia akan menipu keluarga kita!!" Cicit Shella pada Rena dan Hanan, sementara Rena dan Hanan tak bergeming. Mereka sangat percaya pada Soni mengingat Shella adalah wanita ular.
"Shella, jaga sopan santunmu! Siapa pun Pak Soni, beliau orang tua yang harus kamu hormati!" Peringat Rena geram melihat attitude Shella yang dinilainya sangat kurang ajar pada orang yang lebih tua.
"Ingat-ingat lagi, siapa tahu dia memang ayahmu!!" Sindir Zayyan, ia ikut bersuara saat melihat perdebatan antara anak dan ayah itu.
"Tidak, sayang. Aku tidak mempunyai ayah gembel macam dia. Sepertinya dia memang mempunyai rencana buruk pada keluarga kita," Shella menggelengkan kepalanya. Ia masih saja ngotot pada pendiriannya.
"Shella, jangan berkata kurang ajar!" Hanan ikut merasakan kegeraman saat mendengar ucapan yang tak pantas dari bibir mantan model dewasa itu.
__ADS_1
Soni menyeka air matanya yang lolos begitu saja. Jauh-jauh kemari dengan harapan yang besar kepada Shella. Tapi putri sulungnya itu malah menjatuhkannya di jurang yang paling dalam. Tubuhnya pun sudah lemas karena berhari-hari menahan lapar. Namun tak ada belas kasih di hati Shella. Jangankan untum membantu, untuk mengakuinya pun Shella enggan.
"Baiklah Shell jika itu maumu! Namun nanti jika sesuatu terjadi padamu, jangan coba untuk mencari papa!"
Soni melemparkan sebuah kertas kecil yang berisi foto keluarga mereka dahulu di hadapan Shella hingga foto itu teronggok begitu saja di kaki Shella. Memang Soni selalu membawa foto itu saat ia diusir oleh istri barunya. Soni menyesal sudah meninggalkan Ine dan keluarganya. Penyesalan memanglah selalu datang terlambat, jika di awal namanya memang pendaftaran.
Setelah berpamitan kepada keluarga Zayyan, Soni melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah itu. Namun Hanan mengejarnya. Hanan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah untuk Soni. Ia sangat prihatin melihat penampilan Soni yang menyedihkan. Tubuhnya yang kurus, pakaian yang kotor, serta rambut yang mulai acak-acakan membuat Hanan sangat iba.
"Terima kasih, Pak," Soni menerima uang itu dengan tatapan sedih.
"Sama-sama, jaga diri bapak baik-baik! Maafkan Shella ya?" Jawab Hanan prihatin.
Soni mengangguk. Pria itu lalu mengatupkan kedua lengannya di dada sebelum akhirnya ia meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.
Hanan kembali ke dalam ruang tamu. Ia melihat Shella menundukkan wajahnya dengan gusar. Zayyan menghampirinya. Ia memungut foto yang dilemparkan Soni. Zayyan menelisik orang-orang yang ada di dalam foto itu. Dillihatnya Ine, Fuji, Shella, dan Soni sedang tersenyum menunjukan keharmonisan keluarga mereka.
"Jadi, benar pria barusan adalah ayahmu? Jawab aku!" Bentak Zayyan yang membuat Shella terperanjat.
"Sayang, kamu membentak aku?" Tanya Shella tak terima.
"Jawab aku, jangan mengalihkan topik pembicaraan!" Bentak Zayyan lagi.
"Ada apa sebenarnya?" Rena meminta penjelasan. Begitu pun dengan Hanan dan Raika.
"Jawab!! Benar Pak Soni ayahmu?" Zayyan tampak memelototkan matanya. Ia tidak menjawab pertanyaan Rena dulu. Kali ini fokus Zayyan adalah Shella.
"Jawab pertanyaan Zayyan, Shella! Jangan terus berbohong untuk menutupi kebusukanmu terus-menerus! Kasihani anakku!!" Rena sangat geram melihat tingkah menantu yang tak diinginkannya itu.
__ADS_1