Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Masa Lalu Dokter Andra


__ADS_3

"Shella, maafkan sikap istriku!" Zayyan mendekati Shella, ketika Keysha sudah pergi.


"Tidak apa-apa, Pak. Memang benar kata istri bapak. Penampilan saya sangat berani. Saya memang wanita murahan, Pak. Saya juga sudah bukan gadis lagi," Shella pura-pura terisak. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Hey, Hey. Tidak ada perempuan murahan di sini. Kau pun bukan perempuan murahan," Zayyan memegang bahu Shella.


"Tapi faktanya saya bukan gadis lagi, Pak" bahu Shella terguncang karena ia menangis sesenggukan.


"Maafkan saya, Shell. Saya tidak bermaksud. Saya tidak sengaja" Zayyan menarik Shella ke dalam pelukannya.


"Apa ada yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya, Shell? Maafkan saya!!"


"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin ini sudah takdir saya."


Zayyan memperdalam pelukannya pada Shella. Mengapa hatinya sangat tenang saat memeluk Shella seperti ini? Akhir-akhir ini tidak ada ketenangan saat bersama Keysha, tapi justru ketenangan untuk sekarang didapatkan dari wanita lain.


"Ya sudah ayo kita kembali bekerja! Sudah jangan menangis lagi!" Zayyan merenggang pelukannya, sementara Shella hanya mengangguk dengan lemah.


Sepulangnya dari kantor, Zayyan membuka pintu rumahnya yang terlihat sepi. Zayyan berdecak pelan ketika tidak menemukan Keysha di rumah. Ia sangat tahu bahwa sekarang Keysha masih di rumah sakit.


Zayyan membuka tudung saji meja makan. Di sana sudah banyak hidangan makanan yang tersedia. Zayyan mengambil piring dan menikmati makanan itu. Namun rasanya sangat hambar, ia benar-benar merasa sangat kesepian.


"Bi, Keysha berangkat jam berapa?" Tanya Zayyan saat melihat Bi Herna keluar dari dapur.


"Dari jam sebelas, Tuan. Kata nyonya hari ini beliau akan pulang malam. Karena banyak jadwal operasi," Bi Herna menjawab sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas untuk tuannya yang sedang makan.


Zayyan berdecih, ia semakin kesal saja pada istrinya. Katanya mau memperbaiki hubungannya? Tapi baru beberapa hari sudah sibuk lagi.


Selesai makan, Zayyan menuju ruang televisi, ia menyalakan televisi dan menontonnya. Hal yang sangat jarang ia lakukan belakangan ini.


Zayyan melihat jam dinding berkali-kali, ia masih menunggu kedatangan Keysha. Namun rasa kantuknya seakan tidak bisa diajak kompromi, akhirnya Zayyan tertidur di sofa.


Beberapa jam kemudian, Zayyan terbangun karena mendengar deru mesin mobil yang masuk ke dalam garasi rumahnya, ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Zayyan segera mematikan televisi yang menyala dari tadi. Amarah Zayyan rasanya sudah sampai ubun-ubun.


"Aku pulang!" Suara Keysha memecahkan keheningan ruang televisi.


"Mengapa tidak mengabariku? Biasanya kau selalu menelfonku," Zayyan sudah tidak bisa menahan diri untuk memberondong Keysha dengan banyak pertanyaan.


Keysha tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas berusaha mengacuhkan Zayyan. Ia melewati Zayyan begitu saja.


"Keysha, jangan bersikap tidak sopan seperti itu! Aku ini suamimu!" Suara Zayyan naik beberapa oktaf, ia memegang lengan Keysha dengan sedikit kasar.


Sebenarnya Zayyan tahu bahwa Keysha tengah marah padanya karena kejadian tadi pagi. Namun ia juga berhak marah, karena Keysha terlambat pulang bekerja dan ia tidak meminta izin seperti biasanya.


"Ya, kau suamiku. Lalu apa masalahnya?" Keysha menjawab ucapan Zayyan dengan tatapan tajam.


"Kau pulang terlambat dan kau tak mengabariku. Mengapa kau semakin berlaku seenaknya, Key? Kau sudah punya suami. Kau tidak menghargaiku!!" Geram Zayyan, emosinya semakin memuncak karena Keysha yang melawan ucapannya.


"Ya, kau adalah suamiku. Dan aku adalah istrimu. Lalu mengapa untuk urusan sekretaris pribadimu saja kau merahasiakannya? Lalu mengapa aku juga harus selalu memberitahumu? " Keysha ikut meninggikan suaranya.

__ADS_1


Bi Herna yang melihat adegan pertengkaran itu langsung masuk ke dalam kamarnya, ia tak mau mencampuri urusan rumah tangga majikannya.


"Ya tuhan, Key. Aku bukan tidak memberitahumu. Hanya saja waktunya memang belum tepat. Bagaimana aku memberitahumu jika kau selalu sibuk terus?" Zayyan melunak, Ia memegang bahu Keysha.


"Jangan selalu mencari celah kesalahanku! Walaupun aku sibuk, tapi sebelum tidur kita selalu punya waktu untuk sekedar mengobrol. Jangan selalu menyudutkan ku!" Keysha menepis tangan Zayyan.


"Mengapa kau selalu keras kepala, Key? Kau memang sangat sibuk. Bahkan aku selalu menyuruhmu berhenti jadi dokter, agar kau seutuhnya saja menjadi ibu rumah tangga. Namun kau tak pernah mau menurut, dan aku tidak suka kau berbicara tidak sopan pada sekretarisku. Walaupun dia hanya pegawai, tapi dia juga punya hati, Key. Apalagi kau menegurnya di hadapan ku. Lain kali jangan begitu ya, sayang? Jujur aku tidak suka dengan tingkahmu tadi pagi"


Emosi yang Keysha tadi tahan akhirnya keluar juga, ia mendorong dada Zayyan dengan kasar.


"Jadi amarahmu ini gara-gara sekretaris si*alanmu itu? Kau membelanya sampai menbentakku? Haha... Hebat sekali!"


"Aku bukan membelanya, aku hanya tidak suka melihat istriku minim attitude. Aku hanya akan meluruskan jika istriku berbuat salah," Zayyan tak mau kalah ia berusaha menguatkan argumennya.


"Sebaiknya kau luruskan sikap sekretarismu itu! Suruh dia pakai baju yang sopan!" Tukas Keysha seraya berlalu, ia menaiki tangga dan menutup pintu dengan sangat kencang.


Keysha merebahkan dirinya di atas ranjang, ia ingin menangis tapi sebisa mungkin ia tahan. Keysha bukanlah tipe wanita yang cengeng. Sementara di lantai bawah, Zayyan mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak mengerti mengapa ia menjadi seorang tempramental jika sudah berurusan dengan Shella? Zayyan pikir mungkin karena rasa bersalahnya yang tak kunjung usai pada model cantik itu.


Zayyan tidak berusaha membujuk Keysha, rasanya ia lelah juga menghadapi sikap Keysha yang selalu ingin menang sendiri. Akhirnya Zayyan memutuskan untuk tidur di sofa.


*****


Jam enam pagi Keysha sudah berangkat ke rumah sakit, pagi ini ia begitu banyak jadwal operasi. Keysha memilih tak menghiraukan Zayyan yang memutuskan untuk mendiamkannya juga. Ia tak mau ambil pusing.


Keysha pun menyuruh Bi Herna memasak untuk suaminya.


"Dokter Keysha?" Sapa seorang perawat saat Keysha berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit.


"Kami mau buat kejutan untuk Dokter Andra. Hari ini beliau ulang tahun, kalau dokter Key berkenan, Dokter Keysha bisa ikut bergabung bersama kami."


Keysha melirik arlojinya, masih pukul enam pagi. Sementara jadwal operasi setengah jam lagi. Masih ada waktu, Akhirnya Keysha mengangguk menyetujui ajakan perawat itu. Keysha juga tidak enak jika tidak memberikan ucapan selamat kepada Andra. Karena selain teman seprofesi, Andra adalah putra pemilik rumah sakit tempat Keysha bekerja.


"Ayo, Sus!!"


Keysha berjalan beriringan bersama tiga perawat, dan dua dokter obygin lain yaitu dokter Herry dan dokter Mutia. Mereka mengetuk pintu ruangan Andra.


"Masuk!" Titah dokter Andra yang terdengar nyaring.


"Selamat ulang tahun, Dok!" Seru Keysha dan tim kerjanya yang lain. Mereka membawa kue ulang tahun untuk dokter muda itu.


Andra terpaku menatap Keysha. Akan tetapi beberapa detik berikutnya ia berusaha bersikap sewajarnya mungkin.


"Dari mana kalian tahu saya hari ini ulang tahun?" Dokter Andra seperti tidak terkejut. Akan tetapi, senyumnya merekah dengan sempurna walaupun terlihat sedikit dipaksakan.


"Dari gue bro!" Timpal Dokter Herry, ia menonjok pelan bahu Andra.


Andra terkekeh dengan tingkah dokter Herry, Keysha menyalakan lilin yang menghiasi kue ulang tahun itu. Dan mendekat ke arah Andra.


"Berdoa dulu, Dok!" Keysha mengulurkan kue yang dihias dengan gambar pernak pernik kedokteran itu.

__ADS_1


Andra berdoa dengan khidmat ia lalu meniup lilin itu.


"Doa dari kami mudah-mudahan dokter panjang umur, sehat selalu, dan segera bertemu jodohnya nya" Dokter Mutia yang kali ini bersuara.


"Aamiin," Andra mengamini.


Setelah meniup lilin, Andra memotong kue ulang tahunnya dan dibagikan kepada rekannya yang berada di ruangan itu.


"Makanlah, Key! Sekali-kali makan makanan yang manis di pagi hari tidak apa-apa," Andra menatap Keysha yang belum menyentuh kue itu


Keysha pun merasa heran, dari mana Andra tahu bahwa Keysha sangat tidak suka menikmati makanan dan minuman yang manis di pagi hari?


Karena tidak enak, akhirnya Keysha mengambil sedikit potongan kue itu. Lalu memasukannya ke mulutnya dengan kikuk.


"Enak kue nya!" Puji Keysha berbasa-basi.


Setelah menikmati kue, para pegawai medis itu segera berfoto bersama. Andra berada di tengah-tengah sebagai orang yang berulang tahun hari ini. Di samping kanan ada Keysha, Dokter Herry, dan Dokter Mutia. Di samping kiri ada tiga wanita yang berprofesi sebagai perawat.


Setelah berfoto bersama, akhirnya mereka pamit dari ruangan dokter Andra. Keysha pun memilih untuk segera pamit karena jadwal operasi akan diadakan beberapa menit lagi.


Saat Keysha menuju ruang operasi untuk berganti baju menjadi baju khusus operasi, Keysha merogoh saku jas putihnya. Ia tidak menemukan ponsel di sakunya.


Keysha melirik arlojinya, masih ada beberapa menit lagi untuk melakukan tindak operasi. Keysha berjalan cepat menuju ruangan dokter Andra. Ia sangat yakin ponselnya tertinggal di ruangan dokter muda itu.


Saat akan mengetuk pintu, Keysha mengurungkan niatnya karena terdengar beberapa orang mengobrol di dalam.


"Usiamu tidak muda lagi, Ndra. Kamu sudah berumur 28 tahun. Segeralah mencari gadis dan menikah!" Terdengar suara bariton seorang pria. Keysha yakin itu adalah suara Dokter Sagara, Ayah dari Andra.


"Aku belum berminat untuk menikah," kini terdengar suara Dokter Andra yang didengar Keysha.


"Sudahlah Ndra, lupakan Nadien! Dia sudah bahagia di alam sana. Jangan kamu ratapi lagi!"


"Aku masih mencintainya, Pa."


"Kamu boleh mencintainya, tapi tidak berlarut-larut seperti ini. Sampai kapan kamu ratapi tunanganmu yang sudah meninggal? Sadarlah, Ndra! Kamu punya kehidupan nyata di sini!" Dokter Sagara menaikan suarany menjadi beberapa oktaf. Kadang kala ia jengah menghadapi sifat keras kepala putranya.


"Papa, tidak berhak ikut campur urusanku! Biar aku yang memilih jalan hidupku. Lagi pula ini rumah sakit, tidah seharusnya kita membicarakan hal yang bersifat pribadi di sini. Itu tidak pantas," Dokter Andra mengingatkan.


Dokter Sagara pun berdehem. Ia membetulkan kaca matanya. Putranya benar, ini rumah sakit dan seharusnya ia tidak membawa masalah keluarganya ke tempat bekerja.


Keysha yang masih berdiri di depan pintu ruangan Andra segera angkat kaki dari sana. Dokter itu merasa tidak sopan jika terus mendengar perbincangan anak dan ayah itu. Biarlah ponselnya ia akan ambil jika Dokter Sagara sudah pergi.


Sepanjang jalan Keysha kepikiran dengan ucapan dokter Sagara. Benarkah Andra masih sendiri karena masih sedih dengan kematian pacarnya? Keysha pun baru tahu bahwa tunangan Andra meninggal, karena Andra bukan tipe pria yang suka mengumbar statusnya di hadapan publik. Andra adalah pria yang cukup lihat menutup semua kehidupan pribadinya di rumah sakit. Bagi Andra, tak ada alasan membawa kehidupan pribadinya ke tempat di mana ia bekerja. Keysha pun tak tahu sosok Nadien itu seperti apa. Seperti apa Nadien? Bagaimana wajahnya? Bagaimana perilaku dan wataknya? Diam-diam Keysha sangat penasaran seperti apa detail wanita yang di cintai Dokter Andra, sehingga dokter itu masih sangat mencintainya hingga kini.


Keysha segera membuang pikirannya jauh-jauh. Tak seharusnya ia kepo dengan kehidupan pribadi orang lain. Keysha terus berjalan sampai ia sudah berada di dekat ruang operasi. Keysha harus fokus untuk operasi hari ini.


Sementara setelah kepergian Dokter Sagara di ruangannya, Andra mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Ia memutar-mutar kursi itu karena merasa gusar. Sampai kapan sang ayah terus menyuruhnya untuk menikah? Sementara rencana itu pun masih belum ada di pikirannya.


Pikirannya melayang jauh, saat Andra masih bertunangan dengan Nadien. Nadien adalah wanita yang cerdas, sederhana dan sopan. Tidak ada yang bisa mengerti dirinya kecuali wanita cantik itu. Namun sepertinya tuhan tidak mengizinkan mereka bersama. Saat Nadine akan membelikan kue untuk hadiah ulang tahun Andra, gadia itu menjadi korban tabrak lari. Dari peristiwa itu, Andra begitu benci dengan hari ulang tahunnya. Moment itu menjadikan kesedihan yang mendalam di hidupnya karena kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Pria itu begitu terpukul, hingga saat ini ia belum bisa move on dari Nadine.

__ADS_1


Andra menghela nafas saat mengingat peristiwa menyedihkan itu. Tatapannya sayu seakan menggambarkan kesedihannya. Detik kemudian, tatapannya beralih pada mejanya. Ia melihat sebuah ponsel yang tidak ia kenal. Dengan ragu Andra menyalakan ponsel yang tergeletak di atas meja. Di layar ponsel itu, terpampang wajah Keysha yang sedang tersenyum menghiasi ponsel yang di pilih sebagai wallpaper.


"Nadine?" Lirih Andra saat menatap mata sayu Keysha.


__ADS_2