
Setelah kejadian di resto saung Sunda, Zayyan berhari-hari tidak pulang ke rumahnya. Ia menghabiskan waktunya bersama Shella di apartemen. Keysha yang sudah melacak di mana suaminya pun lagi-lagi dibuat terluka. Ia harus segera menentukan sikap untuk Zayyan. Keysha seolah sudah muak dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri.
Keysha mengambil tas dan kunci mobilnya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah rumah pengacaranya. Ia harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada Maya, pengacaranya. Keysha tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Semua harus dengan pertimbangan ahlinya.
Keysha menyetir seorang diri. Sesekali ia tersenyum getir. Keysha begitu tidak menyangka pernikahan yang ia rajut dengan kesetiaan dan kepercayaan di nodai dengan begitu kotor oleh Zayyan. Sebulir air mata menetes dari mata indahnya. Apalagi saat mengingat selingkuhan suaminya yang menyebut dirinya mandul. Keysha segera menghapus air matanya dengan punggung tangan miliknya. Ia tidak boleh bersedih lagi. Keysha tidak boleh membiarkan Zayyan dan Shella menang dan di atas angin. Mereka harus diberikan pelajaran yang setimpal.
30 menit menyetir, akhirnya mobil Keysha sampai di pelataran rumah Maya. Keysha segera turun dari mobil dan melihat Maya sedang berdiri di depan pintunya. Wanita itu seolah tahu kedatangan cliennya.
"Bu?" Sapa Maya melihat kedatangan Keysha. Mereka pun saling menyapa dengan menempelkan pipi kanan dan kiri.
"Ayo silahkan masuk, Bu!" Maya mempersilahkan dengan sopan. Keysha pun segera masuk.
"Jadi, bagaiamana? Apakah sekarang saatnya melayangkan gugatan cerai?" Keysha bertanya langsung kepada intinya.
Maya tampak berpikir dan melihat berkas Keysha di tangannya.
"Saya minta ibu bersabar sebentar lagi. Bukankah ibu Key ingin semua aset kembali ke tangan ibu?" Maya balik bertanya. Keysha segera menganggukan kepalanya pertanda setuju.
"Bu, jika ibu ingin mengambil semua aset yang ada, ibu harus memiliki bukti mengenai perselingkuhan suami ibu. Tentu itu akan menjadi bukti kuat di persidangan nanti," Maya menjelaskan. Keysha pun dengan seksama mendengarkan penjelasan Maya tanpa menyela.
"Yang harus ibu lakukan sekarang adalah mencari bukti perselingkuhan mereka," jelas Maya lagi.
"Sepertinya itu mudah," Keysha langsung mendapatkan sebuah ide untuk membuktikan kelakuan b*jat suaminya di mata hukum nanti.
"Ibu juga bisa menjerat suami dan selingkuhan suami ibu dengan pasal perselingkuhan dan perz*nahan."
__ADS_1
"Aku akan memikirkannya," Keysha menatap Maya dengan serius.
Keysha pun bertanya mengenai tahapan perceraian yang akan dilaluinya nanti. Dengan profesional, Maya menjelaskan semuanya dengan detail dan jelas. Setelah puas, Keysha pamit dari rumah Maya dan pulang ke kediamannya.
"Baru pulang rupanya?" Ucap seseorang saat Keysha baru saja tiba di pintu masuk.
Kesyha mendelik saat ia melihat suaminya tengah berdiri di samping tangga sambil menyilangkan lengan di dadanya.
"Inilah yang membuatku lelah padamu, Key! Kamu selalu saja tidak ada waktu," Zayyan berwajah masam.
"Tidak ada waktu karena menolong pasien lebih baik dibanding tidak ada waktu untuk bersama pelakor," Keysha tersenyum sinis. Zayyan langsung gelagapan mendengar perkataan istrinya.
"Maksud kamu apa, Key? Kamu nyindir?" Zayyan bertanya dengan marah.
"Kamu kesindir? Berarti bener dong, ada main sama pelakor!" Keysha semakin terhibur dengan tingkah bodoh suaminya.
"Sayang, Shella dan aku saat itu sedang meeting. Tapi kamu malah berburuk sangka. Shella sakit hati sama penghinaan yang kamu lakukan. Dan satu lagi, aku tidak pulang ke rumah karena aku malas bertengkar denganmu," Zayyan melunak. Hatinya memang tidak rela jika harus kehilangan Keysha. Zayyan ingin memiliki Keysha dan Shella sekaligus. Zayyan tidak ingin melepaskan salah satunya.
"Meeting? Berdua? Meeting atau membahas masa depan?" Keysha tertawa sumbang.
"Clien belum hadir saat itu, Key. Percaya dong sama aku! Aku suami kamu," Zayyan menekankan kata-katanya.
"Clien? Clien yang mana? Dari perusahaan apa?" Keysha semakin menikmati raut wajah Zayyan yang kelimpungan.
"Clien dari Jakarta," jawab Zayyan sekenanya.
__ADS_1
"Oh begitu," Keysha mengangguk-ngangguk.
Bagaimana pun Keysha harus berpura-pura bodoh. Apalagi misi Keysha saat ini adalah mendapatkan bukti perselingkuhan mereka. Jika Keysha terus menekan dan ngotot, bukan tidak mungkin Zayyan dan Shella akan waspada dan semakin berhati-hati menutup rapat hubungan gelap mereka. Itu tentu akan mempersulitnya untuk mendapatkan bukti.
"Kamu percaya kan sama aku, Key?" Zayyan mendekat ke arah Keysha.
"Ya. Aku percaya," Keysha memaksakan senyumnya. Zayyan hendak menyentuh wajah istrinya.
Seolah semesta mendukung, ponsel Keysha pun berbunyi. Ia diberitahu jika ada operasi dadakan saat ini juga.
"Aku harus pergi. Ada orang yang membutuhkanku. Ku harap kamu mengerti," Keysha berkata kepada Zayyan.
"Baiklah," Zayyan menjawab dengan lesu. Sesungguhnya ia begitu merindukan istrinya. Akan tetapi, rindu itu hilang sirna saat dirinya bersama Shella.
Keysha pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kediaman mewah miliknya. Dalam hati, Keysha amat bersyukur karena tidak perlu lama berdua bersama suami pengkhianatnya itu. Keysha pun melajukan mobilnya kembali ke arah rumah sakit. Selagi menyetir, Keysha terus mencari ide untuk mengungkap hubungan menjijikan Shella dan juga suaminya. Sedetik kemudian senyumnya terbentuk sempurna ketika satu ide muncul di kepalanya.
****
Ine terus mendengus kesal melihat grup chat wh*tsapp di ponselnya. Grup itu berisi teman-teman sosialitanya. Ine merengut melihat Rena mengirim foto Keysha tengah memakai jas medis yang menandakan jika dirinya adalah dokter.
"Duh, menantu Jeng Rena emang the best deh. Dokter lho!" Satu balasan temannya yang lain sukses membuat Ine semakin kesal.
"Ini Keysha waktu di Swiss," Rena mengirim foto menantunya sedang bermain ice skating di gunung Motterhorn.
"Gila ya, semua penjuru dunia udah di kelilingi kali ya sama menantu Jeng Rena," balas ibu-ibu yang lain yang semakin membuat Ine panas. Rasa iri dengki di hatinya berkobar semakin besar.
__ADS_1
"Ah itu biasa aja. Besok aku bawa putriku di acara arisan kita. Pasti kalian terkesima," Ine akhirnya menimpali obrolan teman-temannya. Ia bertekad akan membawa Shella esok hari di acara arisan.