Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Perhatian Dari Andra


__ADS_3

Siang ini Fuji berangkat ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan kembali mengenai kesehatannya. Ini adalah hari yang Fuji nanti-nantikan, karena dirinya akan bertemu dengan dokter Andra. Fuji memang baru sempat kontrol hari ini. Fuji baru bisa memeriksakan kondisinya karena terkendala dengan biaya. Maklum saja, semenjak Zayyan dan Shella terkena masalah, Ine dan dirinya tidak mempunyai pemasukan apapun. Kini mereka mengandalkan uang darurat yang disimpan oleh Ine.


Tentu saja Ine tidak peduli dengan kesehatan Fuji. Ine memberikan uang karena Fuji memanipulasi biaya kuliahnya. Itulah sebabnya kini Fuji bisa datang kembali menemui dokter Andra untuk cek kesehatan.


Fuji kembali mengambil nomor antrian. Beruntungnya ia kali ini mendapatkan antrian nomor satu. Fuji menunggu dengan wajah yang gembira. Ia akan bertemu kembali dengan dokter ganteng incarannya. Saat namanya di panggil, Fuji berdiri dan masuk ke ruang pemeriksaan dengan wajah berbinar.


"Siang. Silahkan duduk, Fuji!" Dokter Andra mempersilahkan Fuji duduk dengan sikapnya yang ramah tamah.


"Siang, Dok!" Fuji segera duduk di hadapan dokter yang masih berstatus lajang itu.


"Bagaimana Fuji sekarang? Kenapa baru datang lagi?" Dokter Andra menilik catatan rekam medis milik Fuji.


"Iya, Dok. Baru sempet," Fuji berucap sembari tersenyum.


"Gimana? Ada keluhan gak sekarang?" Dokter Andra menutup catatan rekam medis Fuji. Tatapannya kini beralih kepada wajah Fuji. Hanya tatapan biasa. Tatapan seorang dokter kepada pasiennya.


"Gak ada sih, Dok. Saya pengen konsultasi aja, udah dua bulan belum juga haid," jelas Fuji dengan wajah murung.


"Belum haid ya? Yukk kita periksa!" Dokter Andra berdiri dari duduknya.


Fuji pun mengekor. Perawat yang menemani dokter Andra membimbing Fuji untuk tertidur di ranjang pemeriksaan. Dokter Andra sudah siap dengan transuder di tangannya. Ia mengecek keadaan rahim Fuji dengan alat usg itu.


"Semuanya lebih baik dari pada pemeriksaan dua bulan lalu," Andra terus menatap monitor.


"Yu duduk lagi!" Andra berdiri dan duduk kembali di kursinya.


"Jadi, gimana, Dok?" Fuji terlihat was-was.


"Bagaimana makanan, istirahat dan olahraganya?" Andra menulis resep untuk diresepkan kepada Fuji.


"Makanan aku hindari junk food. Istirahat cukup dan olahraga juga udah mulai rutin, Dok."

__ADS_1


"Bagus. Pertahanin ya gaya hidup sehatnya!" Dokter Andra tersenyum. Fuji dibuat melting oleh sikap dokter ganteng tersebut.


"Saya resepkan obat untuk membantu datang bulan ya. Tentunya kamu tidak boleh stres dan kecapean! Kalau kamu stress biasanya siklus bulanan pasti terganggu," jelas Dokrer Andra.


"Oh begitu, Dok!" Fuji mengangguk-nganggukan kepalanya. Hatinya berbunga-bunga ketika mendengar penjelasan dokter Andra. Rasanya dokter itu sedang perhatian padanya, padahal itulah pekerjaan seorang dokter.


"Jadi, kapan aku kembali lagi ke sini, Dok?" Tanya Fuji antusias.


"Sebenarnya tidak perlu, Fuji. Saat ini kan kamu belum menikah dan tidak sedang dalam masa program hamil. Kamu hanya perlu lakukan semua yang saya sarankan, yaitu makan makanan yang sehat dan bergizi, istirahat yang cukup, kelola stress dan juga olahraga teratur," jelas dokter Andra.


"Oh begitu, Dok!" Fuji menjawab dengan kecewa .


"Tapi, kalau kamu ngerasain keluhan yang mengganggu, kamu bisa datang lagi ke sini!" Dokter Andra menjelaskan dengan ramah.


"Dok, kalau aku mau bertanya sesekali boleh? Boleh minta nomor dokternya?" Fuji memberanikan diri.


"Boleh. Nomor saya ada di kartu berobat kamu. Kamu bisa lihat di sana!" Jawab Andra lagi.


"Bodoh! Bodoh banget kamu Fuji! Ini jelas terpampang kok nomor dokter Andra! Lah kamu malah abis-abisin duit datang ke polikliniknya Tapi tak apalah, cinta emang perlu perjuangan. Semangat, Fuji! " Fuji menyemangati dirinya sendiri tentunya di dalam hatinya.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan, Fuji?" Dokter Andra memecahkan lamunan pasien nya itu.


"Tidak ada, Dok. Terima kasih ya, Dok untuk pemeriksaan hari ini. Kalau begitu saya keluar ya!" Fuji berdiri dari duduknya.


"Iya, Fuji. Semoga lekas sehat 100% ya?" Ucap Dokter Andra mengakhiri pemeriksaannya.


"Iya, Dok. Selamat siang!" Fuji memperlihatkan senyumannya yang memikat. Ia pun segera keluar dari ruangan pemeriksaan dengan hati berbunga.


"Yess! Aku tahu nomor dokter Andra," Fuji bertepuk tangan di luar pemeriksaan. Semua pasien yang mengantri menatapnya dengan heran.


****

__ADS_1


Andra telah mengakhiri polikliniknya. Setelah ia membereskan semuanya, Andra pun masuk ke dalam ruangan bersalin. Di sana ia menjadi dokter jaga untuk memantau pasien yang baru saja menjalani operasi caesar. Dokter Andra berkeliling memeriksa pasien yang sedang berada di ruang pemulihan. Setelah memeriksa dan menyimpulkan mereka baik-baik saja, dokter Andra keluar sejenak untuk mencari makan malam.


Dokter Andra pun berjalan ke arah kantin. Ia membeli beberapa makanan berat dan cemilan untuk di makan sembari menunggu pasien-pasien. Saat dokter Andra akan masuk lagi ke ruang pemulihan, ia melihat Keysha yang sedang berjalan gontai dengan wajah yang pucat pasi.


"Key, kamu kenapa?" Dokter Andra berjalan cepat ke arah Keysha.


"Aku baik-baik saja, Dok," jawab Dokter Keysha dengan lemah.


"Ya ampun baik-baik apanya, Key? Muka kamu pucat pasi kaya gini," Dokter Andra menyentuh pipi Keysha yang basah oleh keringat.


"Duduk dulu yu, Key!" Andra mengajak Keysha untuk duduk di kursi yang ada di depan ruang pemulihan.


"Nanti aja, Dok! Aku harus ke ruang operasi. Ada operasi darurat. Ada pasien yang datang ke IGD dan harus segera dilakukan operasi caesar," Keysha menolak.


"Mau operasi lagi? Kamu tadi udah dari poli, terus langsung operasi beberapa pasien. Key, jangan melakukan operasi saat kondisi kamu kaya gini! Ada nyawa seorang ibu dan anaknya yang kamu pertaruhkan!" Andra sengaja membawa-bawa nyawa pasien agar Keysha menurut. Padahal sejatinya selain khawatir dengan keadaan pasien, Andra pun khawatir dengan keadaan Keysha.


"Tapi, Dok. Ini sudah jadi tanggung jawab saya. Saya bertugas jaga malam ini. Saya kuat, Dok!" Keysha bertekad.


"Key, gimana saya aja yang ngelakuin prosedur operasi darurat. Kamu jaga aja di ruang pemulihan sembari istirahat!" Andra memberikan solusi.


"Jangan egois, Key! Ada nyawa orang lain yang kamu pertaruhkan!" Andra memperingati sekali lagi dan itu membuat Keysha seketika melunak.


"Baiklah, Dok. Terima kasih ya?" Keysha merasa terharu dengan kebaikan dokter yang selalu menghiasi kepala dan hatinya akhir-akhir ini.


"Iya. Saya pamit ya? Ini makanan yang baru saya beli. Makan semuanya ya? Awas jika saya beres operasi, makanan ini masih ada!" Andra tersenyum lembut.


"Iya, Dok. Nanti saya habiskan," Keysha menatap Andra dengan jantung yang berdegup dengan kencang.


"Saya pergi ya? Doakan operasinya lancar!" Andra berjalan meninggalkan Keysha.


"Apakah aku salah jika saat ini memimpikan sebuah kehidupan yang bahagia dengan pria sebaik dokter Andra?" Keysha bergumam sembari terus menatap Andra yang berjalan masuk ke dalam ruangan operasi.

__ADS_1


__ADS_2