
Raka memasuki kamar Nadia. Ia menatap Rengganis yang sedang memasukan jarinya ke dalam mulut. Namun Raka melengos. Ia tak tersentuh melihat bayi tak berdosa itu. Kini sertifikat rumah Nadia jauh lebih berharga, karena sertifikat itu lah yang akan menolongnya dari amukan Bang Yudi, si lintah darat. Dengan cepat Raka mengobrak-ngabrik isi lemari. Pria kasar itu menarik pakaian Nadia yang ada di dalam lemari dan melemparkannya dengan asal. Kemudian Raka membuka laci, namun nihil. Tak ada sertifikat yang ia maksud di dalam lemari yang sudah reot itu.
"Nadia, si*lan! Di mana kau menyimpan sertifikat itu." Raka kembali ke tempat Nadya yang sedang terkapar. Ia lalu menjambak rambut Nadia dan menyeretnya menuju kamar.
"Katakan! Di mana kau simpan serifikat itu?" Hardiknya sembari menghempaskan mantan istrinya secara brutal.
"Aku tak akan memberikannya padamu!" Sinis Nadia sengit.
Nadia tak terpengaruh dengan kekerasan fisik yang ia alami sekarang. Baginya sertifikat itu tak boleh jatuh ke tangan Raka. Rumah ini adalah harta satu-satunya yang Nadia punya. Rumah ini adalah warisan satu-satunya dari kedua orang tuanya yang sudah tiada. Kelak Nadia pun akan memberikannya pada Rengganis.
"Br*ngsek!" Bentak Raka. Ia kemudian menampar pipi Nadia hingga sudut bibir wanita itu berdarah.
Mendengar keributan, Rengganis langsung menjerit menangis. Ia seolah tahu jika sang ibu tengah menahan nyeri oleh perbuatan ayahnya.
"Rengganis!" Nadia bergumam. Ia akan menghampiri Rengganis, namun Raka menahan tangannya.
"Mau ke mana kau? Cepat beri tahu di mana sertifikat itu atau tidak, aku tak akan segan membanting bayimu itu ke tembok!" Desisnya tajam, membuat nyali Nadia seketika menciut.
Raka tersenyum kecil saat melihat wajah Nadia yang tengah ketakutan. Mungkin Rengganis bisa untuk dijadikan senjata. Kini Raka tahu kelemahan Nadia. Raka menyeringai. Ia kemudian berjalan menuju ayunan tempat di mana Rengganis di letakan.
Sementara itu, Zayyan baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Ia berjalan melewati rumah Nadia. Tiba-tiba saja hati Zayyan merindukan Rengganis. Saat Zayyan akan melanjutkan perjalanannnya, ia mendengar jerit tangis bayi dan suara Nadia yang menangis. Bergegas Zayyan menghampiri rumah itu. Diketuknya pintu yang tertutup. Namun Nadia tak juga membuka pintu. Zayyan memutar knop, pintu langsung terbuka karena tak dikunci.
"Pergi kau dari sini! Menjauh dari anakku!" Teriakan Nadia terdengar.
__ADS_1
Zayyan langsung berlari ke arah suara. Mata Zayyan membeliak saat melihat Nadia sedang memeluk Rengganis dengan penuh ketakutan. Ia juga melihat seorang pria yang berdiri di hadapan lemari menatap Nadia dan Rengganis dengan bengis.
"Siapa kau?" Raka menatap nyalang ke arah Zayyan. Ia tak mengenali pria jangkung yang ada di hadapannya.
"A Zayyan?" Nadia terpekik. Wanita itu bersyukur Zayyan datang ke rumahnya.
"Oh ini pacar barumu ya? Lumayan juga! Tapi dilihat dari penampilannya, dia pria kere juga kan?" Ledek Raka dengan suara kekehan yang terdengar memuakan di telinga Nadia dan juga Zayyan.
Zayyan memperhatikan penampilan Nadia. Nadia terlihat sangat berantakan. Rambut yang acak-acakan, bibir yang mengeluarkan darah, serta tangan dan kaki yang lecet. Emosi Zayyan seketika tersulut. Ia sudah menduga jika Raka adalah mantan suami Nadia yang pernah Nadia ceritakan. Kejam dan tak berperasaan.
"Oh ini mantan suamimu, Nad? Mengapa kau pengecut sekali? Kau menghajar seorang perempuan! Sungguh tak tahu malu! Aku sarankan kau memakai rok saja! Pasti kau kelihatan cantik!" Ejek Zayyan yang membuat Raka seketika murka.
"B*jjngan!" Raka terlihat emosi, ia kemudian berlari ke arah Zayyan dan menerjangnya.
"Ternyata kemampuanmu tak ada seujung kukunya denganku! Kau hanya berani pada wanita saja!" Ledek Zayyan lagi.
"Si*lan!" Raka mencoba melepaskan diri dari cengkraman Zayyan. Namun Zayyan semakin memutarkan tangan Raka, membuat pria itu semakin meringis.
Raka menginjak kaki Zayyan dengan sangat kencang. Refleks Zayyan melepaskan cengkramannya pada lengan Raka. Kemudian pria yang gemar berjudi itu meninju wajah Zayyan. Namun tak membuat pria jangkung itu terhuyung. Dengan sigap, Zayyan membalas pukulan itu. Ia lalu menendang wajah Raka dengan gerakan ilmu bela diri yang telah lama Zayyan pelajari.
Sementara tangisan Rengganis semakin menjadi. Nadia berusaha menenangkan namun bayi itu masih tak mau diam. Jeritan dan tangisan di waktu shubuh terdengar oleh beberapa warga. Para warga mendatangi rumah Nadia dengan terburu-buru. Mereka terkejut saat melihat perkelahian dua orang pria.
Warga pun sudah mengetahui tabiat Raka. Akhirnya mereka membantu Zayyan untuk mengusir Raka. Melihat para warga berdatangan, Raka merasa tersudut. Ia lalu berlari kabur dan meninggalkan rumah Nadia.
__ADS_1
"Rengganis tidak apa-apa?" Zayyan sangat khawatir saat melihat Rengganis tak bisa ditenangkan dan terus menangis. Akhirnya Zayyan berinisiatif mengambil Rengganis dan menggendongnya.
Ajaib! Rengganis seketika diam. Para warga memperhatikan Zayyan. Mereka mengenali Zayyan sebagai penjual bakso keliling. Para warga pun tahu pribadi Zayyan yang terlihat sopan.
"Mau apa lagi Raka datang ke rumahmu, Nad?" Tanya Pak RT seraya menatap iba ke arah Nadia yang terlihat menyedihkan dan berdiri dengan sekuat tenaga untuk mengambil kerudung instannya.
"Dia mau mengambil surat sertifikat rumah saya pak RT! Beruntung A Zayyan lewat dan menolong saya!" Nadia menangis terisak sembari memakai kerudungnya dengan cepat. Nadia sangat syok dengan kejadian yang menimpanya barusan. Tak menyangka Raka akan kembali dan mengincar rumahnya.
"Maafkan kami Nad yang telat membantumu! Tadi kami sedang di masjid!" Pak RT terlihat sangat menyesal. Ia lalu memperhatikan Zayyan yang sedang menggendong Rengganis dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa, Pak RT. Terima kasih kalian sudah membantu saya dan Rengganis," Nadia memaksakan senyumnya.
"Baiknya kamu tak tinggal sendiri, Nad! Saya takut mantan suamimu itu akan kembali dan melukaimu lagi. Sebaiknya kamu ditemani oleh keluargamu!" Saran Pak RT yang diiyakan warga lain.
Nadia menggeleng. Ia tersenyum getir seraya menghapus air matanya yang memenuhi wajahnya. "Pak RT kan tahu, saya sebatang kara. Orang tua saya sudah meninggal. Saudara orang tua saya pun di Sumatera. Mereka sangat jauh!" Jawab Nadia dengan suara parau.
Pak RT termenung, matanya lalu beralih pada Zayyan. "Atau sebaiknya kamu menikah lagi Nad, agar ada suamimu yang melindungi mu!" Pak RT tersenyum penuh maksud.
Nadia termenung mendengar saran dari Pak RT. Dia pun ingin menikah lagi dan mempunyai suami yang mencintai dirinya dan anaknya. Tapi siapa? Nadia wanita miskin. Ia pun merasa tak cantik. Pria manakah yang ingin menikahinya? Apalagi dia seorang janda beranak satu. Nadia sudah rendah diri, ia tak mau bereksptasi terlalu tinggi.
"Kalau begitu kamu pindah saja ke kontrakan di dekat saya, Nad! Di sana banyak orang dan selalu ramai. Saya yakin mantan suamimu itu tak akan berani menyakitimu lagi!" Kini Zayyan berbicara.
"Rumah ini kamu kontrakan saja! Keselamatan Rengganis sangat terancam jika kamu tetap di sini. Saya yakin mantan suami kamu akan satang kembali!' Lanjut Zayyan.
__ADS_1
Nadia menatap Zayyan yang sedang menatapnya dengan tatapan iba. Tangan kekarnya sudah terlihat lihai menggendong Rengganis. Hatinya yang merasa terluka sangat tersentuh dengan sikap Zayyan. Apa boleh Nadia berharap lebih pada pria kekar yang sedang menggendong putrinya?