Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Rencana Keysha Selanjutnya


__ADS_3

Keysha menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di dalam kamarnya. Dilihatnya wajahnya yang cantik di pantulan kaca yang berukuran besar itu. Tubuhnya proposional, wajahnya cantik, dan kariernya pun juga cemerlang. Tapi mengapa Zayyan sampai hati menduakannya? Menduakan pernikahan mereka yang sudah dibangun selama lima tahun lamanya. Apa yang kurang dari Keysha? Apakah karena kurang perhatian menjadikan pria itu gelap mata menghancurkan pernikahan mereka?


"Sayang?" Zayyan tiba-tiba saja muncul di belakang Keysha dan memeluknya dari belakang. Keysha seolah larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari jika suaminya sudah masuk ke kamar mereka.


"Ada apa?" Keysha menjawab dengan wajah yang datar.


Keysha seolah risih setiap kali Zayyan mendekatinya. Dilepaskan pelukan Zayyan yang membuat pria itu bingung dengan perubahan istrinya. Padahal Keysha sangat senang ketika Zayyan memeluknya dari belakang.


"Mulai besok, sepertinya aku akan pulang telat terus. Kamu gak apa-apa kan? Banyak klien yang harus aku temui," Zayyan mulai mencari alasan agar ia banyak waktu bersama Shella tanpa harus membuat Keysha curiga.


"Baiklah," Keysha mengangguk, masih berpura-pura bodoh. Padahal dirinya sudah tahu ke mana langkah Zayyan akan dibawa.


"Tapi, sayang. Aku ingin sekali membeli sebuah Villa di sekitar Lembang, Ciwidey dan Pangalengan. Lalu, aku ingin membuat suratnya atas namaku. Di sana pariwisata sedang berkembang pesat. Tentu kita tidak boleh menyiakan peluang yang ada. Apakah boleh?" Rayu Keysha yang langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami.


"Boleh, tapi bolehkah kita melakukannya dulu, sayang? Aku merindukanmu. Sudah satu bulan kita tak pernah melakukannya lagi!" Pinta Zayyan dengan lembut.


Entah mengapa sikap Keysha yang berubah membuat Zayyan merindukan Keysha yang dulu. Hatinya merasa kosong walaupun kini ada Shella di sisinya. Zayyan merasa ada yang kurang dalam hidupnya saat Keysha bersikap dingin padanya.


Keysha menatap wajah tampan suaminya, ia tersenyum manis. "Boleh. Tapi tidak sekarang ya, sayang? Hari ini aku akan berangkat bekerja. Belikan aku Villa dulu, nanti mari kita lakukan!" Keysha tersenyum semanis mungkin.


Keysha tidak boleh membuat Zayyan curiga. Zayyan tidak boleh mengetahui rencananya. Keysha harus berpura-pura bodoh dan seperti tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Zayyan menghela nafas dengan kecewa. Pria itu ingin marah. Akan tetapi, ia sudah malas jika terus berdebat dengan Keysha. Istrinya itu tipekal wanita keras kepala. Namun ia juga tak tega jika harus tak menuruti apa mau Keysha.


"Baiklah, nanti aku belikan! Kalau begitu, aku berangkat ya, sayang?" Pamit Zayyan.


Ditatapnya wajah istrinya yang teduh itu. Ada rasa bersalah menyelinap di dalam hatinya ketika menatap wanita yang sudah menemani dirinya cukup lama itu. Perasaan bersalah pun semakin menghantui dirinya kala melihat sikap tenang Keysha.


Keysha mengangguk, ia mencium tangan suaminya. Setelah suaminya pergi, Keysha segera mengambil tas bermereknya dan pergi dari kediaman megahnya itu. Hari ini Keysha berniat untuk menemui pengacaranya. Ia ingin segera mengambil langkah selanjutnya atas badai yang sedang menerpa kehidupan rumah tangganya.


Sedangkan di dalam mobil, Zayyan masih kepikiran dengan sikap istrinya yang berubah. Keysha sudah tidak pernah menyambutnya lagi ketika pulang. Keysha juga sudah jarang menemaninya makan malam. Keysha sudah tidak pernah datang ke ruangan kerjanya yang ada di rumah, Keysha sudah tidak pernah melontarkan candaan recehnya. Hal-hal kecil itu saja membuat Zayyan merasa kehilangan.


"Pak, kita sudah sampai!" Seorang supir membuyarkan lamunan Zayyan. Ia lantas turun dari mobilnya dan menaiki lift menuju ruangan pribadinya.


Kekasih gelapnya itu juga sudah menyeduhkan kopi untuknya. Kopi kesukaan Zayyan dari dulu itu sudah mengepul di atas meja kerjanya. Rasa bersalah yang hinggap di hati Zayyan untuk Keysha seperti menguap begitu saja tak berbekas. Zayyan merasa terharu dengan perhatian kecil Shella. Setiap melihat Shella mengapa birahinya cepat sekali timbul. Pria jangkung itu segera menutup pintu ruangannya dan menguncinya dari dalam.


"Terima kasih, sayang!" Bisik hangat Zayyan, ia memeluk Shella dari belakang dan menciumi bahu model cantik itu dengan agresif.


"Sama-sama, sayang!" Shella membalikan badannya, ia menc*um bibir bosnya itu dengan agresif. Tangannya sudah membuka kancing kemeja Zayyan satu persatu.


Zayyan bukanlah tipikal pria yang suka melakukan adegan itu di tempat tidak lazim. Tapi dengan Shella, seolah semuanya runtuh. Ia bisa menyentuh wanita itu di mana saja.


Tak menyiakan kesempatan, Zayyan segera memindahkan kopi dari atas meja. Ia pun membalas c*uman Shella. Kemudian Zayyan menggendong Shella menuju atas meja. Zayyan mendudukan Shella, dan akhirnya hal yang sangat dinginkan pun terjadi lagi begitu saja.

__ADS_1


Suara leguhan terdengar nyaring di ruang kerja milik Zayyan. Kemudian Zayyan menggendong Shella ke arah sofa yang ada di ruang kerjanya. Mereka kemudian lanjut memadu kasih di sana. Mereka seolah tidak ada bosannya untuk berbuat nista. Tanpa mereka tahu, ada sebuah kamera yang sangat berukuran kecil tengah mengawasi kelakuan kotor mereka.


****


Keysha sudah sampai di lobi sebuah lembaga hukum yang mengurusi tentang masalah aset, dan kepengurusan sertifikat serta dokumen-dokumen yang penting. Hari ini ia datang bersama pengacara yang sudah ia sewa. Pengacara ini juga yang akan mengurusi perceraian Keysha dan Zayyan nanti.


Dengan berbekal KTP, surat kawin, kartu keluarga, dan niat yang kuat, Keysha bertemu dengan pak Fauzi, pemilik lembaga hukum itu.


"Jadi, apakah bisa aset-aset yang dibangun dengan campur kerja keras saya, bisa jadi milik saya seutuhnya, Pak?" Tanya Keysha dengan wajah yang serius.


"Bisa, Bu. Apalagi kesalahan suami ibu sangatlah fatal. Nanti ibu juga bisa menggugat harta gono-gini. Apalagi ada surat perjanjian pra nikah. Ibu semakin besar memenangkan kasusnya," jelas pak Fauzi dengan gamblang.


"Jika ibu ada bukti, ibu juga bisa menjerat suami ibu dan selingkuhannya dengan pasal perz*nahan," pengacara Keysha yang bernama Maya ikut menyahuti obrolan keduanya.


Keysha mencerna kata-kata pengacaranya. Haruskah ia memasukan suaminya ke dalam jeruji besi? Apakah Keysha akan tega? Hatinya merasa ragu. Tapi sebagian hatinya memberontak. Ia harus puas untuk membalaskan sakit hatinya.


Tangannya memegang sebuah surat, surat itu adalah surat perjanjian sebelum menikah. Keysha dan Zayyan membuat surat pra nikah, di mana isinya adalah jika salah satu diantara mereka berselingkuh atau berkhianat, maka harta dan aset yang mereka kumpulkan akan jatuh pada salah satu pasangan yang dirugikan.


Keysha membaca surat-surat penting itu, bibirnya menyunggingkan senyum sinis dan penuh kemenangan.


"Lihatlah! perlahan-lahan aku akan menghancurkan kalian!"

__ADS_1


__ADS_2