
Zayyan tersenyum saat melihat slip gaji pertamanya sebagai direktur pemasaran. Gajinya 20 juta cukup besar untuk dirinya dan Shella. Rencananya Zayyan akan menyewa sebuah rumah sederhana untuk dirinya dan Shella. Zayyan tak mau istrinya terus bersitegang dengan ibunya. Zayyan juga tak mau terus merepotkan Rena.
"Pulang nanti, aku ingin membelikan sweater untuk mama," Zayyan berbicara pada dirinya sendiri.
Zayyan menyimpan slip gaji itu di dalam laci meja kerjanya. Pria itu lalu bekerja kembali dengan hati yang riang. Setelah ini, Zayyan ingin sekali membelikan Rena sesuatu, karena setelah bercerai dari Keysha, Zayyan tidak pernah berhubungan baik dengan ibu kandungnya itu. Ia juga berencana akan membelikan suplemen ibu hamil untuk Shella. Zayyan selalu berdoa semoga bayi yang ada di dalam perut Shella baik-baik saja.
Saat membuka laci, Zayyan melihat foto kebersamaannya bersama Keysha. Senyum Zayyan pudar saat melihat wajah dokter cantik itu. Entah mengapa jika mengingat Keysha, perasaannya selalu di liputi rasa bersalah dan kesedihan. Gegas Zayyan menutup laci itu, membuang perasaan bersalah yang ada pada dirinya, dan kembali bekerja seperti biasanya.
Sementara di sebuah rumah mewah, tepatnya di kamar yang ada di belakang rumah, Shella sedang tersenyum ceria karena mengetahui Zayyan hari ini gajian. Setelahnya wanita licik iti mengecek saldo yang ada di mobile banking. Kebetulan ponsel Zayyan tertinggal di kamar. Dengan cepat Shella segera mentransfer semua saldo Zayyan ke rekening miliknya hingga menyisakan saldo 50 ribu rupiah saja.
"Ah, benar kataku! Zayyan masih bisa ku manfaatkan. Setidaknya dia masih mempunyai gaji yang besar," Shella tersenyum riang.
Dengan bersenandung kecil, Shella keluar dari kamar bekas asisten rumah tangga itu. Ia berjalan mengendap-ngendap untuk mencegat taksi. Kebetulan hari ini hari Senin, semua tampak sibuk dengan aktivitas mereka.
"Untung semuanya sedang pergi keluar. Aku bisa bebas keluar rumah sesukaku," ucap Shella senang.
Memang semua sibuk dengan aktivitas mereka, Hanan yang sudah berangkat ke rumah sakit untuk terapi berjalan. Rena mengantarkan Hanan ke rumah sakit. Serta Raika dan Fikri yang sudah pergi ke kampus. Serta Zayyan yang sudah berangkat bekerja.
Shella mencegat taksi yang lewat di depan rumah Rena. Dengan senyum yang mengembang, Shella memasuki taksi itu dengan perasaan yang bahagia. Hari ini ia ingin sekali memanjakan dirinya. Shella ingin pergi berbelanja, makan yang enak, serta melakukan perawatan yang sudah lama tak ia lakukan.
Tak berapa lama, wanita yang tengah hamil itu sudah sampai ke salon langganannya. Shella mulai melakukan perawatan yang biasa ia lakukan. Semua karyawan tampak memanjakan Shela karena Shella merupakan langganan di salon itu. Shella tersenyum puas saat mematut dirinya di cermin. Ia benar-benar merasa jauh lebih segar dari sebelumnya.
__ADS_1
Setelah dari salon, Shella pergi ke sebuah restoran cepat saji. Ia memesan steak, dan minuman kesukaannya. Lalu di akhir, Shella memesan sebuah dessert dan es krim. Shella benar-benar bahagia. Walaupun ia melakukan semua seorang diri, tapi Shella tak merasa kesusahan. Shella tak butuh teman untuk menemaninya, Shella hanya perlu uang untuk membuat hidupnya jauh lebih bahagia.
Perutnya terasa kenyang. Namun Shella tak merasa puas. Ia ingin membeli cemilan untuk dirinya di kamar. Gegas Shella pergi ke super market yang sangat besar di Bandung. Dengan memesan taksi online, Shella berangkat ke super market seorang diri. Ia mendorong trolley dan mengambil semua barang yang Shella inginkan.
"Ah aku mau ini," Shella berbicara sendiri.
Shella lalu mengambil sebuah cokelat silverqu*en dengan ukuran jumbo dan sangat panjang. Shella juga mengambil cemilan keripik kentang dengan kemasan ekstra. Tak cukup sampai disitu, ia memasukan roti bantal yang menggugah selera. Rumput laut, mie instan, ramen, buah-buahan tampak menghiasi trolley milik ibu hamil itu. Tak lupa, Shella juga membeli beberapa kotak susu untuk dirinya dan bayinya. Setelah melihat trolleynya yang sudah penuh, lekas Shella berjalan ke arah kasir untuk membayar semua belanjaannya.
"Zayyan pasti akan marah padaku karena aku menguras semua saldo di rekeningnya. Hm, sepertinya aku harus membeli ini," Shella melihat sebuah Lingerie yang di pajang di manequin. Shella membeliny. Ia berniat untuk menggoda Zayyan agar Zayyan tak marah dan selalu bertekuk lutut padanya. Semua selesai. Shella segera pulang sebelum keluarga Rena sampai lebih dulu. Ia harus menyembunyikan semua barang belanjaannya.
Setengah jam kemudian, Shella sudah sampai di kediaman Rena. Rumah mewah itu masih terlihat sangat sepi. Dengan bersenandung kecil, Shella memasuki rumah mewah itu seraya menenteng belanjaannya yang sangat banyak. Saking banyaknya, Shella meminta tolong kepada supir taksi untuk membantunya memasukan barang belanjannya.
Di dalam kamar, Shella merasa kebingungan. Perihal di mana ia harus menyembunyikan semua belanjaannya. Akhirnya Shella melihat kolong tempat tidur. Dimasukkannya semua makanan itu di dalam tempat yang gelap itu.
Shella lalu mengunci pintu kamar. Ia tak mau Rena menyuruh-nyuruhnya lagi. Jika Rena memaksa, Shella akan berpura-pura merasakan gejala morning sickness untuk mencari simpati Rena. ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan nyaman. Sa asyik berselancar di dunia maya hingga tanpa sadar ia tertidur.
"Shella, bangun! Dasar wanita malas!" Gedoran pintu membangunkannya.
Shella mengucek mata dan melihat jam dinding. Ia terperanjat tatkala ia melihat jam menunjukkan pukul lima sore. Rupanya sudah empat jam lamanya ia ketiduran. Dengan malas Shella membuka pintu. Ia melihat Rena berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang menyeramkan. Di sana juga ada Zayyan yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Lihat, Zayyan! Dari pagi dia tiduran. Bukannya masak buat nyambut suami kerja! Suami banting tulang, dia malah enak-enakan. Sekarang kebukti kan? Mama ga pernah suruh-suruh wanita ini!" Sembur Rena marah.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bantu-bantu mama sih?" Zayyan ikut menggerutu. Setelah lelah bekerja seharian, ia harus merasakan jengkel tatkala pulang ke rumah disambut omelan ibu kandungnya.
"Maaf, Ma! Tadi aku pusing dan mual. Jadi aku tiduran. Akhir-akhir ini aku sering ngerasain pusing dan mual, Ma!" Shella berkata dengan lirih, membuat Zayyan sejenak tertegun. Jika sudah membawa kandungannya, Zayyan selalu saja luluh.
"Alasan! Dari pagi saya gak denger kamu muntah-muntah. Hati-hati, Zayyan! Dia selalu menjual bayinya agar kamu tidak marah. Dia menjadikan bayinya tameng agar selalu bersikap malas-malasan. Jangan mudah ditipu oleh wanita ular seperti dia! Kamu ingat kan saat mama mengandung Raika? Mama hamil dengan kista, tapi masih bisa tuh mama kerjain semua kerjaan rumah," Rena masih menekuk wajahnya. Sangat menjengkelkan sekali bisa serumah dengan wanita yang sangat ia benci.
"Mama benar, Shell. Jangan terus menjadikan bayi kita sebagai senjata! Mama dulu hamil dengan kista gak manja kaya kamu! Aku liat kamu tidak ada masalah dengan kandunganmu," akhirnya Zayyan terhasut oleh ucapan Rena. Sementara Rena tersenyum penuh kemenangan melihat anaknya terpengaruh oleh ucapannya.
Shella hanya menundukkan wajahnya. Ia mengepalkan tangannya geram. Sampai kapan ia terus berada dalam tekanan Rena? Saat Shella merasakan geram luar biasa, terdengar suara teriakan Raika yang baru sampai rumah.
"Ma, ada tamu nih! Katanya mau ketemu Mama sama kak Zayyan!" Raika berteriak dari depan.
"Siapa itu, Zayyan?" Rena merasa heran.
"Aku gak tahu, Ma. Ayo kita liat!" Zayyan langsung berjalan meninggalkan Shella yang masih menunduk. Rena memutar bola matanya sebelum ia berjalan ke depan.
Zayyan dan Rena sampai di pintu ruang tamu. Ia melihat seorang pria paruh baya yang tampak sekali tidak terurus.
"Maaf, anda siapa?" Rena bertanya dengan sopan.
"Saya ayahnya Shella. Saya mencari anak saya ke sini," jawab pria itu yang langsung membuat Zayyan terkejut.
__ADS_1
"Ayah?" Zayyan memperjelas. Pasalnya saat akad nikah, ayah Shella bukanlah pria yang ada di hadapannya.