
Keysha memasukan tangannya ke dalam saku jas putihnya. Pagi ini ia akan mengadakan visit ke ruangan pasien pasca operasi Caesar. Keysha menekan tombol lift. Saat pintu terbuka, lift tersebut sangatlah penuh. Keysha berjalan lagi menuju lift satunya. Namun semua lift hari ini terisi dengan penuh. Maklum hari ini adalah hari senin, rumah sakit sangatlah ramai dengan pasien maupun tenaga medis.
Akhirnya Keysha berjalan menuju tangga darurat. Ia melihat dokter pria bertubuh tinggi tegap tengah menaiki tangga.
"Lho, dokter Andra?" Keysha terkejut saat melihat dokter pria itu adalah dokter Andra.
"Kamu lewat sini juga?" Andra bertanya dengan santai.
Keysha mengangguk, ia menatap tangga darurat yang sangat sepi. Hanya ada mereka berdua di sana. Tidak ada orang lain lagi.
"Dokter kenapa tidak naik lift?" Keysha mengamati penampilan Andra yang setiap hari selalu berpenampilan rapi, bersih dan juga wangi.
"Saya tidak suka keramaian, saya sudah terbiasa lewat sini," Dokter Andra menaiki pijakan tangga. Diikuti dengan Keysha di belakangnya.
Keysha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika sudah berhadapan dengan Andra, Keysha selalu saja mati kutu. Ia merasa selalu saja gugup jika berdua dengan dokter tampan yang masih berstatus lajang itu.
"Dokter mau visit juga?" Tanya Keysha memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"Iya ke lantai 4. Kamu visit ke lantai berapa?
"Sama lantai 4 juga."
Mereka menaiki tangga dengan hening. Sesekali Andra melirik Keysha yang ikut berjalan di sampingnya. Tatapan Keysha mengapa sangat mengingatkannya pada Nadien? Ah, Andra terlalu merindukan kekasihnya yang sudah tiada itu.
"Dok?" Keysha berusaha memecahkan keheningan di antara mereka lagi.
"Ya?"
"Terima kasih sudah memberitahu apa yang dokter lihat tentang suami saya," Keysha berkata dengan tulus.
__ADS_1
"Ya. Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tanya Andra penuh keinginan tahuan.
"Saya akan menceraikan suami saya, Dok."
Perkataan Keysha sukses membuat Andra terkejut. Dokter tampan itu menatap Keysha dengan lama. Apakah ini jawaban dari segala doa-doanya? Sudah lama sekali Andra memperhatikan Keysha. Entah karena alasan sekilas Keysha mirip Nadien atau memang karena pribadi Keysha yang menyenangkan. Entahlah Andra juga tidak tahu. Akan tetapi, Andra selalu memberikan jarak pada Keysha, mengingat Keysha berstatus istri orang. Ya harus tahu aturan agama dan norma saat bersikap.
"Kamu tidak menangis, Key? Seperti di sinetron-sinetron? Dan melabrak selingkuhannya itu dengan brutal?" Gurau Andra seraya terkekeh geli membayangkan Keysha adu jotos dengan selingkuhan suaminya.
"Air mata saya terlalu berharga, Dok. Terlalu mahal buat menangisi penghianat dan pelakor," cebik Keysha menanggapi gurauan Andra.
"Benar, kamu harus jadi wanita kuat! Namun jika ingin menangis, menangislah sampai puas, hingga suatu hari nanti kamu mentertawakan apa yang kamu tangiskan saat ini!" Andra mencoba mengeluarkan kata bijaknya. Sesekali mereka berhenti melangkah untuk mengatasi rasa lelah menaiki tangga yang cukup menyita tenaga.
Keysha tersenyum. Memang lima tahun berumah tangga bukanlah waktu yang singkat. Banyak suka, duka, tangis, canda, dan tawa mewarnai perjalanan pernikahan mereka. Dan semuanya tidak mungkin Keysha lupakan hanya sekejap mata.
Keysha akui masih ada rasa cinta yang tersimpan di relung hatinya untuk Zayyan. Namun semakin hari, rasa itu semakin terkikis habis karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Zayyan. Apa yang dilakukan suaminya menyakiti Keysha dengan sangat dalam. Luka yang Zayyan torehkan seakan menganga lebar dan sulit untuk disembuhkan.
"Sudah sampai. Saya visit ke ruang Mawar dulu," pamit Andra saat mereka sudah sampai lantai 4. Berbincang dengan dokter tampan itu membuat Keysha tidak menyadari jika mereka sudah sampai tempat tujuan.
"Oh ya, nanti sore pulang praktek, kita ke saung Sunda. Dokter Herry katanya ulang tahun " Pesan Andra yang mirip dengan sebuah ajakan.
"Baiklah. Nanti saya ajak dokter yang lain juga."
Andra mengangguk. Mereka saling tersenyum sebelum akhirnya mereka berpisah di batas ruang Mawar dan ruang melati.
****
Jam praktek telah berakhir. Dokter Herry dan dokter lainnya masih di ruang operasi. Ada juga dokter yang masih membuka jadwal poliklinik mereka. Hanya Andra dan Keysha yang sudah selesai dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka memutuskan untuk pergi duluan ke saung Sunda yang memiliki lokasi tak jauh dari rumah sakit.
Mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Namun Andra menunggu Keysha di pintu masuk. Andra melambaikan tangan saat melihat Keysha memasuki restoran khas Sunda itu. Mereka saling tersenyum.
__ADS_1
Kedua dokter spesialis kandungan itu memilih duduk di saung yang dekat dengan kolam ikan. (saung artinya rumah atau gubug kecil. Biasanya di resto atau tempat makan khas sunda, pengunjung satu dengan pengunjung lain akan makan di sebuah saung berbeda agar tidak bercampur satu sama lain). Saung mereka bersebelahan dengan saung kecil yang diperuntukan untuk dua orang. Suasana sangat sepi, hingga obrolan di saung di sebelah sangatlah terdengar dengan jelas.
Keysha dan Andra duduk saling berhadapan yang di pisahkan oleh meja. Andra menatap Keysha dengan serius hingga Keysha dibuat salah tingkah.
"Ada apa, Dok?" Tanya Keysha heran.
Andra tidak menjawab pertanyaan Keysha. Dia meletakan jari telunjuk di bibirnya yang membuat Keysha terdiam. Detik berikutnya, Andra mendengar dua orang sedang berbincang.
"Sayang, kamu suka ke sini dengan istri kamu yang sering merendahkan orang itu?" Suara seseorang yang tak asing di telinga Keysha.
Keysha melirik saung yang ada di sebelahnya. Matanya melebar kala melihat Zayyan dan Shella terlihat sangat mesra. Shella sedang bergelayut manja di bahu Zayyan.
"Jarang, istriku itu sangatlah sibuk. Tidak ada waktu baginya pergi ke tempat seperti ini," sahutan Zayyan terdengar sangat jelas.
"Istri kamu itu egois banget! Dia cuma mementingkan kariernya, namun tidak melayani suaminya dengan baik. Aku kok heran kamu bisa betah sama wanita kaya gitu," Shella mulai memanas-manasi Zayyan.
"Ya, aku pun sudah lelah dengan tingkahnya itu. Dan sudah beberapa minggu ini aku pun gak nyentuh dia," kilatan amarah terlihat di kedua mata Zayyan. Ia begitu emosi saat membayangkan Keysha menolaknya untuk tidur bersama.
"Apa yang kamu katakan itu benar, sayang?" Nada bicara Shella terdengar tak percaya.
"Ya, aku sudah tidak berselera dengan Keysha. Main dengannya seperti main dengan pohon pisang. Rasanya membosankan dan dingin. Beda sama kamu. Kamu lihai dan jago banget! Kamu jangan khawatir! Aku hanya menyentuhmu saja, sayang," Zayyan mengecup pipi Shella.
Deg...
Jantung Keysha seolah ditikam belati yang sangat tajam,. Ia tak menyangka Zayyan akan menceritakan masalah r*njang mereka pada orang lain. Bukankah itu adalah aib yang harus ditutupi oleh semua pasangan? Bukankah suami istri itu diibaratkan seperti baju? Apalagi Zayyan sangat berbicara gamblang dan blak-blakan di tempat umum seperti ini.
"Jadi, kapan kamu akan meresmikan hubungan kita, sayang? Aku ingin menemani kamu sampai kita menua bersama!" Rayu Shella mendayu-dayu.
"Secepatnya pasti aku akan meresmikan hubungan kita. Percayalah padaku!" Suara Zayyan penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
Keysha akan bangkit dari duduknya, kilat matanya penuh dengan amarah yang siap untuk diledakan. Namun Andra segera memegang tangan Keysha erat, kepalanya menggeleng untuk mencegah Keysha yang akan mendatangi pasangan menjijikan itu.
"Sabarlah! Kita akan ikuti permainan mereka!!" Tegas Andra penuh dengan keyakinan.