
Malam hari, Zayyan baru pulang dari kantor. Ia langsung masuk ke dalam kamar dengan wajah yang cukup lelah. Zayyan melihat Shella tengah memainkan ponselnya. Lagi-lagi, Zayyan merasa Shella sudah berubah. Wanita itu tidak pernah lagi menyambutnya pulang.
"Kamu belum tidur?" Zayyan melepaskan dasi dan pakaian kerjanya.
"Sayang? Kamu sudah pulang?" Shella langsung berdiri dan berhambur memeluk suami sirinya itu.
"Iya. Aku sangat lelah!" Zayyan melepaskan pelukan Shella.
"Sayang, kamu harus tahu! Seharian ini aku dikerjai oleh ibumu. Kamu tahu? Tadi mama menyuruhku untuk melayani tamu-tamu arisannya," adu Shella dengan isak tangis.
"Bagus dong! Kamu jadi berbaur sama mama dan teman-temannya," Zayyan menanggapi curahan hati istrinya.
"Berbaur gimana? Kamu gak tahu mereka perlakukan aku kaya gimana. Mama suruh-suruh aku kaya pembantu Padahal aku sedang mengandung cucunya. Kamu tahu? Tadi aku disuruh membersihkan kaki teman mama," Shella semakin mengencangkan tangisnya.
"Yang benar kamu?" Wajah Zayyan tampak serius.
"Masa aku bohong sama kamu, Sayang. Mama suruh aku elapin kaki temannya. Mama juga suruh aku makan makanan sisa mereka," Shella menambah-nambahkan cerita.
"Mama gak bisa kaya gitu!" Zayyan terlihat tidak terima. Ia langsung keluar dari kamar bekas ART itu.
Shella tersenyum penuh kemenangan saat Zayyan keluar dari kamarnya. Bergegas ia langsung menyusul langkah suaminya untuk melabrak ibunya. Zayyan dan Shella naik ke lantai dua untuk mencapai kamar ibunya.
"Ma?" Zayyan langsung masuk ke dalam kamar ibunya tanpa permisi.
"Kenapa kalian tidak ketuk pintu dulu? Gimana kalau mama lagi ganti baju?" Omel Rena saat Zayyan dan menantu tidak diinginkannya langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Ma, mama harus jelasin kenapa mama perlakuin Shella kaya tadi!" Zayyan langsung berbicara ke inti pembicaraan.
"Kamu gak ada sopan-sopannya ya sama mama!" Hanan terlihat emosi.
"Pa, aku harus dapet penjelasan dari mama!" Zayyan menghaluskan perkataannya. Bagaimana pun ia begitu takut pada Hanan.
"Penjelasan apa sih? Emang apa yang mama lakuin?" Rena berpura-pura bodoh.
"Mama buat Shella kaya pembantu kan hari ini? Bahkan kata Shella, mama suruh dia makan makanan sisa dan suruh elapin kaki teman mama!" Zayyan menjelaskan duduk perkara.
"Ya ampun! Kenapa kamu bisa bohong gitu sih ke Zayyan?" Rena langsung menutup mulutnya. Berpura-pura sock.
"Mama ngaku aja! Tadi mama suruh-suruh Shella kan?" Shella menautkan alisnya dengan marah.
"Ngaku apa sih, Shell? Bukannya tadi di dapur kamu makan apel? Mana berani mama suruh-suruh kamu. Bahkan mama suruh kamu bawa air minum aja kamu gak mau," Rena balik menuduh.
"Fitnah gimana dong, Shell? Emang kamu kerjaannya tidur-tidur aja di kamar. Disuruh bawa minuman juga kamu gak mau," Rena tampak keukeuh.
"Mama juga seorang wanita. Gimana mungkin mama sejahat itu. Walaupun mama semarah itu sama kamu dan dia, tapi itu hanya di ucapan mama. Faktanya mama tidak bisa menyuruh-nyuruh Shella. Bagaimana pun ada cucu mama di perutnya," Rena berkata dengan sedih.
Zayyan mulai terpengaruh. Ia tahu betul ibunya. Rena bukanlah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain. Kepada asisten rumah tangga saja Rena begitu baik. Walaupun Rena menyuruhnya untuk menempati kamar asisten rumah tangga, tapi tetap saja Zayyan bersyukur karena Rena mau menerima dirinya. Zayyan sudah tahu betul konsekuensinya. Zayyan langsung menatap Shella dengan tidak suka.
"Sayang, aku gak bohong! Sumpah!" Shella berusaha meyakinkan suaminya.
"Ada apa sih ini? Kalian ganggu waktu belajar aku!" Raika masuk ke dalam kamar ibunya dengan kesal.
__ADS_1
"Ini lho, Ka! Kakakmu nuduh mamah suruh-suruh istrinya. Bahkan istri kakakmu bilang kalau mama suruh dia makan makanan sisa. Kakakmu juga bilang mama suruh istrinya bersihin kaki temen mama," Rena memberi tahu Raika.
"Lah, orang kak Shella disuruh buat air juga gak mau kok, Kak. Dia asik-asikan santai. Nih buktinya!" Raika memberikan gawainya.
Zayyan menerima ponsel adiknya. Ia melihat Shella sedang makan apel di dapur. Zayyan juga melihat foto Shella sedang berbaring di atas kasur. Tentu saja, Raika membidik Shella ketika wanita itu makan apel di dapur, sebelum Rena menyuruh Shella menyimpan kembali apelnya. Raika juga yang sedang mengambil minum ke dapur memfoto Shella ketika wanita itu tengah tertidur setelah menangis. Kebetulan pintu kamar Shella yang berdekatan dengan dapur tengah terbuka sedikit.
"Sayang, aku gak bohong!" Shella tampak pias.
"Zayyan ke kamar dulu ya, Ma! Maaf sudah buat keributan!" Zayyan pergi dari kamar Rena meninggalkan Shella yang tengah mematung.
"Zayyan anakku! Aku lebih bisa mengendalikannya di banding kamu, jal*ng!" Rena menatap sengit ke arah Shella.
"Pergi dari kamar mamaku!" Raika mengusir.
Shella pun segera keluar dari kamar ibu mertuanya. Ia tampak berlari kecil menyusul Zayyan.
"Bagus, Nak!" Hanan mendekat dan mengusap rambut Raika.
"Raika bilang apa, pasti dia ngadu!" Adik bungsu Zayyan itu tersenyum sinis.
"Pokonya kita buat kakakmu membuang pelakor itu!" Rena berkata dengan penuh kebencian.
"Ya, papa setuju. Secepatnya benalu itu harus dienyahkan dari keluarga besar kita!" Hanan membenarkan.
"Lalu, bagaimana dengan anak yang dikandungnya, Ma?" Raika menatap kedua orang tuanya bergantian.
__ADS_1
"Mama ragu itu anak kakakmu atau bukan," simpul Rena.