
Mata Keysha tidak bisa terpejam. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu menatap langit-langit kamar memikirkan Zayyan sang suami. Keysha merasa ada yang berubah dari sikap Zayyan. Ia merasa pria itu sudah banyak berubah dan semakin jauh walaupun mereka tengah bersama.
Terdengar pintu terbuka, membuyarkan lamunan Keysha. Ia tahu pasti itu Zayyan, Keysha segera memejamkan matanya berpura-pura tidur.
"Sayang, aku pulang!" Zayyan mendudukan dirinya di tepi ranjang. Ia menghela nafas saat melihat Keysha sudah tidur.
Zayyan membuka jas dan kemejanya. Pria itu melempar jas itu dengan asal. Kemudian Zayyan melangkah ke kamar mandi. Ia mengguyur dirinya dengan kucuran shower. Wajah Shella terbayang. Ia tak tahu mengapa beberapa hari ini ia terus memikirkan teman SMA nya yang tak lain adalah Shella. Saat melihat Shella hampir dile*cehkan, Zayyan merasa ingin selalu melindungi Shella. Zayyan tahu ini salah, tapi hatinya seolah tidak bisa diajak kompromi.
Setelah selesai mandi, Zayyan memakai baju mandi kimononya. Ia melihat Keysha sedang memunguti baju miliknya yang ia lempar sembarangan. Kemudian Keysha menaruhnya di keranjang kotor yang ada di dalam kamar.
"Sayang, maaf aku membangunkanmu!" Zayyan memeluk Keysha dari belakang.
"Tidak apa-apa. Tapi jangan kebiasaan melempar baju ke mana saja! Ada tikus baru tau rasa," Keysha memegang tangan kekar Zayyan yang sedang memeluknya dengan erat.
"Sayang, aku rindu! Kamu semakin cantik saja!" Rayu Zayyan, ia menc*iumi bahu istrinya dengan posesif.
"Aku juga merindukanmu," Keysha membalikan tubuhnya, ia membalas pelukan Zayyan dengan erat.
Akhir-akhir ini Keysha merasa jauh dengan suaminya. Apalagi mereka hanya bertemu pada malam hari saja. Kadang Keysha pun harus meninggalkan Zayyan ketika jam-jam tidur, karena ada panggilan operasi darurat di rumah sakit. Keysha tahu Zayyan sangat kesepian, namun ia juga tak bisa egois. Ada pasien yang harus ia bantu dan berkaitan dengan nyawa seseorang.
Zayyan mencium semua wajah Keysha, terakhir ci*umannya itu berhenti di bibir tipis Keysha. Ia mencium Keysha lebih dalam, Keysha membalas c*iuman itu, mereka saling bertukar Saliva.
Zayyan tak bisa menahan lagi h*asratnya. Dengan lembut, ia membaringkan Keysha di atas ranjang. Zayyan membuka semua pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Kini mereka sudah tidak berpakaian sehelai benangpun.
Zayyan memperdalam c*iumannya. Akan tetapi, tiba-tiba ingatannya saat menc*umbu Shella hadir. Zayyan merasa kaget mengapa ia tiba-tiba ingat. Saat akan melakukan penyatuan tubuh dengan Keysha, Zayyan mengingat semua yang ia lakukan pada Shella. Zayyan segera menghentikan aktivitas panasnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar dan risau.
"Sayang, ada apa?" Keysha bertanya dengan raut wajah yang khawatir.
"Kepalaku sakit! Aku ke toilet dulu."
Tanpa meminta persetujuan Keysha, Zayyan mengambil handuk kimononya. Ia menutup pintu kamar mandi, Zayyan memandangi wajahnya di kaca kamar mandi. Zayyan berpikir dia benar-benar gila. Mengapa saat akan berhubungan dengan Keysha, ia malah mengingat peristiwa malam itu bersama Shella?
Zayyan mencuci wajahnya. Air yang segar tak juga menjernihkan pikirannya mengenai Shella. Sampai kapan ia harus mengingat peristiwa itu? Zayyan keluar dari toilet, ia melihat Keysha sedang bermain dengan ponselnya. Istrinya juga sudah mengenakan pakaiannya lagi.
"Sayang, maafkan aku! Tadi kepalaku mendadak pusing sekali!" Zayyan menatap Keysha dengan perasaan bersalah.
"Sayang, jujurlah padaku! Sebenarnya ada apa? Sudah dua minggu ini kamu terlihat aneh. Apa ada masalah?" Keysha sudah tidak sabar mengeluarkan uneg-unegnya. Ia menatap Zayyan meminta penjelasan.
__ADS_1
"Dua Minggu ini aku lelah, sayang. Banyak sekali pekerjaan yang menumpuk. Belum lagi sekarang ada perusahaan di karawang yang bekerja sama dengan perusahaanku. Banyak tim audit yang berdatangan ke tempat produksi. Jujur aku lelah, dan baru saja kepalaku mendadak pusing!!" Zayyan memijat pelipisnya. Memang benar akhir-akhir ini pekerjaannya menumpuk. Akan tetapi, itu hanya akal-akalan Zayyan saja untuk menutupi jika akhir-akhir ini ia tengah memikirkan perempuan lain.
"Sayang, bukannya kita akan program hamil? Dua .inggu ini kita belum melakukannya. Bukannya kamu ingin aku cepat hamil?" Raut wajah Keysha sangat murung. Terlebih apa yang baru saja Zayyan lakukan. Rasanya ia merasa begitu tersinggung.
"Maafkan aku ya, sayang! Aku benar-benar pusing. Nanti setelah ini aku berjanji kita akan merencanakan program hamil lagi," Zayyan segera mendekap tubuh istrinya.
"Kamu tahu? Aku pun merasa kesepian. Aku ingin segera memiliki anak. Bukan hanya kamu saja, bahkan aku sudah rela berkorban mengurangi jam praktekku supaya kita banyak waktu untuk berdua."
"Iya aku minta maaf. Aku yang salah," tukas Zayyan cepat. Di dalam hatinya, ia juga merasa bersalah. Mengapa ia bisa-bisanya memikirkan wanita lain?
Zayyan mendekap Keysha dan membaringkannya. Mereka tertidur sambil saling berpelukan. Hingga tak terasa, mereka memasuki alam mimpi.
****
Pagi harinya, Keysha sudah mandi dan membuat sarapan. Zayyan pagi sekali sudah berangkat ke kantor. Alasannya banyak sekali dokumen yang belum ia periksa dan tanda tangan. Pagi ini, Keysha berinisiatif mengantarkan sarapan dan makan siang untuk sang suami. Tiba-tiba saja ia teringat perkataan dokter Andra. Apa salahnya ia mendengarkan nasihat dokter muda itu? Toh selama ini memang Keysha jarang sekali mengantarkan bekal makan siang ke kantor sang suami karena dirinya terlalu sibuk.
Keysha Segera memarkirkan mobilnya begitu mobilnya sampai di tempat parkir perusahaan suaminya. Para satpam yang melihat Keysha segera membuka pintu dan tersenyum hangat pada istri bosnya itu. Keysha hanya menjawab dengan senyum yang ramah.
"Selamat pagi, Bu Keysha!" Sapa seorang resepsionis cantik yang tersenyum dengan ramah.
"Ada, Bu. Apa perlu saya telepon dulu dengan pak Zayyan bahwa ada ibu di lobby?" Tawar Resepsionis dengan rambutnya yang di cepol.
"Nggak usah. Biar saya langsung ke ruangan bapak saja."
"Baik kalau begitu. Silahkan, Bu!"
Keysha mengangguk, ia berjalan menuju lift lantai 3 tempat suaminya bekerja. Banyak sekali karyawan yang memperhatikan Keysha. Mereka sungguh terpesona dengan istri bosnya yang semakin hari semakin cantik.
"Masuk!" Terdengar suara perintah dari Zayyan saat Keysha mengetuk pintu. Keysha tak mengeluarkan suaranya, ia berniat untuk membuat Zayyan kejutan.
Keysha langsung masuk ke ruangan Zayyan. Keysha tertegun menatap pemandangan yang ada di depannya. Zayyan sedang duduk, tangannya sangat sibuk membuka lembaran dokumen, hingga ia tak melihat siapa yang mengetuk pintu. Sedangkan di samping Zayyan, ada perempuan yang sedang berdiri sambil memperhatikan aktivitas suaminya.
"Sayang, dia siapa?" Tanya Keysha dengan wajah menelisik.
Zayyan merasa kaget saat melihat istrinya ada di dalam ruangannya, lebih tepatnya sedang berdiri di hadapannya.
"Sayang? Mengapa kau ada di sini?" Zayyan mendekati Keysha. Ia segera memeluk istrinya dan mencium keningnya dengan wajahnya yang masih shock.
__ADS_1
Shella segera mendekati pasangan suami istri itu. Ia mengulurkan tangannya ke arah Keysha. "Perkenalkan saya Shella, sekretaris pribadi pak Zayyan!" Shella tersenyum manis.
Keysha menatap Zayyan meminta penjelasan. beberapa detik kemudian, Keysha membalas uluran tangan Shella.
"Saya Keysha, apa kita sudah pernah bertemu?" Keysha memperhatikan wajah Shella. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis itu, tapi ia lupa lagi bertemu di mana.
"Ya betul Bu Keysha, kita pernah bertemu di restoran Jepang," Shella tersenyum kecil.
Keysha menelisik penampilan Shella hari ini. Wanita itu full make up dengan make up yang sedang trend akhir-akhir ini. Keysha menilai Shella sangat lihat dalam berdandan. Shella juga memakai blazer dan rok yang sangat ketat dan mini.
"Besok saya ingin kamu ganti pakaianmu ya? Besok pakai saja celana yang panjang dan blazer! Jangan sampai orang yang bekerja di sini salah fokus dengan penampilan kamu!" Keysha berbicara blak-blakan.
"Sayang, kok bilang kaya gitu? Biarkan saja toh itu hak Shella!" Zayyan bersuara.
"Ya memang itu hak dia, tapi ini di lingkungan kantor. Dan perusahaan juga punya aturan untuk memerintahkan karyawannya bersikap sopan secara tingkah laku maupun berpakaian. Kita di Indonesia lho di mana adat ketimuran masih di jungjung," jawab Keysha tak mau kalah.
"Baik, Nyonya. Maafkan saya jika penampilan saya menganggu! Ke depannya saya akan memperbaiki diri dan penampilan saya," Shella mengangguk dengan sopan dan dengan nada yang lembut. Ia begitu lihai mengatur ekspresi wajahnya, walaupun hatinya kini panas karena perkataan Keysha. Shella benar-benar terlatih.
"Terimakasih sudah mengerti."
"Sayang, tidak perlu di perdebatkan!" Zayyan menengahi obrolan dua wanita itu.
"Kamu betah ya, sayang? Bisa cuci mata?" Sindir Keysha berang. Dirinya sangat kesal karena Zayyan terus membela Shella.
"Sudah. Ayo kita duduk, sayang! Apa yang kamu bawa itu?" Zayyan menggandeng lengan Keysha, dan menggiringnya ke arah sofa. Zayyan berusaha mengalihkan pembicaraan, ia sangat tahu Keysha sudah mulai kesal.
"Aku bawakan sarapan. Aku tahu kamu belum makan," jawab Keysha masih dengan raut wajah yang tak ramah.
Perempuan itu melihat meja Zayyan, ia melihat dua kotak pizza yang sudah terbuka satunya dan sudah sisa separuh.
"Kamu sudah sarapan? Apa kalian makan bersama?" Keysha menatap dua dus pizza itu dengan tatapan kecewa.
"Ya, aku tadi menyuruh Shella untuk membeli Pizza. Aku sangat lapar, sayang. Maaf ya, aku gak tahu kamu akan datang ke sini. Biasanya kamu selalu sibuk," Zayyan menjelaskan dengan tegang, ia sangat takut Keysha marah padanya.
Keysha berdecak kesal, ia segera menyimpan kotak bekal makanan di meja Zayyan.
"Kalau begitu aku pulang, oh ya kamu punya satu hutang padaku. Aku butuh penjelasan, mengapa kamu tidak cerita ada sekretaris baru di kantor. Aku pulang, aku tunggu penjelasanmu di rumah," Keysha bangkit dari duduknya, ia meninggalkan Zayyan yang berusaha mengejar langkahnya dan mencegahnya untuk pergi. Sementara Shella masih berdiri ditempatnya, ia menyeringai melihat sepasang suami istri itu bertengkar.
__ADS_1