Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Bagai Hilang Arah


__ADS_3

Zayyan sudah merapikan pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper pagi ini. Untung saja hari ini adalah hari liburnya bekerja. Ia sudah rapi dengan penampilannya. Sedari shubuh, Zayyan tak melihat Shella di sampingnya. Zayyan pikir Shella sedang masak untuk dirinya.


"Sayang?" Panggil Zayyan, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ine.


Zayyan berjalan ke ruang makan. Ia melihat Shella, Fuji, dan Ine sedang berbincang di meja makan sambil menikmati hidangan sarapan pagi mereka. Hati Zayyan seketika menceos. Biasanya ketika di apartemen yang dibelikannya dulu untuk Shella, wanita itu selalu menunggunya untuk makan.


"Selamat pagi semua!" Sapa Zayyan dengan tersenyum hangat. Seketika semua wanita yang ada di kursi makan itu diam. Mereka saling melempar pandangan.


"Pagi, sayang! Ayo segera makan!" Sapa Shella dengan senyum yang dipaksakan.


"Terima kasih, Sayang!" Zayyan duduk di salah satu kursi meja makan itu. Memang saat ini perutnya sangat lapar sekali.


"Kamu sarapan sendirian ya? Aku sudah selesai," Shella mengelap mulutnya dengan tisu. Lalu beranjak berdiri tanpa meminta persetujuan Zayyan.


"Tolong temani aku ya! Duduk di sini!" Perintah Zayyan lembut, ia menahan lengan Shella.


Namun Shella memutar bola matanya malas. Lalu ia tersenyum kecil. "Kamu sendiri makan nya ya? Aku ingin menghubungi temanku dulu. Siapa tahu mereka mempunyai tempat tinggal untuk kita?" Sindir Shella yang membuat hati Zayyan teriris.


Zayyan hanya tertegun. Memang saat ini ia belum ada tujuan untuk membawa Shella pergi ke mana. Semalam Zayyan sudah menelepon kantornya. Ia mengajukan permohonan hak inventarisas rumah untuk dirinya dan istrinya. Namun pihak perusahaan menolak karena belum setahun Zayyan menjabat sebagai direktur pemasaran.

__ADS_1


Tak ingin menyerah, Zayyan mencoba menghubungi relasi bisnis dan teman-temannya. Namun nihil, semua seakan ikut menjauhi Zayyan. Mereka takut nama baik mereka ikut tercemar ketika berdekatan dengan Zayyan. Memang saat ini Zayyan sedang menjadi pusat perhatian dan bulan-bulanan gunjingan semua orang, baik di kehidupan nyata maupun di dunia Maya.


Zayyan memijit pelipisnya pelan. Akhir-akhir ini kepalanya terasa pusing karena berbagai masalah yang menderanya. Namun sebagai pria, ia harus kuat. Zayyan harus bisa berdiri dari keterpurukannya. Akhirnya Zayyan memilih mengisi perutnya terlebih dahulu. Ia hanya melihat makanan sisa dari tiga wanita penghuni apartemen ini. Lagi-lagi harga dirinya merasa tersinggung. Namun Zayyan tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa memakan makanan ala kadarnya itu karena perutnya terus berbunyi meminta untuk diisi.


Setelah selesai sarapan, Zayyan berjalan menuju ruang keluarga. Ia melihat Ine, Fuji, dan juga istrinya duduk dengan raut wajah yang gusar. Zayyan menguatkan hatinya, ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan tempat duduk mereka.


"Zayyan, jadi hari ini kamu mau membawa anak mama ke mana?" Tanya Ine dengan raut wajah yang ketus.


"Saya belum tahu kemana kami akan pergi, Ma," jawab Zayyan jujur. Ia berharap hati Ine tersentuh dan mengizinkan mereka untuk tinggal di apartemennya.


"Kamu harus segera menemukan tempat tinggal dong, Zayn! Mama gak mau kalau sampai Shella terlantung-lantung di jalanan," sewot Ine dengan judes.


Sementara di sudut hati paling terdalam, Shella merasa terharu karena Zayyan begitu peduli padanya. Namun shella salah besar, Zayyan takut bayi yang dikandung Shella kenapa-kenapa. Sudah lama sekali Zayyan mengidamkan seorang anak, dan ia tak mau gagal mendapatkan anak yang diimpikannya selama ini. Ditambah Zayyan merasa kesal dengan sikap Shella, mungkin tinggal sendiri lebih baik baginya. Andai saja Shella tidak mengandung anaknya, pasti Zayyan akan meninggalkan wanita itu. Begitu pikir Zayyan.


"Gak bisa dong, Zayyan! Kamu jangan egois gitu dong! Kamu ini suami Shella. Kamu harus tanggung jawab sama istrimu. Kamu wajib memberikannya nafkah lahir dan batin termasuk tempat tinggal, dan segala kebutuhannya," jawaban Ine semakin membuat Zayyan hilang respect padanya.


Bukan tak mau menampung Shella, Ine hanya tak mau mereka berjauhan. Lagi pula masih ada yang dipertimbangkan dari diri Zayyan. Menantunya itu masih menjabat sebagai direktur pemasaran, dan gajinya cukup besar untuk posisi itu. Maka dari itu, Zayyan masih bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan Shella dan keluarganya. Dengan begitu, Ine masih bisa meminta uang pada Shella untuk kebutuhannya sehari-hari.


"Ya sudah kita pergi sekarang!" Ajak Shella menengahi perdebatan menantu dan mertua itu.

__ADS_1


Sebenarnya Shella pun bingung kemana Zayyan akan membawanya. Namun Shella juga tak ingin seatap bersama Ine, mengingat Ine setiap minggu membawa pria berbeda-beda. Shella juga tak mau Ine terus memeras uangnya. Biar dirinya ikut Zayyan saja. Lagi pula Zayyan masih mempunyai pekerjaan yang bagus.


Akhirnya Zayyan mengalah. Ia menyeret koper miliknya dan juga Shella. Setelah berpamitan dengan Ine dan Fuji, akhirnya mereka meninggalkan apartemen itu. Di mobil mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Zayyan berpikir untuk menjual mobil mewahnya saja. Pria itu berencana akan membeli rumah yang sederhana. Namun Zayyan ingat jika surat-surat mobil miliknya masih ada di rumah yang ditempatinya bersama Keysha. S*ial! Rasanya Zayyan ingin mengumpat dengan semua yang menimpanya kini.


Setelah satu jam berputar-putar, akhirnya Zayyan mengemudikan mobil miliknya menuju perumahan yang mewah berharga belasan miliar.


"Sayang, kita mau ke mana?" Tanya Shella berbinar. Ia berpikir Zayyan masih mempunyai aset rumah mewah yang masih bisa mereka tinggali.


"Ke suatu tempat," Zayyan berbicara dengan asal. Sebenarnya hati Zayyan gamang. apakah ini pilihan yang tepat membawa Shella ke sana? Tapi dirinya tidak mempunyai pilihan lain.


Akhirnya Zayyan menepikan mobilnya. Ia memencet klakson tepat di depan rumah mewah dengan gerbang yang tinggi. Keluarlah satpam paruh baya sembari tersenyum ke arahnya. Satpam itu menganggukan kepalanya dengan penuh rasa hormat.


"Sayang, ini rumah kita?" Shella semakin senang. Benar dugaannya, Zayyan masih mempunyai rumah mewah untuk mereka tinggali.


"Keluarlah!" Perintah Zayyan dengan lesu setelah mobil yang dikemudikannya memasuki pekarangan rumah.


Zayyan dan Shella menarik koper milik mereka. Zayyan memencet bell rumah itu. Detik berikutnya wanita paruh baya yang sangat Shella kenal keluar. Wanita itu tampak syok saat melihat Zayyan dan Shella.


"Kalian mau apa datang ke rumahku?" Wanita itu memelototkan matanya tajam.

__ADS_1


Lutut Shella seketika lemas tatkala Rena berdiri di hadapannya dengan wajah yang begitu bengis, seakan siap untuk melahapnya hidup-hidup.


__ADS_2