
Kania mengajak Keysha untuk berjalan-jalan di mall. Ia ingin sekali putri semata wayangnya refreshing, melupakan beban dan kepahitan hidupnya selama ini. Kebetulan hari ini Keysha tidak ada jadwal praktek. Jadi, apa salahnya menghabiskan waktu bersama ibunya sendiri? Ini pertama kalinya Keysha berjalan-jalan kembali dengan Kania setelah sidang perceraian.
Mereka kini sedang berada di dalam mall melihat-lihat sebuah toko tas dan sepatu. Jika dilihat-lihat, tidak ada yang menyangka mereka ibu dan anak. Mereka seperti kakak adik karena wajah dan penampilan Kania yang awet muda.
"Ma, kayanya sepatu itu lucu!" Tunjuk Keysha kepada sepatu hitam tanpa hak yang terpajang di etalase.
"Dicoba dulu, Key! Siapa tahu muat dengan kakimu!" Kania tersenyum melihat putrinya yang antusias.
Wajah mereka berbinar kala melihat nomor sepatu yang sesuai dengan nomor kaki Keysha. Keysha segera mengambil sepatu itu dan membayarnya dikasir.
Mereka berjalan-jalan dengan riang. Membeli barang sesuai kebutuhan mereka. Kini saatnya mereka berbelanja untuk kebutuhan dapur. Keysha dan Kania membawa troli seraya berbincang hangat. Saat melewati lorong buah dan sayur, mata Kania menyipit. Ia melihat Dewi teman kuliahnya dulu yang sedang berbelanja ditemani Andra. Tak hanya itu, suami mereka juga cukup akrab mengingat keduanya pemilik rumah sakit terbesar di Bandung.
"Dewi?" Seru Kania riang kala melihat sahabatnya itu.
"Kania? Lho, kamu belanja di sini juga?" Dewi langsung memeluk Kania dengan ramah. Lalu mencium pipi kanan dan pipi kirinya. Mereka langsung mengobrol panjang lebar tanpa mempedulikan putra putri mereka yang kini sedang bertatapan dan salah tingkah.
"Dokter Andra?" Keysha tersenyum canggung.
"Key?" Andra menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Kania dan Dewi terdiam memperhatikan anak-anaknya. Senyum mereka terbit tatkala mereka mengerti dengan gelagat aneh yang diperlihatkan oleh Keysha dan Andra.
"Kalian saling mengenal juga?" Dewi pura-pura tak tahu. Padahal suaminya sering bercerita bahwa Keysha bekerja di rumah sakit yang sama dengan Andra.
"Iya, Tante. Kita praktek di rumah sakit yang sama," jawab Keysha seraya menyalami Dewi dengan sopan. Keysha memang memiliki attitude yang sangat baik. Ia mampu menempatkan dirinya di mana pun.
"Kamu sudah besar ya, Andra? Di pesta kemarin, tante gak terlalu memperhatikan kamu. Kamu tampan sekali!" Puji Kania. Matanya memperhatikan Andra yang sangat tampan dan rapi hari ini.
__ADS_1
"Bisa aja, Tante!" Andra terkekeh pelan.
"Ya sudah, kalian berdua dulu! Ayo Nia, antar aku ke lorong daging! Kamu kan paling pinter kalau milih daging fresh," Dewi mengedipkan matanya. Kania langsung mengerti.
"Key, kamu jalan-jalan dululah sama Andra! Mama anter Tante Dewi dulu," perintah Kania dengan wajah ceria.
"Tapi, Ma?"
"Udah ah, ayo, Wi!" Potong Kania cepat, sementara Keysha hanya mengembuskan nafasnya ke udara.
"Biarkan mereka berdua, Nia! Sepertinya mereka menyimpan sesuatu yang kita gak tahu," Dewi menduga. Tangannya masih sibuk mendorong troli yang hampir penuh.
"Entahlah, Wi. Aku kurang yakin. Keysha baru dua minggu bercerai. Dia anaknya sangat tertutup. Masalah berat apapun selalu dia pendam sendiri," Kania terlihat gusar.
"Andra pernah bercerita padaku, Nia. Kalau dia sedang menyukai seorang gadis. Tapi dia enggan memberitahuku siapa gadis itu. Jika itu Keysha, aku bahagia sekali. Akhirnya gurauan kita waktu SMA terwujud menjadi besan," Dewi terkekeh pelan.
"Maksudku wanita, bukan gadis. Lagi pula aku tidak melihat status Keysha. Dia anak yang baik dan tentunya seorang dokter juga. Aku selalu memimpikan Andra mendapat istri seorang dokter juga. Agar keluarga kita real keluarga dokter," Dewi tertawa cekikikan seperti anak kecil.
Wajah Kania berubah menjadi sendu. Matanya mengembun. Namun dengan cepat, ia menyembunyikan rasa sedihnya dengan berpura-pura memilah-milah daging yang sudah dikemas dengan sedemekian rapi.
"Dia anak yang baik, tapi dicampakan suaminya!" Lirih Kania.
"Mantan suaminya berselingkuh dengan seorang model," beri tahu Kania lagi.
Dewi berhenti tertawa. Ia menatap Kania dan mengusap pelan bahu sahabat lamanya itu. Ia pun ikut geram kala mendengar suami Keysha yang berselingkuh dan bermain gila. "Kamu harusnya bersyukur, Nia! Tuhan telah menjauhkannya dari orang jahat," Dewi menghibur Kania.
"Setidaknya, Keysha sudah keluar dari rumah tangga toxic seperti itu," ucap Dewi lagi.
__ADS_1
"Kamu benar, Wi. Sekarang Keysha sudah tidak terikat apapun dengan pria pengkhianat itu," Kania perlahan tersenyum.
Sementara di lorong lain, ada Keysha dan Andra. Mereka berjalan melihat-lihat buah yang terpajang rapi.
"Tumben dokter tidak praktek? Biasanya dokter praktek setiap hari," Keysha memecah keheningan di antara mereka.
"Saya sedang cuti. Tahunya saya bertemu dengan kamu di sini," Andra tersenyum memamerkan giginya yang putih dan rapi
"Senang sekali ya bertemu saya? Sampai seceria itu mukanya?" Goda Keysha yang membuat pipi Andra bersemu merah.
"Bukannya terbalik ya?" Andra terkekeh.
"Oh ya, Key. Minggu depan, hari Sabtu adalah hari ulang tahunku. Kamu datang ya? Mama saya mengadakan syukuran," undang Andra tanpa basa-basi.
Keysha tampak berpikir. Ia mengingat-ngingat jadwal prakteknya dan ia hanya praktek saat waktu pagi saja. Akhirnya Keysha mengangguk, ia berjanji akan menghadiri ulang tahun teman seprofesi nya itu.
"Baiklah, Dok. Saya akan datang!" Akhirnya Keysha menyetujui.
"Pada kemana ya para emak-emak?" Andra mengalihkan topik pembicaraan. Tatapannya menatap ke kanan dan ke kiri, khas mencari orang yang sedang hilang.
"Mereka asyik berbelanja, Dok! Biasa ibu-ibu. Selain raja jalanan, mereka juga raja kalau menyangkut belanja," Keysha terkekeh pelan.
"Kalau di luar rumah sakit, jangan panggil saya dok! Panggil saja Andra!" Andra berpura-pura mencebik
"Saya tidak terbiasa," Keysha tampak bingung.
"Dibiasakan kalau begitu!" Paksa Andra.
__ADS_1
Keysha hanya tersenyum, ia lalu mengekori langkah Andra yang lebar-lebar.