Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Sikap Keysha Yang Berbeda


__ADS_3

"Sayang, aku pulang!" Zayyan menyeret kopernya.


Setelah menginap satu malam di apartemen baru Shella, ia akhirnya pulang ke rumah istrinya, Keysha. Zayyan membuka pintu, suasana di rumah sangat sepi. Zayyan berjalan ke arah ruang tamu, ia melihat Keysha sedang duduk dengan membawa banyak tentengan.


"Eh sayang, kamu udah pulang?" Keysha tersenyum manis, ia berjalan mendekati Zayyan.


"Iya. Aku menelepon kamu tadi tapi tidak diangkat," Zayyan akan memeluk Keysha, namun dengan cepat wanita itu segera menghindar.


"Badanmu bau keringat. Cepat mandi!" Perintah Keysha. Dokter cantik itu menghindar untuk berkontak fisik dengan Zayyan. Keysha sudah sangat jijik dengan suaminya. Jika bukan karena misi, ia pasti akan menghajar suaminya itu dengan brutal. Namun untuk saat ini, Keysha harus bersabar.


"Kamu gak kangen aku hm?" Zayyan menatap mata Keysha. Namun wanita cantik itu segera mengalihkan pandangannya.


"Kangen. Udah sana mandi dulu!" Keysha menjawab dengan malas.


Zayyan mengangguk, namun tatapannya teralihkan pada tas belanjaan yang sangat banyak di sofa. Zayyan mengernyitkan dahinya dengan bingung.


"Sayang, ini barang siapa?" Tanya Zayyan ingin tahu.


"Aku dong. Aku baru saja pulang belanja. Aku gunakan kartu kredit dari kamu sayang. Aku jenuh. Dari pada di rumah sakit terus, mending aku nongkrong di mall kan belanja yang aku suka? Kasian kredit card nya selama ini aku anggurin," Keysha tersenyum genit.


Zayyan merasa syok dengan perkataan istrinya. Pasalnya Keysha bukanlah wanita yang suka belanja dengan barang yang tidak penting. Apalagi sampai menghabiskan waktunya di mall. Zayyan merasa ada yang aneh dengan sikap Keysha.


"Lihatlah sayang, aku beli cincin berlian! Harganya 200 juta. Cantik kan?" Keysha memamerkan cincin yang baru saja ia beli.

__ADS_1


Deg....


Tiba-tiba saja Zayyan menjadi salah tingkah. Pria itu jadi teringat ia membelikan cincin berlian untuk Shella ketika di Jepang.


"Dan ini lihatlah tas Hermes edisi terbatas! Harganya 1 M. Ini yang dipakai istri sultan Andara lho! Ah sayang-sayangku, aku begitu mencintai kalian!!" Keysha memeluk tas Hermes itu dengan sayang.


"Sayang, kamu jangan terlalu sering berbelanja tas sampai bermilyar-milyar seperti itu. Walaupun itu kredit card dengan edisi tanpa batas, tapi aku harus membayarnya. Jangan sampai tagihannya membebani keuangan perusahaanku!" Timpal Zayyan pelan-pelan, ia takut menyinggung Keysha.


"Pelit banget sih kamu, sayang! Kan rezeki suami itu rezeki istri. Semakin suami membuat bahagia istrinya semakin dilapangkan rezekinya. Ya beda lagi kalau rezekinya buat pelakor," sindir Keysha dengan nada yang sinis.


"Maksud kamu apa, sayang?" Zayyan terlihat gelagapan. Ia seperti orang bodoh di hadapan Keysha. Akan tetapi, Keysha sangat menikmati ekspresi wajah suaminya itu.


"Maksud aku, banyak suami diluaran sana pelit sama istri, tapi abis-abisan sama pelakor. Kamu jangan sampai gitu ya, sayang? Kamu kan beda dari pria lain, makanya aku pilih kamu."


"Ya sudah terserah kamu, sayang. Aku ke kamar dulu. Oh ya ada oleh-oleh buat kamu. Kamu buka sendiri! Aku mandi dulu," pamit Zayyan yang hanya dijawab Keysha dengan anggukan kepala.


Sepeninggal Zayyan, Keysha membuka koper milik suaminya. Iya membuka-buka baju kotor Zayyan, tangannya dengan lincah membuka saku-saku kemeja suaminya dan ada beberapa nota di sakunya.


"Pembelian cincin berlian, pembelian tas branded, pembelian baju-baju, dan waw pembelian apartemen! Hm sepertinya wanita ******* itu tidak bisa aku remehkan" Keysha berbicara sendiri. Sementara tangannya sibuk membaca-baca nota yang berserakan dan mengambilnya.


Zayyan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Perilaku Keysha yang berbeda begitu mempengaruhi pikirannya. Akan tetapi, perasaan gusar itu seketika menghilang ketika ia mengingat Shella. Ia teringat bagaimana tadi malam mereka bergumul di dalam selimut yang sama semalaman. Zayyan seolah tidak bosan dengan Shella. Shella selalu memuaskannya dengan baik. Tapi yang membuatnya heran adalah bagaimana bisa Shella selihai itu di ranjang, padahal dirinyalah yang pertama menyentuh wanita itu.


 ***

__ADS_1


Shella mendatangi managemen tempatnya bekerja sebagai model, ia membuka pintu ruang kerja atasannya. Terlihat pria paruh baya dengan tubuh gempal.


"Sayang, kamu datang juga akhirnya!" Ucap pria yang bernama Pram.


"Pak Pram?" Shella tersenyum kecil


"Silahkan masuk! Ada perlu apa hm kamu ke sini? Apa kamu mau memperpanjang kontrak kerja sama kita?" Pram tersenyum genit.


"Tidak, Pak. Justru saya ke sini untuk tidak memperpanjang kontrak saya dengan managemen bapak. Saya mengundurkan diri," jawab Shella dengan pongah.


"Mengundurkan diri? Tapi apa alasannya? Kamu model andalan kita, sayang. Pikirkan lagi dong!" Bujuk Pram seraya tersenyum memperlihatkan salah satu giginya yang dilapisi dengan emas.


"Hidup saya sudah mapan, Pak. Tekad saya sudah bulat untuk mengundurkan diri. Dan ini surat pengunduran diri saya dari managemen," Shella mengulurkan kertas perjanjian kontrak yang dulu ia sepakati, dan juga surat pengunduran dirinya.


Pram berdecih. Ia lalu tersenyum menyeringai. Tatapannya mengintimidasi Shella. "Jangan sombong kamu, Shella! Tanpa aku, kamu bukanlah siapa-siapa!"


"Terserah bapak. Tapi saya tidak akan merubah keputusan saya," Shella bersikeras.


Ditatapnya tubuh Shella dari atas sampai ke bawah, bibirnya tertarik membentuk senyuman mengejek. "Ya sudah silahkan! Lagi pula banyak model baru yang akan saya rekrut. Sedangkan kamu? Lihatlah ke depannya! Saya pastikan kamu akan menjadi sampah. Saya juga sudah bosan dengan tubuh kamu" Pram tertawa mengejek. Ia lalu menyalakan rokok dan menghisapnya.


"Jangan pernah ungkit kejadian itu lagi!" Ancam Shella dengan geram. Tanpa menunggu jawaban dari Pram, Shella segera meninggalkan pria gempal itu dengan wajah yang ditekuk.


"Kurang ajar pria tua itu! Untung saja aku tidak minta antar Zayyan," batin Shella gelisah.

__ADS_1


__ADS_2