
Zayyan sudah di depan pintu gerbang rumah mereka. Sunyi dan hening seperti tidak ada penghuni yang menempati rumah itu. Zayyan mencoba membuka gerbang itu, namun gerbang tersebut terkunci dari dalam.
Akhirnya Zayyan menaiki gerbang tinggi rumahnya dengan susah payah hingga akhirnya ia sampai di halaman depan. Satpam yang biasanya berjaga pun tak terlihat batang hidungnya. Entah pergi ke mana penghuni rumahnya.
Zayyan membuka pintu, ia menghela nafas lega setelah tahu pintu tersebut tidak dikunci. Baru saja melangkah, Zayyan melihat koper dan bajunya yang berserakan di lantai.
"Rupanya kamu masih mempunyai wajah untuk kembali ke rumah ini!" Sinis Keysha yang tiba-tiba turun dari tangga.
"Key, jangan begini! Kita masih bisa memperbaiki hubungan kita," Zayyan memelas dengan wajah memperihatinkan. Ia mengatupkan tangannya seolah memohon.
Dalam hatinya memang Zayyan tidak mau kehilangan dan berpisah dengan Keysha. Sudut hatinya yang terdalam mengatakan ia sangat mencintai Keysha. Zayyan juga tak mengerti mengapa bisa ia terlena dengan Shella yang memberikan kesenangan sesaat.
"Maaf! Tapi aku sudah tak Sudi hidup denganmu. Sekarang kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah ini!" Tegas Keysha, sorot matanya tajam seolah ingin menguliti Zayyan hidup-hidup.
"Kamu tidak bisa mengusirku dari sini, Key! Ini rumah hasil kerja kerasku! Tidak akan ada yang meninggalkan rumah ini!" Akhirnya Zayyan menyuarakan ketidaksetujuannya.
"Memang rumah ini atas usahamu! Tapi apa kamu lupa? Rumah ini kamu hadiahkan untukku sebagai hadiah pernikahan kita! Dan sertifikatnya atas namaku," Keysha tersenyum miring.
Zayyan meneguk Salivanya, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. "Sayang, aku mohon! Kita bisa perbaiki ini! Aku janji akan meninggalkan Shella! Maafkan kekhilafanku kemarin!"
Keysha menyedekapkan tangannya di dada dengan angkuh. Wanita yang berprofesi sebagai dokter iti lalu mendekati suaminya yang terlihat tegang. "Benarkah? Baiklah aku tunggu kamu meninggalkan wanita j*lang itu," Keysha tersenyum sarkas.
"Walaupun kamu meninggalkan Shella tapi aku tak sudi harus menerimamu kembali. Tapi biarlah aku bermain-main denganmu sebentar suamiku. Bermain sebelum status kita berubah di depan hakim nanti. Bahkan aku sudah mendaftarkan gugatan perceraian kita di pengadilan agama," Batin Keysha
__ADS_1
"Benarkah? Baiklah. Kalau begitu aku akan menjauhinya aku janji, Key," Zayyan tersenyum dengan mata berbinar. Ia seolah bahagia bisa mendapatkan kesempatan kedua dari istrinya.
"Aku tunggu kamu membuktikannya. Tapi kamu harus keluar dari rumah ini sebelum kamu membawa bukti atas perpisahan kalian," Keysha menyerahkan koper milik Zayyan dan melemparnya keluar. Keysha lalu mendorong tubuh suaminya keluar rumah.
"Key, bisakah aku tetap tinggal? Aku berjanji akan meninggalkan Shella," Zayyan berharap.
"Tidak. Sebelum ada bukti, rumah ini haram kamu injak!" Keysha menutup pintu dengan kasar dan akhirnya melenggang pergi menjauhi pintu.
"Key, buka pintunya! Buka, sayang!" Zayyan menggedor-gedor pintu dengan keras. Berusaha sang istri yang telah ia khianati itu membukanya.
"Key, aku tidur di mana?" Zayyan berteriak hingga beberapa menit kemudian akhirnya Zayyan mengalah dan pergi dari istana yang sudah mereka huni selama lima tahun. Istana yang sebelumnya damai dan penuh dengan kebahagiaan sebelum Shella menghancurkan semuanya.
****
Shella pun masih bekerja dengan profesional. Namun Shella harus menelan pil pahit kala Zayyan memindahkan ruangannya pada ruangan lain. Wanita cantik itu sangat sadar jika Zayyan tengah memberikan jarak padanya. Hingga akhirnya ia merasa tak kuat di biarkan begitu saja oleh Zayyan. Setelah memfoto copy dokumen, Shella menemui Zayyan tanpa permisi.
"Nona Shella, apa kamu bisa mengetuk pintu dahulu?" Tanya Zayyan dengan ekspresi datar.
"Mengapa kamu jadi seperti ini, Zay? Apa karena ibu dan istrimu waktu itu, kamu jadi menjauhiku?" Sembur Shella yang sudah tak tahan mengeluarkan uneg-unegnya.
"Shella, jangan seperti ini! Ini area kantor! Dan apa yang kita lakukan kemarin itu sebuah kekeliruan yang amat besar. Kita sudah melakukan dosa besar," Zayyan memperingatkan, walau hatinya merasa sakit memperlakukan Shella seperti itu.
Shella tersenyum meremehkan, ia lalu mencebik "Dosa besar? Haha!!" Shella tertawa dengan sangat keras.
__ADS_1
"Persetan dengan area kantor! Bahkan kita selalu melakukannya di sini! Apa kamu tidak lupa tuan Zayyan yang terhormat? Tidak ada kekeliruan di antara kita, karena kita melakukannya secara sadar dan suka sama suka. Dosa mana yang kamu bilang dosa besar? Maksudmu dosa yang begitu kamu nikmati kemarin-kemarin hingga selalu memintanya lagi dan lagi?" Shella kemudian tertawa sekali lagi.
"Shell, cukup!" Zayyan bangkit dari duduknya, sepertinya berbicara baik-baik pada Shella bukanlah sebuah solusi.
"Aku mohon jangan mempersulit hidupku! Sebaiknya kita akhiri hubungan terlarang kita ini," akhirnya Zayyan memberanikan diri, walaupun hatinya merasa tercubit saat mengatakan apa yang barusan diungkapkannya.
"Kita akhiri saja hubungan ini. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Apalagi mama sangat membencimu," Zayyan mengemukakan alasannya.
Shella menggeleng pelan, ia kemudian menutup mulutnya dengan tangannya. Shella berjongkok dan menutup wajahnya. Ia menangis sesenggukan.
"Jangan ku mohon!" Lirih Shella disela tangisnya.
"Aku sangat mencintaimu. Ku mohon jangan tinggalkan aku!" Shella merintih disela tangisnya.
"Shell, jangan seperti ini!" Zayyan melunak, ia ikut berjongkok di hadapan Shella.
"Ayo kita mulai lagi dari awal walau ini berat! Tapi sebagai teman kerja saja tidak lebih. Aku lebih memilih Keysha saat ini."
Shella menatap tajam Zayyan, ia segera mengambil sesuatu dari saku blazernya.
"Bagaimana kita bisa mengakhirinya sedangkan aku sedang mengandung anakmu?" Shella melemparkan benda pipih yang bergaris dua merah itu ke wajah Zayyan.
Zayyan mengambil benda kecil yang terlempar itu, ia segera mengambilnya. Matanya membalak sempurna tatkala benda mungil itu berada dalam genggamannya.
__ADS_1