Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Keysha mendapatkan panggilan telepon dari satpam yang menjaga vila mewahnya di kawasan Lembang. Satpam yang bernama Agus melaporkan bahwa Zayyan masuk ke dalam vila bersama seorang wanita. Sontak saja Keysha hanya tersenyum samar. Dokter cantik itu sudah menduga jika Shella dan Zayyan akan datang ke vila itu.


Keysha membiarkan mereka terlebih dahulu. Ia memakai kacamata hitamnya dan segera mengemudikan mobilnya menuju lembaga perlindungan aset dan kekayaan. Tujuan Keysha salah satunya adalah untuk menemui pengacaranya. Keysha ingin membahas pemindahan aset dan kekayaan atas nama dirinya.


Setengah jam kemudian, Keysha sudah sampai pelataran kantor lembaga itu. Ia membuka kacamatanya. Rambut panjang dan hitamnya tertiup angin sepoi-sepoi membuat kecantikannya berlipat ganda.


"Bu Keysha?" Sapa pengacaranya yang bernama Elsa begitu Keysha sudah sampai lobby.


Keysha tersenyum. Keysha lalu memeluk sebentar wanita paruh baya yang ia tunjuk sebagai pengacaranya itu. Selanjutnya mereka duduk di sofa yang ada di ruangan Elsa. Keysha menyerahkan beberapa dokumen yang di butuhkan untuk pemindahan aset dari atas nama Zayyan menjadi atas nama Keysha. Namun untuk perusahaan Zayyan, Keysha menyerahkannya pada Rena karena Keysha tahu, perusahaan itu dimulai dari warisan orang tua Rena.


"Ini, Bu. Tolong lihat dokumen yang saya bawa!" Keysha menyerahkan dokumen yang dibalut dengan maps ke arah Elsa.


Elsa menerimanya. Ia membaca kata demi kata dari dalam dokumen itu dengan teliti. "Baiklah, Bu. Nanti saya akan mengurus semua dokumen ini."


Keysha mengangguk. Setelah terlibat beberapa obrolan ringan, Keysha memutuskan untuk segera pamit karena hari menjelang sore. Kebetulan hari ini Keysha sedang tidak membuka praktek di poliklinik. Saat dalam perjalanan pulang, Keysha mendengar suara adzan berkumandang. Janda cantik itu pun memutuskan untuk membelokan mobilnya ke arah parkiran masjid alun-alun Bandung. Ia memutuskan untuk shalat ashar di masjid itu.


Keysha menggelar sajadahnya. Ia melakukan shalat dengan khusyuk. Setelah mengucapkan salam, Keysha memohon ampun atas dosa-dosanya. Terkadang ia merasa lalai menjadi seorang istri, hingga sang mantan suami jatuh pada lubang dosa yang besar. Setelah itu, Keysha memanjatkan doa untuk ke dua orang tuanya, dan sekelebat bayangan Andra muncul di pikirannya. Namun Keysha segera menepis pikirannya itu.


Keysha melipat sejadah dan mukenanya. Saat akan melewati pintu keluar, ia terkejut bukan main karena melihat Andra. Andra terlihat sedang shalat. Walaupun posisi Andra membelakanginya, namun Keysha sangat tahu postur Andra dari belakang. Entahlah mengapa ia jadi hafal betul struktur tubuh Andra.


Keysha terpaku, hingga ia tidak menyadari Andra telah selesai melakukan ibadahnya dan melipat sejadah nya. Andra juga langsung diam beberapa detik kala melihat Keysha sedang berdiri menatapnya. Mengapa semesta selalu saja mempertemukan mereka? Ataukah ini rencana dari sang pemilik semesta?

__ADS_1


Keysha tersenyum kikuk. Ia langsung menganggukan kepalanya sebagai ungkapan permisi. Gegas wanita yang sudah menyandang gelar janda itu segera keluar meninggalkan masjid dan Andra mengekorinya dari belakang.


"Key?" Panggil Andra saat mereka sudah berada di area depan masjid. Tepatnya di depan hamparan rumput sintesis yang biasa dipakai oleh orang-orang untuk berselfie ria atau sekedar membawa keluarga mereka menikmati keindahan kota Bandung.


"Ya, Dok?" Keysha menoleh dan menatap Andra yang sedang menatapnya.


Rambut Andra masih basah karena bekas berwudhu. Akan tetapi, hal itu malah membuat dokter itu semakin tampan berlipat-lipat. Membuat Keysha gemas dan ingin mengacak-ngacaknya. Namun tentu saja tak Keysha lakukan. Ia masih mempunyai pikiran yang waras.


"Sampai kapan kamu akan menghindari saya begini?" Tanya Andra dengan tatapan tajamnya.


Keysha gelagapan saat mendengar pertanyaan Andra. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Mengapa Andra sangat peka sekali? Bahkan Andra merasa bahwa Keysha tengah menghindarinya.


"Kamu. Jelas kamu menghindari saya. Apa saya berbuat salah?" Andra mencari jawaban dari sorot mata Keysha. Namun ia tak menemukan apapun di sana. Mata Keysha beralih kepada orang-orang yang sedang menunggu bus DAM*RI.


"Dokter tidak ada salah kok. Mungkin perasaan dokter saja!" Kilah Keysha dengan tersenyum simpul.


"Bukan perasaan saya, tapi faktanya begitu," Andra masih saja kekeuh memberikan argumennya.


Keysha tidak menjawab. Ia berjalan menuju samping masjid. Ia terduduk di bangku yang berhadapan dengan pusat perbelanjaan. Andra juga menyusulnya dan ikut mendudukan dirinya di kursi yang bernuansa Eropa itu. Namun sedikit menjaga jarak.


"Saya hanya takut dokter terbawa-bawa masalah saya, Dok. Apalagi urusan saya bersama mantan suami saya itu belum sepenuhnya selesai," Keysha mengawali pembicaraan setelah keheningan menghinggapi mereka.

__ADS_1


Tentunya Keysha berdusta. Bukan itu alasannya. Keysha hanya takut terbawa perasaan, dan kembali terluka. Ia cukup trauma menjalin hubungan dengan seseorang. Bayang-bayang sakit hatinya masih sangat terasa saat seseorang yang sangat ia cintai mengkhianatinya.


"Tidak apa-apa. Saya akan menunggu. Bolehkah saya mengenal kamu lebih dalam lagi, Key? Saya orang yang suka berterus terang. Saat bersama kamu, saya selalu ingin membuatmu tersenyum dan melupakan semua masalahmu," Andra kini mengutarakan selama apa yang ia rasakan selama ini kepada wanita yang beberapa malam ini membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.


"Maksudnya bagaimana, Dok?" Keysha berpura-pura tak paham. Namun rona merah di pipinya membuat Andra tersenyum kecil.


"Kamu seorang dokter, Key! Kamu juga wanita dewasa. Pasti kamu tahu apa maksud saya," Andra tersenyum mengejek, membuat Keysha seketika mencebik.


"Apakah dokter hadir hanya untuk bermain-main dengan saya? Mengingat saya pernah mendengar obrolan dokter dengan ayah dokter tentang wanita yang bernama Nadien," akhirnya Keysha mengungkapkan sesuatu yang mengganjal hatinya.


Dahi Andra mengkerut kala mengingat Nadien. Tatapannya berubah menjadi sendu. "Dia kekasih saya yang sudah meninggal, Key. Dia sudah tenang di alam sana Saya berusaha tak selalu meratapinya, bahkan sekarang saya berusaha melanjutkan kehidupan saya yang sempat hancur."


Andra menatap Keysha. Awalnya ia memberikan perhatian yang lebih pada Keysha karena wajah mereka yang lumayan mirip. Namun semakin ke sini, Andra menghilangkan sosok Nadien dari Keysha. Andra merasa iba pada Keysha saat mengetahui suaminya bermain serong bersama wanita lain. Semakin ke sini, Andra mulai kehilangan rasa iba itu. Rasa iba yang Andra rasakan berubah menjadi kagum pada Keysha yang tegar dan tetap bekerja secara profesional, walau pun masalah yang menimpa rumah tangganya sangat rumit.


"Apakah dokter serius? Mengingat status kita yang berbeda. Saya cukup tahu diri," lirih Keysha dengan nada sedih.


"Saya bukan tipe pria seperti itu, Key! Saya akan buktikan jika masa idahmu sudah selesai, Key. Kalau begitu saya pamit pulang," Andra bangkit dari duduknya. Andra lalu melihat Keysha yang masih bergeming.


"Hati-hati pulangnya!" Akhirnya Keysha bersuara, Andra mengangguk dan berjalan meninggalkan Keysha. Keysha menatap punggung dokter tampan itu hingga Andra menghilang dari pandangan matanya.


"Mimpi apa aku hari ini?" Gumam Keysha seraya memegang dadanya yang berdebar.

__ADS_1


__ADS_2