Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Mengantarkan Fikri


__ADS_3

Fuji tersenyum ketika mendapatkan chat dari Fikri. Hari ini pria itu meminta Fuji untuk menjemput ke rumahnya. Hari senin memang identik dengan kemacetan di berbagai ruas jalan di Kota Bandung. Jarak antara rumah Fikri dan tempatnya bekerja lumayan jauh. Fikri sangat malas jika berada di tengah-tengah kemacetan.


"Rumahnya yang mana ya?" Fuji celingukan mencari rumah dari calon customer tetapnya itu.


"Kamu di mana?" Fikri mengirimkan chat kepada Fuji.


"Aku lagi muter-muter cari alamat kamu!" Fuji membalas chat dari Fikri. Tentunya ia terlebih dahulu berhenti di tempat yang aman.


"Tunggu aja di pos satpam!" Fikri membalas chat dari Fuji.


"Oke," Fuji tersenyum senang karena ia tidak perlu repot lagi berkeliling mencari alamat Fikri.


Fuji segera melajukan motornya menuju pos satpam yang Fikri maksud. Saat Fuji sampai di sana, Fikri terlihat sedang mengobrol bersama dengan pak satpam.


"Maaf ya lama!" Fuji berkata dengan tidak enak.


"Gak apa-apa. Lagian rumah aku deket kok ke sini," Fikri tersenyum simpul.


"Mau berangkat sekarang?" Fuji menawari.


"Iya. Ayo!" Fikri langsung memakai helm dan naik ke motor Fuji.


"Pak, saya duluan!" Fikri berpamitan kepada satpam yang bertugas di area komplek itu.


Motor Fuji melaju meninggalkan area perumahan mewah itu. Fikri sedikit heran dengan setelan yang digunakan Fuji hari ini.


"Kamu kenapa pakai jas almamater?" Fikri bertanya.


"Apa? Gak kedengeran!" Fuji sedikit berteriak.


"Kamu kenapa pakai jas almet?" Fikri mengulangi pertanyaannya. Ia sedikit mendekat ke arah telinga Fuji.


"Oh itu, aku hari ini mau sidang," Fuji memberitahukan.


"Sidang skripsi maksudmu?" Fikri sedikit terkejut.


"Iya. Emangnya kenapa? Kok kaya yang kaget?" Fuji tertawa.


"Iya. Bisa-bisanya kamu malah narik penumpang. Gimana dong? Keburu gak entar ke kampus?" Fikri amat khawatir dengan Fuji.

__ADS_1


"Santai aja! Sidangnya dimulai dua jam lagi kok," Fuji menenangkan.


"Syukur deh kalau gitu. Kamu kuliah di kampus yang ada di Cikutra itu?" Fikri memperhatikan jas almamater Fuji.


"Iya. Aku mahasiswi di sana. Kenapa?" Fuji bertanya tapi matanya fokus dengan jalanan.


"Gak. Itu kan kampus swasta bagus. Semoga sidang kamu lancar ya?" Fikri berkata dengan tulus.


"Aamiin. Makasih ya?" Fuji menjawab.


"Oh iya, makasih ya Fik buat waktu itu? Kamu udah bayarin belanjaan aku!" Fuji sekali lagi mengungkapkan rasa terima kasihnya.


"Sama-sama. Gimana keponakan kamunya? Udah lahir?"


"Belum. Kayanya bentar lagi deh."


"Semoga proses persalinannya dilancarin ya?"


"Aamiin, Fik. Ternyata kamu banyak ngomong ya?" Fuji tertawa.


"Ya. Biar gak sepi di jalan. Ke ojek online lain pun aku emang suka ajak ajak ngobrol. Biar tau tau sampe," Fikri berkata dengan jujur.


Keduanya akhirnya saling diam. Tidak terasa, perusahaan tempat Fikri bekerja sudah terlihat. Fuji pun berhenti tepat di depan kantor cabang perusahaan minyak itu. Fikri segera turun dan melepaskan helm miliknya. Fikri memang membawa helm pribadi saat di bonceng oleh Fuji.


"Makasih ya? Nanti bayarannya tiap tanggal satu aja ya?" Fikri berkata kepada Fuji yang memakai helm berwarna ungu.


"Oke, Pak Bos!"


"Kita kaya udah lama kenal ya?" Fikri menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Iya gitu?" Fuji tertawa.


"Iya," jawabnya singkat.


"Kalau gitu, aku permisi ya, Fik?" Fuji pamit undur diri dari sana.


"Sukses buat sidangnya ya?" Fikri berkata dengan tulus.


"Makasih. Dah!" Fuji melajukan motornya meninggalkan Fikri yang masih ada di halaman kantor.

__ADS_1


"Siapa itu, Fik?" Tanya teman Fikri yang baru sampai.


"Tukang ojek langganan!" Jawab Fikri sambil berjalan untuk masuk ke pintu masuk.


"Masa? Kok kaya anak kuliahan? Ocin kali ya?" Goda temannya.


"Ocin?" Fikri bertanya dengan raut wajah yang bingung.


"Ojek cinta!" Seloroh teman Fikri dengan tertawa renyah. Fikri hanya memutar bola matanya kemudian masuk ke dalam kantor.


"Salah sendiri sih, kerja malah dianterin cewe!" Teman Fikri mengejar langkah Fikri masuk ke dalam.


****


Sudah lama Ine mencari keberadaan Fuji. Posisi Ine kini amatlah terhimpit. Ia sudah mengembalikan uang DP dari orang yang hendak membeli Fuji. Kini untuk hidup, Ine mengandalkan penjualan dari barang-barang yang ada di dalam apartemen. Semua kesusahan yang Ine alami nyatanya tidak membuat mata dan hati ibu dua anak itu terbuka. Ine tidak kapok untuk bermain slot. Ine bahkan tidak peduli dengan wajahnya yang kian rusak. Ine hanya peduli dengan slot dan jud*i online yang sudah menjadi candu baginya.


Meski sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk bermain, nyatanya Ine selalu saja kalah dalam bermain. Semua perabotan di apartemen miliknya sudah hampir ludes ia jual. Bukan kapok, Ine malah semakin gencar bermain. Prinsip Ine adalah dirinya kini sudah hancur. Mau berhenti pun tidak membuat hidup Ine menjadi lebih baik. Begitu pikirnya.


Setelah semua barang yang bisa Ine jual habis, Ine kemudian meminjam pinjaman online atau yang biasa disebut dengan pinjol. Ine pun meminjam uang di beberapa aplikasi sekaligus dengan jumlah uang yang sangat banyak. Tentu saja Ine tidak membayar hutang-hutangnya itu.


"Ke mana kedua anak si*lan ini?" Ine sedang menaiki taksi menuju ke arah apartemennya. Ine baru saja mencari makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


Tatapan Ine menatap jalanan yang ramai di hari senin ini. Matanya membulat ketika melihat putri bungsunya tengah beristirahat di bawah pohon rindang.


"Itu kan Fuji!" Ine masih membelalakan matanya. Pasalnya ia sudah mencari Fuji ke mana-mana. Akan tetapi, ia tidak kunjung menemukan putri bungsunya itu.


"Sepandai-pandainya tupai meloncat ya pasti jatuh juga!" Ine tersenyum menyeringai.


"Stop taksinya, Pak!" Titah Ine kepada pria berkumis yang sedang menyetir. Taksi pun berhenti. Ine menatap putrinya dari kaca taksi. Selanjutnya Ine melihat Fuji sedang menghitung uang dari hasil menarik costumer hari ini. Bukannya iba akan nasib anaknya, Ine lagi-lagi malah merencanakan sesuatu yang jahat lagi.


"Ji, susah kan cari uang!" Ine berbicara sendiri.


Tak lama, Ine pun menelfon orang yang pernah memberikannya DP untuk membeli Fuji.


"Aku udah temuin anakku. Cepet kamu sediakan penawaran tertinggi. Dia masih ting-ting!" Ine menelfon dengan seringai licik di bibirnya.


"Bawa dia nanti malam ke sini! Dan pastikan dia benar-benar ada!" Jawab pria di sebrang telfon.


"Oke, jangan khawatir! Kali ini pasti berhasil," Ine menegaskan.

__ADS_1


"Ji, kasian hidup kamu! Mama ini mama yang baik. Mama bakal buat hidup kamu senang bergelimang harta!" Ine tersenyum dengan aura menyeramkan.


__ADS_2