Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Pertemuan


__ADS_3

Sore ini Fuji datang kembali ke Rumah Sakit untuk menjenguk keponakannya, Ayuna. Ayuna memang dirawat di ruang Perina sehingga tidak bisa ditunggui oleh siapa pun. Fuji menatap nanar ke arah pantulan kaca yang memperlihatkan Ayuna sedang di sinar untuk menormalkan kadar bilirubin dalam tubuhnya.


"Ayuna, kuat ya, Nak?" Fuji menghapus tetesan air mata yang meluncur begitu saja dari matanya.


Fuji sangat iba melihat keponakannya itu. Setelah Shella membuangnya, kini Ayuna harus di rawat di rumah sakit untuk menyembuhkan kuningnya.


"Neng, jangan khawatir! Banyak bayi yang di sinar kaya de Ayuna, tapi mereka sehat dan sembuh kok," Bi Ijah yang mengantar Fuji menghibur gadis yang minim pengalaman itu.


"Mudah-mudahan, Bi!" Fuji memaksakan senyumnya walau hatinya masih pilu.


"Ayo, Neng! Kita pulang saja. Ada para ahli medis yang menangani Ayuna dengan baik," ajak Bi Ijah setelah satu jam kemudian.


Fuji mengangguk. Ia melangkahkan kakinya ke luar dari rumah sakit. Fuji masih mengeringkan air mata di pipinya dengan tisu. Gadis itu terlihat berjalan menunduk hingga ia tidak memperhatikan jalan dan menabrak bahu seseorang.


"Maaf!" Ucap Fuji kepada seseorang yang ia tabrak.


"Fuji?" Panggil seseorang itu.


"Fikri?" Fuji bergumam.


Entah kebetulan yang keberapa kali. Mereka selalu saja dipertemukan dalam waktu yang tidak direncanakan dan di tempat yang tidak terduga.


"Ketemu lagi kita," Fikri tertawa.


"Iya. Kebetulan ya?" Fuji menggaruk rambutnya.


"Neng, bibi tunggu di kursi deket taman aja ya?" Bi Ijah memberikan privasi kepada Fuji dan Fikri.

__ADS_1


"Oke, Bi. Nanti Fuji ke sana," Fuji mengangguk.


"Oke, Neng," Bi Ijah pergi berlalu meninggalkan Fuji dan juga Fikri.


"Ngapain kamu di sini?" Fikri bertanya.


"Aku lagi ngejenguk keponakan aku. Dia di rawat di rumah sakit ini," Fuji menjawab.


"Ayo kita duduk di sana!" Fikri menunjuk dua kursi kosong di dekat farmasi.


"Ayo!" Fuji berjalan menuju kursi itu.


"Keponakan kamu kenapa?" Fikri mendudukan dirinya di kursi itu. Ia bertanya dengan raut wajah penasaran. Pasalnya Fuji aelalu terlihat repot dengan bayi. Teringat beberapa waktu saat Fuji menjemputnya untuk bekerja, gadis itu terlihat sangat lelah dengan bau bayi di sekujur tubuhnya.


"Bilirubinnya tinggi. Badannya kuning semua. Jadi, kata dokter harus di sinar di rumah sakit," Fuji menjelaskan kondisi Ayuna.


"Emang ke mana ibunya?" Fikri tampak penasaran.


"Bukannya waktu itu-"


"Pokonya ibunya udah mati aja di kehidupan Ayuna," Fuji tanpa sadar menaikan suaranya. Emosinya selalu saja tidak terkontrol bila mengingat perlakuan Shella pada Ayuna.


"Maaf ya! Aku jadi nanya privasi kamu," Fikri tidak enak hati.


"Gak apa-apa. Kamu sendiri ngapain di sini?" Fuji bertanya balik.


"Aku lagi mau daftarin kakak aku ke dokter spesialis di rumah sakit ini," Fikri memberitahukan maksud kedatangannya ke rumah sakit.

__ADS_1


Rena memang menyuruh Fikri untuk segera membuatkan jadwal Zayyan bertemu dengan dokter dengan tujuan agar segera ada tindakan untuk kesehatan Zayyan.


"Oh gitu. Kakak kamu sakit?"


"Ya bisa dibilang kaya gitu," Fikri menjawab tanpa ingin menjawab lebih lanjut bagaimana keadaan Zayyan.


Fuji dan Fikri pun sedikit berbincang mengenai obrolan ringan. Akhirnya Fuji pamit terlebih dahulu karena tidak ingin membuat Bi Ijah menunggu lebih lama lagi. Fuji segera berjalan meninggalkan Fikri yang masih duduk di kursinya.


"Pasti masalah dia sangat besar," Fikri mengambil kesimpulan. Diam-diam hatinya takjub kepada Fuji, di mana seusianya Fuji sudah merawat bayi seorang diri.


Fuji berjalan menuju taman rumah sakit. Di sana ia melihat Bi Ijah sedang duduk memperhatikan bunga kertas yang bermekaran. Fuji berjalan cepat menuju wanita yang kerap ia amanati untuk menjaga Ayuna.


"Ayo Bi kita pulang!" Ajak Fuji.


"Ayo, Neng!" Bi Ijah bangkit dari duduknya.


Mereka langsung ke luar dari area rumah sakit. Fuji dan Bi Ijah langsung berjalan menuju angkot yang tengah ngetem di dekat rumah sakit. Fuji dan Bi Ijah memang datang dengan menaiki angkot karena sepeda motor Fuji sedang diperbaiki di bengkel. Fuji menyetop sebuah angkutan umum berwarna hijau. Ketika dirinya dan Bi Ijah akan masuk ke dalam angkot, seorang wanita dengan cepat menyabet tas Bi Ijah.


"Neng, tas bibi!" Teriak Bi Ijah ketika mendapati seseorang mengambil tasnya dengan begitu cepat.


"Copet! Copeeett!!" Fuji berteriak.


Terang saja semua orang yang ada di sana langsung mengejar copet yang berjenis kelamin perempuan itu.


"Tolong tas saya!" Bi Ijah ikut berteriak.


Teriakan Bi Ijah semakin mengundang massa untuk berkerumun. Sebagian besar orang yang ada di sana mengejar copet itu.

__ADS_1


"Aduh Neng, mana semua uang bibi buat SPP anak ada di sana!" Bi Ijah menangis.


"Tenang ya, Bi! Semoga copetnya ketangkap!" Fuji menenangkan. Akan tetapi, sudut hati yang lainnya terasa terusik. Pasalnya Fuji melihat getsur tubuh pencopet itu begitu mirip dengan ibunya, Ine.


__ADS_2