
Tiba saatnya Keysha akan melahirkan anak pertamanya. Dokter yang membantu persalinan Keysha adalah teman sejawatnya, yang tak lain adalah dokter Nita. Sementara Andra, ia terus berjalan ke sana ke mari bak setrikaan. Dokter Nita tidak menyarankan Andra untuk masuk, karena Dokter Nita takut kepanikan Andra akan membuat proses persalinan terhambat.
"Dra, tenang, Nak! Kesyha dan cucu mama pasti selamat dan sehat," Dewi menarik tangan putranya untuk duduk di sebelahnya. Ia cukup lelah melihat Andra hilir mudik ke sana ke mari.
"Aku takut Keysha kenapa-kenapa di dalam, Ma!" Andra melunak. Ia mendudukan dirinya di samping wanita yang sudah melahirkan dirinya.
"Tenang, Nak! Berpikirlah positif! Husnudzon ya?" Dewi tersenyum lembut pada putra bungsunya itu.
"Salah sendiri sih, Ndra! Coba kamu gak panik kaya gini, pasti kamu di suruh masuk!" Celoteh Sagara, sang ayah.
Andra hanya menghembuskan nafasnya kasar. Perkataan ayahnya ada benarnya juga. Jika dirinya bersikap tenang, pasti dokter Nita akan mengizinkan Andra untuk menemani Keysha melewati persalinannya. Andra akhirnya memilih untuk terus melafalkan doa dalam hatinya untuk keselamatan sang istri juga anaknya yang berjenis kelamin laki-laki berdasarkan hasil pemeriksaan USG.
__ADS_1
Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang memecah kesunyian di malam hari itu. Andra, Dewi dan Sagara berdiri dari duduknya. Kaki Andra sedikit gemetar mendengar suara malaikat kecil yang akan meramaikan hari-harinya ke depan. Malaikat yang akan memberikan lebih banyak warna dan kebahagiaan di dalam rumah tangganya.
"Dokter Andra, selamat ya! Dokter sudah bisa mangazani putranya!" Ucap Dokter Nita yang 15 menit kemudian keluar dari ruang persalinan.
Andra tidak menyia-nyiakan waktu. Ia langsung masuk ke dalam kamar bersalin. Di sana ia melihat Keysha sedang terbaring lemah setelah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah cinta mereka.
"Sayang?" Andra berjalan mendekati kasur perawatan Keysha. Ia melihat wajah istrinya sedikit pias.
"Aku lelah, sayang," Keysha tersenyum kecil melihat kepanikan dalam wajah suaminya.
"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang sempurna ini!" Setitik air mata Andra terjatuh. Ia mencium kening Keysha dengan lembut.
__ADS_1
"Azani putra kita!" Keysha menunjuk box bayi dengan matanya.
Andra kemudian menoleh ke arah ranjang mungil tempat di mana putranya di tidurkan. Perlahan Andra berjalan mendekati box kecil itu. Rasanya sangat campur aduk, antara kagum, bahagia dan tidak percaya. Ya, Andra seperti bermimpi kini dirinya adalah seorang ayah.
Setelah sampai di depan box bayinya, Andra membungkukan badannya. Ia menangis sesegukan melihat bayi mungil yang sedang tertidur. Andra kemudian mengambil putranya dengan hati-hati. Kemudian Andra mengazani putranya dengan penuh haru. Sesekali suara Andra tercekat karena air mata yang terus saja keluar dari kelopak matanya. Selama hidupnya, Andra belum pernah merasakan kebahagiaan yang tiada tara seperti ini. Melihat miniatur dirinya seperti sedang bermimpi indah dalam tidurnya. Keysha yang melihat pun menangis haru. Kini mereka sudah sah menjadi kedua orang tua.
"Papa janji bakal jadi ayah yang terbaik buat kamu ya, Nak?" Andra berbisik di telinga putranya. Kemudian Andra meletakan kembali putranya dengan hati-hati.
Sementara di tempat lain, seorang pria tengah tersenyum dengan derai air mata di pipinya. Orang itu adalah Zayyan. Ia yang mengetahui kabar persalinan Keysha amat senang sekaligus amat sedih. Zayyan sedih karena dulu ia menganggap Keysha yang tidak bisa memberikan keturunan padanya.
"Key, selamat ya? Aku yakin kamu pasti jadi ibu yang hebat. Maafkan atas semua sikapku selama ini! Semoga suatu hari nanti, luka yang aku torehkan di hati kamu bisa sembuh 100%. Semoga tidak ada kebencian lagi dari kamu untukku, Key," Zayyan mendoakan Keysha dalam hatinya.
__ADS_1
Di sisi lain, Nadia yang hendak ke kamar mandi melihat bosnya itu tengah menangis. Nadya penasaran, apa yang ditangisi oleh Zayyan? Ingin bertanya, tapi wanita itu amat sungkan, mengingat jika dirinya hanyalah seorang karyawan biasa.