
Ine tengah mengintai korbannya. Ya, sekarang profesi barunya adalah sebagai copet. Ine sudah bosan dengan hidup miskin yang menderanya. Ine yang terbiasa dengan kemewahan tidak bisa menerima kondisi barunya, hingga ia mengambil jalan pintas dengan menjadi seorang penjahat.
Ine terus menatap mangsa yang akan ia copet hari ini. Ine menargetkan seorang wanita tua yang terlihat memakai emas di tubuhnya. Ine berpikir pasti di dalam tas wanita itu banyak sekali uang. Wanita tua itu berjalan mendekati angkot yang sedang mengetem mencari penumpang. Ine membenarkan posisi topinya, ia berjalan cepat menuju wanita itu. Tapi langkahnya kemudian terhenti kala melihat putri bungsunya, Fuji yang berjalan mendekati wanita incaran Ine. Fuji terlihat tengah menggendong bayi.
"Itu kan si anak s*alan!!" Ine menatap Fuji dengan geram.
Ine selalu menyalahkan Fuji atas hidup pahit yang dialaminya. Kalau saja anak itu mau dijadikan simpanan pria kaya, pasti hidup Ine tidak akan berantakan seperti sekarang.
"Neng, dede Ayuna kontrolnya kapan?" Terdengar suara wanita tua itu yang bertanya pada Fuji.
"Seminggu lagi Bi Ijah," ucap Fuji pada wanita tua yang Ine ketahui bernama Bi Ijah itu.
"Jadi mereka saling kenal?" Ine bergumam.
"Aku harus cepat!" Ine langsung berjalan cepat mendekati mereka yang akan masuk ke dalam angkot yang tengah mengetem.
Ine yang memakai topi dan juga masker langsung menarik paksa tas Bi Ijah dan berlari sekencang mungkin dari sana. Bi Ijah dan Fuji sontak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ine.
"Neng, tas bibi!" Teriak Bi Ijah ketika mendapati seseorang mengambil tasnya dengan begitu cepat.
"Copet! Copeeett!!" Fuji berteriak.
Terang saja semua orang yang ada di sana langsung mengejar copet yang tak lain adalah ibu dari Fuji itu.
__ADS_1
"Tolong tas saya!" Bi Ijah ikut berteriak. Bi Ijah langsung menangis karena di dalam tasnya ada uang yang akan dibayarkan untuk SPP sekolah anaknya.
Raut wajah Fuji amat gusar. Ia seperti mengenali copet itu. Gestur tubuhnya amat mirip dengan Ine, sang ibu.
"Apa itu mama?" Resah Fuji dalam hati.
Sementara Ine terus berlari menghindari massa yang semakin banyak mengejarnya.
"Gawat! Aku bisa ketangkap!" Ine semakin cepat berlari. Ia mengerahkan semua tenaganya. Ine tidak ingin dirinya mati di tangan warga yang geram karena ulahnya.
Langkah Ine melambat. Dadanya sudah amat sesak karena terus berlari. Saat Ine menyebrang, seseorang menabrak Ine hingga tubuhnya terpental. Tapi Ine tidak terluka. Ia hanya mengalami lecet-lecet saja.
"Pak, tolong selamatkan saya!!" Ine berlari ke arah supir yang menabrak dirinya.
"Tolong saya, Pak! Mereka sedang tawuran!" Ine menunjuk orang-orang yang semakin dekat mengejarnya.
"Ya sudah cepat masuk!" Suruh pria itu.
Kemudian Ine dengan cepat masuk ke samping pengemudi. Tas yang ia ambil dari Bi Ijah dibiarkan tergeletak di atas aspal. Ine sudah tidak peduli, yang penting dirinya selamat lebih dulu dari amukan massa.
"Hey, berhenti!!" Warga memukuli mobil pria itu.
"Cepat, Pak! Mereka salah paham dengan saya. Mereka menuduh saya provokator dalam tawuran," dusta Ine. Pria itu pun tancap gas dan meninggalkan lokasi.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa lolos? Yakin deh itu copet yang sering beraksi di sekitaran sini," ucap bapak-bapak yang mengejar Ine.
"Komplotannya kali tuh yang bawa mobil," timbal bapak-bapak Botak yang terengah-engah dan mencoba mengatur nafasnya.
"Kayanya itu udah copet profesional. Larinya cepet!" Timpal yang lainnya.
"Itu tas si ibu tadi. Untung deh gak dibawa," seorang wanita muda yang ikut mengejar mengambil tas Bi Ijah yang tergeletak di atas aspal.
Sementara itu, Bi Ijah dan Fuji kini ada di pos satpam rumah sakit. Mereka menunggu dengan cemas. Bi Ijah terus menangis karena semua uang untuk sekolah anaknya ada di dalam tas itu.
"Tenang ya, Bi? Semoga aja itu masih rejeki bibi," Fuji mengusap bahu Bi Ijah untuk menenangkan.
Beberapa menit kemudian orang-orang datang ke pos satpam. Mereka memberikan tas Bi Ijah yang di copet oleh Ine tadi.
"Ini, Bu. Tasnya sih ketemu, tapi copetnya berhasil kabur," ucap seorang warga sambil memberikan tas Bi Ijah.
"Ya Allah, alhamdulillah!" Pekik Bi Ijah dengan haru. Tak henti wanita yang mengasuh Ayuna itu terus mengucap syukur.
"Uji bilang apa Bi, kalau rejeki pasti balik lagi," Fuji ikut senang. Sementara Ayuna masih tertidur dengan pulas di dalam gendongan Fuji.
"Makasih ya Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, semua yang udah ngejar copet itu. Semoga urusan kalian selalu di mudahkan oleh Allah," Fuji mengucap rasa terima kasihnya.
"Sama-sama, Neng. Lain kali lebih hati-hati! Di sini emang rawan copet," jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
Kemudian Fuji dan Bi Ijah pamit untuk pulang. Fuji terus merasa resah. Apakah benar copet tadi adalah Ine, ibunya? Detik kemudian Fuji mencoba menghibur dirinya. Tidak mungkin ibunya menjadi seorang pencopet.