
Shella membuka matanya. Ia bergegas bangun dari pembaringannya. Dilihatnya jam dinding, waktu menunjukan pukul tiga dini hari. Shella segera mencuci wajahnya. Wanita itu lalu mengganti baju tidurnya dengan pakaian non formal. Setelah semua selesai, Shella langsung mendorong koper miliknya, lalu menjatuhkannya ke luar jendela.
Ya, Shella melewati jendela untuk mengelabui Fuji. Ia berusaha tak mengeluarkan suara sedikit pun. Shella begitu takut Fuji akan bangun dan menghalangi kepergiannya. Kemudian Shella langsung menaiki jendela itu. Shella merasa lega saat ia sudah berada di halaman rumah. Shella mendorong kopernya dengan hati-hati. Ia bersorak senang saat beberapa langkah lagi akan melewati gerbang.
"Mau pergi ke mana hei wanita j*lang?" Suara Fuji seketika menghentikan langkah Shella, mantan model itu membeku dari posisinya berdiri.
Shella menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu berbalik dan menatap adiknya yang sedang berdiri seraya menggendong Ayuna dengan kain jarik.
"Aku mau pergi, aku muak hidup denganmu. Oh ya mengenai bayi itu, terserah kau apakan dia. Mau kau buang atau kau b*unuh sekali pun, aku tidak peduli! Jangan coba menghalangiku!" Shella menatap Fuji dengan tatapan mematikan. Namun tak membuat wanita yang masih sangat muda itu gentar.
"Pergilah! Tidak akan ada yang menahanmu! Jangan terlalu percaya diri! Aku pun sudah muak tinggal bersama j*lang sepertimu!" Umpat Fuji dengan sorot mata kebencian.
"Dasar anak ingusan yang tak tau diuntung! Kau harus ingat, aku ini yang membiayai biaya pendidikanmu! Jangan jadi kacang yang lupa pada kulitnya!" Shella merasa tak terima saat Fuji berkata tidak sopan padanya, ia mengungkit jasanya dalam pendidikan adiknya itu.
"Aku sudah membayarnya saat kau hamil. Aku mengurus segala kebutuhanmu. Aku pun membiayai biaya hidupmu selama kau hamil. Jadi aku rasa semuanya impas!" Kata Fuji dengan senyum sinis.
"Dasar adik kurang ajar! Nikmatilah hidupmu yang tak berguna dengan mengurus bayi sial*n itu! Aku yakin, kau akan menderita mengurus dia!" Shella tersenyum miring, membuat Fuji sangat muak melihatnya.
"Tidak terbalik? Kau yang manusia tak tahu diuntung. Aku sudah berbaik hati memberikan baktiku sebagai adik padamu. Tapi ternyata aku salah duga, kau memang wanita berhati iblis. Sudah, enyahlah dari hadapanku! Jika suatu hari nanti kau akan mengambil Ayuna, meskipun kau menangis darah, aku tidak akan pernah memberikannya padamu!" Ancam Fuji, matanya berkilat Menahan amarah yang berkobar di dadanya.
Shella menyedekapkan kedua tangannya di dada. Ia tersenyum menyeringai. Sedetik berikutnya ia membuang ludahnya di hadapan kaki Fuji. "Pantang bagiku untuk mencari bayi tak berguna itu!" Ejek Shella jumawa.
__ADS_1
"Baiklah. Silahkan pergi! Lagi pula sudah tidak akan ada orang yang peduli padamu. Kalau pun ada, hanya pria yang ingin tubuhmu untuk melampiaskan nafsu! Sadarlah! Kau hanya wanita j*lang! Tidak akan ada yang benar-benar peduli padamu. Aku doakan, semoga hidupmu tak pernah merasakan kebahagiaan. Bahkan seumur hidupmu, aku ingin kau hidup menderita sampai mati!" Desis Fuji berapi-api.
"Si*lan!" Shella akan menyerang Fuji, ia merasa tak terima dengan ucapan adik kandungnya itu. Apalagi Shella telah melewati masa nifasnya, ia merasa jauh lebih bertenaga. Air susunya pun sudah tak keluar karena Shella mengkonsumsi obat penghenti ASI. Namun Shella urungkan saat ia melihat mobil Camry datang di hadapan gerbangnya.
"Selamat tinggal, gadis bodoh! Selamat bersenang-senang dengan bayi tak berguna itu!" Shella tersenyum samar, ia lalu membuka gerbang dan tersenyum miring ke arah Fuji.
Shella menaiki mobil mewah itu. Ia melihat pria paruh baya yang diutus oleh kekasihnya untuk menjemput dirinya. Shella memang rajin melakukan chat bersama beberapa orang pria di aplikasi pencari jodoh. Shella pun menemukan pria muda yang seorang pengusaha, sama seperti Zayyan. Namun pria itu bergerak di bisnis mebeul. Shella tersenyum pongah. Ia tak sabar untuk bertemu dengan pria yang berbulan-bulan selalu melakukan chat padanya. Shella pun sudah menjelaskan bahwa ia pernah melahirkan, dan suaminya meninggalkannya begitu saja. Beruntung pria itu mau menerima Shella.
Shella menatap sang supir yang terus mengemudikan mobilnya menuju perumahan mewah yang berharga milyaran. Shella tersenyum senang, rupanya ia tak salah mencari pria. Mobil berhenti di carport rumah mewah. Shella membelalakan matanya saat menatap rumah itu. Pasalnya rumah itu, lima kali lipat jauh lebih mewah dari rumah Rena dulu.
"Silahkan turun, Nyonya!" Sang supir membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Shella untuk turun.
Shella berdiri di samping mobil, ia menatap seorang pria yang menunggunya di halaman rumah. Shella menduga itu adalah Darwin, pria yang selalu menghubunginya beberapa bulan ini. Darwin sangatlah mirip di foto aplikasi t*ndernya.
"Selamat datang, Ratuku!" Darwin mencium tangan Shella.
"Terima kasih, Darwin!" Shella tersipu malu.
Darwin menggenggam tangan Shella, lalu menuntunnya masuk ke dalam rumahnya. Ah, tepatnya istana, karena rumah itu sangatlah mewah bak istana kerajaan.
"Kau tinggal di sini sendiri?" Shella bertanya, tatapannya terpaku pada semua furniture yang serba wah di rumah itu.
__ADS_1
"Ya, orang tuaku sedang di Inggris. Aku tinggal bersama pelayan dan supir saja. Tapi mulai hari ini, kau akan tinggal bersamaku!" Sahut Darwin dengan tatapan menggoda.
"Apa ini tidak terlalu cepat? Maksudku kita baru saja bertemu, apa kau yakin akan tinggal bersama orang asing?" Shella menatap Darwin ragu.
"Aku percaya padamu, kita sudah melakukan chat berbulan-bulan. Aku merasa nyaman saat bertukar pesan denganmu!" Darwin menarik pinggang Shella, ia memangkas jarak dan mencium bibir Shella dengan kasar.
Darwin tak menghiraukan para pelayan di rumah itu. Para pelayan pun berpura-pura tidak melihat. Shella mengalungkan lengannya di leher pria blansteran itu, h*sratnya tiba-tiba saja muncul, sudah lama Shella tak melakukannya.
"Bibirmu manis!" Darwin tersenyum nakal.
"Ayo ikut aku! Aku akan memperlihatkan kamar untukmu!" Darwin kembali menggandeng lengan Shella dan memapahnya menuju tangga kokoh yang menjulang.
"Ini kamarku?" Tanya Shella tak percaya, kamar itu sangat antik. Semuanya serba mahal.
Darwin melingkarkan tangannya di pinggang ramping Shella. Ia kemudian memeluknya dan menjatuhkannya di ranjang empuk itu.
"Everything for you my queen!" Suara Darwin terdengar berhasrat.
Shella tak bisa diam saja, ia m*r3m4s rambut Darwin. Namun pria itu segera menghindar.
"Calm down, Baby! Istirahatlah!" Darwin bangkit dari posisinya, ia lalu menutup kamar Shella dan berlalu dari sana.
__ADS_1