Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Keadaan Shella


__ADS_3

Shella mengerjapkan matanya saat sang mentari memantulkan cahayanya lewat jendela rumah sakit. Mata sang penggoda itu sedikit memicing saat menelisik ruangan yang tidak dikenalinya. Ruangan yang bernuansa soft crem itu membuatnya mengingat-ngingat ia sedang berada di mana.


Beberapa detik kemudian, Shella teringat dengan peristiwa kemarin. Bahkan sampai sekarang sakitnya pun masih terasa di perutnya, namun tidak separah saat kemarin. Shella menyentuh perutnya. Berharap bayi itu telah gugur oleh alk*hol yang ia tenggak kemarin. Namun harapannya sia-sia, janin itu masih hidup.


"S*al! Mengapa kau kuat sekali?" Shella berbicara sendiri dengan kesal. Ia menggeram, lalu menyugar rambutnya frustasi.


Shella teringat dengan ponselnya, seingatnya kemarin ponselnya ia simpan di saku blazernya yang berwarna Lilac. Shella kemudian menelisik pakaian yang ia kenakan. Namun sepertinya perawat rumah sakit sudah mengganti bajunya dengan pakaian khas pasien rumah sakit.


Shella kemudian menyapu ruangan, berharap ia menemukan ponselnya yang berlogo apel tergigit itu. Ia lalu merasa lega saat melihat ponselnya tergeletak di atas lemari pasien, mungkin perawat di rumah sakit ini yang menyimpannya di sana.


Dengan lincah Shella menekan nomor Ine, namun tak juga Ine angkat hingga membuat Shella mendecakan lidahnya dengan kesal.


"Hallo, ada apa lagi kamu telepon mama?" Akhirnya terdengar suara Ine saat sang ibunda mengangkat panggilannya. Namun suara itu terdengar sangat tidak ramah.


"Ma, aku lagi di rumah sakit. Aku sakit!" Terdengar suara Shella yang parau, entah mengapa ia merasa kesepian saat sendirian di ruangan ini. Shella berharap Ine mau menemaninya saat di rumah sakit.


"Bagus ya! Saat kamu sakit, kamu baru inget mama kamu ini! Kemana kamu kemarin? Bahkan kamu dengan teganya dorong mama sampe jatuh! Dasar anak gak punya perasaan! Jangan harap mama datang ke sana buat rawat kamu!" Hardik Ine dengan kejam, membuat mata Shella kian memanas.


Air mana menitik membasahi pipi Shella, ia merasa menyesal. Mengapa ia dilahirkan oleh seorang ibu yang tak memiliki perasaan seperti Ine?

__ADS_1


"Oke fine! Aku minta maaf udah dorong mama! Tapi aku begini karena mama jual sebagian barang aku! Mama mikir gak sih? Aku dapetin itu semua dari hasil kerja keras, Ma. Lalu seenaknya mama main jual-jual aja. Wajar kalau aku marah!" Shella membela dirinya, berharap Ine mengerti.


"Barang segitu aja kamu ributin! Itu gak sebanding sama pengorbanan mama saat mama hamil, lahirin, ngerawat, sampai membesarkan kamu, Shella!" Ungkit Ine yang mengingatkan Shella dengan semua jasanya.


Shella hanya memutar bola matanya dengan malas, percuma berdebat dengan Ine. Ine tidak akan pernah mengerti. Akhirnya Shella menutup panggilan secara sepihak. Ia lalu menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, tidak ada teman yang bisa ia hubungi karena Shella tidak mempunyai teman dekat. Ia hanya bersikap sebutuhnya saja pada orang yang ada di sekelilingnya.


Shella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahu wanita hamil itu berguncang karena menahan tangis. Tak menyangka nasib buruk selalu saja berpihak padanya. Shella kemudian merasakan pergerakan dari dalam perutnya, sepertinya sang jabang bayi merasakan ibunya sedang sedih. Bukannya terbaru, Shella malah merasa muak dengan kehamilannya.


Suara ketukan pintu membuyarkan semua pikirannya, ia terkejut saat Keysha datang di ruangan itu. Tak hanya Keysha, ia datang bersama asistennya, dan dokter pria, Dokter Hilman. Dokter Hilman adalah dokter spesialis penyakit dalam, ia datang untuk memeriksa keadaan Shella.


"Mau apa kamu di sini?" Tanya Shella melotot, hingga membuat matanya terlihat akan meloncat. Ia menatap Keysha seakan Keysha adalah musuh besarnya.


Namun tidak dengan dokter Hilman, dokter Hilman menatap Keysha dengan penuh tanda tanya seolah merasa bingung mengapa sang pasien membentak Keysha dan menatap penuh permusuhan pada dokter cantik itu.


"Saya tidak mau diperiksa Keysha, tolong ganti saja dokter yang menangani saya! Saya takut dia mencelakai saya!" Shella masih saja menatap nyalang pada Kesyha.


Namun Keysha tak bergeming. Ia merasa bingung untuk bersikap, ingin sekali membalas makian Shella namun Keysha menahan diri. Ia melihat tempat, Keysha tak mungkin membalas memaki Shella yang berstatus sebagai pasiennya.


"Tidak akan, Bu. Bahkan dokter Keysha yang sudah menyelamatkan janin di dalam kandungan ibu. Dokter Keysha menghentikan rasa nyeri dan memberikan janin ibu penguat kandungan!" Papar asisten Keysha mencoba menjelaskan.

__ADS_1


Mata Shella membeliak saat mendengar Keysha memberikan obat penguat pada janinnya, ia semakin geram saja. Dengan bengis, Shella menatap Keysha dengan penuh dendam.


"Kenapa, Key? Kamu sengaja kan menguatkan kandungan aku? Kamu ingin aku menderita hah? Kamu ingin lihat bayi ini jadi benalu kan di hidupku? Tega kamu ya! Kamu udah ambil semua harta suamiku, dan sekarang kamu masih aja jahat!" Suara Shella bergetar, ia menahan tangis. Shella sudah berharap bayi ini gugur, tapi Keysha menggagalkan semuanya. Ia malah memberikan obat penguat itu. Dendam dan kebencian di hati Shella semakin menjadi.


"Harusnya Bu Shella senang bayi anda bisa selamat. Di dunia ini banyak sekali yang menginginkan anak, maka rawatlah ia dengan penuh kasih sayang bukan berniat untuk membunuhnya!" Sarkas Keysha, namun ia masih menjaga nada bicaranya.


"Maksudmu sepertimu bukan? Kamu yang menginginkan anak tapi kamu mandul. Akhirnya suami kamu mengejar-ngejar aku kan Hah?!" Teriak Shella seperti orang yang kesetanan.


"Bu, tolong jaga bicara dan etika anda, atau rumah sakit ini tak mau menampung pasien seperti Anda!" Tegas asisten Keysha penuh dengan penekanan, lama-lama ia merasa kesal juga saat melihat perilaku unik pasien Yang ada di hadapannya.


Dokter Hilman masih saja tak bergeming, ia menatap drama pasiennya yang menurutnya unik. Akhirnya Dokter Hilman memberikan kode lewat mata pada Keysha dan asisten Keysha yang langsung di mengerti oleh keduanya. Shella berniat melemparkan bantal pada Keysha. Namun dengan cepat, Dokter Hilman memegang tangan Shella. Kemudian Keysha menyuntikan cairan penenang di tubuh Shella.


"Apa yang kamu lakukan? Dasar wanita jahat!" Shella masih saja berisik, namun beberapa detik kemudian ia merasakan efek dari suntikan Keysha. Tubuh Shella perlahan melemas, hingga ia tertidur kemudian.


"Dokter yang sabar ya!" Dokter Hilman berbicara dengan lembut.


Keysha mengangguk, ia lalu tersenyum. "Ya, tapi sepertinya dokter kandungan yang menangani pasien ini harus diganti. Saya tak mau kehadiran saya malah memperburuk kondisinya!" Keysha tampak berpikir.


"Benar, Dok. Sebaiknya kita bicarakan pada Dokter Andra," usul asisten Keysha yang langsung disetujui oleh Keysha.

__ADS_1


__ADS_2