Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Rencana Yang Disiapkan


__ADS_3

Penderitaan demi penderitaan kini sedang dirasakan oleh Shella. Tubuhnya kian ringkih akibat penyiksaan yang Darwin lakukan. Setiap malam pria itu selalu menyentuhnya disertai dengan kekerasan-kekerasan fisik yang Darwin lakukan. Shella sudah tidak sanggup menjalani ini semua. Wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin. Tampak kini wajahnya penuh dengan luka lebam. Shella kemudian membuka piyama kimono yang menutupi tubuhnya. Ia menangis melihat kini tubuhnya penuh dengan luka. Luka itu terdiri dari luka baru dan luka yang sudah mengering.


"Sakit sekali!" Shella memakaikan kembali piyamanya


"Darwin, kenapa tidak kamu bun*uh saja aku sekalian?" Shella menangis tergugu.


Kini tubuh indah yang selalu ia banggakan sudah hilang. Yang tersisa hanyalah bekas luka akibat dari penyiksaan yang Darwin lakukan. Shella sudah berulang kali mencoba kabur dari rumah Darwin yang memberikan penderitaan lahir dan batin padanya. Hanya saja, Shella selalu saja tertangkap oleh para pengawal yang Darwin tugaskan di rumahnya. Para pengawal itu sebenarnya sangat iba akan kondisi Shella. Dalam hati mereka, mereka ingin sekali membiarkan Shella kabur. Tapi apa mau dikata, jika mereka membiarkan Shella kabur, Darwin yang akan menyiksa mereka bahkan Darwin akan bermain-main kepada keluarga mereka. Hal itulah yang membuat para pengawal dan para asisten rumah tangga seakan tidak bisa berbuat apa-apa membantu Shella.


"Aku sudah lelah mencoba kabur dari rumah ini!" Shella terisak. Matanya sudah sangat sembab menangisi dirinya dan hidupnya yang malang.


"Ayuna?" Air mata meluncur dari mata Shella yang memiliki kantong kehitaman di bawah matanya.


Bagaimana tidak, setiap malam Shella tidak nyenyak tidur. Darwin bisa sewaktu-waktu datang ke kamarnya dan memaksa Shella untuk melayani dirinya. Terlebih dengan segala penyimpangan yang Darwin lakukan membuat Shella selalu menangis histeris kala melayani pria yang memiliki orientasi menyimpang itu.


"Ayuna, apa mungkin ini balasan untuk mama, Nak?" Shella menangis tergugu.


Hati terdalamnya amat merindukan bayi yang sudah ia buang dengan begitu kejamnya. Jika Shella bisa memutar waktu, tentu dirinya akan menjalani hidup yang damai bersama Ayuna dan Fuji.

__ADS_1


"Apa ini semua karma karena mama sudah menyia-nyiakan kamu, Nak?" Shella semakin terisak. Dikala masa paling sulit dalam hidupnya, yang Shella ingat adalah Ayuna.


Andai saja bayi mungil itu ada di hadapan Shella, sudah pasti Shella akan memeluknya dengan erat. Tapi itu semua hanya khayalan. Karena Shella masih terjebak di tempat yang menurutnya neraka dunia itu.


"Dengan cara apa lagi aku harus kabur dari rumah ini?" Shella memutar otaknya. Ia tidak mungkin berdiam terus menerus di rumah penuh penyiksaan ini. Bahkan dua hari yang lalu, Darwin menyayat kedua dada Shella dengan benda tajam.


"Mama harus menebus dosa mama kepadamu, Nak! Mama tidak ingin meninggal dalam keadaan penuh dengan penyesalan!"


Shella kemudian mendapatkan suatu ide bagaimana dirinya bisa keluar dari rumah terkutuk milik Darwin. Shella segera menutup pintu. Dengan terseok, Shella mencari barang yang ia maksud. Shella kemudian tersenyum ketika menemukan barang yang ia cari, yaitu satu botol racun tikus. Kemudian Shella berjalan pelan menuju kamar mandi, ia mengambil satu buah pasta gigi.


Rencana mulai Shella jalankan, Shella kemudian menyikat gigi sampai bibirnya penuh dengan busa. Shella pun kemudian mencecerkan racun tikus ke lantai agar orang-orang mengira dirinya akan mengakhiri hidup. Tujuan Shella sudah jelas. Hal ini dilakukan agar para pelayan Darwin menyangka dirinya mengakhiri hidup dan membawa Shella ke rumah sakit. Setelah di rumah sakit, Shella bisa melarikan diri. Itulah kira-kira rencana Shella.


Shella langsung membaringkan tubuhnya, tentunya dengan bibir yang penuh dengan busa akibat pasta gigi. Tangannya pun memegangi racun tikus yang sudah ia cecerkan isinya di lantai. Saat suara langkah kaki semakin mendekat, Shella berpura-pura tak berdaya. Ia memejamkan matanya sambil terus berdoa semoga usahanya kini berhasil.


"Ya ampun, Nyonya!" Shella mendengar teriakan dari asisten rumah tangga yang datang ke kamarnya.


Tak lama, terdengar suara beberapa langkah kaki masuk ke dalam kamar Shella.

__ADS_1


"Ada apa?" Shella mendengar suara Darwin. Jantung Shella berdetak lebih cepat. Shella talut Darwin akan tahu drama yang dimainkannya kini.


"Nyonya sepertinya mencoba b*nuh diri, Tuan!" Lapor seorang pengawal kepada Darwin.


Darwin mengamati keadaan Shella. Kemudian ia menyuruh seorang pengawal untuk memeriksa denyut nadi Shella. Seorang pengawal pun mendekati tubuh Shella yang memiliki banyak luka itu. Pengawal itu tampak memeriksa nadi Shella.


"Denyut nadinya normal! Dan sepertinya ini bau busa pasta gigi!" batin pengawal yang memeriksa Shella.


"Bagaimana?" Tanya Darwin yang berdiri di ambang pintu dan tidak mendekat ke arah Shella.


Pengawal itu ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Darwin. Tapi dia tahu betul jika ini adalah trik Shella untuk bebas dari rumah Darwin. Pengawal itu pun memperhatikan wajah Shella yang sudah babak belur. Nuraninya pun luluh ketika melihat tubuh wanita itu yang semakin kurus dan tidak berdaya.


"Nadinya sangat lemah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, atau jika tidak nyawa nyonya tidak akan tertolong!" Lapor pengawal itu berbohong. Ia lebih mendengarkan nuraninya ketimbang jujur kepada Darwin.


"Kalau begitu, cepat bawa dia ke rumah sakit!" Darwin memerintah.


Kemudian ia berlalu meninggalkan kamar Shella. Darwin langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting semua barang dengan beringas. Darwin sedang kacau. Ia merasa kacau karena jika Shella meninggal, maka mainannya yang mengasyikan akan hilang.

__ADS_1


Sementara tiga orang pengawal langsung membawa Shella ke rumah sakit. Dalam hati, Shella bersyukur karena aktingnya kali ini dipercaya oleh Darwin. Tiga orang pengawal itu langsung membawa Shella ke rumah sakit terdekat. Tentunya Shella sudah siap dengan rencana pelarian dirinya.


__ADS_2