
Fira mulai melancarkan aksi balas dendamnya kepada Ine yang telah berani merebut dan bermain serong dengan suaminya. Fira sudah memikirkan semuanya dengan matang untuk menghancurkan Ine sampai berkeping-keping. Fira pun memencet nomor ponsel Ine. Meminta untuk Ine menemui dirinya di cafe yang tak jauh dari pusat kota.
"Ada apa, sayang?" Tanya Hadi ketika melihat Ine menatap ponselnya dengan lama.
"Ini istrimu meminta bertemu denganku," Ine menjawab.
"Apa dia sudah tahu, Mas?" Ine menatap Hadi.
"Tahu? Tahu dari mana? Dia memangnya telfon bagaimana?" Hadi berkata dengan santai.
"Katanya ingin bertemu saja. Nadanya sih biasa aja," jawab Ine.
"Ya berarti apa yang harus di khawatirin? Dia gak akan tahu. Udahlah ga usah pikirin Fira! Ayo mending l*yani Mas," Hadi tersenyum menggoda. Ia pun membawa Ine ke dalam bathub untuk berbuat perbuatan terlarang di sana.
Setelah memu*askan hasrat Hadi, Ine segera berdandan secantik mungkin dan langsung on the way untuk menemui Fira. Ketika Ine sampai, ia menatap Fira yang tengah asik berbincang dengan Astrid di sana.
"Eh, Jeng Ine sampai. Sini, Jeng!" Fira berkata dengan ramah kepada Ine.
"Ada apa nih Jeng minta ketemu sama aku di sini?" Ine menjawab dengan tidak berselera.
"Ini lho Jeng, aku pengen nanyain di mana kamu beli tas LV kamu. Aku pengen yang model kaya gitu, tapi ternyata udah kehabisan," Fira berpura-pura sedih.
"Oh aku pesen dari luar negeri sih, Jeng. LV yang waktu itu aku pake edisi terbatas dan kayanya di Indo juga udah abis terjual deh," Ine menyombongkan dirinya.
"Oh begitu," Fira berkata dengan kecewa.
"Btw Fir, kok kulit kamu makin glowing aja sih?Nyamuk aja kayanya bisa kepeleset deh di kulit kamu ini! Bening banget!" Puji Astrid sambil menatap wajah Fira dengan takjub.
"Ya perawatan dong, Jeng! Kalau mau cantik harus ada modal," Fira tertawa.
"Sombong banget si Fira! Tapi kalau di liat-liat, dia emang tambah cantik. Kira-kira perawatannya di mana ya? Aku juga pengen kulit aku glowing kaya si Fira gitu. Mana dia keliatan awet muda banget. Kalau dia makin cantik, bisa-bisa mas Hadi kepincut dia lagi," Ine berkata dalam hatinya.
"Emang perawatan Jeng Fira kaya gimana gitu?" Ine bertanya. Fira tersenyum. Merasa Ine sudah masuk ke dalam jebakannya.
"Aku rutin pake cream siang dan malam sih, Jeng. Aku pake ini nih," Fira mengeluarkan dua wadah cream dari tasnya.
__ADS_1
"Ini cream apa?" Astrid bertanya sembari menelisik cream-cream itu.
"Ini cream dari Korea Selatan. Bisa bikin wajah kita ini lebih muda, glowing, lebih putih dan tentunya halus!" Fira menjelaskan cream-cream di tangannya seperti seorang sales yang menawarkan produknya.
"Di klinik kecantikan atau di salon-salon ada gak, Jeng?" Ine melirik cream-cream itu.
"Duh, sayangnya gak ada sih, Jeng. Aku beli langsung di sokor (South Korea). Aku belinya pas liburan ke sana. Harganya satu cream sepuluh jeti lho," Fira menjawab.
"Wah, pantes aja sih kalau produk Sokor. Gak diraguin lagi," Astrid menimpali.
"Aku beli banyak sih, Jeng. Jeng-jeng mau gak? Aku masih ada di rumah," Fira berbaik hati menawarkan.
"Seriusan, Jeng?" Mata Astrid berbinar.
"Serius dong. Aku kasih ke Jeng Astrid sama Jeng Ine deh karena cuma kalian yang dateng ke sini," Fira tersenyum.
"Serius nih, Jeng Fira?" Ine pun ikut senang mendengar tawaran Fira.
"Tapi gak jadi deh. Kata penjual di sana, produk ini cocok-cocokan. Kalau gak cocok bisa bahaya efeknya ke kulit, soalnya mengandung bahan alergen gitu," Fira berpura-pura menarik kembali cream-cream itu.
"Iya, Jeng. Masa di ambil lagi?" Astrid ikut kecewa.
"Bukan gitu. Cuma aku takut aja wajah kalian gak cocok sama cream ini Aku takutnya wajah kalian kenapa-kenapa."
"Gak akan, Jeng. Itu wajahmu baik-baik aja. Aku ambil ya?" Ine mengambil cream itu dari tangan Fira.
"Tapi Jeng ine, kalau ada apa-apa sama kulit Jeng, aku gak tanggung jawab ya?" Fira mewanti-wanti.
"Ambil aja Jeng Ine! Tuh liat hasilnya juga wajah Jeng Fira bening banget!" Astrid mengompori.
"Pokoknya aku ambil ya, Jeng Fir? Aku yakin cocok kok di kulitku, kulitku kan emang cocok sama barang-barang mahal," jawab Ine dengan semangat.
"Ya udah deh kalau gitu," Fira akhirnya benar-benar memberikan cream itu kepada Ine dan Astrid.
"Makasih ya. Kalau gitu aku pergi dulu ya, Jeng Fira? Jeng Astrid aku pergi dulu, masih ada urusan di luar," Ine segera bergegas pergi dari sana. Tentunya sudah tidak sabar untuk memakai cream yang katanya bisa membuat kulitnya lebih muda dan glowing.
__ADS_1
Sepeninggal Ine, Fira tersenyum penuh kemenangan. Fira yakin misi menghancurkan Ine akan segera tercapai. Fira sungguh tidak sabar akan hal itu.
"Makasih Jeng Astrid udah dateng ya? Kalau seumpama entar wanita j*lang itu nuntut aku, ada kamu saksinya bahwa dia yang minta produk itu," Fira tersenyum kepada Astrid yang duduk di sebelahnya.
"Ya, Jeng Fir. Kita emang harus berantas pelakor kaya dia!" Astrid berkata dengan geram. Tentu saja ia tahu jika suami Fira tengah bermain api dengan Ine.
"Siniin Jeng creamnya ini cream bahaya!" Pinta Fira lagi.
"Nih, Jeng!" Astrid menberikan kembali cream yang diberikan oleh Fira. Mereka memainkan sandiwaranya dengan sangat epik.
Di sisi lain, Ine langsung pulang ke apartemennya. Ia segera mengeluarkan cream wajah yang Fira berikan. Ine langsung memakaikan cream itu di wajahnya.
"Rasanya dingin," Ine bergumam sembari menatap cermin.
Ine pun langsung memakai cream itu lebih banyak dengan tujuan agar hasilnya segera terlihat. Setelah memakaikan cream, Ine langsung tertidur di kamarnya. Ia cukup lelah hari ini karena harus terus menerus melayani Hadi. Pria itu seolah tidak ada bosannya dengan Ine yang selalu memberikan pelayanan terbaiknya.
Pagi hari Ine terbangun. Ia merasa wajahnya seperti terbakar. Ine segera berkaca di cermin. Ia menatap wajahnya yang memerah seperti terpapar sinar UV dalam waktu yang lama.
"Kok gini ya?" Ine terus menatap cermin yang menampilkan wajahnya yang memerah.
"Gak bisa di diemin!" Ine menelfon Fira, tapi wanita itu tidak mengangkat. Tak ingin semakin kebingungan, Ine langsung menelfon Astrid. Setahunya Astrid pun diberikan cream yang sama oleh Fira.
"Itu kayanya efek pemakaian pertama kali deh, Jeng. Terusin aja! Entar juga balik lagi ke semula, malah lebih bagus entar," ucap Astrid saat Ine menelfonnya.
Ine pun percaya dengan kata Astrid. Ine tetap melanjutkan memakai cream itu karena mendambakan kulit yang lebih glowing agar Hadi tidak berpaling kembali kepasa Fira.
****
Hari berganti hari, terhitung Ine sudah tujuh hari memakai cream itu. Akan tetapi, bukan glowing yang Ine dapatkan. Wajah Ine kini berubah. Ya, berubah menjadi rusak. Wajah Ine kini kering, berjerawat dan juga memerah. Ine baru menyadari jika cream itu tidak cocok di wajahnya. Padahal sejatinya Fira memang memberikan cream kadaluarsa yang mengandung merkuri dan Hydro Quinon yang tinggi.
Ine menelfon Fira. Tapi Fira dengan cepat menjawab jika ia sudah memberitahukan efek dari cream itu. Ine terdiam karena perkataan Fira memanglah benar. Fira memang berkata jika cream itu tidak cocok di semua jenis kulit.
"Si*lan!" Ine mengacak-acak meja riasnya. Kini kulit wajahnya mengelupas seperti ular yang berganti kulit. Wajah Ine pun terlihat seperti bersisik.
"Aku tidak mau seperti ini!" Ine menangis meraung menatap wajahnya yang kini sudah benar-benar rusak.
__ADS_1