
Vebby memutuskan untuk meninggalkan area ruang bersalin. Langkah Vebby terhenti saat melihat semua dokter sedang berjalan menuju ruang meeting. Ia mengernyitkan dahi nya heran, sepertinya ada sesuatu yang urgent sekali.
"Dokter ada apa?" Tanya Vebby pada Dokter Herry yang kebetulan sedang berjalan menuju ruang meeting.
"Ada rapat dadakan dari direksi rumah sakit dan semua karyawan. Ayo kita ke sana!" Ajak Herry pada Vebby.
Vebby mengangguk. Ia berjalan beriringan bersama Dokter Herry. Saat ia memasuki ruang meeting, ia melihat Keysha sudah duduk di kursinya bersebelahan dengan dokter Anita, sahabatnya. Vebby memilih duduk di sebelah Dokter Herry. Ia melihat semua jajaran direksi rumah sakit menghadiri meeting kali ini. Sepertinya darurat sekali. Beberapa menit kemudian, masuklah dokter Andra. Andra ditugaskan oleh Sagara untuk memimpin rapat. Kedatangannya menjadi pusat perhatian para staff medis dan rumah sakit. Banyak sekali yang memuji ketampanannya di dalam hati mereka.
"Selamat pagi semuanya!" Andra naik ke podium. Ia memberikan kata sambutan pertamanya.
"Pagi, Dok!" Jawab semua yang menghadiri rapat itu dengan serempak.
"Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan semua. Saya mengumpulkan kalian di sini karena ada sesuatu yang darurat sekali!" Andra menjeda ucapannya.
"Jadi, virus Covid yang sekarang sedang menjadi ketakutan oleh warga dunia sudah memasuki indonesia. Tepat pagi ini, ada dua orang yang telah positif terpapar virus tersebut dan sedang melakukan isolasi di Rumah sakit pusat pemerintah," lanjutnya lagi yang membuat semua orang yang menghadiri rapat menjadi panik.
"Presiden kita sudah mengkonfirmasi kasus ini. Yang terburuk dari berita ini, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan PSBB. Efek dari PSBB ini adalah mengharuskan pekerjaan akan dilakukan di dalam rumah atau istilahnya work from home untuk menghentikan penyebaran. Tapi tidak dengan kita. Kita akan terus bekerja untuk membantu para korban yang terinfeksi. Saya harap semua dapat melayani pasien dengan sepenuh hati. Saya prediksi nanti akan banyak pasien yang terpapar virus ini. Saya mohon kerja samanya untuk memakai APD atau alat pelindung diri dengan benar dan sesuai aturan. Kita juga wajib memakai hand sanitizer atau mencuci tangan dengan sabun, setelah memegang pasien atau benda apapun. Mulai dari hari ini manajemen akan mewajibkan semua tenaga medis memakai APD tersebut. Kalian jangan ketakutan dan memperlakukan pasien tidak baik, virus ini akan menyebar melalaui droplet. Yang saya tekankan adalah mohon untuk tidak berkontak dengan pasien bila tidak memakai APD," jelas Andra panjang lebar.
"Lalu rumah sakit kita pun akan menyediakan ruangan isolasi untuk pasien yang terpapar dan sudah terbukti positif. Saya meminta untuk rekan semua untuk menjaga kesehatan kalian, supaya kita sebagai tenaga medis tidak tertular oleh virus tersebut. Kemudian kita pun berdoa agar Virus ini segera selesai dan segera ditangani," lanjut Andra lagi, semua hening mendengarkan isi dari pengemuman yang dijelaskan Andra.
__ADS_1
"Apa ada pertanyaan dari rekan-rekan semua?" Tanya Andra memecahkan keheningan diruang meeting yang cukup mewah itu.
"Dengan apa kita mengetahui pasien tersebut positif, Dok? Apa dengan cek darah?" Tanya Keysha yang membuat semua orang menatapnya.
"Pertanyaan yang bagus dokter Keysha! Untuk saat ini alat tes nya adalah dengan tes rapid yaitu diambil sampel darah. Namun rumah sakit akan membeli alat tes seperti yang ada di luar negri yaitu dengan antigen dan swab agar hasilnya lebih cepat dan akurat!" Jawab Andra.
Kepanikan dan kekhawatiran mulai dirasakan para dokter dan pegawai medis lainnya. Mereka berada di garda terdepan untuk menanggulangi pandemi yang mulai memasuki tanah air itu. Sebagai manusia normal tentu mereka takut dirinya akan tertular. Apalagi mereka menonton berita jika di Wuhan orang-orang yang bekerja di rumah sakit mulai mengundurkan diri. Tapi Andra berhasil meyakinkan mereka jika virus tidak akan menyebar jika mereka memakai APD yang lengkap.
Setelah sesi tanya jawab berakhir, Andra mengakhiri rapatnya. Para tenaga medis, dan seluruh direksi rumah sakit membubarkan diri mereka, kecuali Keysha. Wanita itu menunggu Andra di ruangan itu. Hingga hanya mereka berdua saja di ruangan yang luas itu.
"Dokter Andra?" Sapa Keysha dengan raut wajah yang sedih.
"Apakah kebijakan PSBB akan membatalkan rencana pernikahan kita?" Keysha menyampaikan kekhawatirannya yang membuat Andra tertegun.
"Mengapa kamu berpikir sampai ke sana, Key?" Andra bertanya dengan raut wajah yang gusar, ia tak mau lagi jika rencana pernikahan mereka akan ditunda.
"Pekerjaan di kantor saja pemerintah mengintruksikan untuk dikerjakan di rumah, apalagi pernikahan? Saya memprediksi pemerintah akan melarang kerumunan dan pertemuan banyak orang. Sebelum ke sini pun, saya sudah mendapatkan telepon dari mama bahwa vendor dan WO membatalkan acara kita, karena dilarang melakukan resepsi di tengah pandemi," akhirnya Keysha menyampaikan uneg-unegnya.
Andra mendekat, ia menangkup kedua pipi Keysha. Terlihat sekali dokter cantik itu tengah gusar.
__ADS_1
"Kemarin tidak mau terburu-buru, kenapa sekarang keliatan kamu yang ngebet, Key?" Godanya berusaha menenangkan Keysha, walaupun di hati Andra. Ia juga merasa khawatir dengan rencana pernikahan mereka.
"Dok, saya serius!" Keysha memanyunkan bibirnya yang membuat Andra begitu gemas.
"Kamu kok gemesin! Jiika sudah menikah, saya akan menghukum kamu karena kamu sudah menggoda saya!" Andra terkekeh, namun Keysha mengernyitkan dahinya karena tak mengerti dengan perkataan pria tampan yang ada di hadapannya.
"Dengar saya, Key!" Andra masih menangkup pipi Keysha, ia lalu tersenyum. "Jika resepsi pernikahan dilarang, saya tetap akan menikahi kamu. Kamu jangan takut! Pernikahan kita tidak akan batal!" Janjinya berusaha meyakinkan Keysha.
"Kamu percaya saya kan?" Andra menatap dalam mata Keysha hingga membuat Keysha gugup. Refleks Keysha melepaskan tangan Andra yang sedang menangkup pipinya.
"Ya, kalau begitu mari kita pergi!" Keysha berjalan menjauhi Andra.
"Cieee yang malu!" Goda Andra lagi seraya memamerken suara tawanya yang begitu renyah.
"Tidak, tapi saya harus membuka poliklinik saya. Ayo kita pergi! Tak baik terus berdua nanti ketiganya ada setan'!" Elak Keysha, namun sejujurnya jantungnya terus saja berdegup kencang.
"Kalau kita sudah menikah, kamu pasti maunya berdua terus kan?" Cecar Andra yang terus saja menggodanya.
"Itu hanya ada di dalam mimpimu, Dok!" Jawab Keysha sekenanya, Andra tertawa lalu ia mengikuti langkah Keysha dibelakangnya.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruang meeting itu, mereka berjalan ke arah yang berbeda. Seakan menjunjung profesional yang tinggi, mereka terlihat seperti tidak memiliki hubungan. Berbicara hanya jika ada kepentingan saja. hingga tidak ada yang sadar orang dirumah sakit itu dokter cantik dan tampan itu akan segera menikah.