
Fuji datang kembali ke rumah sakit beserta dengan perlengkapan yang ia bawa. Fuji langsung datang ke bagian administrasi untuk mengurus segala administrasi Shella dan bayinya. Beruntung biaya rumah sakit dan persalinan Shella tercover oleh asuransi. Akan tetapi, untuk bayi Shella tidak tercover. Untung saja Fuji sudah mengambil uang milik Shella. Dengan begitu, Fuji tidak pusing dengan biaya bayi yang menghabiskan uang sekitar dua juta rupiah.
Setelah selesai mengurus administrasi Shella dan bayinya, Fuji langsung masuk ke dalam ruangan kakaknya. Ia melihat Shella tengah terbaring di ranjangnya. Sedangkan bayinya tertidur di box mini yang ada di samping ranjang Shella. Fuji pun segera mendekat untuk melihat keponakannya yang berjenis kelamin perempuan itu.
"Hallo, cantik! Ini onty!" Fuji mengajak ngobrol bayi yang sedang terlelap itu.
"Kakak udah menyusui dia?" Fuji melihat ke arah kakaknya yang sedang memasang raut wajah yang kesal.
"Belum. Air susu kakak belum keluar. Kalau pun keluar, kakak gak mau nyusuin. P*yud*ra kakak bisa rusak kalau nyusuin makhluk itu!" Shella berkata dengan intonasi yang tinggi.
"Astagfirullah!" Fuji beristigfar mendengar penuturan kakaknya. Tapi dia tidak terlalu kaget, Fuji sudah tahu bagaimana peringai kakak sulung dan satu satunya itu.
"Kak, kasian bayi kakak kalau minum susu formula," Fuji berusaha menasehati.
"Halah, bayi orang lain juga banyak yang dikasih sufor, Ji. Jangan ngasihani dia! Mending kasihani kakak," Shella masih saja berbicara dengan ketus.
"Kak, bayi ini gak berdosa apa-apa sama kakak. Lagian ini semua salah kakak. Kenapa kakak harus ngelakuin hal kaya gitu kalau gak mau punya anak?" Ejek Fuji dengan tersenyum sinis.
"Ji, kamu belum dewasa! Gak akan ngerti yang gituan," Shella memutar bola matanya.
"Uji udah besar kali, Kak. Jangan cuma mau enaknya aja! Terima juga dong hasilnya, Kak. Toh bayi ini gak minta di lahirin dari rahim kakak. Kalau bayi ini bisa milih, dia juga gak mau lahir dari perempuan kaya kakak. Pasti dia juga pengen lahir dari wanita terhormat dan baik-baik!" Fuji berkata dengan pedas. Ia seolah habis kesabaran dengan kakak nya itu.
"Jangan kurang ajar ya Ji sama kakak! Nyatanya wanita tidak baik ini adalah kakak kamu!" Sungut Shella dengan setengah berteriak.
Bayi yang sedang terlelap itu pun menangis mendengar perdebatan ibu dan tantenya. Fuji pun menghela nafasnya. Berusaha untuk mengatur emosi yang kini menguasai dirinya. Perlahan Fuji menggendong bayi yang belum diberi nama itu. Mata Fuji berkaca-kaca ketika menatap bayi tanpa dosa itu.
"Kak, dia cantik sekali ya? Lihat hidungnya mancung! Bibirnya merah," Fuji menoleh ke arah Shella yang tengah melipat tangannya di dada.
"Oh ya?" Shella tampak tidak tertarik.
"Tapi kenapa ya rambutnya sedikit bergelombang kaya gini? Padahal kak Zayyan kan rambutnya lurus!" Fuji memperhatikan rambut bayi yang ada di dalam gendongannya.
Fuji belum tahu jika keponakannya itu bukanlah anak dari Zayyan. Sedangkan Shella tertegun mendengar ucapan Fuji. Kini dugaannya semakin kuat jika anak itu adalah anak dari Riyan, bukanlah anak dari Zayyan.
"Masa iya bergelombang?" Shella menimpali dengan raut wajah yang gusar.
"Kakak emangnya belum lihat wajah anak kakak sendiri?" Fuji bertanya dengan keheranan.
"Belum," Shella menjawab dengan singkat.
"Ya ampun! Kak, bahkan induk hewan pun dia melihat dan menyusui anaknya!" Sindir Fuji kembali. Darahnya kembali mendidih saat ia mendengar setiap ucapan dari Shella.
"Jadi, maksud kamu, kakak lebih rendah dari hewan gitu?" Shella menatap Fuji dengan tajam.
"Nah syukurdeh kalau kakak ngerasa!!" Fuji memutar bola matanya.
"Sabar, Shell sabar! Jangan ngelawan anak ini! Kalau aku terpancing emosi, entar Fuji kabur," hati Shella menenangkan jiwanya yang sudah terpancing emosi dengan segala bentuk sindiran yang Fuji katakan.
__ADS_1
"Oh iya, bayi kakak ini gak ke cover asuransi. Jadi, harus bayar. Gimana tuh kak buat biayanya?" Fuji memancing Shella.
"Dari mana apanya, Ji? Ya kamu usahain dong, Ji! Kamu kan tahu kakak gak kerja dan gak punya uang sepeser pun!" Shella berkata dengan nada tidak suka. Ia takut Fuji menyuruh dirinya untuk mengeluarkan uang. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Shella harus keluar dari rumah itu dengan uang hasil penjualan barang brandednya.
"Uji uang dari mana sih, kak? Kan kakak tahu Uji cuma narik ojek online. Penghasilan perhari gak nentu. Ada dapet pelanggan ada engga," Fuji menautkan alisnya.
"Kamu cari pinjaman dulu lah, Ji! Nanti kakak bayar kalau ada uang," Shella melunak. Ia berusaha agar Fuji tetap berada di sampingnya.
"Oke, kak. Entar Fuji telfon temen dulu buat pinjem uang. Nanti Fuji minta dia transferin dulu," Fuji berbohong. Nyatanya ia memang sudah membayar segala bentuk administrasi anak Shella dengan menggunakan uang yang ia ambil dari dalam lemari.
"Kak, kasih nama bayi ini siapa ya?" Fuji menatap bayi cantik yang memiliki pipi kemerahan itu. Terang saja bayi itu memang mewarisi kecantikan Shella. Akan tetapi, Fuji berharap jika sang bayi tidak menuruni sikap dan peringai dari Shella.
"Terserah kamu lah mau kasih nama siapa! Kakak gak peduli!" Shella berkata dengan acuh.
"Namain siapa ya, kak?" Fuji tampak mengingat nama yang ia cari di internet.
"Uji kasih nama Ayuna Ramaniya saja," Fuji memberikan nama untuk keponakannya.
"Serah kamu lah, Ji!" Shella berkata dengan acuh.
Shella kemudian mengambil ponselnya. Ia mulai menginstal aplikasi kencan online, T*inder. Rencananya Shella akan tinggal terlebih dahulu dengan Fuji sampai tenaganya pulih dan sampai masa nifasnya berakhir.
"Kakak gak mau liat wajah Ayuna?" Fuji menggendong bayi yang baru diberi nama Ayuna itu ke arah kakaknya.
"Gak usah. Gak minat!" Fuji menghempas pelan tangan Fuji yang akan mendekatkan bayi itu ke arahnya. Lagi-lagi Fuji hanya bisa mengumpat kakaknya di dalam hati.
"Aku selesaikan dulu administrasi dede Ayuna nya, Kak. Baru kita bisa pulang," Fuji menyimpan kembali Ayuna ke dalam box bayi.
Nyatanya Fuji berbohong. Ia harus keluar dulu untuk mencari mini market dan membeli susu formula untuk Ayuna. Untung saja Fuji susah membeli dot bayi saat ia belanja di toko perlengkapan bayi tempo hari.
"Aku selesaikan dulu ya kak administrasinya?" Fuji berpamitan kepada Shella.
"Iya, cepet gih! Kakak pengen cepet pulang," Shella menatap kaca yang ada di samping ranjangnya. Kaca itu menampilkan pemandangan luar.
"Iya. Jaga Ayuna, kak! Kalau dia nangis gendong!" Fuji mengingatkan.
"Jangan bawel! Udah sana pergi!" Shella mengusir.
Fuji pun segera keluar dari ruangan Shella. Tujuannya saat ini adalah mencari mini market guna untuk kebutuhan Ayuna. Fuji masuk ke dalam mini market yang cukup dekat dengan area rumah sakit. Ia berjalan ke arah rak khusus di mana susu bayi disimpan. Fuji memindai susu demi susu yang terpajang di sana. Matanya menilik harga susu mana yang terjangkau. Fuji membandingkan harga demi harga. Pilihannya jatuh kepada susu yang dikemas dengan dus kotak berwarna merah. Bagi Fuji susu ini cukup terjangkau untuk kalangan biasa sepertinya. Tak lupa, Fuji pun melihat gizi yang tertulis. Fuji rasa kandungan gizi itu bisa mencukupi kebutuhan harian Ayuna. Akan tetapi, tetap saja hati Fuji berharap Shella mau menyusui Ayuna.
Fuji memasukan beberapa kotak susu itu ke dalam keranjang belanjaannya. Ia berjalan menuju kasir dan membayar susu-susu itu dengan uang yang ia ambil dari tas kakaknya. Setelah membeli susu, Fuji menyimpan susu itu ke dalam tas yang berisi perlengkapan Ayuna. Fuji pun segera berjalan kembali ke arah rumah sakit tempat di mana kakaknya di rawat.
Saat Fuji masuk, terlihat perawat tengah mempersiapkan kepulangan dari Shella. Perawat itu tersenyum saat melihat Fuji masuk ke dalam ruangan. Salah satu perawat bertanya mengenai perlengkapan bayi Ayuna, mengingat bayi itu kini masih memakai baju bayi milik rumah sakit.
"Ini, Sus baju sama kain bedongnya!" Fuji membuka tasnya dan memberikan baju dan kain bedong yang diminta oleh perawat itu. Perawat itu segera melepas baju rumah sakit dari tubuh mungil Ayuna. Mereka memakaikan baju baru yang Fuji beli ke tubuh bayi yang masih merah itu.
"Sudah ya? Ibu Shella dan bayinya bisa dibawa pulang!" Ucap perawat setelah ia meneteskan vaksin polio ke tubuh Ayuna.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Sus atas pelayanannya," Fuji berkata dengan ramah. Fuji pun mengeluarkan kain jarik untuk menggendong Ayuna.
"Sama-sama," Perawat itu membantu Fuji untuk menggendong Ayuna. Sedangkan seorang perawat membantu Shella untuk duduk di kursi roda. Keadaan Shella memang belum pulih apalagi ia sempat merasakan area sensitifnya dijahit.
Dua perawat mengantarkan Fuji dan Shella sampai pintu depan rumah sakit. Fuji pun sudah memesan taksi online untuk kepulangan mereka. Beruntung waktu itu Fuji berinisiatif mengambil uang Shella sehingga ia tidak kebingungan untuk hari ini.
Di dalam mobil Shella dan Fuji saling diam. Shella sibuk dengan lamunannya. Sementara Fuji sibuk memperhatikan Ayuna yang kini ada di dalam gendongannya. Tidak lama, taksi pun berhenti tepat di hadapan rumah kontrakan yang Shella sewa. Fuji membawa Ayuna dengan hati-hati.
"Ji, bantuin kakak dong!" Shella merajuk.
"Bentar, kak. Uji simpen Ayuna dulu!" Fuji berkata sambil membuka pintu dengan kunci yang ada di sakunya.
Fuji masuk ke dalam kamar Shella. Ia membaringkan Ayuna di ranjang besar milik kakaknya. Kemudian Fuji keluar kembali dan membayar taksi online yang mereka tumpangi. Setelah membayar, Fuji segera memapah Shella untuk masuk ke dalam kamar.
"Ji, ngapain dia di tidurin di kasur kakak sih?" Shella berkata dengan kesal.
"Ya, terus ditidurin di mana? Di lantai gitu?" Fuji menjawab dengan kesal.
"Di kamar kamu aja, Ji tidurin! Kakak gak mau ya tidur sama dia!" Shella menunjuk bayi malang itu dengan tidak berperasaan.
"Cukup ya, kak! Dibaikin kak Shella malah ngelunjak banget!" Fuji berteriak kepada kakaknya. Ia sangat kasihan dengan nasib Ayuna yang tidak diinginkan oleh ibu kandungnya.
"Ji, kakak ini lagi masa pemulihan, Ji. Kakak butuh istirahat. Kalau dia ada di sini, kapan kakak istirahat? Kakak juga gak bisa susuin dia. Terus kamu ngeharap apa dari kakak? ASI kakak aja belum ada!" Shella tidak mau kalah.
"Ibu mana pun pasti tidur bareng anaknya kak kalau udah lahiran. Mereka bisa tuh nerima anaknya dengan penuh syukur!" Fuji tidak mau kalah.
"Kamu mau gitu Ji kakak kena Baby Blues? Terus pas kamu gak ada kakak lempar nih bayi ke tembok?" Shella menakut-nakuti. Benar saja, wajah Fuji langsung terlihat pias dan khawatir mendengar ucapan tak berperi kemanusiaan Shella.
"Inget lho, Ji! Baby blues itu ada!" Shella menambahi.
Tanpa berkata apapun, Fuji langsung menggendong Ayuna dari kasur mewah milik Shella. Fuji langsung keluar dari kamar kakaknya sembari menggendong Ayuna. Fuji membawa bayi malang itu ke dalam kamarnya. Dengan penuh cinta Fuji menidurkan bayi yang masih merah itu di kasurnya.
"Tidur yang nyenyak ya anak cantik?" Fuji tersenyum walaupun kini matanya telah mengembun. Fuji merasa sangat sedih akan nasib Ayuna.
Sepeninggal Fuji, Shella langsung berjalan dengan tertatih. Wanita itu menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia mengeluarkan pompa ASI yang Shella beli secara online. Shella kemudian memakai pompa ASI elektrik itu. Sebenarnya saat Ayuna lahir, ASI Shella sudah merembes keluar. Ia hanya berbohong agar Fuji tidak mendesaknya agar mau menyusui Ayuna. Shella langsung memompa ASInya. Terlihat cairan keluar dengan deras. ASI itu tampak sedikit berwarna kecokelatan sebagai tanda jika ASI itu merupakan kolestrum (ASI pertama) yang sangat baik untuk kekebalan bayi. Sayang sekali Shella tidak mengizinkan Ayuna untuk meminumnya.
Setelah setengah jam memompa, pompa ASI itu terrlihat penuh. Shella langsung berjalan ke arah kamar mandi. Di saat Ayuna membutuhkan ASI miliknya, Shella malah membuang ASI miliknya ke toilet.
"S*alan!" Maki Shella saat kemudian p*yud*ranya terasa keras kembali. Shella pun merasakan nyeri. Mungkin saja nyeri itu timbul karena ASI nya tidak disusukan kepada Ayuna.
Shella kemudian menyimpan alat pompa itu di bawah ranjang kembali. Ia takut jika Fuji akan menemukannya dan mengetahui jika ASI Shella sudah keluar. Shella tidak ingin dipaksa untuk meyusui bayi yang ia anggap sebagai perampas kemerdekaannya itu. Shella pun merebahkan tubuhnya di atas kasur itu. Ia mengambil gadgetnya. Shella saat ini tengah melihat-lihat profil pria kaya yang akan ia incar. Tentunya Shella menargetkan pengusaha agar dapat menjamin segala kehidupannya.
Klik. Shella mengklik profil seorang pria yang terlihat mapan. Shella tersenyum ketika kini ia sudah menemukan mangsanya. Shella sudah tidak sabar agar masa nifasnya berhenti. Dengan begitu, Shella bisa melancarkan aksinya.
Di kamar Fuji, Ayuna terlihat bangun. Bayi itu menangis karena lapar yang dirasakan. Fuji pun bergegas mengeluarkan susu formula dan dot yang sudah ia beli. Fuji langsung berlari ke dapur dan mulai menyajikan susu formula untuk Ayuna. Beberapa detik kemudian, Fuji berlari membawa satu dot penuh berisi susu formula untuk diberikan kepada Ayuna. Fuji menggendong Ayuna dengan penuh kelembutan. Di berikannya dot itu. Tidak membutuhkan waktu lama, Ayuna pun menghabiskan susu yang ada di botol.
"Pipis ya, sayang?" Ucap Fuji ketika merasakan pahanya basah.
__ADS_1
Fuji segera menidurkan Ayuna di atas kasur dan mengganti popok kainnya. Fuji tidak sadar bahwa inilah kehidupan bari yang akan ia jalani, karena Shella sebentar lagi akan kabur meninggalkan Ayuna bersama dengannya.