Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Kesendirian Shella


__ADS_3

Sudah empat hari Shella di rawat, dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Andra dan Dokter Hilman selalu dokter yang menangani wanita hamil itu. Saat pertama melihat dokter Andra, Shella teringat mengenai Keysha. Shella mengenali Andra karena berulang kali mereka bertemu, termasuk pertemuan mereka di super market tempo hari. Shella semakin benci saja dengan Keysha, mengapa nasih wanita yang ia benci itu selalu saja mujur?


"Bu Shella, hari ini ibu boleh pulang. Alhamdulillah hasil USG Fetomaternal janin ibu baik-baik saja. Tidak ada kelainan apapun. Bayi ibu pun berjenis kelamin perempuan. Selamat ya, Bu! Hari perkiraan lahir janin ibu satu bulan lagi dari hari ini," Andra menjelaskan dengan profesional.


Sementara Shella tak bergeming. Ia masih saja diam mencerna kata-kata Andra. Shella merasa heran mengapa bayinya tak gugur juga? Dia merasa bingung memberikan bayi itu pada siapa sekarang. Mengingat Ine saat ini benar-benar sudah tak peduli padanya.


"Ada ada yang ingin ditanyakan, Bu?" Tanya Andra yang membuyarkan lamunan Shella.


Shella menggeleng. "Tidak ada, Dok. Cukup," jawabnya pendek.


"Kalau begitu saya pamit. Saya akan melakukan visit ke ruangan lain," Andra berpamitan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Shella.


Shella menatap ruangan kamarnya dengan tatapan nanar. Wanita itu begitu kesepian tidak ada orang yang bisa ia ajak berbicara. Shella benar-benar sendirian sekarang. Suara ketukan di pintu membuat Shella menoleh. Ia melihat seorang perawat menghampirinya. Perawat itu mendorong meja besi yang berisi sarapan pagi untuknya.


"Silahkan sarapan dulu, Bu! Nanti setelah ini ibu boleh pulang. Apa ada keluarga yang menjemput ibu?" Tanya perawat itu seraya menyimpan satu porsi sarapan di atas nakas.


"Tidak ada, Sus. Tidak ada keluarga yang menjemput saya," Shella tersenyum getir.


"Lebih baik perwakilan dari keluarga ibu ada yang menjemput Bu. Ibu masih lemah. Takutnya ada apa-apa di jalan," saran perawat tadi.


Perawat itu pun merasa heran karena selama Shella di rawat di rumah sakit ini, tidak ada satu orang pun yang mengunjunginya atau menemaninya. Shella selalu saja sendiri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri," Sahut Shella tanpa ekspresi hingga membuat perawat itu merasa sungkan untuk bertanya lebih jauh.


Akhirnya perawat itu mengangguk. Ia lalu berpamitan kepada Shella. Tinggallah Shella kembali sendiri di ruangan itu. Terkadang Shella merasa takut saat malam tiba. Ketika malam terkadang ada suara aneh di dalam kamarnya. Namun ia mencoba abai. Untuk masalah dirinya, Shella selalu memencet bell saat akan ke toilet. Ia selalu meminta bantuan perawat untuk membantunya ke kamar mandi. Shella benar-benar sebatang kara sekarang.


Shella meraih sarapannya di atas nakas, ia menyendokan menu sarapannya yang berupa bubur dengan sayur dan irisan daging itu. Shella mengunyahnya dengan tak berselera. Dia masih merasakan mual dan pusing, tapi tak separah kemarin. Selesai memakan sarapan paginya, Shella memasukan ponsel dan chargernya ke dalam tas. Ia pun mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian formal. Shella kemudian memencet bel. Ia ingin meminta bantuan perawat untuk membantunya menemukan kursi roda. Dua orang perawat dengan sigap langsung datang ke ruangan Shella.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya perawat yang memakai hijab putih.


"Bisa tolong pindahkan saya ke kursi roda, Sus? Bisa antarkan saya sampai halaman rumah sakit?" Tanya Shella memelas, untuk pertama kalinya ia memelas kepada orang untuk meminta bantuan.


"Boleh, Bu. Kalau begitu, rekan saya yang akan mengambil berkas administrasi dan obat yang sudah diresepkan oleh dokter. Ibu tinggal menunggu selesai saja ya?" Perawat tadi dengan senang hati membantu Shella.


"Terima kasih ya, Sus," Shella tersenyum.


"Sama-sama, Bu," perawat tadi tersenyum.


Akhirnya Shella menunggu administrasi di selesaikan oleh pihak rumah sakit. Beruntung ia mempunyai asuransi kesehatan. Jadi Shella benar-benar tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Beberapa menit kemudian, perawat tadi datang lagi seraya membawa kursi roda untuk Shella. Perawat memindahkan wanita hamil itu ke kursi roda. Perawat satunya membawakan obat yang telah diresepkan rumah sakit berikut file-file penting dari rumah sakit, seperti hasil USG, dan bukti-bukti administrasi lainnya.


"Di mana keluarga ibu?" Perawat yang mendorong kursi roda Shella celingukan saat sudah berada di halaman rumah sakit.


"Tidak ada, Sus. Saya sudah pesan taksi online," jawab Shella seraya tersenyum getir.

__ADS_1


Dua perawat tadi saling berpandangan. Mereka merasa kasihan kepada pasien yang ada di hadapannya. Beberapa menit kemudian akhirnya taksi online datang. Perawat tadi dengan sigap memapah Shella ke dalam mobil.


"Bu hati-hati! Semoga lekas pulih ya, Bu?" Pesan perawat sebelum perawat itu menutup pintu mobil.


Shella mengangguk. Ia tersenyum kecil. "Terima kasih, Sus. Kalau begitu saya pamit."


Dua perawat itu mengangguk. Mobil kemudian melaju meninggalkan rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, Shella mencoba menghubungi Ine, namun nihil. Ine selalu mereject teleponnya. Akhirnya Shella menyerah. Ia tak berusaha untuk menghubungi ibu kandungnya lagi. Baginya sudah jelas jika Ine ingin komunikasi antara ibu dan anak tertutup seutuhnya.


Mobil yang ditumpangi Shella memasuki kawasan perumahan yang ia sewa. Dengan hati-hati, Shella turun dari mobil itu. Kepalanya masih agak pusing. Beruntung supir taksi online membantu Shella untuk membawakan semua barang milik yang dibawa dari rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan uang ongkos, Shella memasuki rumahnya. Ia rasanya tak sanggup berdiri lama. Shella segera duduk di kasurnya yang empuk.


"Mengapa nasib ku jadi seperti ini sih?" Keluhnya. Shella masih saja tidak berpikir atas asal muasal di balik kejadian yang menimpanya.


Shella merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun Shella merasa tak nyaman saat ia merasakan ingin buang air kecil ke toilet. Akhirnya Shella bangkit dari tidurannya. Ia mencoba berdiri, namun tubuhnya merasa lemas sekali.


Shella langsung berjongkok. Mencoba menetralisir rasa pusingnya. Ia tak sanggup berdiri lama. Akhirnya Shella memutuskan untuk mengesot menuju kamar mandi, karena ia sudah tidak kuat untuk berdiri. Sedangkan Shella sudah ingin segera ke kamar mandi. Shella mengesot menuju kamar mandi. Ia masih saja berjuang dengan kesendiriannya.


"Mengapa hidup ini tidak adil?" Lirih Shella dengan suara yang gemetar. Lagi-lagi Shella tidak pernah berkaca dari masa lalu.


Shella merasa tak berdaya saat ini. Terlebih semua orang yang ia kenal sudah membuangnya. Ibunya, Zayyan, Om Pram, Riyan. Dengan tertatih, akhirnya Shella menuntaskan aktivitas buang air kecilnya. Ia kembali ke dalam kamarnya dengan melakukan hal yang sama, yaitu dengan mengesot. Tanpa sadar air mata merembes membasahi pipinya yang mulus. Shella lantas melemparkan bantal dan guling yang ada di kasur.


"Aku benci kalian semua! Aku juga benci kau!" Geram Shella saat melihat perut buncitnya. Ia menjambak ambutnya frustasi. Merasa benar-benar hidupnya berantakan.

__ADS_1


"Aaaaaa!!!" Teriaknya dengan penuh kemarahan, kesedihan dan kehampaan. Namun tidak ada orang yang peduli pada teriakannya. Hanya dinding yang menjadi saksi kenestapaan hidup yang kini Shella alami.


__ADS_2