
Zayyan pulang ke kontrakan miliknya dengan perasaan sedih yang mendalam. Bagaimana tidak, perusahaan yang telah ia bangun dari nol kini sudah hancur lebur. Bahkan dirinya pun kini di depak dari perusahaan yang dibesarkan oleh keringat dan darahnya. Zayyan sungguh tidak menyangka hal pahit seperti ini bisa ia alami. Sungguh roda itu memanglah berputar.
Zayyan membuka pintu kontrakannya yang sempit. Zayyan membaringkan tubuhnya di atas surpet yang tipis. Zayyan membelinya hanya dengan uang seratus ribu rupiah saja lewat aplikasi oren. Ingatan tentang Keysha pun hadir memenuhi kepalanya. Dulu saat bersama Keysha, hidup Zayyan terasa sempurna walaupun mereka belum dikaruniai keturunan.
"Key, sepertinya ini karma yang aku dapatkan karena sudah mengkhianatimu. Andai saja aku tidak ikut ke reuni si*lan itu! Tentu aku tidak akan berpaling darimu. Tentu saat ini kita masih berbahagia," Zayyan memiringkan tubuhnya. Tangan kanannya ia pakai menjadi bantal karena Zayyan tidak mampu membeli satupun bantal.
Air mata tampak menetes dari sudut mata Zayyan. Untuk pertama kalinya Zayyan meratapi nasibnya. Hidup di dalam kontrakan yang sempit seorang diri tanpa keluarga dan tanpa uang sepeser pun sangat membuat da-da Zayyan sesak. Sisa gaji yang Zayyan ambil dari Shella nyatanya hanya tersisa delapan puluh ribu rupiah saja. Zayyan memakai uang itu untuk membayar kontrakan selama dua bulan dan membeli semua peralatan rumah ala kadarnya seperti kompor satu tungku, surpet yang Zayyan tiduri, piring, gelas dan berbagai barang pokok lainnya. Uang itu pun Zayyan pakai untuk membeli makanan sehari-hari.
"Aku harus bagaimana untuk menyambung hidup?" Zayyan bergumam sendiri.
"Aku harus mencari pekerjaan lagi," Zayyan memantapkan hati.
Zayyan merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Sedari pagi perutnya memang belum terisi dengan apapun. Menahan lapar kini adalah kebiasaan Zayyan.
"Sepertinya masuk angin," Zayyan memegang perutnya yang terasa di aduk.
Zayyan segera mengambil satu bungkus mie instan yang hanya satu-satunya tersisa di dalam dus. Zayyan membeli mie instan sejumlah satu dus untuk stok makanannya sehari-hari. Hampir setiap hari Zayyan hanya memakan mie instan itu. Sembari menahan sakit perutnya, Zayyan segera merebus mie instan itu ke dalam panci kecil. Sembari menunggu mie instan matang, Zayyan lagi-lagi merenungi semua yang terjadi. Andai waktu bisa diputar, ia akan memilih untuk tidak bertemu dengan Shella sepanjang hidupnya.
Zayyan terbuyar dari semua lamunan dan andai-andainya. Gegas Zayyan mematikan kompor. Tanpa menunggu lama, Zayyan segera menuangkan mie itu ke dalam mangkuk. Zayyan membawa semangkuk mie instan itu ke arah surpet miliknya. Saat Zayyan berjalan, ia tersandung botol air mineral yang tergeletak di lantai. Zayyan terjatuh bersama mienya yang tumpah dan berserakan di lantai.
"Ya ampun!" Zayyan mengusap wajahnya. Merasa cobaan selalu datang bertubi-tubi padanya. Padahal itu adalah mie terakhir di dusnya.
__ADS_1
Zayyan membersihkan mie dan pecahan mangkuk di atas lantai sembari meringis nyeri menahan sakit yang menghujam perutnya. Setelah membersihkan semuanya, Zayyan pun memutuskan untuk tidur saja sembari menahan lapar dan sakit perutnya yang kian menyiksa.
"Semoga esok hari kehidupanku membaik," gumam Zayyan sembari berusaha masuk ke alam mimpi.
****
Pagi hari keadaan Zayyan sudah membaik. Zayyan pergi ke warung sebelah untuk membeli lontong (lempeur) dan juga bala-bala (bakwan) untuk mengisi perutnya yang kelaparan semenjak kemarin. Zayyan menyalakan laptopnya. Ia mulai mencari pekerjaan di aplikasi pencarian kerja online. Zayyan memasukan lamarannya pada perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja. Zayyan harus menelan kekecewaan tatkala ia hanya menemukan lowongan pekerjaan yang sangat sedikit di portal online. Bagaimana tidak sedikit, semua usaha saat ini terpuruk karena covid yang sedang mewabah. Hampir semua perusahaan di berbagai sektor lumpuh akibat virus yang berasal dari Wuhan itu. Terlebih kebijakan lockdown/PSBB memperparah keadaan.
Zayyan hanya menghela nafas. Rintangan untuk mencari pekerjaan akan sangat sulit dirinya lalui. Namun Zayyan harus bisa bersabar dan tetap melanjutkan hidup. Ia tidak boleh menyerah akan takdir yang sedang tidak berpihak padanya.
Hari demi hari Zayyan lalui dengan melamar pekerjaan via online. Untuk kebutuhan sehari-hari, Zayyan sudah menjual ponsel i*phone terbarunya dan membeli ponsel android sederhana. Yang terpenting Zayyan bisa berkomunikasi walaupun dirinya bingung harus berkomunikasi dengan siapa. Pasalnya semua orang seakan menjauh darinya. Uang penjualan ponsel Zayyan pakai untuk bekal selama dirinya belum mendapatkan pekerjaan. Hingga hari yang dinantikan oleh Zayyan pun tiba. Ada satu perusahaan yang menghubunginya untuk interview. Tentu interview itu dilakukan secara online melalui Zo*om. Zayyan tak mau melewatkan kesempatan yang ada, ia mempersiapkan dirinya sebaik mungkun. Zayyan pun berdandan dengan rapi agar menjadi nilai plus di mata para tim recruitment.
"Apakah anda pria yang tempo hari viral karena perselingkuhan dengan sekretaris anda?"
Degg..
Lagi-lagi Shella menjadi mimpi buruk untuk Zayyan. Zayyan menjawab dengan tegas jika dirinya memang pernah viral akan video itu. Zayyan pun menganggap jika kasus itu tentunya tidak berpengaruh dengan kinerjanya. Hal itu murni adalah urusan pribadinya. Akan tetapi, di mata para HRD tentu itu menjadi nilai minus, di mana citra perusahaan akan ikut jatuh jika masyarakat masih menandai Zayyan sebagai orang yang gemar berselingkuh. Apalagi netizen 62 sedang sensitif terhadap pelakor dan pria yang berkhianat. Zayyan hanya pasrah ketika HRD menolaknya dengan halus. Menolak dengan mengatakan akan menghubungi Zayyan jika diperlukan. Zayyan sangat tahu kata-kata pamungkas itu.
Tak ingin larut dalam kesedihan, Zayyan pun memfoto copy berkas-berkas lamaran yang akan ia kirimkan langsung kepada perusahaan. Zayyan berjalan kali menggantarkan lamaran-lamaran itu guna untuk menghemat bensin. Mengendarai mobil bukanlah pilihan bijaksana ketika dirinya dalam keadaan sulit seperti ini. Dengan cekatan, Zayyan mulai menyimpan lamaran yang dibundel dengan amplop cokelat kepada perusahaan-perusahaan yang sedang membuka loker. Tak jarang Zayyan di usir oleh satpam karena kini perusahaan tidak mengizinkan orang asing masuk. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi agar virus tidak merebak di area perusahaan. Zayyan hanya menghibur dirinya sendiri bahwa badai akan segera berlalu.
"Haus sekali!" Zayyan mengambil air botol mineral di tasnya. Tentu saja air itu adalah air isi ulang karena Zayyan menghemat dengan membeli air kemasan yang baru.
__ADS_1
Waktu menunjukan sudah pukul lima petang, Zayyan memutuskan untuk kembali ke peraduannya. Zayyan berharap usahanya hari ini membuahkan hasil. Semoga esok hari Zayyan mendapatkan kabar gembira mengenai status lamarannya.
Waktu terus berputar. Hari terus berganti, uang Zayyan hasil dari penjualan i-phone pun sudah kian menipis. Akan tetapi, panggilan yang Zayyan tunggu belum kunjung datang. Zayyan tidak bisa terus berpangku tangan dengan keadaan. Zayyan harus bergerak untuk mengubah nasibnya. Bukankah dalam agama nasib harus di ubah oleh diri sendiri dengan cara berikhtiar dan berdoa?
Di sepertiga malam Zayyan terbangun. Hatinya tergerak untuk mengambil air wudu. Sudah lama sekali rasanya Zayyan tidak melaksanakan kewajibannya. Zayyan amatlah buruk, ia mengingat tuhan ketika dirinya amat sedang terjepit. Tapi tak apa, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Setelah menyelesaikan shalat sunat malam dua rakaat, Zayyan bersimpuh dan mengadu kepada sang pemilik kehidupan. Zayyan menangis tergugu. Ia meminta ampun kepada Rabb pencipta langit dan bumi atas apa yang telah ia perbuat, terutama perbuatan nista yang telah Zayyan lakukan bersama Shella. Zayyan pun berdoa semoga saja Keysha saat ini baik-baik saja, mengingat para medis menjadi garda terdepan dalam melawan pandemi yang datang. Zayyan merasa tidak pantas ketika mengucap nama Keysha di dalam doanya, tapi Zayyan memang berharap mantan istrinya selalu dalam keadaan sehat dan tidak tertular virus yang belum ada obatnya itu.
Zayyan tertidur di atas sajadahnya sampai ia tidak menyadari jika fajar telah menyingsing. Ayam telah berkokok menandakan semua orang harus memulai aktifitasnya. Zayyan pun terbangun dari tidurnya. Zayyan langsung menunaikan kewajibannya yaitu shalat subuh. Setelah shalat, Zayyan membersihkan rumah lalu bersiap-siap. Zayyan tidak tahu kemana kakinya akan dilangkahkan. Pukul delapan pagi, Zayyan keluar dari kontrakannya. Ia menatap ke pinggir kontrakan. Zayyan melihat tetangganya tengah menyiapkan bakso untuk ia jual secara keliling.
"Kang, baksonya bikin sendiri?" Tanya Zayyan kepada orang yang tengah memasukan saus, kecap dan sambel ke dalam botol.
"Engga, Jang. Saya ambil dari orang lagi!" Ucap bapak penjual bakso itu.
"Ambil dari orang?" Zayyan tampak penasaran.
"Iya, Jang. Saya ambil dari juragan bakso yang ada di depan," jawabnya lagi.
"Di mana, Kang?" Zayyan tampak ingin tahu.
"Ujang mau jualan bakso juga? Kalau mau, saya anterin ke rumah juragan. Kebetulan juragan lagi perlu dua orang lagi buat ngejualin bakso-baksonya," ucap pedagang bakso itu dengan ramah.
Zayyan langsung mengangguk setuju. Tentu saja Zayyan tidak akan melewatkan kesempatan emas ini. Zayyan akan melakukan apapun untuk mencari uang. Zayyan harus terus menyambung hidupnya hari demi hari.
__ADS_1