Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Kebahagiaan Keysha


__ADS_3

Keysha tersenyum menatap hasil tespacknya yang bergaris dua. Matanya meneteskan air mata haru. Keysha sampai menepuk-nepuk kedua pipinya. Ia sangat takut jika ini semua adalah mimpi indah yang bisa lenyap jika Keysha terbangun. Tidak puas menepuk, Keysha mencubit pipinya sendiri. Memastikan jika ini semua bukanlah hal semu.


"Ini bukan mimpi!" Keysha tersenyum bersamaan dengan air matanya yang menetes deras dari kedua kelopak mata indahnya.


Andra yang berdiri di luar pintu kamar mandi pun menunggu dengan cemas. Ia sangat berharap akan ada suara tangis dan tawa bayi di rumah tangga yang baru saja Andra dan Keysha bina. Keysha tidak bisa membendung perasaannya lagi, Keysha langsung berhambur keluar dari kamar mandi. Air mata semakin deras mengucur dari matanya.


"Kamu kenapa, sayang? Apa hasilnya negatif? Jangan bersedih! Kita akan terus mencoba," Andra berkata dengan panik saat melihat Keysha yang menangis seperti itu. Keysha tidak menjawab. Ia masih menatap Andra dengan tatapan yang seolah tidak di mengerti oleh suaminya.


"Aku sakit melihat kamu menangis, sayang!" Andra berkata dengan parau.


"Sayang, a-aku hamil!' Keysha berkata dengan suara terbata. Suaranya pun terdengar bergetar.


"Kamu gak becanda kan, sayang?" Andra menjawab dengan ekspresi wajah yang serius.


"Lihat! Aku hamil!" Keysha memperlihatkan alat tes kehamilan yang hasilnya dua garis. Andra menerimanya dengan tangan yang bergetar.


"Alhamdulillah," mata Andra berkaca-kaca.

__ADS_1


"Terima kasih, Ya Allah!" Tak henti Andra mengucapkan rasa syukurnya kepada tuhan yang sudah mengkaruniakan malaikat kecil di perut istrinya.


Andra kemudian menarik Keysha ke dalam pelukannya. Ia tidak menyangka di usia pernikahannya yang masih terbilang sangat baru, Allah sudah menitipkan janin di perut istrinya. Andra dan Keysha berpelukan dengan erat. Keduanya menangis haru. Terutama Keysha, ia yang dulu menanti anak selama lima tahun dengan Zayyan, akhirnya Allah amanahkan kehamilan saat dirinya menikah dengan Andra.


"Kalau begitu, mulai sekarang kamu tidak boleh kecapean ya?" Andra melepaskan pelukannya dan menyentuh pipi Keysha dengan penuh posesif.


"Apa aku masih boleh bekerja?" Keysha bertanya dengan sedikit khawatir.


"Boleh, sayang. Tapi syaratnya adalah aku minta waktu praktekmu di kurangi. Minimal sampai kamu melewati trimester kehamilan pertama. Apa bisa?" Andra menciumi kening Keysha dengan lembut.


"Sayang, aku tidak bisa dibantah! Pokonya kamu harus kurangin jadwal di Rumah sakit. Mengerti?" Tegas Andra tak mau dibantah.


"Baiklah, sayang," akhirnya Keysha menyetujui. Toh dirinya pun tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kandungannya. Apalagi kini dirinya baru menginjak usia kehamilan trimester pertama. Biasanya tiga bulan di awal kehamilan merupakan waktu yang cukup rentan.


"Hari ini kita harus segera memeriksakan kehamilanmu. Hari ini kita datang kepada dokter Nita ya?" Andra memberikan opsi karena tidak mungkin Keysha ditangani oleh Dokter Herry. Andra adalah tipe pria yang pecemburu. Ia tidak ingin tubuh istrinya disentuh oleh pria lain.


"Iya, sayang!" Keysha langsung mengangguk patuh.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu saja sayang yang memeriksaku?" Keysha tersenyum simpul.


"Sayang, aku belum mempunyai keberanian untuk memeriksa istriku sendiri. Biarlah dokter Nita yang melakukannya, atau kamu ingin diperiksa oleh Dokter Vebby saja? Dia dokter spesialis Kandungan&Obygyn sub Fetamoternal juga. Sama sepertiku," Dokter Andra memberikan opsi.


Terang saja perkataan Andra langsung membuat wajah Keysha ditekuk bak kain yang belum disetrika. Keysha mengerucutkan bibirnya sebagai tanda jika ia sangat kesal mendengar ucapan suaminya.


"Kamu mikirin dokter Vebby, sayang?" Tuduh Keysha tanpa beralasan.


"Mikirin?Maksudku, biar kamu mempunyai opsi," Andra berusaha menjelaskan.


"Aku mau diperiksa oleh dokter Nita saja. Kamu saja yang diperiksa Dokter Vebby!" Keysha berkata dengan ketus.


"Sayang, kenapa kamu jadi marah?" Andra merasa tidak mengerti. Andra berpikir jika perkataannya tidaklah ada yang salah.


"Pikir aja sendiri!" Keysha berjalan meninggalkan Andra yang masih termangu di tempatnya.


"Sayang, iya ke dokter Nita saja. Ayo kita berangkat!" Andra mengejar langkah istrinya.

__ADS_1


__ADS_2