
Shella terus memegangi perutnya. Rasa sakit yang ada begitu menyiksa dirinya. Shella berusaha berdiri dengan tertatih. Shella harus segera meminta bantuan seseorang. Ia tidak bisa merasakan sakitnya kontraksi lebih lama lagi. Shella berpengangan erat kepada apapun yang bisa diraih oleh tangannya.
"Tolong!" Teriak Shella. Ia terus berjalan menuju pintu utama. Dalam hatinya Shella berharap ada orang yang mau menolongnya.
"Aku tidak kuat," Shella ambruk di lantai sebelum mampu menggapai pintu.
Shella melihat kakinya sudah basah dengan sesuatu. Keberuntungan masih berpihak padanya. Tak lama, pintu dibuka oleh seseorang. Orang itu adalah Fuji. Fuji baru saja pulang dari diskotik setelah peristiwa penjebakan yang dilakukan oleh Ine, ibu mereka.
"Kakak!!!" Pekik Fuji dengan terkejut ketika melihat keadaan Shella yang sedang ambruk di lantai.
"Ji, tolong kakak, Ji! Kayanya kakak mau ngelahirin," ucap Shella dengan wajah yang amat kesakitan. Wajahnya sudah terlihat amat pias.
"Ayo, kak! Kita harus ke rumah sakit sekarang," Fuji langsung memapah Shella dengan hati-hati.
Fuji begitu bingung harus membawa Shella dengan apa. Tidak mungkin Fuji membawa kakaknya itu dengan motor. Beruntung, satu taksi melintas di hadapan rumah kontrakan mereka.
"Pak!!!" Fuji berteriak.
Untung saja supir taksi itu langsung menghentikan mobilnya saat ia melihat Shella dan Fuji. Beruntungnya taksi itu pun kosong dan tidak ada penumpang di dalamnya.
"Pak, tolong antarkan kami ke rumah sakit terdekat! Kakak saya mau melahirkan," teriak Fuji kepada supir taksi yang keluar dari dalam mobilnya.
"Baik, Neng. Ayo saya bantu!" Supir taksi membantu memapah Shella dan memasukannya ke dalam mobil.
Fuji dan Shella pun kini sudah ada di dalam taksi. Supir taksi mulai menjalankan mobilnya dengan sedikit tergesa. Shella terus berteriak. Bahkan kini terlihat Shella tengah mengejan di dalam taksi.
"Kak, jangan mengejan di sini! Tahan, kak!!" Fuji panik saat melihat gelagat kakaknya yang akan melahirkan di mobil.
__ADS_1
"Iya, Neng. Tahan!" Supir taksi ikut terlihat panik.
"Tahan, tahan, kalian gak rasain gimana sakitnya!!" Shella berteriak.
"Sabar, kak. Rumah sakitnya udah keliataan," Fuji menjawab.
Supir taksi pun segera memarkirkan mobilnya di depan unit gawat darurat. Para perawat yang berjaga langsung sigap membawa Shella dengan brangkar ke ruang persalinan. Untung saja di saku celana Fuji ada uang untuk membayar taksi yang mereka naiki.
"Ini, Pak. Terima kasih banyak ya, Pak?" Fuji menyerahkan uang kepada supir taksi.
"Sama-sama, Neng. Semoga lahirannya lancar ya?" Supir taksi mendoakan dengan tulus.
"Iya, Pak. Saya masuk ya?" Fuji berpamitan kepada supir taksi dan segera masuk ke dalam ruang persalinan untuk melihat calon keponakannya.
Kelahiran Shella memang ditangani oleh Dokter Andra yang pernah merawat Shella. Sedikitnya dokter itu tahu mengenai riwayat kehamilan Shella. Saat Fuji sampai di pintu ruang persalinan, ia mendengar tangisan bayi memecah keheningan malam. Keponakannya kini sudah lahir.
"Alhamdulillah, bayinya sudah lahir. Bayinya lahir dengan sehat, berjenis kelamin perempuan. Oh iya, ke mana suami dari ibu Shella ya? Bayinya sudah dibersihkan, bisa langsung di azani," ucap Suster itu dengan ramah.
"Kebetulan kakak saya sudah bercerai, Dok. Bagaimana ya?" Fuji merasa bingung sendiri.
"Oh begitu. Tidak apa-apa kalau begitu. Biasanya akan di azani oleh dokter Andra kalau ayah dari bayi berhalangan hadir," ucap Suster itu.
"Apa saya boleh masuk sekarang, Sus?" Tanya Fuji.
"Pasien masih sedang dalam tahap observasi dan pemulihan. Satu jam lagi boleh di jenguk. Silahkan keluarga pasien untuk segera mengurus adminsitrasinya," ucap Suster itu.
"Kebetulan semua dokumen kakak masih di rumah. Apa boleh saya ambil dulu, Sus? Sekalian saya belum membawa baju dan bedong bayi," Ucap Fuji.
__ADS_1
"Boleh. Kalau semua dokumen sudah ada, bisa langsung di urus di bagian administrasi ya?" Suster itu mengarahkan.
"Baik, Sus. Terima kasih," Fuji tersenyum.
"Sama-sama," Suster itu segera masuk kembali ke dalam ruangan persalinan.
Fuji bersiap untuk pulang ke rumah untuk mengambil dokumen milik Shella dan juga perlengkapan bayi yang masih merah itu. Beruntung Fuji sudah membeli peralatan keponakannya. Jika tidak, mungkin saat ini Fuji akan bingung keponakannya harus pulang menggunakan apa. Sebelum Fuji berjalan meninggalkan ruangan persalinan, Fuji melihat dokter Andra keluar dari ruangan. Fuji mengangguk sopan kepada dokter yang pernah menanganinya itu. Dokter Andra membalas dengan ramah.
Fuji pun langsung berjalan menuju ke luar rumah sakit. Fuji mencegat angkot untuk mengambil semua keperluan. Beruntung Fuji tidak perlu memikirkan biaya persalinan Shella karena wanita itu memiliki asuransi swasta yang dapat mengcover biaya lahirannya. Sesampainya di rumah, Fuji langsung memasukan semua keperluan yang dibutuhkan oleh Shella dan bayinya.
"Kakak naruh di mana ya kartu asuransinya?" Fuji berkata sendiri.
Fuji mencari kartu asuransi dan dokumen lain di kamar Shella. Gadis itu terlihat sedikit mengacak-acak lemari karena tidak kunjung melihat keberadaan tas kakaknya. Fuji membuka lemari kecil, bibirnya tersenyum saat melihat tas hitam dior milik kakaknya.
Fuji langsung membuka tas mewah milik kakaknya. Senyumnya surut ketika melihat gepokan uang di dalam tas kakaknya. Mata Fuji tiba-tiba menganak sungai ketika ia melihat uang yang sangat banyak itu. Fuji merasa sangat sakit mendapati kenyataan jika selama ini Shella menyimpan uang yang begitu banyak. Selama ini Shella selalu berkata jika ia tidak punya uang dan semacamnya. Fuji seolah dipaksa bekerja keras sendirian padahal kakaknya mempunyai uang yang begitu banyak. Tentunya uang itu di dapat Shella dari menjual barang-barang mewahnya.
"Teganya kakak!" Fuji menghapus air matanya yang menetes. Fuji teringat dirinya harus pontang panting menjadi ojek online.
Mata Fuji semakin mengembun ketika melihat kwitansi pembelian motor. Motor itu dibeli oleh Shella dengan cash bukan dengan kredit. Fuji pun hanya menghibur dirinya sendiri.
"Anggap saja selama ini aku kasih uang sewa motor ke kakak," Fuji menghibur kesedihan dirinya.
Fuji tidak menemukan dompet Shella di sana. Ia tidak melihat kartu apapun. Fuji pun menyingkap selimut. Ia melihat dokumen-dokumen Shella di sana. Fuji mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan. Saat Fuji akan keluar dari dalam kamar, Fuji menoleh kembali ke dalam tas yang berisi banyak uang. Fuji akhirnya kembali ke arah tas itu. Ia mengambil beberapa gepok uang dari sana.
"Maaf aku ambil uang kamu, Kak. Ini buat kebutuhan dede bayi. Aku takut kakak setelah ini mengacuhkan bayi kakak dan tidak mau menyusuinya. Dari mana aku harus membeli susu dan popok jika kakak melakukan itu?" Ucap Fuji.
Gadis itu kemudian merapikan tas dan semuanya seperti semula. Fuji pun langsung berangkat kembali ke rumah sakit dengan menggunakan motornya.
__ADS_1