
Flashback On
Shella berpura-pura pingsan ketika supir pribadi Darwin mengangkat tubuhnya. Wanita itu mempunyai secercah harapan untuk lepas dari pria psikopat itu. Shella terus saja berdoa dalam hati. Berharap Tuhan mau membantunya, sekalipun dirinya bergelimang dosa.
"Cepat bawa dia ke dalam mobil dan jangan sampai semua orang curiga dengan luka memar di tubunya!" Titah Darwin dengan tegas.
Supir pribadi itu mengangguk. Lalu segera memasukan Shella ke dalam mobil. Dalam hatinya pun ia berdoa semoga Shella berhasil meloloskan diri. Shella seumur dengan anaknya di rumah. Ia tak tega jika Shella terus menerima penyiksaan yang tak beradab dari tuannya.
Sebenarnya supir itu pun sudah lama ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya. Karena ia tahu sang tuan sangatlah kejam dan memiliki penyimpangan S*ksu*l. Namun sampai hari ini, ia urungkan niatnya untuk resign, mengingat mencari pekerjaan di luar sana sangat susah dan berat. Apalagi ia sudah berumur. Siapa yang akan memperkerjakan pria yang sudah berumur setengah abad itu?
Darwin menyusul di belakang dengan mengendarai mobil mewah. Ia tak ingin semobil dengan Shella. Darwin begitu takut ada orang yang menaruh curiga tentang luka Shella di tubuhnya. Darwin tak mau berurusan dengan hukum. Cukup Pak Darman saja selaku supir pribadinya yang akan mengurus semuanya.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di pintu IGD. Dengan sigap Pak Darman memangku Shella dan menidurkannya di brangkar yang sudah di sediakan di pintu IGD.
"Tolong wanita ini! Dia meminum racun serangga!!" Pekik Pak Darman berpura-pura panik.
Para perawat berlari dan mendorong brangkar yang ditiduri oleh Shella dan memasukannya ke kamar IGD. Seorang pria tampan selaku dokter umum yang berjaga di IGD dengan sigap menangani Shella yang masih berpura-pura pingsan. Dokter yang bernama Faisal itu memeriksa tubuh Shella. Dahinya berkerut saat ia mengetahui busa yang keluar dari mulut Shella adalah busa pasta gigi.
"Dok!" Panggil Shella lemas.
__ADS_1
Belum sempat sang dokter menjawab, Darwin memperhatikan mereka dibalik kaca IGD. Ia menatap Shella dan dokter tampan itu dengan tajam. Shella melirik Darwin dengan ekor matanya. Matanya berkaca-kaca. Ia menahan tangis. Namun tekad Shella tak boleh goyah, ia harus meminta bantuan pada dokter yang ada di depannya. Ia harus bebas dari Darwin.
Shella menaikan tangannya di atas dada. Ia pun memperlihatkan jarinya dengan kode jari empat atau kode meminta pertolongan. Dokter tampan itu langsung menyipitkan matanya, ia menatap lirikan mata Shella ke arah Darwin yang sedang berdiri.
"Saya periksa tubuh anda dulu ya, Nyonya?" Dokter tampan yang bernama Faisal itu tersenyum, berpura-pura bersikap sewajarnya.
Namun wajahnya kembali menyiratkan ketegangan saat melihat luka lebam di seluruh tubuh Shella. Ia pun memeriksa dada Shella yang terlihat luka sayatan silet. Bahkan luka mengering itu terlihat tidak dibersihkan sama sekali. Selain itu leher Shella terlihat lebam seperti bekas cekikan.
"Astaghfirullah!!" Dokter tampan itu beristighfar merasa syok dengan luka pada tubuh Shella yang lumayan parah.
"Sus, tolong pindahkan pasien ini ke ruang rawat. Dia harus di rawat segera!" Dokter Faisal mengintruksikan kepada dua perawat yang ada di ruangan itu.
Darwin yang mendengar perintah dokter tadi, tanpa meminta izin langsung masuk ke ruang IGD tempat Shella dirawat. Dengan wajah garang, Darwin menatap dokter yang masih sangat muda itu.
"Maaf! Racun dari dalam tubuhnya sudah menyebar. Biarkan nyonya ini dirawat disini, Pak!" Kilah Dokter Faisal, ia akan membantu Shella untuk kabur dari Darwin. Meskipun Shella tak bercerita, Dokter Faisal sudah paham dengan isyarat Shella yang meminta tolong padanya. Rencananya dokter Faisal akan menghubungi polisi.
"Tidak, aku tidak setuju! Biarkan istriku dirawat di rumah! Aku akan membayarmu untuk merawatnya di rumahku!" Kekeuh Darwin bersikeras.
"Mohon maaf, Pak. Tapi jadwal praktek saya sudah sangat full. Selain itu, di rumah tak ada alat medis selengkap di rumah sakit. Biarkan pasien ini dirawat di sini! Melihat luka di tubuhnya pun sepertinya dia sangat memerlukan perawatan yang ekstra," jelas Dokter Faisal.
__ADS_1
Wajah Darwin terlihat tegang saat Dokter Faisal menyinggung luka di tubuh Shella. Ia kemudian menatap liar pada wajah Shella. Ingin sekali ia menyeret Shella, membawanya pulang. Namun tak bisa, Darwin sedang di rumah sakit sekarang.
"Ya, dia sering melukai tubuhnya sendiri. Puncaknya, dia meminum racun. Istri saya mengalami depresi!!" Dusta Darwin memperlihatkan wajah yang sedih dan terpukul.
"Saya turut bersedih. Setelah kondisinya membaik, saya akan merujuknya ke poli kejiwaan. Bapak tenang saja!" dokter Faisal berpura-pura simpati, namun ia sangat mengetahui bahwa pria yang ada di hadapannya adalah seorang pembohong yang ulung. Ia harus lebih pintar dari Darwin.
"Baiklah kalau begitu. Tapi saya mohon rahasiakan kondisinya! Saya tak ingin semua orang tahu bahwa istri saya mengalami gangguan jiwa. Apalagi istri saya sudah dalam tahap menyakiti diri. Tolong rahasiakan semua itu!" Darwin menatap nanar ke arah Shella yang sedang terbaring lemah.
"Baiklah, saya akan merahasiakannyanya," sahut dokter Faisal.
Setelah menandatangani surat persetujuan rawat inap. Akhirnya Shella dipindahkan ke ruang rawat inap. Kedua perawat tadi segera mendorong brangkar yang tengah ditiduri Shella. Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Namun mata Shella menangkap sesuatu. Ia melihat adiknya Fuji tengah menggendong seorang bayi yang sangat cantik.
"Uji? Ayuna?" Gumam Shella bergetar. Ia ingin berteriak memanggil dua orang yang sangat di rindukannya. Namun terlambat, Fuji dan Ayuna sudah memasuki lorong poli spesialis anak.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus bisa kabur dari Darwin dan menemui anakku! Bathin Shella bertekad. Shella ingin sekali menggendong anak yang tidak pernah ia berikan kasih sayang. Shella ingin merubah semuanya.
Sementara itu Darwin dan pak Darman menyusul langkah dua perawat yang mendorong brangkar dengan hati yang kalut. Bagaimana tidak, Darwin sangat gusar jika Shella harus dirawat di sini. Dia tidak punya mainan lagi di rumah yang akan m*muaskan h*srat liarnya.
"Kau harus mengurus wanita itu! Jangan biarkan dia kabur dariku! Jika saja dia kabur, kau dan keluargamu yang akan aku habisi!!" Seru Darwin menatap nyalang pak Darman.
__ADS_1
"Baik, Tuan," Jawab Pak Darman tergagap.
Batinnya bergejolak. Haruskah ia menuruti perintah tuannya atau membiarkan Shella untuk kabur? Pak Darman dilema, karena jika sampai Shella kabur, maka pak Darman lah yang akan kena imbasnya. Ia sangat tahu Darwin sangat kejam dan tak berperasaan.