
Zayyan mematung di tempatnya berdiri. Ia menatap bengis wajah Shella yang sudah pucat pasi. Namun wanita itu tak bergeming. Ia masih saja melingkarkan tangannya di tangan kekar Zayyan, berusaha mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.
"Apa yang dia ucapkan itu benar?" Geram Zayyan pada Shella yang membuat Om Pram seketika tersenyum sinis.
"Semua yang ku katakan benar! Jangan percaya pada Shella! Bahkan banyak sekali pria yang sudah mencicipi tubuh mo-leknya itu," jawab Om Pram.
"Diam kau tua Bangka! Kamu marah padaku karena aku keluar kan dari agensi modelmu? Jangan terus berbicara omong kosong! Atau aku akan menuntut mu dengan pasal pencemaran nama baik!!" Teriak Shella dengan amarah yang meluap-luap.
Om Pram tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil mempermainkan emosi wanita yang kini sangat ia benci itu. "Silahkan kau tuntut aku, itu memang fakta! Oh ya, hati-hati bayi yang dikandungnya anak pria lain! Dia pandai mengecoh!" Ejek Om Pram seraya menepuk bahu Zayyan lalu berlalu pergi.
"Rasakan kehancuranmu, Shell! Karena kau berani bermain-main denganku!" Bisik Om Pram seraya memasuki mobilnya, lalu ia melajukan mobilnya meninggalkan pasangan yang sama-sama sedang gusar itu.
"Ikut aku!" Desis Zayyan. Pria itu lalu menarik tangan Shella dengan kasar menuju mobilnya.
"Sayang, lepaskan! Kamu jangan percaya pada pria tua Bangka itu! Dia sedang memfitnahku!" Rajuk Shella yang tak digubris Zayyan.
Zayyan mengemudikan mobil miliknya di atas kecepatan rata-rata, hingga membuat Shella harus berpegangan.
"Sayang, kamu terlalu ngebut!" Shella mengingatkan dengan penuh rasa takut. Ia lalu memegang bahu Zayyan. Namun pria itu segera menepisnya.
Tak lama, mereka sudah sampai di kontrakan Zayyan. Ditariknya tangan Shella masuk ke dalam kontrakan minimalis itu. Zayyan menatap Shella dengan tatapan tak terbaca. Aura gelap dan kemarahan masih saja menguasai pria yang mantan seorang pebisnis sukses itu.
__ADS_1
"Katakan anak siapa yang kamu kandung ini?" Zayyan mengapit kedua pipi Shella dengan tangannya, hingga membuat Shella meringis kesakitan.
"Sayang, sakit" Shella meringis. Namun tak dipedulikan oleh Zayyan.
"Katakan!!" Teriaknya lagi memenuhi langit kamar.
Shella terlonjak mendengar teriakan Zayyan. Nyali wanita itu seketika menciut. Namun Shella tak boleh kalah, ia harus bisa membuat Zayyan percaya. Apalagi Zayyan sedang emosi seperti ini. Shella takut Zayyan akan melukai dirinya. Shella juga harus berpikir pintar. Jika ia diusir, setidaknya ia harus pergi bersama cincin berlian yang sudah berhasil ia ambil. Shella akan menjualnya dengan cepat, karena dengan cincin itu Shella bisa bertahan hidup sendiri tanpa keadaan susah.
"Ini anak kamu! Sudah ku bilang jangan percaya pada pria tua Bangka itu! Dia menipumu!" Shella ikut berteriak.
Zayyan menyugar rambutnya frustasi. Ia lalu maju melangkahkan kakinya mendekati Shella. Wanita itu berjalan mundur sampai punggungnya menabrak tembok yang ada di belakangnya. Zayyan memangkas jarak di antara keduanya, lalu ia mengurung Shella dengan ke dua tangannya.
Mata Zayyan mencari kejujuran di mata Shella. Namun wanita itu enggan untuk menatap kedua matanya. Shella menelan Salivanya, tubuhnya gemetar ketakutan melihat amarah Zayyan. Namun ia tak boleh mengakui perselingkuhannya bersama Riyan.
"Ini anak kamu, sayang! Kenapa kamu meragukanku? Kamu tega!" Bahu Shella berguncang seiring dengan tangisannya yang terdengar memilukan.
Zayyan tak terpengaruh dengan tangisan itu, ia cukup tahu sekarang bagaimana sifat asli selingkuhannya itu. Shella wanita yang licik, ia pandai memikat pria dengan tangisannya dan Zayyan tak boleh tertipu lagi.
"Lalu, kapan kau menjalin hubungan dengan pria tua tadi? Jawab jujur! Aku sudah muak melihat aktingmu yang memuakan ini!" Zayyan mengguncang kedua bahu Shella.
"Tidak, dia bohong!" Shella masih saja menyangkal.
__ADS_1
"Katakan j*-lang!" Emosi Zayyan berlipat ganda saat mendengar Shella masih mempertahankan kebohongannya.
"Katakan!" Hardiknya tak sabar.
"Ya, pria tua tadi benar! Dia memang pernah tidur bersamaku saat aku pertama menjadi model. Puas kau!" Teriak Shella. Ia akhirnya mengakui hubungannya bersama Om Pram.
"Tapi kamu harus percaya, aku sudah tidak berhubungan lagi dengan pria si*alan itu di saat kita bersama. Aku memastikan anak yang dikandung ku ini adalah anakmu!" Lanjutnya lagi dengan suara parau.
Mulut Zayyan menganga, ia tak menyangka apa yang dikatakan Om Pram benar adanya. Mata Zayyan memerah. Marah dan penyesalan menjadi satu. Ya, dia sangat menyesal memilih wanita mu-rahan ini dibanding memilih istri sahnya, Keysha. Zayyan merutuki kebodohannya, ia sibuk memaki dirinya sendiri di dalam hatinya. Tak menyangka semua akan berakhir seperti ini.
"Lalu, saat pertama kita melakukannya, mengapa ada bercak darah di seprai tempat tidurmu?" Nafas Zayyan memburu seiring dengan emosi yang bergejolak di dadanya.
"Aku melakukan operasi pengembalian selaput dara. Apa kau tahu mengapa aku melakukannya? Aku melakukannya untuk memikatmu. Aku sangat mencintaimu, Zayyan! Bahkan aku rela terbaring di dinginnya ranjang operasi, semua karena cintaku padamu!" Shella menjerit. Wanita yang sudah terpojok itu lalu memukul dada Zayyan. Namun Zayyan menjauhinya, mengambil jarak di antara mereka.
"Bohong! Kau sama sekali tidak mencintaiku! Jika kau mencintaiku, kau tidak akan membohongiku sejauh ini!" Tukas Zayyan yang masih saja tak mau kalah saat berdebat dengan Shella, karena kali ini ia sedang di pihak yang benar.
"Kamu tahu betapa menderitanya aku dilahirkan di keluarga broken home? Lalu ketika aku menyukai pria, kamu malah mengabaikanku! Lama kita tak berjumpa. Saat kita bertemu kembali kamu sudah menikah. Apa kamu tidak merasakan bagaimana menjadi aku? Aku bahkan melakukan semuanya untukmu! Aku pun berhasil menyingkirkan Keysha di sisimu, itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu!"
"Diam! Jangan kau panggil nama Keysha dengan mulut kotormu itu! Aku tidak butuh dicintai oleh manusia mu-rahan sepertimu! Sekarang kemari barang-barangmu! Pergi yang jauh dan jangan kembali" Zayyan menarik paksa tangan Shella, ia lalu mengambil ransel Shella.
"Tidak, sayang, aku mohon jangan usir aku!" Ratap Shella memohon. Namun Shella teringat dengan cincin yang ia curi, seketika kegugupan nya bertambah dua kali lipat saat Zayyan memegang ranselnya. Tidak! Ia tidak boleh ketahuan!
__ADS_1