
Nadia mengemasi barang-barangnya. Ia memutuskan untuk mengontrak demi keselamatan dirinya dan juga Rengganis. Nadia mencari kontrakan yang ramai dan keamanan yang ketat. Dengan bantuan Zayyan, Nadia akhirnya memilih mengontrak di samping kontrakan Zayyan. Pasalnya kontrakan itu sangat ramai dengan penghuni yang rata-rata sudah berumah tangga dan memiliki anak.
Beruntung tidak berselang lama, rumahnya pun ada yang menyewa. Sehingga Nadia bisa mempunyai uang untuk membayar kontrakan. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nadia masih memiliki simpanan saat dirinya menjadi buruh cuci sebelum hamil Rengganis. Rencananya uang itu akan ia pergunakan untuk modal berjualan seblak. Biarlah Nadia berjualan seblak sambil mengasuh Rengganis. Hanya itu pekerjaan yang bisa ia lakukan.
Nadia membersihkan kontrakan yang akan ia tinggali bersama putri kecilnya. Wanita yang setiap hari tanpa make up itu menyapu sambil menggendong Rengganis dengan kain jarik. Bayi itu terlihat nyaman berada di dalam pangkuan sang ibu.
"Ganis, bobo ya sayang? Ibu mau membereskan pekerjaan rumah, Nak!" Nadya mengelus kepala Rengganis dengan penuh kasih sayang.
Rengganis yang sudah berusia dua bulan bisa merespon perkataan ibunya. Bayi itu tersenyum seraya menggerakkan tangannya.
"Anak mama udah bisa senyum ya? Cantiknya kamu, sayang!" Nadia merasa bahagia melihat bayi kecilnya itu tersenyum.
"Ya sudah, kalau Ganis belum mau bobo, jangan rewel ya, sayang? Mama mau nyapu!" Ucap Nadia lagi seolah putrinya menjawab setiap ucapannya.
Zayyan yang baru saja pulang berjualan melihat kontrakan pintu Nadia terbuka. Zayyan segera menyimpan gerobak baksonya di teras. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya untuk mengganti pakaian. Tak lupa Zayyan mencuci kedua tangannya dengan sabun tangan. Pria itu tak sabar ingin menggendong Rengganis. Setelah selesai berganti baju, Zayyan mendatangi kontrakan Nadya.
"Assalamualaikum!" Seru Zayyan saat melihat Nadia tengah menyapu seraya menggendong Rengganis.
"Waalaikum salam, eh, A Zayyan?" Nadia tersenyum sungkan, tiba-tiba saja ia merasa gugup melihat pria yang sudah banyak menolongnya itu.
"Biar aku saja yang membawa Rengganis, kayanya kamu kesusahan saat menyapu!" Tanpa basa-basi Zayyan menawarkan bantuan. Bukan karena alasan Nadia, namun Zayyan ingin sekali menggendong bayi cantik itu.
"Tidak usah, A. Nanti merepotkan!" Tolak Nadia halus, ia tak mau semakin merepotkan Zayyan.
"Tidak apa-apa. Aku senang bisa menjaga Ganis," Zayyan bersikukuh.
__ADS_1
Akhirnya Nadia menyetujui tawaran Zayyan. Ia melepaskan gendongannya dan menyerahkan Rengganis ke pangkuan Zayyan. Nadia tertegun saat melihat Zayyan tersenyum hangat ke arah Rengganis. Sesekali pria tampan itu mengayunkan pelan tubuh Rengganis.
"Anak cantik udah bisa senyum ya?" Zayyan bersuara, ia mengajak bicara bayi yang ditinggalkan ayahnya itu.
"Ayo mainnya sama uncle Zayyan aja ya? Jangan ganggu mommy ya!" Zayyan mengecilkan suaranya lebih halus, membuat Nadia tersenyum samar.
Setelah berpamitan dengan Nadia, Zayyan membawa Rengganis ke kontrakannya. Kebetulan sekali kontrakan mereka sangat berdempetan. Zayyan menidurkan Rengganis di kasur miliknya. Kasur bermerk pinguin yang sudah ia beli beberapa hari yang lalu. Rengganis selalu tersenyum, seolah tahu ia sedang bersama dengan orang yang tulus menyayanginya.
"Ganis, bobo ya sama uncle!" Zayyan ikut merebahkan tubuhnya di samping Rengganis. Ia lalu mengelus dahi Rengganis dengan jari telunjuknya.
🎵Bila bentakan kecilku, patahkan hatimu.
Lebih dari itu dunia kan menghakimimu
Kau harus kuat, kau harus hebat, permata hatiku. 🎵
Zayyan bersenandung lirih, sesekali bayi itu menguap beberapa kali karena mendengar suara Zayyan. Matanya mulai terlihat sayu karena mengantuk. Tak berapa lama, mata Rengganis terpejam. Ia tertidur dan masuk ke alam mimpi. Zayyan tersenyum kecil saat melihat bayi kecil itu tertidur, jadi seperti inikah mempunyai anak? Andai saja dia pria normal, andai saja ia masih bersama Keysha. Mungkin Zayyan akan melakukan ini bersama anaknya.
"Ah, s*ial! Mengapa aku mengingat Keysha lagi?" Maki Zayyan dalam hatinya
Zayyan ikut menguap, ia merasakan kantuk menyerangnya. Akhirnya Zayyan ikut tertidur di samping Rengganis. Rasa lelahnya setelah berjualan lebih mendominasi, ia pun tertidur dengan nyenyak di sisi bayi mungil nan cantik itu.
Sementara di pinggir ruangan Zayyan, Nadia telah selesai menyapu dan mengepel. Ia lalu merapihkan pakaiannya dan pakaian bayi kecilnya ke dalam lemari. Setelah semua selesai, Nadia melangkahkan kakinya ke arah kontrakan Zayyan. Suasana sangat hening. Nadia mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari dalam. Nadia menjadi khawatir dengan Rengganis. Akhirnya ia memberanikan diri memutar knop pintu yang tak dikunci. Nadia terpaksa membuka pintu untuk melihat anaknya. Nadia tertegun saat melihat pemandangan di hadapan matanya. Terlihat Rengganis dan Zayyan sedang tertidur pulas.
Refleks Nadya menitikkan air matanya. Seumur Rengganis, Raka tak pernah memperlakukan Rengganis seperti itu. Bahkan saat kelahirannya, Raka memilih pergi bersama selingkuhannya. Di saat Nadia berjuang antara hidup dan mati, pria itu lebih memilih untuk bersama selingkuhannya. Nadia dengan cepat menghapus air matanya. Ia tak boleh terbawa perasaan dengan Zayyan. Nadia harus sadar diri. Zayyan hanya kasihan saja pada Rengganis, bukan peduli padanya. Dengan pelan, Nadja menutup kembali pintu kontrakan Zayyan. Ia bingung untuk mengambil Rengganis karena Zayyan sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Nadia menutup pintu kontrakan Zayyan. Ia menutupnya pelan-pelan. Nadia lalu duduk di teras kontrakan Zayyan. Ia takut Rengganis akan terbangun dan Zayyan tak menyadarinya. Bagaimana pun Nadia tak ingin merepotkan Zayyan lebih dalam lagi. Ingin rasanya Nadia mengambil Rengganis saat ini juga, tapi ia juga tak berani membangunkan Zayyan.
"Neng, kok duduk lesehan gitu? Nyariin A Zayyan ya?" Tebak ibu-ibu penghuni kontrakan itu juga, ia kebetulan lewat untuk menjemur baju.
"Tidak kok, Bu. A Zayyan nya ada, tapi sedang tidur. Saya takut mengganggu," Nadia tersenyum kecil.
Zayyan yang sedang tertidur merasa terganggu saat mendengar obrolan dua suara wanita. Ia segera membuka matanya. Dilihatnya di sampingnya Rengganis yang sedang terlelap. Zayyan bangkit dari tidurannya. Ia lalu melihat ke jendela dan melihat Nadia sedang duduk lesehan di terasnya ditemani ibu-ibu yang membawa keranjang baju.
"Nad?" Panggil Zayyan seraya membukakan pintu.
"A Zayyan!" Pekik Nadya, ia merasa terkejut saat mendengar suara Zayyan yang tiba-tiba.
Ibu-ibu yang membawa keranjang cucian pun lekas pamit, ia tak mau mengganggu Zayyan dan Nadia yang akan berbincang.
"Mencari Rengganis ya? Dia sedang tidur!" Zayyan menunjuk Rengganis dengan matanya, ia kemudian membukakan pintu lebar-lebar.
"Kalau saya pindahkan tidak apa-apa ya, A? Saya takut Rengganis pipis. Dia tidak pakai Pampers soalnya," ucap Nadya jujur.
Zayyan mengangguk. Ia lalu mempersilahkan Nadia masuk ke dalam kontrakannya. Tak lupa, Zayyan membuka pintu lebar-lebar agar tetangga sekitarnya tak berburuk sangka dengannya dan juga Nadia. Nadia menggendong Rengganis yang sedang terlelap, sesekali bayi mungil itu menggeliat. Zayyan memperhatikan keduanya. Diilihatnya Nadia yang sangat mencintai anaknya. Zayyan merasa kagum. Meski dengan keadaan susah, wanita itu masih tak mau mengharapkan belas kasih orang lain. Nadia lebih suka bekerja keras sendiri untuk menghidupi buah hatinya.
"Kalau begitu saya pamit ya, A? Terima kasih bantuannya ya? A Zayyan membantu sekali!" Nadia berterima kasih. Ia lalu berjalan keluar dari kontrakan itu.
"Sama-sama. Jika kamu terlalu sibuk, kamu bisa menitipkan Nadia kapan pun pada saya kalau saya ada di kontrakan," tawar Zayyan dengan tersenyum.
Nadia mengangguk sambil tersenyum tanda mengiyakan. Ia lalu pamit untuk menidurkan Rengganis yang semakin terlelap dalam tidurnya
__ADS_1