
Ayuna terus menangis di gendongan Fuji. Fuji yang belum pernah memiliki seorang anak dan tidak memiliki pengalaman mengurus bayi pun merasa kelimpungan. Fuji kebingungan karena Ayuna tidak seperti biasanya. Bayi itu terus menangis, walaupun Fuji sudah memberikannya susu dan juga mengganti popoknya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Fuji terus menggendong Ayuna dengan wajah yang panik.
Bi Ijah yang hendak mengasuh Ayuna pun seketika ikut panik melihat Ayuna menangis kejer. Ditambah Bi Ijah melihat Fuji tengah memangku Ayuna dengan raut wajah gelisah.
"Neng, kunaon (kenapa)?" Bi Ijah berjalan cepat menghampiri Fuji.
"Ini, Bi. Ayuna gak mau berhenti nangis. Gak tau kenapa," jawab Fuji dengan mata berkaca-kaca.
"Coba bibi yang gendong!" Bi Ijah langsung mengambil Ayuna dari pangkuan Fuji.
Bi Ijah terlihat menenangkan Ayuna. Akan tetapi, tangisan bayi yang ditinggalkan ibunya itu tidak kunjung reda. Malah tangisan Ayuna semakin kencang saja. Bi Ijah pun membawa Ayuna masuk ke dalam kamar. Fuji mengekorinya di belakang. Bi Ijah segera membuka bedong Ayuna. Wanita paruh baya itu ingin memastikan, apakah ada serangga yang menggingit bayi malang itu atau tidak.
" Astagfirullah!" Pekik Bi Ijah saat melihat tubuh kecil Ayuna.
__ADS_1
"Ada apa, Bi?" Fuji langsung bertanya dengan khawatir.
"Neng, badan De Ayuna kuning banget!" Bi Ijah menunjukan tubuh Ayuna yang semakin menguning.
"Astagfirullah!" Fuji ikut beristigfar saat melihat perut Ayuna yang terlihat menguning.
"Neng, ini mah bawa aja ke rumah sakit! Bibi takut Ayuna kenapa-kenapa. Kalau di rumah sakit kan bisa di sinar, Neng!" Bi Ijah menatap Fuji dengan khawatir.
"Baik, Bi. Ayo kita bawa Ayuna sekarang ke rumah sakit!" Air mata Fuji menetes. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada keponakannya. Fuji tidak ingin menyia-nyiakan waktu, ia harus segera membawa Ayuna ke rumah sakit.
Bi Ijah langsung menggendong Ayuna yang masih menangis dengan kain jarik. Sementara Fuji langsung mengambil jaket dan helmnya. Fuji dan Bi Ijah pun langsung berangkat membawa Ayuna ke Rumah Sakit terdekat dengan menggunakan motor. Sesampainya di sana, mereka masuk melalui Instalansi Gawat Darurat. Fuji lebih memilih masuk ke IGD agar Ayuna lebih cepat ditangani dibanding dengan masuk melalui poli. Apalagi keadaan Ayuna masih belum berhenti menangis.
Dokter Spesialis anak yang sedang berjaga dengan sigap langsung memeriksa Ayuna. Fuji dan Bi Ijah menunggu dengan harap-harap cemas. Fuji terus berdoa semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Ayuna. Lumayan lama Bi Ijah dan Fuji menunggu, hingga akhirnya salah satu dari mereka dipanggil oleh dokter untuk mendapatkan penjelasan bagaimana kondisi Ayuna.
"Kadar bilirubin totalnya sudah melewati di atas normal," beri tahu dokter Spesialis anak itu.
__ADS_1
"Jadi, saya memutuskan agar pasien harus melakukan fototerapi (di sinar) di Rumah Sakit," jelas dokter itu lagi.
"Kira-kira mengapa kuning Ayuna belum juga sembuh?" Jawab Fuji dengan putus asa. Entah mengapa, saat mendengar Ayuna harus di rawat di rumah sakit, seakan sebagian diri Fuji hilang.
"Ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama karena dede kekurangan air susu ibu. Kedua adalah kemungkinannya karena golongan darah dede dengan ibunya berbeda. Apa anda ibunya? Nanti kita cek ya golongan darah dede Ayuna. Jika memang berbeda dengan ibunya, kemungkinan kuat itu adalah penyebab kuningnya bertahan lebih dari seminggu," jelas Dokter itu.
"Saya tantenya. Ibunya sudah meninggal. Jadi kita tidak bisa mencocokan golongan darahnya," jawab Fuji tanpa ragu. Karena baginya, Shella kini sudah tiada dalam hidup Ayuna dan hidupnya.
"Oh begitu?" Dokter itu tampak kaget. Sejurus kemudian dokter yang menangani Ayuna mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Iya. Kira-kira berapa hari Ayuna harus disinar di rumah sakit, Dok?" Fuji menatap dokter di hadapannya dengan was-was. Fuji takut jika mereka harus berpisah dengan waktu yang cukup lama.
"Biasanya satu sampai dua hari. Dede akan diperiksa setiap enam jam sekali. Akan tetapi, perawatan Fisioterapi akan dihentikan jika kadar bilirubin bayi sudah mencapai angka normal," jelas Dokter itu yang membuat Fuji bisa bernafas dengan lega.
"Baiklah kalau begitu, Dok," Fuji akhirnya bisa tersenyum.
__ADS_1
Fuji yakin Ayuna akan sembuh karena saat ini sudah ditangani secara tepat. Untuk masalah biaya, untungnya Fuji masih mempunyai simpanan uang yang ia ambil dari kantong Shella. Sebelum Shella pergi pun Fuji sudah membawa uang Shella tanpa sepengetahuan dari wanita itu. Fuji mengambil semua uang Shella saat wanita itu tengah mandi. Fuji mengganti uang-uang yang ada di tas Shella dengan kertas-kertas agar Shella tidak curiga saat membawa tasnya. Fuji melakukan demikian adalah untuk Ayuna. Bak firasat, akhirnya uang itu kini dipergunakan Fuji untuk biaya rumah sakit Ayuna. Syukurlah Fuji sempat mengambil semua uang Shella. Fuji terus berdoa, semoga tindakannya yang mengambil uang Shella tanpa izin tidak menimbulkan dosa baginya, karena tujuan Fuji amatlah jelas, yaitu uang itu dipergunakan untuk segala keperluan Ayuna.