
Zayyan merapikan meja kerjanya, sore ini ia bersiap untuk pulang. Ia sudah mempunyai janji dengan Istrinya untuk pergi ke restoran favorit mereka.
"Pak Zayyan, kok pulang?" Shella masuk dan merasa heran melihat Zayyan yang bergegas akan kembali ke rumah. Ia melihat bosnya itu memasukan laptop kerjanya ke dalam tas.
"Kan sudah waktunya pulang, Shell" Zayyan menatap jam dinding yang melekat di tembok. Lalu pandangannya dialihkan kepada Arsha juga masuk ke dalam ruangannya sesudah mengetuk pintu.
"Para pegawai akan merayakan keberhasilan kita sore hari ini, Pak. Jika berkenan, kami mengharapkan kehadiran bapak," Shella menatap bosnya penuh harap.
"Memangnya acaranya di mana? Kok mendadak sekali?" Tanya Zayyan dengan gusar.
"Acaranya di rumah Supervisor kita, Pak. Di rumah Ibu Feli. Katanya cuma pesta barbeque. Memang acara dadakan, Pak. Tadi pak Arsha mah ngasih tahu bapak. Tapi gak jadi, karena bapak fokus sama kerjaan bapak."
"Kayanya gak bisa, Shell. Saya ada janji dengan istri saya," tolak Zayyan cepat.
"Tapi bapak pimpinan kami, Pak. Kayanya gak akan seru kalau bapak gak ikut," Arsha yang tadi diam akhirnya ikut menimpali.
"Iya. Di sana juga gak akan lama kok!" Bujuk Shella, ia sangat berharap Zayyan bisa ikut.
Zayyan tengah menimbang-nimbang, akhirnya ia menyetujui untuk hadir. Ia berpikir tidak akan setahun sekali ia berpesta seperti ini. Zayyan segera membuka ponselnya dan mengabari Keysha bahwa ia tidak akan bisa menjemput. Zayyan terpaksa berbohong, ia mengatakan ada meeting dadakan, karena takut Keysha akan marah dan berpikir yang macam-macam. Apalagi Keysha bukan tipe wanita yang suka menghabiskan waktunya untuk berpesta. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah sakit.
"Baiklah saya ikut."
Shella tersenyum girang, mereka lalu bergegas menuju rumah Feli yang sudah disiapkan untuk acara pesta barbeque.
Sesampainya di sana, Zayyan tidak mengira bahwa acara sangat ramai, semua karyawannya hadir. Mereka tampak sibuk memanggang daging dan jagung di samping kolam renang. Tidak ada yang berani mengajak mengobrol Zayyan karena merasa segan. Pasalnya Zayyan tipekal orang yang sangat serius bila di lingkungan kantor. Mereka takut jika salah berbicara
Zayyan mendekati Shella yang sedang menyiapkan alat pemanggang. Ia mendekati Shella karena wanita itu adalah teman masa SMA nya.
"Biar saya bantu, Shell," Zayyan mengambil alih pekerjaan Shella, ia kemudian menaruh daging dan jagung di atas pemanggang. Sementara Shella berdiri di samping Zayyan dengan memperhatikan aktivitas pria itu.
"Beruntung ya Shella bisa dekat dengan bos kita?" Bisik Feli yang tengah berkumpul dengan teman-teman wanitanya.
"Iya, awas kalau ada udang dibalik batu! Sepertinya Shella ini selalu caper sama pak Zayyan," karyawan yang bernama Ayu ikut berbisik-bisik.
"Istri pak Zayyan kan idaman, sudah cantik seorang dokter juga. gak akan mungkin lah kegoda. Lagian Shella itu dekat sama saya," Arsha membela Shella. Ia merasa tak suka saat Shella di bicarakan oleh rekannya.
"Semoga aja ya? Habis tingkahnya aneh sih. Selalu caper sama pak bos. Siapa yang ga curiga," sahut karyawan lain lagi yang terdengar sangat julid.
Hati Arsha memanas. Memang Arsha juga merasa jika Shella selalu mencari kesempatan ketika berdekatan dengan Zayyan. Ini tak boleh terjadi. Sebagai seorang playboy, ia harus bisa mendapatkan Shella.
Semua daging dan jagung telah selesai dipanggang. Para karyawan wanita menata hidangan itu di gazebo yang ada di samping kolam renang. Mereka duduk lesehan. Rasa kekeluargaan begitu mengalir, apalagi mereka mulai berani mengajak mengobrol Zayyan, walaupun obrolan mereka seputar pekerjaan.
Suara perlahan mulai mencair. Ada di antara mereka yang tertawa dan bernyanyi dengan diiringi alunan gitar yang dimainkan salah satu pegawai.
Feli menuangkan minuman beralkoh*ol di gelas untuk Zayyan. Zayyan tertegun melihat minuman yang terhidang di atas meja. Ia tak mau meminum minuman itu lagi. Terakhir ia minum, Zayyan malah tidak sadar sudah meniduri Shella.
"Silahkan, Pak!" Feli menghidangkan minuman untuk Zayyan.
"Tidak, Fel. Saya mau air putih saja," tolak Zayyan halus.
Felli mengangguk, ia lalu memberikan Zayyan air putih sesuai permintaannya. Sementara Shella, ia sudah meminum minuman beralk*ohol itu dengan sekali tegukan hingga gelas itu tandas. Memang Shella sudah terbiasa minum-minum, karena pergaulan bersama teman modelnya yang bebas.
__ADS_1
Melihat Shella tengah asyik minum, Arsha mendekati Shella. Pria itu kemudian mengisi gelas Shella lagi hingga gelas gadis itu penuh.
"Ayo, Shell diminum lagi!" Arsha tersenyum licik.
"Baiklah," Shella meneguk lagi minuman itu hingga gelasnya kembali tandas.
"Wow sepertinya ada rekan kerja kita yang pintar minum!!" Puji Feli berpura-pura takjub. Padahal di hatinya ia merasa dongkol, Karena saat ini Shella jadi pusat perhatian. Memang Feli sedikit iri karena Shella selalu jadi perhatian karena kecantikan dan keseksiannya.
"Ayo tambah lagi, Shell!" Ayu ikut-ikutan menuangkan minuman di gelas Shella.
"Segini tidak ada apa-apanya untukku, Fell!" Shella tersenyum sinis, ia kemudian menatap Zayyan yang tengah memperhatikannya.
Saat Shella akan meminum gelas ke lima, Zayyan menahan tangannya. "Cukup, Shell! Kamu sudah mabuk."
"Mabuk? Haha. Tidak, Pak. Saya tidak mabuk. Bapak meremehkan kemampuan saya minum ya?" Wajah Shella mendekat pada wajah Zayyan, aroma alk*ohol menguar. Zayyan yakin Shella sudah mabuk
"Kamu sih, Sha. Malah ngasih Shella banyak banget minum!!" Ayu menyalahkan Arsha.
"Ye, kamu juga ikut ngasih kan!!" Balas Arsha tak mau disalahkan.
"Ya sudah biar Shella saya yang bawa pulang. Kalian lanjut saja acaranya ya! Pak Zayyan saya dan Shella pamit ya?" Arsha menggandeng Shella karena tubuh gadis itu sudah sempoyongan.
"Baiklah, kalian hati-hati!" Feli melambaikan tangannya.
Sepeninggal Arsha dan Shella, Zayyan melirik arlojinya. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Pasti Keysha menunggu kepulangan dirinya.
"Sepertinya saya juga harus pulang. Istri saya menunggu di rumah," Zayyan menatap Feli dan yang lainnya.
"Baiklah kalau begitu. Semuanya, saya pulang ya?" Zayyan mengambil tasnya dan berpamitan kepada yang lain.
"Hati-hati di jalan ya, Pak! Sampai jumpa di kantor!" Feli tersenyum dengan sangat manis.
Zayyan segera meninggalkan rumah Feli untuk kembali ke rumahnya. Di perjalanan ia melihat mobil yang tak asing tengah terparkir di bawah pohon besar yang sepi.
"Bukannya itu mobilnya Arsha?" Zayyan memfokuskan tatapannya melihat mobil jenis sedan yang terparkir di bawah sebuah pohon rindang yang sangat sepi.
"Bukannya Arsha bilang mau mengantar Shella?" Zayyan segera melepas sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Ia lalu keluar dari dalam mobil dan menghampiri mobil itu.
"Ini kesempatan aku," Arsha menatap tubuh Shella yang memakai baju terbuka. Kini gadis itu tengah tertidur di sampingnya.
Shella menggeliat pelan. Ia tidak tertidur, akan tetapi mab*uk. Arsha menatap bib*ir Shella yang merah merona, ia mencondongkan tubuhnya untuk menyentuh wanita itu. Akan tetapi, niatnya terhenti ketika perlahan Shella mulai tersadar.
"Kamu mau apa, Sha?" Shella memicingkan matanya ketika melihat Arsha mendekat padanya. Kesadaran wanita itu ternyata belum betul-betul menghilang.
"Ayo kita senang-senang, Shell!" Arsha mencengkram tangan Shella.
"Jangan kurang ajar ya, Sha!" Dengan lemah Shella berusaha melepaskan tangan Arsha dari tangannya.
"Ayo jangan jual mahal, Shell!" Arsha tersenyum menjijikan.
"Tolong!!" Shella berusaha berteriak.
__ADS_1
"Arsha, buka pintunya!!!" Zayyan menggedor kaca mobil dengan sangat keras.
Arsha terlonjak kaget, apalagi setelah mengetahui jika itu adalah bosnya. Ia segera melepaskan tangan Shella. Dengan cepat, Arsha menurunkan kaca mobilnya.
"Eh, Pak Zayyan!!" Arsha kelimpungan. Wajahnya begitu panik melihat wajah Zayyan yang terlihat emosi.
"Sedang apa kamu di sini?" Zayyan menautkan alisnya.
"Pak Zayyan, tolong aku!" Shella dengan cepat keluar dari mobil Arsha.
"Ini tidak seperti yang bapak lihat," Arsha ikut turun dari mobil dan menepis keringat yang ada di pelipisnya.
"Arsha mau melec*hkan saya, Pak!" Shell berpura-pura menangis sembari menunjuk Arsha.
"Arsha, besok ambil surat pemecatan anda di ruangan saya!" Zayyan berkata dengan emosi. Bagaimana pun, ia tidak ingin ada karyawan yang bermoral buruk di kantornya. Akan tetapi, ingatan mengenai ketika dirinya menyentuh Shella kembali terbayang. Bukankah dirinya sama dengan Arsha? Bedanya ia berhasil dan Arsha gagal. Lalu, apa bedanya Zayyan dengan Arsha? Tapi bukankah dulu Zayyan sedang tidak sadar? Hatinya berkecamuk.
"Saya mohon pak, jangan pecat saya!" Arsha mengatupkan lengannya di depan Zayyan sebagai tanda permohonan.
"Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya harus membiayai ibu dan adik-adik saya," suara Arsha terdengar memberat.
"Pecat saja dia, Pak!" Shella bersuara dengan isakan kecil.
Zayyan menghembuskan nafasnya kasar. Ia tampak menimbang-nimbang. "Baiklah, saya beri kamu kesempatan satu kali lagi! Jika ini terulang, saya tak akan memberikan kesempatan kedua."
"Terima kasih, Pak. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," wajah panik Arsha seketika berkurang.
"Ayo, Shell! Saya antar kamu pulang," putus Zayyan yang membuat Shella riang seketika. Pria itu merasa kasihan jika ia meninggalkan Shella di sana. Bukan tidak mungkin, Arsha akan melakukan hal itu lagi.
Zayyan pergi dari hadapan Arsha tanpa berpamitan. Sementara Shella, dengan senyum kemenangan masuk ke dalam mobil Zayyan.
"Terima kasih, Arsha," batin Shella saat ia masuk ke dalam mobil pria beristri itu.
"Kamu gak apa-apa kan, Shell?" Zayyan sesekali menoleh ke arah Shella yang kini duduk di sampingnya.
"Saya takut, Pak," Shella berpura-pura menangis.
Zayyan tampak kasihan dengan teman SMA nya itu. Ia semakin bersalah ketika teringat perlakuannya kepada Shella saat tidak sadar. Mereka pun diam dalam hening. Zayyan fokus dengan rasa penyesalannya dan Shella terus terisak di samping Zayyan.
"Sudah sampai, Shell. Kamu bisa turun!" Ucap Zayyan ketika mobil mereka sampai di parkiran apartemen Shella.
Shella tidak menjawab. Ia memainkan kukunya seperti orang yang panik.
"Tenanglah, Shell!" Zayyan menatap Shella dengan iba.
"Saya takut, Pak. Jangan pergi!" Shella dengan cepat memeluk Zayyan dengan erat. Ia menangis sesenggukan.
"Shell, jangan begini!" Zayyan tidak membalas pelukan itu.
"Saya takut," suara Shella semakin serak diiringi dengan air matanya yang semakin deras.
"Tolong temani saya dulu sampai saya tenang, Pak!" Shella memeluk Zayyan semakin erat.
__ADS_1
Zayyan pun perlahan membalas pelukan Shella dan menepuk-nepuk punggungnya pelan untuk memberikan kekuatan. "Baiklah, Shell. Saya di sini sampai kamu tenang," jawab Zayyan pada akhirnya. Shella pun tersenyum karena misinya untuk dekat dan memiliki Zayyan sudah mulai terbuka lebar.