Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Menemui Rena


__ADS_3

Malam menjelang, Zayyan baru saja sampai kontrakannya. Alhamdulillah dagangannya laku, walaupun tak habis semua. Namun Zayyan tetap bersyukur. Mulai hari ini Zayyan akan mensyukuri semua yang terjadi pada hidupnya. Zayyan mengambil laci yang ada di gerobaknya. Zayyan lalu menghitung semua penghasilan yang didapatnya hari ini.


Zayyan memisahkan uang setor dan keuntungan untuk dirinya. Ia mengucap syukur saat ada uang tujuh puluh ribu rupiah untuk keuntungannya berdagang hari ini. Lumayan. Esok hari Zayyan akan berbelanja untuk makannya, dan menyimpan sedikit uang untuk pegangannya sehari-hari.


"Alhamdulillah!" Lirihnya penuh dengan rasa syukur.


Setelah menghitung pendapatannya dan menunaikan shalat Isya, Zayyan merebahkan dirinya di atas surpet tipisnya. Seperti malam-malam sebelumnya, ia sangat kesepian saat sendirian di kontrakan. Tak ada suara televisi atau suara radio yang menemani sepinya. Zayyan harus terbiasa dengan suara detak jarum jam yang setiap malam menemani malamnya yang sangat sepi. Zayyan begitu merindukan keluarganya. Jika ia tinggal bersama keluarganya, mungkin Zayyan tak akan merasa kesepian seperti ini.


Beberapa detik kemudian Sekelebat wajah Keysha muncul. Namun Zayyan cepat menepis bayangan mantan istrinya itu. Ia cukup tahu diri, Zayyan tak akan mungkin pantas bersanding kembali dengan dokter cantik itu. Zayyan duduk, ia lalu mengambil sebuah kotak cincin yang bernilai fantastis itu. Sebagian hatinya berkata untuk menyuruhnya menjual cincin itu. Zayyan sangat yakin uang hasil dari penjualan cincin itu akan membebaskan Zayyan dari himpitan ekonomi. Namun satu sisi hatinya yang lain melarang. Zayyan tak mau menjual sesuatu yang bukan miliknya. Bagaimana pun dulu Zayyan membelikannya untuk Keysha.


Zayyan menutup kotak cincin itu dan menyimpannya di tempat semula. Pria itu lalu membuka ponsel dan melihat-lihat galeri. Sebelum menjual ponsel mahalnya, Zayyan memang memindahkan foto dan dokumen penting. Di sana terpampang foto keluarga Zayyan dengan senyum yang merekah. Di foto itu ada dirinya, Rena, Hanan, Keysha, Fikri, dan Raika yang sedang tersenyum ke arah kamera. Seolah di foto itu mereka sangat berbahagia.


"Mama, papa, Fikri, Raika. Aku merindukan kalian semua!" Lirih Zayyan sendu. Ia lalu menekan menu kontak dan menelepon Rena, sang ibunda.


"Hallo, Ma!" Sapa Zayyan saat Rena mengangkat teleponnya.


"Hallo, Zayyan? Ke mana saja kamu, Nak?" Jawab Rena di sebrang sana, yang membuat kerinduan Zayyan berkali lipat. Rena pura-pura tak tahu mengenai kondisi putra sulungnya. Padahal setiap hari wanita itu mengirimkan mata-mata untuk memantau aktivitas Zayyan.


"Zayyan ada saja kok, Ma. Kebetulan Zayyan ngontrak di sekitar Bandung timur. Mama apa kabar?" Suara Zayyan dibuat seceria mungkin agar tak membuat ibunya khawatir.


"Mama baik-baik aja, Kamu sehat kan, Nak? Mama kangen. Mainlah ke sini! Adik-adikmu pun merindukan kamu!" Suara Rena terdengar tercekat. Sejujurnya di sebrang sana Rena tengah menahan tangisnya. Ia juga sangat merindukan Zayyan.


"Alhamdulillah sehat, Ma. Ya, Ma nanti Zayyan akan main ke rumah. Ya sudah Zayyan tutup dulu teleponnya ya? Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikum salam, Nak!"


Di sebrang sana Rena menutup teleponnya dengan sendu. Ia mengusap air matanya yang makin berderai. Tak menyangka dengan nasib putranya yang sangat memprihatinkan. Pikirannya melayang pada kejadian siang tadi, saat Keysha menemuinya.


Flashback on....


Rena berjalan dengan cepat saat seseorang menekan bell rumahnya berkali-kali. Ia lalu membukakan pintu. Betapa senangnya Rena saat melihat Keysha berdiri di hadapannya seraya menenteng paper bag yang ia beli untuk Rena dan keluarga.


"Mama?" Seru Keysha.


Dokter cantik itu menghambur memeluk mertuanya. Keysha selalu menganggap Rena mertuanya, karena menurutnya tidak ada mantan mertua baginya.

__ADS_1


"Key, kok kamu gak ngabarin mama mau ke sini?" Rena membalas pelukan Keysha.


Wanita paruh baya itu lalu mengusap pipi dokter cantik itu. Rena terkesima menatap wajah Keysha yang semakin hari semakin cantik dan glowing saja. Keysha semakin cantij saja pasca bercerai dari putranya.


"Mendadak. Biar suprise," Keysha memamerkan giginya yang putih dan rapi. Lalu tangannya mengulurkan paper bag yang isinya barang yang cukup mahal untuk keluarga Zayyan.


"Apa ini, Key?" Mata Rena berbinar saat membaca tulisan paper bag yang isinya sudah pasti berisi barang mewah.


"Buat mama, buka aja nanti!"


"Makasih ya, Key?" Rena tersenyum haru, tak menyangka setelah perceraiannya dengan Zayyan Keysha masih menyempatkan dirinya untuk menemui Rena.


"Kamu ini ya selalu mendadak jika ke sini," lanjut Rena menggandeng lengan Keysha,


Mereka lalu mendudukan diri mereka di sofa empuk yang ada di ruang tamu. Keysha menatap sekeliling, ia tersenyum saat menatap foto keluarga yang masih ada dirinya di foto itu. Bahkan Rena pun tak pernah menurunkan foto itu. Di foto itu semua anggota keluarga Zayyan dan Keysha tengah berfoto bersama saat kelulusan Keysha sebagai dokter spesialis. Mendadak pikiran Keysha teringat dengan momen kebersamaan itu.


"Ke mana papa, Fikri, dan Raika, Ma?" Keysha celingukan mencari orang yang ia maksud.


"Papa lagi kontrol ke rumah sakit, Key. Raika ke kampus. Fikri sudah bekerja, dia kerja di BUMN peminyakan milik pemerintah, Key!" Jawab Rena ramah.


"Fikri hebat, Ma. Dia memang anak yang pandai! Dia juga lulusan institut bergengsi di kota Bandung!" Puji Keysha tersenyum.


"Tapi anak-anak mama memang cerdas semua. Zayyan pun pintar, Ma. Dia sangat pintar berbisnis!" Puji Keysha lagi yang membuat raut wajah Rena menjadi sendu.


"Ya, tadi dia tidak cukup pintar untuk menilai seseorang, Key. Sampai ia harus terjerat dengan godaan sang pelakor!" Lirih Rena, ia tersenyum getir.


Keysha mengusap pelan bahu sang mertua yang sangat di hormatinya itu. "Sudahlah, Ma. Semua sudah berlalu. Lagi pula seburuk apapun Zayyan, dia tetap anak mama," Keysha berkata dengan hati-hati.


Rena tak bergeming, ia selalu saja merasa sedih saat mengingat dengan bodohnya Zayyan tergoda tipu daya Shella. Sementara suasana semakin canggung. Keysha merasa ragu saat akan menjelaskan maksud dan tujuannya ke sini. Namun dirinya menguatkan hati. Rena harus tahu kebenarannya. mendadak Wajah Keysha menjadi sangat serius. Dokter cantik itu lalu duduk merapat di samping Rena.


"Ma, Keysha ke sini selain untuk bersilaturahmi. Keysha mau ngasih sesuatu yang penting!" Keysha mengusap pelan tangan Rena dengan penuh kasih sayang.


"Hal penting apa, Key? Apa kamu mau menikah lagi?" Tebak Rena yang membuat Keysha salah tingkah.


Keysha merogoh tas mewahnya, ia lalu memberikan sebuah amplop pada Rena. "Bukalah, Ma! Mama berhak tahu!" Keysha menyodorkan amplop itu.

__ADS_1


Kening Rena berkerut. Ia merasa tak enak saat melihat amplop berlogo rumah sakit tempat Keysha bekerja itu. Namun Rena menerimanya juga, ia membuka surat itu lalu membacanya.


Ekspresi Rena berubah menjadi tegang, marah, sedih. Semua terlihat menjadi satu, dan Keysha bisa membaca itu.


"Jadi, hasil pemeriksaan menunjukan bahwa Zayyan yang mandul, Key?" Bibir Rena bergetar, sedetik kemudian air matanya jatuh berloncatan membasahi pipinya yang mulus.


"Iya, Ma. Menurut pemeriksaan tidak ditemukannya sel Sp*erma di air M*ni Zayyan" Keysha berkata dengan hati-hati.


"Jika Zayyan mandul, lantas anak siapa yang dikandung oleh j*lang itu, Key?" Rena menangis histeris. Keysha segera memeluk Rena dan menenangkannya.


"Maafkan Key, Ma. Key bikin Mama nangis kaya gini," Keysha kasih memeluk erat sang mertua.


"Gak, bukan kamu yang salah, Key! Tapi si j*Lang itu yang sudah menghancurkan kehidupan anakku, Key! Zayyan sudah ditipu mentah-mentah oleh wanita ular itu!" Murka Rena dengan mata yang memerah karena menahan emosi.


"Mama tidak akan membiarkan hidupnya tenang, dia harus menderita, Key!" Seru Rena yang dipenuhi dengan rasa benci dan dendam.


"Sudah, Ma. Dendam tak akan membuat hidup kita membaik! Tolong ya, Ma sampaikan surat ini pada Zayyan! Keysha tidak berani memberikannya langsung, Ma. Apalagi Keysha tidak tahu dia ada di mana."


Rena mengangguk, ia cukup mengerti dengan kondisi Keysha yang sangat sibuk dengan profesinya. "Nanti mama akan sampaikan ya, Key! Terima kasih sudah memberi tahu mama."


Hening beberapa saat, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Keysha membelah keheningan di antara mereka. "Ma, jika Keysha menikah lagi apa mama akan mengizinkan?" Keysha bersuara, nyalinya cukup menciut saat ia mengatakan itu.


"Menikah? Dengan siapa, Key?" Mata Rena membeliak karena terkejut.


"Andra, dia teman seprofesi Keysha. Dia melamar Keysha, Ma. Apa Keysha boleh menikah dengan dia, Ma?"


Air mata Rena kembali berjatuhan, ia lalu menghambur memeluk menantu kesayangannya itu. "Boleh, Nak. Mama tidak ada kewajiban untuk melarang kamu. Sudah cukup anak mama membuat kamu menderita, sekarang raihlah kebahagiaan kamu walaupun itu bukan dengan anak mama! Mama gak mau egois, Key. Kamu berhak untuk bahagia," Rena mengelus sayang pipi Keysha membuat Keysha menangis terharu.


"Makasih, Ma. Tolong setelah ini jangan ada yang berubah di antara kita!" Keysha membalas pelukan Rena dengan erat.


"Tak akan ada yang berubah, Key. Kamu tetap anak mama!"


Suasana di ruang tamu itu berubah menjadi haru, setelah mengobrol lumayan lama Keysha akhirnya pamit untuk pulang.


Flashback off.

__ADS_1


"Zayyan malang sekali nasibmu, Nak!" Lirih Rena parau. Rena memeluk ponselnya, dengan kata apa ia harus menyampaikan surat itu pada Zayyan? Namun Zayyan pun berhak tahu, rencananya esok hari Rena akan pergi ke kontrakan Zayyan untuk mengantarkan surat yang sangat penting itu.


Hey semua, mohon maaf ya episodenya ke update double. Nanti besok otor adukan ke admin ya biar dihapus 🤗


__ADS_2