Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Menolong Seseorang


__ADS_3

Zayyan berjualan seperti biasa, ia sudah mempunyai tempat mangkal yang laris pembeli. Tepatnya di depan masjid yang berdiri megah di tengah-tengah komplek. Jam sebelas pagi Zayyan mendorong gerobaknya menuju halaman masjid megah itu. Namun langkahnya harus terhenti saat melewati sebuah rumah kecil. Pria itu melihat wanita berdaster lusuh sedang menggendong bayinya sambil menangis di halaman rumah.


"Tolong!" Teriaknya dengan terisak.


Zayyan lantas menyimpan gerobaknya di bawah pohon. Ia berlari menghampiri wanita yang sedang menggendong bayi itu. Zayyan mencoba mengingat wajah wanita yang familiar dilihatnya. Rupanya dia adalah wanita yang tempo hari membeli baksonya dengan harga setengah porsi.


"Kenapa anaknya, Teh?" Tanya Zayyan. Matanya meneliti bayi yang masih merah itu.


"Anak saya panas. Panasnya sampai 41 derajat. Tolong anak saya! Saya mohon!" Teriak wanita itu dengan tangisan yang menyayat hati.


Akhirnya Zayyan berlari menuju pangkalan ojek. Dia memesan dua motor. Satu untuk wanita itu dan satu untuk dirinya yang akan mengantarkan ibu dan bayi itu ke rumah sakit. Zayyan berpikir bayi itu harus mendapatkan tindakan dari dokter secepatnya.


Sebelum pergi, Zayyan menitipkan gerobaknya kepada warga setempat. Beruntung ada seorang ustadz yang baru saja pulang mengajar mengaji. Dengan senang hati ustadz itu bersedia menjaga gerobak milik Zayyan. Zayyan bersyukur masih ada orang baik yang mempermudah langkahnya.


Akhirnya Zayyan dan wanita yang menggendong bayi itu segera ke rumah sakit dengan ojek yang sudah Zayyan pesan. Para perawat dengan sigap mendorong brangkar saat melihat wanita tadi menangis sambil mendekap bayinya erat. Bayi mungil itu pun seakan mengerti bahwa ibunya sedang bersedih. Bayi itu ikut menangis membuat hati Zayyan bergetar.


Satu perawat membaringkan bayi yang masih merah itu. Kemudian perawat mendorong brangkar dan memasukannya ke ruang IGD. Kebetulan hari itu ada dokter umum yang sedang jaga di IGD. Dengan cepat, dokter jaga itu memeriksa bayi merah tersebut. Ia lalu memeriksa suhu tubuhnya dengan termometer. Dokter juga langsung memberikan obat penurun panas lewat an*s sang bayi agar demamnya cepat turun. Sementara Zayyan dan ibu dari bayi itu berada di luar ruangan. Dokter melarang mereka untuk masuk. Ibu dari bayi itu menangis terisak, Zayyan merasa kasihan melihatnya.


"Terima kasih ya, A? Terima kasih karena sudah menolong bayi saya," wanita itu terisak. Ia menatap Zayyan yang juga sedang menatapnya dengan tatapan iba.


"Sama-sama. Kamu harus banyak berdoa! Anak kamu pasti baik-baik saja," hibur Zayyan sembari tersenyum.


"Oh ya nama kamu siapa? Kamu wanita tempo hari yang membeli bakso saya kan?" Lanjut Zayyan lagi. Ia sangat yakin bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang membeli baksonya tempo hari.


Wanita tadi menyeka air matanya. Berusaha untuk tersenyum, walaupun sangat terlihat senyum itu senyum yang sangat dipaksakan.


"Nama saya Nadia, Nama bayi saya Rengganis. nama Aa siapa? Iya saya yang beli bakso Aa waktu itu," jawab wanita itu yang diketahui Zayyan bernama Nadya.


"Nama saya Zayyan. Oh ya, suamimu ke mana? ?apa dia sedang bekerja?" Zayyan menanyakan rasa penasaran yang sedari tadi menari-nari di kepalanya.

__ADS_1


Pasalnya saat pertama melihat Nadya, Zayyan hanya melihat Nadya seorang diri menangis di halaman rumah tanpa ada seorang pun yang mau menolongnya. Nadya termenung untuk beberapa saat. Tatapannya terlihat kosong. Ia enggan menjawab. Namun rasanya ia tak enak pada Zayyan. "Suami saya pergi meninggalkan saya dengan wanita lain. Dia sudah mentalak saya!" Lirih Nadya dengan sendu.


"Maaf aku tidak bermaksud, Nad!" Zayyan merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Ayahnya meninggalkan Rengganis. Dia gemar sekali berjudi dan memukuli saya. Bayi saya baru berusia empat puluh hari. Awalnya saya berharap setelah mempunyai anak dia akan berubah. Tapi sifat dia semakin menjadi. Saya dipaksa untuk bekerja agar dia selalu mempunyai uang untuk berjudi. Bahkan dia memaksa saya untuk menyerahkan sertifikat rumah peninggalan orang tua saya. Saya tidak mau menjual rumah orang tua saya karena mereka sudah tiada! Hanya itu peninggalan dan kenangan dari mereka," tanpa diminta Nadya menceritakan rumah tangganya yang kelam. Sesekali ia menyeka air matanya yang berloncatan dan membasahi pipinya.


Zayyan bingung harus menjawab apa. Dia merasa iba pada wanita yang ada di hadapannya. Sebenarnya wajah wanita itu berparas ayu, Zayyan pun menyadarinya. Tapi karena penampilannya yang kucel dan tidak terawat, menjadikan penampilannya kurang menarik.


"Puncaknya, hari itu dia membawa seorang wanita dan membawanya ke kamar kami. Kebetulan hari itu saya sedang pergi ke posyandu. Saat pulang, betapa kagetnya saya melihat dia sedang berzina dengan seorang wanita yang saya tidak tahu namanya. Saya tidak mengenalinya. Saya menjambak wanita itu, tapi suami saya malah berbalik menyerang saya. Dia memukul dan menendang tubuh saya tanpa ampun. Beruntung Rengganis saya taruh di ayunan. Jika tidak, mungkin anak saya pun jadi korban kebrutalan lelaki biadab itu," lanjutnya lagi.


Nadya menumpahkan semua isi hatinya. Dengan Isak tangis dia menceritakan semuanya pada Zayyan. Selama ini ia merasa kesepian. Saat ada orang yang mengajaknya berbicara, Nadya terus saja bercerita tidak peduli bahwa itu adalah aib keluarganya. Ia sudah tak kuat untuk memikul semuanya sendiri.


"Berarti Allah selalu mencintai kamu. Dia melepaskan kamu dari pria buruk itu. Bersyukurlah!" Zayyan menghibur Nadya, ia merasa sama saja dengan mantan suami Nadya.


Dulu Zayyan bermain perempuan di belakang Keysha. Namun Zayyan masih menafkahi Keysha dengan layak. Bahkan ia tak mengurangi jatah bulanannya setiap bulan. Berbeda dengan mantan suami Nadya yang tidak mau bekerja dan gemar berjudi. Ternyata ada pria yang lebih br*ngsek di dunia ini melebihi dirinya.


"Ya, Allah menyayangiku dan Rengganis. Makanya Allah memisahkan aku dan suamiku agar aku dan Rengganis tidak terluka lebih dalam lagi. Biarlah Rengganis hidup tanpa sosok ayah. Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah untuknya," Nadya tersenyum, ia kemudian menyeka air matanya.


Gagang knop pintu yang di putar mengalihkan keduanya. Zayyan dan Nadya langsung berdiri dari duduknya saat dokter keluar dari ruangan IGD.


"Ini orang tua dari bayi tadi?" Tanya Dokter seraya menatap Nadya dan Zayyan bergantian.


"Ya, kami orang tua dari Rengganis," jawab Zayyan berbohong. Ia hanya ingin dokter segera mengizinkan mereka menemui Rengganis.


"Mari silahkan masuk!" Titah Dokter wanita yang berhijab navy itu. Ia lalu melebarkan pintu mempersilahkan Zayyan dan Nadya masuk.


Rengganis terlihat berbaring ditemani perawat wanita yang masih muda. Sesekali bayi lucu itu menggeliat menarik perhatian Zayyan untuk memperhatikannya lebih dalam.


"Bayi ibu mengalami demam ya. Tapi demamnya sudah turun setelah saya memberikan obat penurun panas lewat a*us. Jika nanti suhu demamnya naik lagi, ibu kompres di dahi bayi ya. Lalu, kompres di di lipatan ketiak dan juga paha. Jangan memberikan selimut atau pakaian yang tebal! Beri bayi ibu pakaian yang menyerap keringat, dan berikan ASI lebih sering ya, Bu? Agar cairan di tubuhnya tetap terjaga, agar bayi juga terhindar dari dehidrasi. Untuk cairan di tubuhnya masih aman ya, Bu. Jadi, hari ini boleh dibawa pulang. Tidak perlu di rawat inap!" Jelas dokter cantik itu menerangkan yang membuat Nadya dan Zayyan bernafas lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Terima kasih ya, Dok!" Nadya tersenyum haru. Diciumnya sang buah hati yang sedang terlelap.


Zayyan merasa terharu melihat pemandangan itu. Ia menyeka sudut matanya yang tiba-tiba saja basah.


"Apa ada yang ingin ditanyakan Bu, Pak?" Pertanyaan dokter membuat Nadya menggeleng.


"Cukup, Dok. Terima kasih!"


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter wanita itu seraya tersenyum.


"Silahkan, Dok!" Zayyan tersenyum sopan.


"Bu, bayinya sudah boleh dibawa pulang. Untuk administrasi nya, ibu bisa selesaikan di kassa dua ya?" Instruksi perawat yang membuat Nadya bingung seketika. Pasalnya ia tak memiliki uang sepeser pun.


Nadya menatap bayinya. Wanita itu bingung dengan apa ia membawa keluar bayi itu dari rumah sakit. Zayyan yang meembaca gelagat Nadya bisa menebak bahwa wanita beranak satu itu tidak mempunyai uang.


"Baiklah. Akan saya selesaikan. Terima kasih, Sus!" Jawaban Zayyan membuat Nadya tertegun.


Zayyan kemudian berjalan menuju kassa dua. Beruntung ia mempunyai uang di sakunya. Uang itu selalu ia simpan untuk kembalian. Zayyan berdoa mudah-mudahan pembayarannya lebih dari cukup.


"157.000 ribu ya, Pak?" Suara petugas kasir memecahkan lamunannya. Dalam hati Zayyan bersorak. Ia bersyukur karena uang di sakunya cukup untuk membayar biaya pengobatan Rengganis.


"A, terima kasih ya? Saya berjanji akan menggantinya!" Janji Nadya dengan sudut mata yang basah, ia bersyukur di pertemukan Allah dengan Zayyan hari ini.


"Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Tidak usah diganti, saya ikhlas kok. Anggap saja itu untuk Rengganis."


"Terima kasih banyak!" Nadya tidak mampu lagi berkata-kata.


Zayyan mengangguk. Setelah menyelesaikan administrasi, Zayyan mengajak Nadya pulang. Zayyan melihat Nadya kelelahan, ia pun berinisiatif menggendong bayi yang masih merah itu. Awalnya Nadya melarang, namun Zayyan bersikeras sampai Nadya mengizinkan dan menggendongkan Rengganis di tubuh jangkung Zayyan. Zayyan menggendong Rengganis dengan kain jarik. Lagi-lagi hatinya bergetar melihat bayi yang ada di pangkuannya menggeliat.

__ADS_1


Mereka lalu menaiki taksi online. Zayyan sengaja menaiki taksi online agar bayi merah itu terlindungi dari terik panas matahari. Lagi-lagi Zayyan merasa sangat peduli pada bayi itu. Mereka memasuki mobil dan Zayyan tidak berhenti memeluk Rengganis. Hatinya nyaman saat memeluk bayi mungil itu. Mata Zayyan berkaca-kaca. Seperti ini kah rasanya mempunyai bayi?


__ADS_2