
Sebelumnya....
Andra menyergapkan matanya saat dering ponsel berbunyi dengan nyaring, ia berdecak pelan karena merasa sedikit terganggu. Tangannya melepaskan pelukan eratnya di tubuh sang istri yang kini masih tertidur dengan nyenyak. Andra tersenyum samar saat melihat Keysha tertidur dengan pulasnya sampai ia tak terbangun dengan suara ponsel yang berbunyi sangat keras. Dering ponsel miliknya semakin memekakan telinga. Segera Andra meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan malas, Andra mendekatkan ponsel itu di telinganya.
"Hallo, Dok! Ini dengan panggilan IGD!" Suara seorang wanita terdengar saat Andra mengangkat teleponnya.
"Ya, Ada apa, Sus?" Kesadaran Andra penuh seketika saat mendengar suara suster IGD yang sangat panik. Pasti ada kondisi mendesak yang mengharuskan pihak rumah sakit meneleponnya di waktu dini hari seperti ini.
"Ada operasi darurat, Dok. Ada pasien yang mengalami pendarahan sangat banyak. Sudah kami tangani, tapi sepertinya pasien harus segera ditangani oleh dokter spesialis. Kebetulan sedang tidak ada dokter spesialis obygyn yang berjaga malam ini," Suster itu menjelaskan perihal kondisi pasien di IGD.
"Baiklah. Saya ke sana sekarang!" Andra menutup panggilannya dengan sepihak. Lekas ia menyambar pakaian formal dan jas putih kebesarannya. Andra tak mau membangunkan istrinya. Pria itu takut mengganggu waktu istirahat Keysha.
Namun Keysha terbangun saat dirinya merasakan ada gerakan di sampingnya. Ia membuka kelopak mata. Keysha menajamkan indra penglihatannya saat melihat suaminya yang sedang terburu-buru mengganti pakaian.
"Sayang, ada apa?" Keysha langsung bangkit dari posisi tidurnya. Ia lalu duduk di atas ranjang yang berukuran king size itu dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya.
"Ada pasien darurat di IGD, sayang. Aku harus segera ke rumah sakit" Jawab Andra dengan buru-buru.
Keysha segera berdiri, ia pun berjalan ke arah lemari empat pintu yang ada di dalam kamar. Keysha membuka lemari untuk berganti baju. Andra mengernyitkan dahinya bingung saat melihat istrinya ikut sibuk mempersiapkan diri.
"Sayang, kamu mau ke mana?" Andra keheranan menatap gelagat aneh istrinya.
"Aku akan ikut ke rumah sakit, sayang. Aku ingin membantumu melakukan prosedur operasi. Di rumah aku malas sendirian. Lebih baik aku ikut ke rumah sakit saja!"
Andra tersenyum tipis saat mendengar penuturan istrinya. Untung saja Keysha berprofesi sesama dokter. Sudah pasti Keysha mengerti akan kondisinya. Maka sudah tak aneh jika mereka ditelepon saat tengah merasakan enaknya tertidur pulas.
"Ya sudah ayo!" Ajak Andra pada Keysha. Ia pun memegang tangan Keysha erat, seolah tak mau berjauhan dengan istrinya yang cantik itu.
Setelah mereka berganti pakaian, Andra dan Keysha melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik keluarga Sagara. Andra melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung jalanan sangat sepi karena jam masih menunjukan waktu dini hari. Waktu di mana semua orang terlelap begitu nyaman di atas kasur dan selimut yang hangat. Andra mengemudikan mobilnya dengan penuh kehati-hatian. Tujuh belas menit kemudian, mereka telah sampai di pelataran rumah sakit. Gegas Andra memarkirkan mobilnya di parkiran yang khusus di peruntukan untuk dokter. Andra dan Kesyha keluar dengan tergesa, tujuan utama mereka adalah ruangan Instalasi Gawat Darurat.
Andra dan Kesyha segera membuka tirai pasien saat mereka telah tiba di ruang IGD. Mereka melihat pasien sudah dengan keadaan lemah.
Andra segera memeriksa pasien itu, sementara Keysha mengambil alat USG. Di rumah sakit mereka tak terlihat seperti sepasang suami istri, mereka terlihat seperti dua orang dokter spesialis yang bekerja dengan profesional.
"Apa yang dirasa, Bu?" Tanya Andra berusaha untuk membuat pasiennya rileks.
"Punggung dan perut saya sakit, Dok!" Jawab ibu hamil itu dengan lemah.
Andra mengangguk, ia memeriksa kembali pasien itu dengan detail. Ia kemudian melakukan tindak USG untuk memeriksa kondisi bayi dan ibu hamil tersebut.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Keysha pada Andra.
"Ibu ini mengalami solusio placenta, kita harus melakukan operasi sekarang juga! Dokter Keysha segera telepon dokter anestesi dan dokter anak! Kita tak bisa menunda lagi!" Perintah Andra. Keysha mengangguk ia lalu menghubungi dokter Anestesi dan dokter spesialis anak yang berjaga malam itu.
Solusio placenta adalah kondisi sangat serius. Di mana placenta mulai terlepas dari dinding rahim sebelum atau selama proses kehamilan. Kondisi ini sangat berbahaya jika tidak dilakukan penanganan segera, karena janin bisa kehilangan oksigen yang mengakibatkan nyawa janin terancam. Dua perawat segera mendorong brangkar ibu hamil tersebut ke ruang operasi. Selanjutnya satu perawat tadi kembali dan meminta tanda tangan suami pasien untuk surat persetujuan melakukan tindak operasi.
Setelah mendapatkan surat persetujuan tindak operasi, Keysha dan Andra berjalan menuju ruang operasi. Pertama dalam sejarah, Andra dan Keysha melakukan operasi bersama-sama, meskipun Keysha hanya bertugas menjahit perut ibu itu setelah selesai proses operasi. Suntikan di punggung bawah telah dilakukan oleh dokter spesialis anestesi. Setelah pasien tadi tak merasakan apa-apa, akhirnya Andra memulai operasinya.
"Saya takut, Dok!" Lirih pasien itu dengan air mata berlinang. Apalagi ia melihat gunting dan pisau yang berterbangan melalui lampu operasi. Ia juga mendengar suara robekan di perutnya.
"Jangan lihat lampu, Bu! Lihat saya saja. Berjuang ya, demi anak ibu?" Keysha menenangkan, ia lalu menyetel lagu yang sangat keras untuk mengalihkan perhatian pasiennya. Keysha melihat monitor tensi darah, tensi darah pasiennya terus naik karena ketakutan dan panik.
Andra, dokter anestesi dan dokter anak pun bernyanyi bersama-sama. Mereka berusaha menenangkan pasien. Tak ada beban di antara mereka walaupun mereka sedang berada di ruang operasi. Pasien tadi akhirnya mulai merasa rileks, tensi darahnya pun perlahan turun. Setelahnya dada ibu itu terasa sesak saat Andra melakukan pengambilan bayi, pasien itu merasa dadanya berguncang.
__ADS_1
"Dok, sesak!" Keluhnya lagi.
Tak lama suara tangis bayi memecahkan ruangan operasi. Dokter spesialis anak segera mengangkatnya dan meletakannya di dada sang ibu. Andra dan Keysha bernafas lega saat bayi itu terlahir dengan sehat. Tak lama asisten Andra memasuki ruang operasi, ia memberitahukan bahwa ada wanita yang akan segera melahirkan.
"Pergilah, Dok! Biar saya yang menangani pasien ini," Keysha segera mengambil alih pekerjaan Andra dan menjahit perut pasien itu.
Andra mengangguk. Ia lalu meninggalkan ruangan oeprasi berjalan menuju ruang IGD. Sesampainya di ruangan persalinan, Andra membuka tirai IGD. Ia sedikit terkejut saat melihat Shella sedang terbaring di atas brangkar. Segera ia memeriksa jalan lahir Shella. Rupanya sudah pembukaan sembilan. Andra bersiap melakukan tindak persalinan.
"Aaaaaaa sakit, Dok!" Shella berteriak kesakitan, tangannya meremas seprai brangkar yang ditidurinya.
"Tarik nafas, Bu! Rileks!" Perintah Andra dengan profesional.
"Rileks bagaimana? Ini sakit sekali. Haus. Haus. Aku haus sekali!" Teriak Shella lagi, suasana di ruangan Shella sangat ribut dan berisik. Namun Andra dan petugas IGD memakluminya.
"Haus, Dok! Saya ingin minum!" Pinta Shella setengah berteriak. Ia terus berteriak meminta air untuk menghilangkan dahaga di tenggorokannya.
"Nanti minumnya, kepala bayinya sudah terlihat. Ayo mengejan!" Perintah Andra dengan tegas.
"Ayo mengejan, Bu!" Perintah Andra lagi dengan intonasi yang tinggi, pasalnya ia sedikit kesal dengan Shella yang keras kepala dan terus menerus meminta minum. Padahal bayi sudah akan keluar.
"Dokter si*lan!" Maki Shella lagi.
Perutnya merasakan mulas sekali, akhirnya Shella mengejan sekuat tenaga. Tak lama suara tangis bayi memecahkan keheningan Instalasi gawat darurat. Andra dan satu orang perawat bernafas lega. Andra kemudian menggendong bayi itu, ia bermaksud akan meletakan bayi itu di dada Shella. Namun Shella langsung memalingkan wajahnya, ia enggan menatap bayi itu.
"Jauhkan dia, Dok! Saya jijik dengan darah yang ada di tubuhnya," ucap Shella tak acuh.
Andra kemudian beristighfar, ia segera mengatasi kekesalannya dengan memanggil seorang perawat yang akan menjahit robekan di jalan lahir milik Shella. Andra menugaskan satu perawat lagi untuk mengambilkan teh manis untuk Shella.
"Sus, apa ada suaminya yang akan mengazankan bayi ini?" Tanya Andra pada perawat yang bernama Ria yang sedang membawa segelas teh manis.
Akhirnya Andra mengumandangkan Adzan di telinga bayi itu dengan merdu. Hati Andra merasa bergetar saat melantunkan Adzan dengan suara yang lirih agar tidak mengganggu bayi tersebut.. Ini bukan pertama kali Andra mengumandangkan Adzan di hadapan bayi pasiennya, karena sebelum ini banyak sekali bayi yang di adzani oleh Andra apabila suami pasien berhalangan untuk hadir. Setelah mengumandangkan Adzan, Andra berpamitan pada Shella. Shella pun sudah bisa dipindahkan ke ruang pemulihan.
"Sayang, bagaimana? Apa persalinannya lancar?" Tanya Keysha, ia menunggu Andra di pintu IGD.
"Alhamdulillah lancar . Oh ya, tadi yang melahirkan itu Shella!" Kata Andra, ia memperhatikan raut wajah Keysha yang tampak terkejut.
"Jadi Shella sudah melahirkan?" Gumam Keysha, yang dijawab anggukan kepala oleh Andra.
"Syukurlah. Semoga dengan kehadiran bayi itu Shella berubah menjadi lebih baik," Keysha tersenyum kecil, lantas ia mengajak Andra untuk meninggalkan IGD.
Mereka berjalan pelan di sepanjang koridor rumah sakit, tiba-tiba saja Keysha merasa pusing dan mual. Ia memijit pelipisnya. Ia lalu memegang lengan Andra.
"Sayang, kenapa?" Andra telihat cemas melihat gelagat aneh istrinya.
"Kepalaku pusing!" Gumam Keysha.
Dengan sigap Andra segera menuntun Keysha menuju parkiran. Andra memastikan tidak ada lagi pasien yang berstatus darurat untuk ditangani. Ia segera memapah Keysha, mendudukan istrinya di samping kemudi. Lalu Andra melajukan mobilnya menuju perumahan yang bergaya Eropa itu.
"Sayang, apa yang kamu rasakan?" Andra bertanya seraya membandingkan tubuh istrinya, di kasurnya yang empu saat mereka telah sampai di rumah.
"Kepalaku pusing sekali!" Keluh Keysha, ia memijit pelipisnya yang semakin berdenyut.
Andra memeriksa tubuh Keysha, kemudian senyuman samar terbit di bibirnya yang berwarna merah jambu itu.
__ADS_1
"Sayang, kapan terakhir kamu haid?" Tanya Andra, tangannya merapikan anak rambut yang menyentuh dahi istrinya.
"Bulan kemarin aku tidak haid!" Keysha tampak mengingat-ngingat.
Andra meraba perut Keysha, ia meraba-raba perut itu dengan gerakan lembut. "Sayang, sepertinya kau hamil!" Andra terlihat antusias. Wajah bahagia terpancar di wajah tampan itu. Keysha membeliak, mungkinkah ia hamil? Mungkinkah harapannya selama ini terwujud?
"Benarkah?" Bibir Keysha bergetar, tiba-tiba saja matanya memanas.
"Ya, apa kita perlu kembali ke rumah sakit dan melakukan USG?" Tawar Andra dengan senyum yang tak berhenti merekah.
"Tidak usah, Sayang. Ini sudah terlalu larut. Besok saja kita memeriksanya. Sekarang mari kita tidur!" Ajak Keysha yang bergelayut manja di lengan kekar suaminya.
"Baiklah, ganti baju dahulu!" Perintah Andra lembut
Keysha mengangguk, mereka sama-sama berganti baju dengan piyama. Setelah berganti baju Keysha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kepalanya bersandar di tangan Andra yang dijadikannya bantal. Sementara tangan Andra satu lagi memeluknya dengan mesra.
"Mari kita tidur!" Andra mencium kening Keysha, mereka pun memasuki alam mimpi.
*****
Siang harinya.
"Sayang, sebelum ke rumah sakit, aku ingin sekali memakan bakso!" Keysha merajuk, ia memeluk Andra dari belakang dengan posesif.
"Boleh, mau bakso di mana?" Tanya Andra, ia membalikan tubuhnya. Dipeganginya tubuh istrinya itu dengan agresif. Sesekali Andra mencium bibir Keysha lembut. Andra sangat bersyukur bisa memiliki Keysha di hidupnya.
"Di kedai yang ada di Ujung Berung. Ayo kita segera ke sana!" Keysha tak berhentinya merajuk, ia lalu menuntun lengan Andra menuju carport.
Andra melajukan mobilnya menuju kedai bakso yang ada di area Bandung timur itu. Di perjalanan mereka tak berhenti mengobrol, Keysha seolah tak lelah untuk terus berbicara. Keysha bersorak senang saat melihat kedai telah terlihat di Indra penglihatannya.
"Sayang, ayo! Aku lapar sekali!" Kesyha terlihat tak sabar.
"Sabar, sayang!" Andra tersenyum, bergegas ia memparkirkan mobil mewahnya di tempat parkir yang telah disediakan.
Mereka duduk di saung lesehan, memang kedai ini bertema lesehan dengan khas Sunda yang sangat kental. Kesyha memesan satu mangkok bakso beranak dan satu mangkok bakso rusuk. Sementara Andra memesan bakso urat dengan menu lengkap.
"Sambalnya jangan terlalu banyak ya, sayang?" Andra memperingati yang membuat Keysha memanyunkan bibirnya.
Saat Keysha mencicipi bakso itu, dengan cepat Keysha mengambil tisu dan memuntahkan bakso yang ada di salam mulutnya. Andra yang melihatnya lekas mendekati istrinya, tak biasanya istrinya menolak bakso yang menjadi makanan favoritnya itu.
"Ada apa, sayang?" Andra bertanya dengan panik, kekhawatiran tergambar jelas di wajah tampannya.
"Kok baksonya rasa karet, sayang? Gak enak banget!" Keysha menggerutu, ia lalu meneguk es jeruk yang ada di hadapannya sampai tandas.
"Masa sih?" Andra terlihat tak percaya, ia lalu mencicipi bakso yang ada di mangkuk Keysha.
"Enak kok, Sayang. Kok kamu aneh banget? Masa bakso rasa karet?" Seloroh Andra tanpa dosa.
Keysha mencebik, ia merasa tersinggung mendengar ucapan Andra. "Bener kok, rasanya kaya karet. Ya udah kalau kamu gak percaya!" Sewot Keysha ketus.
Andra gelagapan, ia mengusap mulutnya dengan tangannya. "Aduh mulut ini! Maaf, sayang. Tapi jujur, bakso itu enak! Tidak ada rasa karet kok!"
"Ya sudah kalau tak percaya!" Keysha berdiri, ia meninggalkan Andra yang masih duduk lesehan.
__ADS_1
Andra dengan cepat berlari ke arah kasir untuk membayar, setelah membayar ia mengejar langkah istrinya.
Ada apa dengan Keysha? Kok aneh sekali? Batin Andra mencoba menerka.