
Keysha berusaha positif dan bersikap profesional hari ini, ia harus mengenyahkan masalah pribadinya dulu. Keysha tak boleh memperlihatkan masalahnya. Apalagi Shella dan Zayyan datang sebagai pasien. Sudah selayaknya ia berlaku profesional.
"Kapan terakhir haidnya?" Tanya Keysha datar begitu Shella duduk di kursi periksa. Mereka saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja.
"Bulan November tanggal 27, dan bulan Desember dan bulan ini tidak haid," Shella tersenyum dengan liciknya, ia tersenyum penuh ejekan kepada Keysha.
"Berarti tujuh mingguan ya? Silahkan berbaring dulu!" Perintah Keysha profesional. Detik berikutnya ia menatap Zayyan yang sedang diam memandangnya. Keysha menatap nya dengan tatapan gelap dan tak terbaca. Zayyan salah tingkah, ia langsung menundukkan pandangannya.
Asisten Keysha yang bingung pun membantu Shella berbaring. Ia ingin sekali bertanya, tapi dipendam terlebih dahulu. Keysha mengolesi perut bagian bawah Shella dengan gel yang dingin. Kemudian Keysha memulai pemeriksaan dengan alat transducer yang ada di tangannya.
"Kantungnya sudah terlihat," terang Keysha, sementara Shella dan Zayyan fokus pada layar USG. Ia melihat calon buah hati mereka yang masih sebesar kacang tanah.
Keysha lalu mendengarkan detak jantung janin yang sudah terdengar dan mengeraskan volumenya. Shella tersenyum senang, sebentar lagi dia benar-benar akan memiliki seorang pewaris bagi Zayyan.
Namun tidak untuk Zayyan, mengapa tidak ada rasa senang saat mendengar detak jantung sang jabang bayi? Sebenarnya bukan ini yang ia harapkan. Dulu ia sangat mengharapkan Keysha yang hamil bukan Shella.
"Janinnya sehat ya? Nanti saya resepkan vitamin. Jangan lupa makanannya perbanyak sayur dan buah!" Perintah Keysha yang sudah selesai memeriksa Shella.
"Terima kasih, Dok. Saya sangat bahagia sekali, karena ini anak pertama kami. Iya kan, sayang?" Shella bergelayut manja di tangan kekar Zayyan seolah tidak malu Keysha dan asisten menatapnya dengan tatapan nyalang.
"Oh begitu? Selamat untuk kalian berdua kalau begitu. Semoga bayinya sehat ya, lahir selamat dan tentunya menjadi manusia yang beriman dan beradab," Keysha tersenyum sinis.
Degg. Entah mengapa hati Zayyan merasa tercubit. Apakah Keysha menganggapnya tidak beradab?
Sementara Shella hanya mengangguk. Ia kemudian menarik tangan Zayyan untuk meninggalkan ruangan pemeriksaan dengan senyum kemenangan. Mungkin tadi siang ia sudah kalah telak. Namun sore ini, Shella berhasil membalas Keysha dengan balasan yang lebih menyakitkan.
__ADS_1
Setelah kepergian Zayyan dan Shella, asisten yang bernama Nourin itu langsung menghampiri Keysha. Wanita itu langsung memeluk Keysha dengan tatapan iba.
"Saya memang tidak mengetahui apapun tapi saya yakin Dokter Keysha adalah wanita kuat! Saya tahu itu," hibur Nourin seraya mengusap pelan punggung Keysa.
"Hei, aku tidak apa-apa. Jika mereka ke sini untuk memanas-manasiku. Maka mereka gagal total. Itu tidak akan mempengaruhiku. Bahkan pria itu sudah tidak ada dalam pikiran dan hatiku lagi. Memikirkannya saja tidak. Aku hanya melihat mereka sebagai seonggok sampah yang tak berguna. Dan sudahi tatapan kasihan dari matamu, Rin! Sungguh aku tidak apa-apa," Keysha menatap Nourin dengan senyum riang, seolah memang tidak ada kesedihan di wajah cantiknya.
Zayyan dan Shella dapat mendengar suara Keysha karena mereka belum menutup pintu. Zayyan merasa sakit mendengar ucapan Keysha. Sementara Shella, ia merasa jengkel setengah mati karena mendengar ucapan Keysha barusan.
****
Setelah menutup jadwal prakteknya di poliklinik. Keysha segera menuju kantin. Perutnya terasa keroncongan karena saat makan siang ia hanya memakan salad buah saja. Suasana kantin sangat ramai, saat Keysha memasuki kantin itu semuanya hening. Mereka menatap Kesyha dengan tatapan iba, namun mereka tidak berani bertanya karena takut mengusik privasi dokter cantik itu.
Keysha mengambil meja untuk dirinya sendiri, hari ini ia memutuskan untuk makan sendiri dibanding bergabung bersama rekan tenaga medisnya. Keysha malas sekali jika nanti ditanya tentang masalah pribadinya.
Ibu kantin mengantarkan pesanan Keysha ke mejanya, sandwich, salad buah, dan jus jeruk segar tampak menggugah selera makan Keysha. Keysha segera meminum jus jeruk itu, tenggorokannya terasa segar. Ia memang cukup haus.
"Meja lain penuh, aku duduk di sini ya?" Izin Dokter Andra yang membuat Keysha mati kutu.
Andra memperhatikan raut wajah Keysha yang sedang gugup. Ia ingin menghindar dan pergi begitu saja, namun Keysha takut jika Andra tersinggung. Keysha hanya bisa pasrah dan melanjutkan aktivitas makannya yang sempat tertunda.
"Key, kapan sidang perceraian kamu?" Tanya Andra penuh keingintahuan.
"Besok sidang ke dua, Dok. Kemarin sidang mediasi tapi saya tidak datang," jawab Keysha.
"Kamu gak usah takut, Key! Kamu pasti menang. Apalagi kamu sudah mengantongi barang bukti yang cukup kuat. Saya yakin kamu akan memenangkan kasusnya," hibur Andra tersenyum
__ADS_1
"Aamiin. Mudah-mudahan ya, Dok."
Mereka kembali melanjutkan makan dengan diam. Semua mata yang ada di kantin terus mengawasi Andra dan Keysha. Hal itu membuat Keysha gelisah, ia takut Andra akan terseret di masalah rumah tangganya. Keysha juga tak mau orang lain berspekulasi mereka mempunyai hubungan.
"Saya sudah selesai, Dok. Saya duluan ya?" Pamit Keysha merasa sungkan.
Andra hanya mengernyitkan dahinya heran. Ia melihat makanan Keysha belum habis.
"Makanan kamu belum habis, Key."
"Saya sudah kenyang," Keysha tersenyum, lalu ia meninggalkan Andra. Andra langsung mengejar langkah Keysha terburu-buru membuat semua orang yang berada di kantin berbisik-bisik. Rupanya mereka sangat peka dengan Andra yang memberikan perhatian lebih pada Keysha. Diam-diam mereka merasa iri pada Keysha, karena mendapatkan perhatian lebih dari putra pemilik rumah sakit.
"Key, tunggu!" Andra menjegal langkah Keysha, kebetulan mereka melewati lorong rumah sakit yang cukup sepi. ia menatap dokter cantik itu dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.
"Kamu kenapa hindarin saya? Apa saya berbuat salah?"
Keysha menggeleng, ia kemudian menghindari sorot mata Andra yang bertanya dengan penasaran. "Bukan begitu, saya ingin kita menjaga jarak. Saya takut dokter terbawa dengan urusan perceraian saya. Saya takut orang lain berasumsi lain, perceraian sudah di depan mata, tapi saya sudah gatal mencari pria baru."
Andra terkekeh mendengar jawaban Keysha. Ia menutup mulutnya supaya suara tawanya tidak sampai terdengar oleh Keysha.
"Kamu terlalu berlebihan, Key. Kalau gatal saya garukin kamu pake garpu rumput!" Kekehan Andra terdengar di telinga Keysha, membuat Keysha merasa aneh, karena untuk pertama kalinya ia mendengar Andra bisa selepas itu tertawa.
"Jangan selalu mendengar perkataan orang lain! Mereka sangat pintar menilai orang lain, tapi tidak dengan mereka sendiri. Namun jika begitu maumu, saya terima. Saya akan menunggu kamu sudah sah bercerai dan menyelesaikan masa idahmu," lanjutnya lagi, yang membuat Keysha semakin kebingungan.
"Maksudnya, Dok?" Keysha mengernyitkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Tidak ada, kalau begitu saya permisi," Andra berlalu dari hadapan Keysha. Keysha menatap punggung dokter Andra sampai pria itu menghilang dari pandangan matanya.
"Dasar aneh,!" Gumam Keysha seraya menggelengkan kepalanya.