
Sepulangnya dari rumah pengacaranya yang bernama Maya, Keysha segera pulang ke rumah. Ia mendapati suaminya sudah tidak ada di rumah. Pikiran Keysha langsung mengarah kepada apartemen Shella. Pasti Zayyan sedang menuju ke apartemen wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya.
Keysha masuk ke dalam kamarnya. Ia menyalakan laptop. Dirinya begitu ingat saat menyimpan kamera rahasia di ruangan pribadi suaminya. Keysha akan menggunakan rekaman itu sebagai alat bukti perselingkuhan Zayyan dengan Shella. Laptopnya memang sudah terkoneksi dengan kamera yang ada di ruangan Zayyan. Tanpa menunggu lama, Keysha langsung memutar video itu. Keysha membulatkan matanya, ia menutup mulutnya dan mulai menangis ketika melihat rekaman itu. Di sana terlihat jelas Zayyan dan Shella sedang berbuat kotor di ruangan pribadi milik Zayyan.
"Betapa menjijikannya kalian!!' Keysha menggeram penuh amarah.
Keysha memutar kembali video-video di hari berikutnya. Dan hasilnya sama. Video-video itu mengandung adegan panas antara Zayyan dan juga Shella. Hampir setiap hari mereka melakukan perbuatan nista itu di kantor.
"Ternyata perselingkuhan kalian sudah sangat parah," Keysha mengepalkan tangannya.
Air mata tak reda menitik dari mata Keysha. Hatinya teramat sakit dan perih ketika melihat video itu. Perbuatan Zayyan memang sudah tidak bisa Keysha maafkan. Lelah yang ia rasakan perlahan sirna ketika melihat video itu. Keysha dengan cepat mematikan laptopnya dan memasukan laptopnya itu kembali ke tas. Keysha harus segera bertemu Maya kembali. Dokter cantik itu sudah tidak kuat lagi untuk hidup bersama Zayyan. Ia ingin segera permasalahan ini tuntas.
Keysha langsung mengemudikan mobilnya kembali ke rumah pengacaranya. Sepanjang perjalanan ia terus menangis. Walau pun selama ini ia kuat, tapi hatinya tidak sanggup melihat adegan ranjang antara suaminya dengan wanita lain. Hati Keysha benar-benar hancur saat ini juga.
Setelah tiba di pelataran rumah Maya, Keysha segera mengeringkan air mata yang memenuhi wajahnya. Keysha memakaikan kaca mata hitam miliknya untuk menutupi matanya yang agak bengkak. Maya tidak boleh melihat sisi rapuhnya. Keysha keluar dari dalam mobil dengan anggun dengan menenteng tas yang cukup besar. Maya yang mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahnya segera membuka pintu. Ia agak terkejut melihat Keysha kembali.
"Maaf saya ke sini lagi, Bu!" Keysha berkata dengan suara parau. Terdengar sekali jika ia habis menangis.
"Tidak apa-apa, Bu. Silahkan masuk!" Maya yang tahu Keysha sudah menangis tetap bersikap profesional. Ia mempersilahkan Keysha masuk dan duduk di rumahnya yang megah itu.
"Saya datang lagi karena saya sudah mendapat bukti perselingkuhan suami saya," Keysha membuka tasnya dan mengeluarkan laptop kesayangannya.
"Benarkah, Bu? Baiklah. Ini akan lebih memudahkan proses perceraian Bu Keysha," Maya tersenyum senang.
Keysha segera memutar video perselingkuhan suaminya dan Shella. Ia memperlihatkan video itu kepada Maya. Sebenarnya Keysha enggan untuk membuka aib Zayyan. Akan tetapi, Maya adalah pengacaranya. Maya harus tahu dan melihat, agar dapat mengambil keputusan terkait perceraian Keysha.
"Apa ibu baik-baik saja?" Maya menatap Keysha dengan iba. Ia merasa tidak mengerti bagaimana wanita sebaik dan sesukses Keysha bisa diduakan.
"Saya baik-baik saja, Bu," Keysha memaksakan senyumnya walaupun kini matanya sudah tergenang cairan bening yang siap untuk ditumpahkan.
__ADS_1
"Bagaimana? Pasti ini bisa jadi bukti. Pasti perceraian saya akan lebih mudah dan semua aset akan jatuh ke tangan saya?" Terdengar semangat yang bergelora di nada Keysha. Akan tetapi senyuman itu tidaklah bertahan lama.
"Maaf saya harus mengatakan ini. Akan tetapi, dengan berat hati saya berkata jika ini tidak bisa jadi alat bukti," wajah Maya terlihat lesu.
"Kenapa? Bukankah ini bukti kuat?" Keysha semakin tidak mengerti.
"Permasalahannya adalah ini konten v*lgar malah bisa dikatakan p*rn*grafi. Saya pikir suami ibu adalah seseorang yang mengerti hukum. Jika kita menggunakan ini sebagai bukti, pasti bapak Zayyan akan menuntut ibu dengan UU ITE karena ibu merekam tanpa sepengetahuan mereka. Belum lagi, suami ibu atau selingkuhannya bisa menuntut ibu atas pasal UU p*rn*grafi. Ibu bisa dijerat karena menyebarluaskan konten panas seperti ini," Maya memberikan alasannya.
Keysha langsung terdiam mendengar ucapan Maya. Mengapa ia tidak teringat ke arah sana? Keysha semakin pusing dibuatnya.
"Usul dari saya, lebih baik ibu mencari bukti yang lain!" Usul Maya.
Keysha pun terdiam. Ia sedang berpikir keras bagaimana mencari bukti lain, bukti yang kuat dan sesuai dengan hukum? Tak berapa lama, senyuman terbit di bibirnya yang tipis.
*****
Ine dan Shella masuk ke dalam restoran yang menjadi tempat arisan hari ini. Mereka berjalan ke arah teman-teman sosialitanya dengan angkuh.
"Eh Jeng-Jeng udah sampe?" Ine menyapa teman-temannya.
"Sudah dong, Jeng! Jeng bawa siapa nih?" Tanya temannya yang lain.
"Ini aku bawa anakku yang sering kuceritakan itu, Lho! Dia model lho, Jeng!" Ine duduk dikursinya di ikuti oleh Shella.
"Wah, anak Jeng cantik ya?" Kagum ibu-ibu yang lain.
"Iya, dong. Kalian lihat kan, anakku memang pantas jadi model! Kecantikannya menurun dari ibunya!" Ine berbangga diri.
"Ayo, sayang perkenalkan dirimu!" Pinta Ine kepada anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Hallo selamat sore semuanya! Aku Shella Arnesta," Shella tersenyum semanis mungkin. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan ibu-ibu sosialita itu.
"Rena!" Rena mengulurkan tangannya saat tangan Shella terulur padanya.
"Ini tante yang tadi turun dari mobil online itu kan?" Shella berpura-pura mengingat.
"Hah, turun dari taksi online?" Ibu sosialita lain menanggapi dengan senyum sinis.
"Iya lho, Jeng. Tadi aku liat Jeng Rena dianterin taksi online. Aku cuma heran aja gitu, masa anaknya pengusaha, ibunya naik taksi online," Ine tertawa yang membuat Rena menjadi murka.
"Iya, nih Jeng. Emang anaknya gak sediain supir pribadi gitu?" Timpal teman Rena yang lain.
"Duh, saya naek taksi online atau bajai emang apa hubungannya gitu sama arisan hari ini? Supir di rumah lagi gak bisa anterin karena pulang kampung," Rena bersuara.
"Masa sih? Tante gak bohong kan? Awas ngakunya anaknya CEO padahal rakyat jelata," Shella tertawa sumbang di hadapan semuanya.
"Diam kamu model gak terkenal! Baru datang tapi udah kurang ajar sama yang lebih tua. Ibu kamu gak ajarin sopan santun?" Rena meluapkan amarahnya. Semua teman-temannya langsung bungkam melihat kemarahan Rena.
"Walaupun saya model tidak terkenal tapi lihat dong apa yang saya pakai!" Shella memperlihatkan tas brandednya yang bermerk ch*nnel.
"Satu lagi!" Shella memperlihatkan gelangnya bermerk cart*ier.
"Duh, anak Jeng Ine keren!" Puji teman-teman Ine yang semakin membuat Ine jumawa.
"Halah, bisa aja itu cuma KW!" Ketus Rena masih dengan amarah.
"Ya, gak dong, Tan! Tante bisa cek kok keasliannya. Ya seengganya barang-barang aku asli dari pada anak tante yang CEO-CEO an," Shella semakin kurang ajar.
"Atas dasar apa kamu mengatakan anak saya CEO gadungan?" Rena terlihat semakin emosi.
__ADS_1
"Ya, dipikir aja sih Tan! Masa anaknya seorang pengusaha besar tapi ibunya pake taksi online. Kayanya gak realitis deh. Calon suami saya CEO tapi dia selalu manjain ibunya tuh. Kata calon suami saya, dia selalu kasih ibunya mobil-mobil mewah. Beda sama anak tante yang biarin ibunya naek angkutan sewaan," Shella semakin mengusik harga diri Rena.
"Terus kenapa kalau saya naik taksi online? Apa seorang ibu yang punya anak seorang pengusaha tidak boleh naek taksi online atau angkutan umum? Dasar model tidak terkenal!" Rena menunjuk wajah Shella.