Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Pulang Kembali


__ADS_3

Zayyan menggeleng. Ia lalu melemparkan ransel itu hingga isi ransel itu berhamburan. Mata Zayyan membeliak saat melihat kotak cincin yang tidak asing teronggok di lantai bersama isi ransel milik Shella yang berhamburan keluar.


"Kau mencuri cincinku?" Tanya Zayyan yang setengah tak percaya.


Zayyan lalu berjongkok dan mengambilnya. Namun tangannya kalah cepat, Shella segera mengambil kotak cincin itu dan ia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Ini milikku! Kamu akan memberikannya padaku kan?" Raut wajah Shella pucat pasi.


Tangan Shella masih saja ia sembunyikan di belakang punggung. Shella tak menggubris sekalipun Zayyan sudah memasang wajah yang menakutkan. Zayyan tersenyum sinis, ia lalu bertepuk tangan. Suara tawa Zayyan terdengar menyeramkan. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Jika Shella adalah pria, mungkin saat ini Zayyan akan menghajarnya bahkan melen-apkannya saja di muka bumi ini.


"Ternyata selain kau murahan! Ternyata kau juga ma-ling ya? Siapa yang mengajarimu menjadi pencuri? Ibumu yang pelakor itu? Atau ayahmu?" Kekeh Zayyan yang membuat bulu kuduk Shella seketika berdiri. Namun Shella tak boleh kalah. Ia harus bisa membawa cincin berlian ini ke luar dari kontrakan Zayyan.


"Jangan pernah membawa-bawa kedua orang tuaku!" Shella merasa tak terima.


"Ini milikku! Aku istrimu bukan dokter mandul itu! Dia tak berhak menerima cincin ini, karena kalian sudah bercerai. Apa kau masih mencintainya? Maka dari itu sifatmu berubah padaku? Pada dasarnya kau bukanlah pria yang setia, Zayyan!" Sinis Shella yang tak menggubris amarah pria yang ada di hadapannya ini.


"Berhenti kau menyebutnya mandul! Demi apapun Keysa seribu lipat lebih baik darimu.Berikan cincin itu padaku j*-lang!" Bentak Zayyan, namun Shella masih saja tak bergeming.


"Tak akan! Ini milikku. Wanita si*lan itu tidak boleh menerima ini. Dia sudah hidup bergelimang harta. Dia sudah mendapatkan semua hartamu. Aku tidak akan menyerahkannya!!" Shella menantang.

__ADS_1


Zayyan mulai kehilangan kesabarannya, ia menghampiri Shella dan ditariknya tangan wanita hamil itu dengan kasar. Zayyan lalu mencengkram lengan wanita itu hingga tangan Shella memerah karena cengkraman lengan Zayyan yang sangat kuat.


"Aku tak mau, ini hak ku! Kau adalah suamiku! Dan kau wajib menafkahiku!" Shella masih saja kekeuh, mempertahankan apa yang ia mau.


"Kau lupa? Pernikahan kita pun tidak sah di mata agama maupun negara. Kau hanya orang lain bagiku!"


Air mata menitik membasahi pipi Shella, ini sama sekali bukan akting. Shella merasa sakit hati saat mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut Zayyan. Namun ia tak akan mengalah. Shella sudah terlanjur basah. Biarlah ia ditendang oleh Zayyan dari kontrakannya, asal Shella ditendang dengan cincin bernilai fantastis itu.


"Kamu sangat menyakitiku, Zayyan, bahkan kamu lupa aku sedang mengandung darah dagingmu," Shella menyeka air matanya, mencari belas kasihan di hadapan pria tampan yang sedang menatapnya dengan bengis.


"Aku tidak akan percaya lagi dengan semua omong kosong mu! Kelak anak itu lahir, aku akan langsung melakukan tes DNA. Jika anak itu terbukti bukan anakku, berhenti menggangguku dan pergi dari hidupku sejauh mungkin!" Teriak Zayyan memekekan telinga. Shella hanya diam bergeming sambil sesekali terdengar isakan nya.


Akhirnya Zayyan tak sanggup bersabar lagi. Ia menarik paksa tangan Shella dan mengambil cincin itu. Zayyan lalu menyeret keluar wanita yang pernah dicintainya itu. Zayyan melemparkan ransel yang berisi pakaian Shella hingga pakaiannya tercecer di tanah. Shella hanya menatapnya dengan sedih. Ia lalu berjongkok memunguti pakaiannya lalu dimasukannya ke dalam ranselnya yang berwarna abu.


Tetangga kontrakan Zayyan sedari tadi mendengar mereka ribut. Tak sedikit dari mereka mengintip dari balik gorden yang terbuka. Namun mereka hanya menonton saja, tak berani bertanya lebih jauh.


"Teganya kamu, Zayyan!" Lirih Shella, ia lalu memeluk ranselnya dan berjalan meninggalkan area kontrakan Zayyan.


Shella mengepalkan tangannya penuh amarah, ia sangat marah dan tak menyangka Zayyan benar-benar akan mengusirnya. Langit perlahan mendung. Rintik-rintik perlahan turun membasahi bumi. Shella berjalan tak mempedulikan dinginnya hujan yang membasahi tubuhnya.

__ADS_1


"Pram! Aku tak akan memaafkan ku! Dasar pria tua Bangka si*lan" maki Shella seraya terisak, ia menangis di bawah guyuran hujan yang lumayan deras.


Shella berjalan di pinggir khusus jalan kaki, ia tak menyadari ada mobil yang melaju kencang melewati genangan air hingga genangan air itu menciprati seluruh tubuh Shella yang sudah basah.


"Mobil s*alan!" Makinya dengan geram. Shella kemudian bersimpuh, ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia menangis histeris.


"Mengapa dunia ini sangat tak adil?" Teriak Shella lagi.


Shella menyeka air matanya, ia mulai melanjutkan perjalanannya lagi. Shella teringat dengan barang-barang mewah yang Zayyan dan Riyan berikan dulu. Shella menyimpannya di apartemen Ine. Ia harus pulang untuk mengambil semua barang berharga miliknya kemudian menjualnya.


Rencananya ia akan menyewa kosan untuk hidupnya sendiri. Shella tak ingin hidup bersama ibu kandungnya yang memuakan. Setelah anak ini lahir, Shella akan memberikannya pada Ine atau Fuji. Atau perlu Shella akan membuangnya. Ia hanya perlu bertahan untuk beberapa bulan ke depan. Kebetulan Shella mempunyai asuransi kesehatan, jadi dia tidak akan keberatan saat persalinan nanti.


Shella menyetop taksi yang lewat di hadapannya, lantas ia segera masuk ke dalam taksi itu menuju apartemen Ine, sang ibunda. Satu jam kemudian sampailah Shella di pintu apartemen rumah Ine, ia menelan bell beberapa kali, pintu terbuka. Rupanya Ine sudah berdiri dengan wajah angkuh menatap anak sulungnya dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Mau apa kamu ke sini lagi, Shel? Mama kira kamu tak akan kembali?" Cerocos Ine melihat putrinya yang basah kuyup.


Bukannya merasa kasihan, Ine justru merasa kesal karena Shella pulang ke apartemennya. Baginya Shella adalah beban terberat, karena dia sedang hamil. Tentunya Ine tak mau menerima kehadiran bayi itu.


"Bukannya disambut anak pulang, malah di berondong pertanyaan yang gak enak!!" Cebik Shella kesal, ia lalu menyenggol pelan bahu Ine dan melewatinya begitu saja.

__ADS_1


"Anak ini!!" Ine mendecakan lidahnya dengan kesal.


Shella memasuki kamar Fuji, kemudian mulai mencari barangnya hingga kamar itu berantakan seperti kapal pecah. Hanya satu tujuan Shella, yakni.mengumpulkan barangnya yang mahal untuk segera dijual


__ADS_2