
Shella merasa di atas angin. Ia segera bangkit dari posisinya sekarang. Shella berjalan menuju lemari yang memiliki empat pintu itu. Dengan cepat Shella membukanya, Shella membeliak saat menatap gaun-gaun mahal terpajang rapi di sana. Tak lupa lingerie dengan berbagai macam gaya pun tak luput dari pandangannya. Kemudian Shella berjalan menuju meja hias, ia lagi-lagi terpukau saat melihat kosmetik merk Dior berjajar rapi. Bahkan di lipstik itu pun dibubuhi namanya. Ah, mimpi apa Shella semalam? Mengapa hidupnya bak FTV saja?
Shella kemudian mencoba gaun itu, ia lalu mencoba satu set perhiasan yang ada di meja rias. Shella terpukau dengan penampilannya saat ini, Shella kembali menjadi Shella dulu. Cantik dan modis. Suara ketukan pintu menarik perhatiannya. Shella membukanya dan melihat Darwin sedang berdiri di hadapannya dengan mata yang tak berkedip.
"Darwin, maaf! Tadi aku mencoba semua barang di kamar ini!" Shella merasa tak enak, karena ia sudah lancang menyentuh barang-barang itu.
"Pakailah! Semuanya aku belikan untukmu" Darwin tersenyum kecil. Tak salah ia sudah tertarik pada Shella.
Apalagi saat Darwin sering membeli majalah pria dewasa. Di sana ia sering melihat Shella berpose dengan pakaian yang berani. Darwin sering berfantasi liar saat melihat Shella lewat majalah. Ia tak menyangka saat ia membuka aplikasi pencari jodoh, Shella memberikan like fotonya. Tentu saja kesempatan itu tak disia-siakan oleh Darwin.
"Ayo kita makan malam!" Darwin menggamit lengan Shella, keduanya berjalan menuju ruang makan.
"Makanlah sebanyaknya! Kau pasti lelah karena sudah melahirkan dan menjadi seorang ibu!" Darwin menarik kursi makan untuk Shella dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Ya, aku memang lelah karena hamil dan melahirkan. Namun aku juga merasa bersalah saat bayiku tak bisa aku selamatkan. Dia meninggal seusai lahir ke dunia," Shella menitikan air mata buayanya.
"I'm sorry, Baby! Aku tidak bermaksud" Darwin tampak tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Aku sudah mengikhlaskannya," Shella menghapus air matanya, ia kemudian tersenyum ke arah Darwin.
"Kalau begitu, ayo kita makan!" Ajak Darwin, ia lalu memotongi steak dan mengarahkannya pada Shella.
Tentu saja Shella sangat senang, ia seperti bermimpi indah. Tak menyangka akan menemukan pria setampan dan sekaya Darwin. Hidup ini memang selalu berpihak padanya. Begitu pikir Shella.
Mereka memulai makan malam mereka dengan suasana hangat dan romantis. Obrolan ringan mengalir begitu saja. Darwin dan Shella sama-sama tipe orang yang suka berbicara. Tentulah mereka tidak merasa kesulitan saat berinteraksi satu sama lain, walaupun itu pertemuan pertama mereka. Apalagi saat di chatting, Darwin menceritakan semua kisah hidupnya. Darwin memang sudah menyukai Shella sejak lama meskipun ia belum pernah melihat Shella secara langsung.
"Darwin, aku sudah kenyang," Shella berbicara, ia lalu meletakan sendok dan garpu di piringnya.
"Jangan panggil aku Darwin, Sayang! Call me baby, my queen!" Darwin tersenyum samar.
"Sorry, maksudku baby!" Shella meralat kata-katanya.
__ADS_1
Darwin berjalan menuju kursi Shella, ia lalu mengamit tangan Shella. Memperlakukan wanita itu bak seorang ratu. Kemudian Darwin merapatkan tubuh Shella pada tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka.
"Apa kau ingin menjadi istriku? Hiduplah disisiku selamanya!" Tawar Darwin bersungguh-sungguh
Shella tampak berpikir, namun ia tak mau terikat pada status pernikahan lagi. Sudah cukup baginya kemarin melewati hubungan yang tak bahagia bersama Zayyan.
"Apa ini terlalu cepat? Kita jalani hubungan kita dulu saja. Tapi aku berjanji, aku akan melayanimu seperti seorang istri yang baik!" Kilah Shella, ia tak mau lagi terikat dalam hubungan pernikahan yang menurutnya membelenggu dirinya.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Sekarang istirahatlah ke kamarmu!" Darwin mengecup bibir Shella, kemudian memagutnya membuat Shella melenguh meminta lebih dari itu.
"Calm down, Honey!" Darwin berkata dengan nafas yang memburu.
"Istirahatlah. Kita lanjutkan ini esok hari," Darwin berkata dengan wajah yang nakal.
Mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing, Darwin tersenyum samar ia tak sabar untuk menikmati tubuh Shella esok hari.
****
Shella menguap, ia kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya. Suara ketukan pintu menarik perhatiannya, ia berjalan dan membukakan pintu. Betapa kagetnya Shella, saat ia melihat lima orang pelayan sedang berdiri dengan tatapan hormat dan segan.
"Nyonya, anda harus persiapkan diri sebaik mungkin. Tuan muda ingin anda menemuinya di kamar!" Salah satu pelayan yang bernama Suci berkata dengan sopan.
"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang!" Shella melangkahkan kakinya. Namun dengan pelan, salah satu pelayan tadi menahan lengan Shella.
"Maksud saya, anda harus berdandan, Nyonya! Tuan muda ingin melihat anda tampil cantik hari ini. Kami akan membantu anda berhias!" Suci berbicara lagi.
Shella merasa aneh dengan permintaan pelayan itu. Namun ia menepis kecurigaannya. Shella mengangguk, ia lalu kembali ke dalam kamarnya.
Ke lima pelayan tadi menuntun Shella menuju kamar mandi. Mereka membantu memandikan Shella. Mereka memberikan lulur di tubuh Shella yang mulus. Tak lupa beberapa tetesan aroma therapy memanjakan Shella. Shella kembali senang, ia merasa beruntung diperlakukan bak seorang ratu.
"Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Shella.
__ADS_1
Bukannya menjawab, ke lima pelayan itu memperlihatkan raut wajah ketakutan. Namun mereka kembali memijat tubuh mulus Shella.
"Tidak, Nyonya. Tuan Muda memang ingin bertemu dengan anda dengan penampilan terbaik anda!"
Setelah selesai mandi, Shella digiring oleh ke lima pelayan. Mereka memakaikan mini dress yang mewah dan elegan. Lagi-lagi Shella terpukau dengan dress mahal yang menempel di tubuh indahnya. Suci membaurkan make up di wajah Shella, kemudian mengcurly rambut panjang Shella. Suci pun memoles lipstik berwarna merah jambu di bibir ranum Shella.
"Selesai, Nyonya. Saya harap anda segera menemui tuan muda di kamarnya!" Suci menundukan kepalanya.
Shella mengangguk. Dengan percaya diri, ia berjalan menuju kamar utama di mana Darwin berada. Shella mengetuk pintu, ia merasa gugup namun dengan cepat, Shella menguasai kegugupannya.
"Masuk!" Suara Darwin terdengar.
Shella membuka pintu, ia melihat Darwin tengah duduk seraya memegang satu cawan berisi sampanye.
"Ah, kau cantik sekali!" Puji Darwin, ia menatap Shella dari ujung kaki sampai kepala
"Terima kasih. Kau yang telah membuatku cantik!" Shella tersipu.
Darwin menarik tubuh Shella hingga tubuh wanita itu menempel pada tubuhnya. "Kau sangat membuatku bergairah!" Tatapan Darwin berkabut. Dengan kasar ia mencium bibir ranum Shella. Shella membalasnya diselingi suara d*sahannya. Ia berhasrat saat diperlakukan seperti itu.
"Kau milikku, baby!" Darwin menangkup tubuh bagian atas Shella, hingga membuat wanita itu melenguh.
Darwin tak meneruskan aktivitasnya, ia mendorong Shella hingga Shella jatuh terjerembab ke atas ranjang. Namun dahi Shella mengernyit saat melihat barang yang tak lazim.
Cambuk, ikat pinggang, dan ikatan tali berserakan di atas ranjang.
"Apa ini?" Gumam Shella.
Namun Darwin tak menjawab, Darwin menyobek mini dress Shella. Dengan satu tarikan ia mengikat kedua lengan Shella.
"Nikmatilah permainanku!" Darwin tersenyum mendamba, namun senyuman itu tampak menakutkan di penglihat Shella.
__ADS_1