
Bram yang sudah diliputi emosi pun segera menyuruh sopirnya untuk melajukan mobil ke apartemen Ine. Bram harus segera menyelesikan urusannya dengan wanita itu. Di dalam mobilnya, Bram terus memaki wanita yang telah melahirkan Fuji itu.
"Berani-beraninya dia main-main denganku!!" Bram menggemerutukan giginya. Ia ingin segera sampai di apartemen Ine untuk mengambil uangnya.
Tak berselang lama, apartemen Ine pun terlihat. Bram langsung turun dari mobil diikuti dengan dua orang anak buahnya. Ia berjalan cepat menuju lantai di mana apartemen Ine berada. Bram memencet bel dengan kasar. Ia sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan Ine.
"Ine, Buka!!!" Bram berteriak seperti orang kesetanan. Ia menggedor pintu dengan sangat keras walaupun bel sedang berbunyi. Setelah beberapa kali gedoran, akhirnya pintu pun terlihat di buka oleh Ine.
"Bos?" Ine merasa heran melihat Bram ada di depan apartemennya. Firasatnya sungguh sangat buruk ketika melihat kedatangan Bram.
"Kembalikan uangku!!!" Bram menatap Ine dengan nyalang. Ia sudah seperti elang yang membidik mangsanya.
"Maksudnya apa? Kan aku udah kasih anakku!" Ine merasa tidak mengerti.
"Anak kamu kabur," Bram memberikan alasan singkat agar diterima oleh Ine.
"Gimana bisa kabur? Kok payah banget punya pengawal!" Ine menatap dua orang yang sedang berdiri di belakang Bram dengan tatapan meremehkan.
"Jangan banyak basa-basi! Kembalikan uangku!" Hardik Bram dengan emosi yang meluap-luap.
"Tidak ada yang yang akan kembali. Perjanjian tetap perjanjian!" Ine tampak bersikukuh.
"Kau ingin bermain-main denganku, Hah?" Bram memelototkan matanya.
__ADS_1
"Geledah apartemen ini!" Bram menoleh ke arah belakang. Ke arah kedua anak buahnya.
"Baik, Bos," setelah diberikan perintah, kedua anak buah Bram langsung masuk dengan paksa ke dalam apartemen Ine.
"Hey, kalian apa-apaan? Aku bisa laporin kalian ke polisi!" Ine berteriak. Ia mengejar langkah kedua orang yang sudah masuk ke dalam apartemennya.
Anak buah Bram mengacak-acak apartemen Ine guna mencari koper yang berisi uang pemberian dari Bram. Ine terus berteriak agar mereka menghentikan aksinya. Namun telinga mereka seolah tidak mendengar. Mereka seolah di setel bahwa hanya perintah dari Bram yang akan mereka turuti. Anak buah Bram terus mencari koper berisi uang milik tuannya. Barang-barang yang ada di apartemen Ine terlihat sangat berantakan karena ulah mereka. Ine terus berteriak menghentikan aksi dari kedua anak buah Bram namun tak di indahkan oleh mereka. Sementara Bram berdiri dengan angkuh menatap kedua anak buahnya yang sedang bekerja.
"Ketemu, Bos!" Anak buah Bram memperlihatkan koper milik Bram yang ditemukan di kamar milik Ine.
"Bram, kamu gak bisa lakuin ini! Kita udah buat kesepakatan!" Ine tidak terima. Ia berusaha merebut koper itu dari tangan anak buah Bram. Anak buah Bram langsung mendorong tubuh Ine hingga wanita itu terjerembab di atas lantai.
"Si*lan kalian!!" Hardik Ine.
"Kurang ajar!!!" Ine berteriak.
****
Waktu terus berputar, nyatanya setelah semua yang Ine alami tidak kunjung membuat wanita itu sadar akan kekeliruan hidup yang sudah ia buat. Bukannya bertaubat dan berbenah diri, Ine malah semakin menjadi. Ine semakin kecanduan bermain judi. Tidak terhitung berapa debt collector yang sudah mendatangi apartemennya. Bahkan oknum pinjol ilegal sudah menyebar data Ine kepada semua kontaknya. Akan tetapi, hal itu tidak membuat wanita itu jera dan malu.
Ine bahkan sudah menggadaikan unit apartemennya ke bank untuk menutupi biaya hidup dan kecanduan judinya. Waktu terus berlalu, Ine tidak bisa membayar hutangnya ke bank. Otomatis bank menyita apartemennya. Kini barulah Ine menyadari jika dirinya sudah tidak punya apa-apa.
"Bagaimana ini?" Ine menatap gedung apartemennya dari luar. Kini ia hanya membawa pakaian miliknya. Ine tidak tahu ke mana dirinya akan tidur.
__ADS_1
"Aku harus ke mana?" Mata Ine berkaca-kaca. Ia kini baru ingat akan daratan. Mau minta tolong pun kepada siapa? Bahkan Ine tidak mempunyai seorang pun sanak saudara dan teman. Kedua anaknya pun tidak tahu keberadaan nya ada di mana.
"Shella, Fuji, kalian ada di mana? Tolong mama!" Ine berkata dengan lirih.
Hujan deras mengguyur kota Bandung. Ine semakin kebingungan. Kini tubuhnya sudah basah kuyup oleh air hujan. Ine pun berteduh di sebuah kolong jembatan. Ia menggigil kedinginan. Ine meratapi nasibnya kini. Tidak ada seorang pun yang ada di sisinya ketika kemalangan menimpa. Tentu saja itu semua adalah buah dari perbuatannya. Ine menatap orang-orang yang tinggal di kolong jembatan itu. Mayoritas mereka adalah pemulung dan juga pengamen.
"Andai semua bisa kembali," Ine berangan-angan. Nyatanya waktu tidak akan bisa diputar. Penyesalan dan penyesalan yang kini Ine rasakan semuanya sudah terlambat. Ine kemudian terlelap di gelapnya kolong jembatan itu.
Pagi harinya Ine terbangun. Ine berharap semuanya adalah mimpi. Tapi lagi-lagi realita memang tidak seperti yang ia harapkan. Ine menangis kembali. Perutnya berbunyi menandakan dirinya tengah kelaparan saat ini. Ine meringis merasakan nyeri karena maghnya kini kambuh. Ine memang mempunyai riwayat magh akut dan akan kambuh jika wanita beranak dua itu telat makan. Ine melihat ke kanan dan ke kiri. Ia melihat beberapa orang bersiap untuk memulung dan juga mengamen.
"Kalau laper, mulung aja!" Seorang ibu berusia sama dengan Ine memberikan sebuah karung besar untuk Ine.
Ine diam tidak menjawab. Karena tidak ada jawaban, Ibu itu akhirnya menyimpan karung besar yang ia bawa di sisi Ine. Ine berperang dengan batinnya sendiri. Ia sangat jijik harus memungut sampah. Tapi jika ia tidak melakukan itu, bagaimana Ine makan dan bertahan hidup? Haruskah Ine menyerah saja kepada keadaan? Dengan ragu, akhirnya Ine mengambil karung itu. Ine memutuskan untuk memulung saja. Sebelum berangkat, Ine terlebih dahulu menyimpan baju-baju yang ia bawa di kolong jembatan itu. Kemudian Ine berjalan mencari botol bekas untuk ia jual kepada pengepul.
Ine terus mengumpulkan sampah plastik yang bisa ia jual. Perutnya semakin keras berbunyi. Ine terduduk untuk menetralkan perutnya gang sakit karena asam lambung yang semakin tinggi. Sesekali wanita itu menyeka keringat dingin yang memenuhi dahinya. Ine terduduk di sebuah pohon rindang. Ia menangis sesenggukan. Ine begitu merindukan kehidupan lamanya yang nyaman. Tapi kini semua itu sudah sirna akibat perilaku buruk yang Ine lakukan. Andai saja dirinya tidak gemar bermain judi. Ine menghapus air matanya kemudian berdiri kembali untuk mencari botol demi botol.
Setelah seharian penuh memulung, karung milik Ine akhirnya terisi penuh. Tentu saja itu membutuhkan tenaga yang ekstra. Awalnya Ine bingung kemana ia harus menjual barang-barang rongsok itu, tapi kemudian Ine melihat dan mengikuti beberapa pemulung untuk menjual botol-botol bekas kepada seorang pengepul. Mereka semua antri untuk menimbang hasil memulung hari ini. Tiba akhirnya giliran karung Ine yang ditimbang. Jumlahnya hanya tiga kilo gram saja. Ine pun diberi uang sembilan ribu karena satu kilo botol hanya dihargai tiga ribu rupiah.
"Dikit amat, Pak!" Ine protes.
"Emang segitu harganya!" Jawab pengepul itu dengan galak.
"Emang mau berapa?" Seorang pemulung yang mengantri di belakang Ine berucap.
__ADS_1
Ine pun akhirnya menerima uang itu dan berlalu dari sana. Ia berjalan menuju sebuah warung kecil. Ine pun hanya mampu membeli gorengan dan satu botol air mineral. Kini, itulah hidup baru yang harus Ine jalani.