
Fuji sampai di area parkir tempat hiburan malam yang ada di pusat kota. Fuji jadi mengingat kehidupannya dulu yang juga gemar berpesta bersama teman-temannya. Akan tetapi, ia datang dengan teman-teman wanita dan hanya berjoget-joget menikmati gemerlap lampu disko dan alunan musik yang diputar oleh Disk Jockey. Fuji langsung beristigfar dalam hatinya. Ia bertekad untuk menjalani hidup lebih baik. Toh Fuji tidak tahu sampai kapan umurnya berjalan. Tidak ingin berlama-lama berdiam diri di tempat itu, Fuji langsug mengirimkan pesan kepada calon customer yang menghubunginya.
"Saya udah di area halaman parkir. Ayo, Teh!" Fuji mengchat costumer itu yang tak lain adalah ibunya sendiri.
"Kak, saya sedikit mabuk. Bisa masuk ke dalam dan papah saya?" Ine membalas dengan menyeringai. Ia sudah ada di dalam diskotek itu dengan pria-pria bertubuh besar.
"Di sebelah mananya, kak? Nanti saya salah orang!" Fuji membalas.
"Saya pakai baju warna biru sama rok pendek pink. Masuk aja, kak! Saya gak jauh dari pintu masuk," Ine membalas dengan asal.
Fuji pun langsung turun dari motornya. Ia langsung masuk ke dalam tempat hiburan malam itu. Bau alkohol menguar di indera penciumannya. Fuji merapatkan jaket hijaunya. Semoga saja Fuji segera menemukan customer itu dan pergi segera dari tempat ini. Sesampainya di dalam, mata Fuji menyapu ruangan. Lampu sudah diredupkan dan hanya disinari dengan cahaya remang-remang. Alunan musik juga begitu memekakan telinga Fuji. Fuji terus mencari ciri-ciri customer yang disebutkan. Tiba-tiba sepasang tangan membekap mulutnya. Fuji di tarik paksa oleh seseorang. Ia berteriak tapi tak seorang pun peduli dan mendengar teriakannya.
"Kalian siapa?" Fuji terus berontak saat dua orang bertubuh tinggi besar menyeretnya. Gadis malang itu terus di seret hingga ia sampai di sebuah ruangan lantai dua. Ruangan itu seperti sebuah ruangan untuk acara perkumpulan. Tidak ada kasur atau apapun di sana.
"Kalian siapa?" Fuji berteriak saat ia melihat tiga orang pria berbadan tegap.
Mata Fuji membola saat ia melihat seorang wanita yang tak lain adalah ibunya masuk ke dalam ruangan itu. Ine menatap anaknya sembari tersenyum.
"Mama?" Fuji terisak saat melihat ibunya.
"Tolong Uji, Ma!" Tangisannya begitu mengiba.
"Hai, sayang! Akhirnya kita ketemu lagi di sini," Ine tersenyum miring.
"Ini uangmu!" Seorang pria melempar sebuah koper berukuran sedang kepada Ine. Ine lekas membuka koper itu. Matanya langsung berbinar kala ia melihat gepokan uang di koper itu.
"Ma, mama jual aku?" Teriak Fuji dengan menyayat hati.
"Ji, mama gak jual kamu. Mama hanya perantarain kamu ke pria banyak duit. Mama kasian liat kamu jadi tukang ojek!" Ine berkata dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa mama tega, Ma? Aku ini anak mama," air mata semakin memenuhi wajah Fuji.
"Anak mama? Anak yang tega ninggalin ibunya ketika ibunya dalam keadaan sulit?" Ine memelototkan matanya. Ia begitu gelap mata hingga tidak menyadari jika putrinya benar-benar sedang dalam bahaya.
"Ma, aku kabur karena aku denger mama mau jual aku!" Fuji berkata dengan lantang.
"Ji, mama ini kasihan sama kamu. Kalau kamu sama pria ber uang, hidup kamu terjamin. Kamu gak perlu lah narik-narik penumpang lagi buat makan. Iya gak, Bos?" Ine menoleh ke arah pria yang menyerahkan uang padanya.
"Bener. Kamu tinggal dandan yang cantik!" Pria itu melihat Fuji dengan tatapannya yang begitu menjijikan.
"Udah ya? Aku tinggal! Makasih lho udah bisnis sama aku!" Ine memeluk kopernya.
"Oke, silahkan kamu pergi!" Pria itu tersenyum.
"Ma, jangan tinggalin aku, Ma!" Fuji berdiri dan hendak berlari menyusul Ine yang berjalan menjauhinya. Akan tetapi dua orang pria langsung memegangi tangan Fuji. Ine seakan tidak mendengar teriakan histeris dari putrinya. Ia terus saja berjalan dengan senyuman keji di bibirnya.
"Ma, demi apapun, aku gak akan maafin mama! Aku nyesel kenapa harus lahir dari wanita kaya mama!!" Fuji berteriak sembari terus meronta.
"Lepasin!" Fuji terus berontak.
"Bawa dia ke mobil! Aku ingin menikmatinya di hotel bintang lima, bukan di sini!" Bos mereka tersenyum menatap Fuji dari kaki sampai kepala.
Fuji kemudian di seret melalui pintu belakang. Ia terus berteriak dan meronta saat akan dibawa ke dalam mobil. Dalam hatinya Fuji terus melafalkan doa. Semoga saja ada seseorang yang menyelamatkan dirinya.
"Cepat masukan dia!" Bos dari kedua pria itu memerintah.
"Tolong!!" Fuji terus berteriak walau kini hatinya sudah menyerah.
"Lepaskan wanita itu!!" Seseorang berteriak dan berlari ke arah mereka.
__ADS_1
"Fikri!!" Lirih Fuji ketika melihat orang yang dikenalinya.
"Fuji?" Gumam Fikri saat ia melihat gadis yang tengah diseret itu adalah tukang ojek langganannya.
*****
Fikri sedang bermain game di dalam kamarnya. Ia ingin melepas penat setelah seharian bekerja. Karena terlalu asyik bermain game, Fikri tidak menyadari kehadiran ibunya, Rena. Rena masuk ke dalam kamar putranya dengan wajah yang begitu panik.
"Fik!!" Panggil wanita beranak tiga itu.
"Apa, Ma? Mama kenapa?" Fikri segera menyimpan ponselnya ketika melihat kepanikan di wajah ibunya.
"Paman kamu, Si Rangga! Dia katanya berkelahi di diskotik!" Rena berkata dengan khawatir.
"Kenapa Paman ada di diskotik?" Fikri bertanya dengan bingung.
"Katanya pamanmu itu stres karena belum dapat kerjaan lagi. Kamu kan tahu semenjak perusahaan kakakmu gulung tikar, pamanmu itu belum kerja lagi! Jadi, dia pergi ke sana buat minum-minum," Rena masih saja berkata dengan panik.
"Kamu susulin ya? Kasihan anak istrinya kalau pamanmu kenapa-kenapa!" Pinta Rena.
"Paman ada-ada aja!" Fikri mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mama mohon ya, Fik! Mama gak mungkin kan nyuruh adik kamu? Bawa pamanmu itu pulang!" Mata Rena kini berkaca-kaca. Walau ia sempat marah dengan Rangga karena sudah memecat Zayyan, tapi tetap saja Rena peduli akan keselamatan adik bungsunya itu.
"Baiklah, Ma. Fikri ke sana sekarang!" Fikri langsung menyabet kunci mobilnya.
Dengan terburu-buru Fikri langsung tancap gas menuju tempat hiburan malam itu. Fikri menaikan kecepatan mobilnya, berharap ia segera sampai. Bagaimana pun Fikri sama khawatirnya dengan Rena. Fikri takut sang paman mengalami hal buruk karena berkelahi dengan orang lain.
Sesampainya di sana, Fikri tidak melihat tempat parkir yang kosong. Fikri memutar dan menemukan parkir kosong di belakang area diskotik. Fikri segera berlari dan masuk ke dalam area diskotik. Ia bertanya kepada beberapa pengunjung mengenai orang yang berkelahi. Pengunjung itu mengatakan jika orang yang berkelahi sudah di lerai oleh petugas keamanan dan dibawa ke polsek terdekat. Itu sebabnya saat Fuji di seret, tidak ada petugas keamanan yang menolongnya.
__ADS_1
Fikri lekas berjalan kembali ke arah area parkir tempat di mana mobilnya diparkirkan. Ia ingin mendatangi polsek terdekat untuk menjemput pamannya. Akan tetapi, ia melihat seorang gadis yang tak lain adalah Fuji tengah diseret oleh dua orang pria dan hendak di masukan paksa ke dalam mobil atas suruhan seseorang.
"Fuji!!" Gumam Fikri saat ia melihat gadis yang tengah meronta itu adalah ojek langganannya.